Poltekkes Kemenkes Kendari
Kota Kendari
Relaksasi Progresif dalam Pemenuhan Kebutuhan Tidur Lansia by Maria Loihala, Nur Asmi Sulastri, Ivony F.N. Putriningtyas is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License, except where otherwise noted.
Relaksasi Progresif dalam Pemenuhan Kebutuhan Tidur Lansia
Penulis
Maria Loihala
Nur Asmi Sulastri
Ivony F.N. Putriningtyas
Editor
Ainul Rafiq, S.Kep
Ilmu Kesehatan | Nonfiksi
ISBN: –
DOI: –
Cetakan Ke 1 Tahun 2023
Diterbitkan Oleh
Poltekkes Kemenkes Kendari,
Jl. Jenderal A.H. Nasution No. G14, Kota Kendari, 93231, Sulawesi Tenggara
editorial.penerbitanilmiah@poltekkes-kdi.ac.id | https://mybook.poltekkes-kdi.ac.id
Anda diperbolehkan untuk Berbagi — menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun. Berdasarkan ketentuan, Atribusi — Anda harus mencantumkan nama yang sesuai, mencantumkan tautan terhadap lisensi, dan menyatakan bahwa telah ada perubahan yang dilakukan. Anda dapat melakukan hal ini dengan cara yang sesuai, namun tidak mengisyaratkan bahwa pemberi lisensi mendukung Anda atau penggunaan Anda. NonKomersial — Anda tidak dapat menggunakan materi ini untuk kepentingan komersial. TanpaTurunan — Apabila Anda menggubah, mengubah, atau membuat turunan dari materi ini, Anda tidak boleh menyebarluaskan materi yang telah dimodifikasi.
1
Tidur merupakan fenomena alami, tidur menjadi kebutuhan hidup manusia. Tidur merupakan bagian hidup manusia yang memiliki porsi banyak, rata-rata seperempat atau sepertiga waktu digunakan untuk tidur. Secara umum gangguan tidur menjadi lebih sering dialami dan sangat mengganggu seiring bertambahnya usia. Setelah berusia di atas 40 tahun bermasalah, jadi orang tua sering mengalami tidur yang tidak berkualitas. Gangguan tidur pada lansia dapat diperbaiki dengan teknik relaksasi otot progresif, yaitu teknik relaksasi yang memusatkan perhatian pada suatu aktivitas otot kemudian menurunkan ketegangan dengan melakukan teknik relaksasi untuk mendapatkan perasaan rileks. Buku ini mengurai hasil penelitian teknik relaksasi progresif terhadap pemenuhan kebutuhan tidur pada lansia yang ada di Kelurahan Klawalu, Wilayah Kerja Puskesmas Mariat, Kabupaten Sorong.
Sorong,
Tim Penulis
Lansia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelompok usia lanjut atau orang tua yang telah mencapai usia lanjut, biasanya di atas usia 60 tahun. Istilah “lansia” berasal dari kata “lansa” yang merupakan kependekan dari “lanjut usia”.
Lansia sering kali mengalami perubahan fisik, seperti penurunan kekuatan dan daya tahan tubuh, penurunan fungsi sensorik, dan peningkatan risiko terkena penyakit tertentu. Mereka juga dapat menghadapi perubahan dalam kesehatan mental, termasuk masalah memori, depresi, dan kecemasan.
Dalam masyarakat, perhatian terhadap lansia sangat penting. Kebutuhan mereka dapat meliputi perawatan kesehatan yang khusus, dukungan sosial, dan lingkungan yang aman dan ramah. Banyak negara dan komunitas memiliki program dan layanan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan lansia, termasuk perawatan kesehatan, kegiatan sosial, dan kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat.
Penting bagi kita semua untuk menghormati dan menghargai lansia dalam masyarakat. Menghormati lansia berarti memberikan perhatian, perawatan, dan penghormatan yang pantas mereka terima.
Lanjut usia (lansia) adalah seorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan, dan sosial. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas menurut Undang-Undang Kesehatan Sosial Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia Pasal 1 Ayat 2.
Proses menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Proses menua bersifat individual di mana proses menua pada setiap orang terjadi dengan usia yang berbeda, setiap lansia mempunyai kebiasaan atau life style yang berbeda, dan tidak ada satu faktor pun yang ditemukan dapat mencegah proses menua.
Organisasi kesehatan dunia World Health Organization menyatakan bahwa lanjut usia meliputi:
Departemen Kesehatan RI membagi lansia sebagai berikut:
Sejalan dengan makin meningkatnya usia, perubahan-perubahan akan terjadi pada tubuh manusia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga lanjut usia pada semua organ dan jaringan tubuh.
Penurunan mitosis menyebabkan kecepatan jumlah sel yang rusak tidak seimbang dengan jumlah sel yang baru. Keadaan ini menyebabkan tubuh lebih banyak kehilangan sel dari pada jumlah sel yang baru sebagai pengganti. Diperkirakan pada lansia akan kehilangan 20% dari keseluruhan sel-sel yang dimiliki, jumlah sel otak menurun, mekanisme perbaikan sel terganggu dan otak menjadi atrofi.
Aspek yang signifikan dari proses penuaan adalah bahwa neuron-neuron tidak mengganti dirinya sendiri. Pada lansia sebagian kecil dari sistem syaraf akan kehilangan kemampuannya untuk berfungsi dengan baik. Selain itu pada lansia berat otak menurun 10-20% (sel saraf otak setiap orang berkurang setiap harinya), respon waktu untuk bereaksi lambat, saraf pancaindra mengecil dan kurang sensitif terhadap sentuhan.
Melalui pengadopsian strategi dan gaya hidup yang sehat, lansia dapat merawat dan menjaga kesehatan otak mereka sebaik mungkin. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain adalah menjaga pola makan yang seimbang dengan mengonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi, terutama makanan yang mengandung antioksidan dan asam lemak omega-3 seperti buah-buahan, sayuran, ikan, dan kacang-kacangan.
Selain itu, penting bagi lansia untuk tetap aktif secara fisik dan mental. Melakukan olahraga ringan seperti berjalan, berenang, atau senam dapat meningkatkan sirkulasi darah ke otak dan mempromosikan pertumbuhan sel saraf baru. Selain itu, melibatkan diri dalam kegiatan yang menantang otak seperti teka-teki, membaca, atau belajar hal baru juga dapat memelihara kesehatan otak.
Selain menjaga kesehatan fisik dan mental, lansia juga perlu menjaga kualitas tidur yang baik. Tidur yang cukup dan berkualitas membantu otak untuk memulihkan diri dan memperkuat fungsi kognitif. Mengatur rutinitas tidur yang konsisten, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, dan menghindari stimulan seperti kafein atau gadget sebelum tidur dapat membantu meningkatkan kualitas tidur.
Terakhir, dukungan sosial juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otak lansia. Interaksi sosial yang positif dan membangun dengan keluarga, teman, dan komunitas dapat memberikan stimulus mental dan emosional yang meningkatkan kesejahteraan otak. Melibatkan diri dalam kegiatan sosial, seperti klub atau organisasi, juga dapat memperluas jaringan sosial dan memberikan kesempatan untuk tetap terlibat secara aktif dalam masyarakat.
Dengan mengadopsi gaya hidup yang sehat, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta memiliki dukungan sosial yang memadai, lansia dapat mengurangi dampak perubahan pada sistem saraf mereka dan menjaga kesehatan otak sebaik mungkin. Meskipun proses penuaan tidak dapat dihindari, upaya yang dilakukan dapat memperlambat penurunan fungsi otak dan memungkinkan lansia untuk tetap menjalani kehidupan yang bermakna dan produktif.
Pada saat manusia mengalami penuaan, jumlah masa otot tubuh mengalami penurunan. Sebelum usia 40 tahun, Penurunan progresif dan gradual masa tulang mulai terjadi. Bahaya fraktur karena resorpsi tulang paling tinggi pada vertebra, humerus, radius, femur dan tibia. Akibat perubahan tersebut, terjadi penurunan mobilitas, keseimbangan dan fungsi organ internal. Nyeri punggung mulai dikeluhkan. Mulai di usia pertengahan, kartilago sendi mulai memburuk secara progresif.
Penurunan jumlah massa otot tubuh saat penuaan memiliki dampak signifikan pada kekuatan fisik dan mobilitas lansia. Proses ini disebut sebagai sarcopenia, di mana otot-otot mengalami penurunan ukuran dan kekuatan. Penurunan massa tulang juga menjadi perhatian penting, terutama setelah usia 40 tahun, ketika resorpsi tulang melebihi pembentukan tulang baru. Hal ini meningkatkan risiko fraktur, terutama pada area tulang seperti vertebra, humerus, radius, femur, dan tibia.
Akibat perubahan ini, lansia mungkin mengalami penurunan mobilitas dan keseimbangan, yang dapat meningkatkan risiko jatuh dan cedera. Selain itu, organ internal juga mengalami perubahan. Misalnya, penurunan elastisitas paru-paru dapat mengurangi kapasitas pernapasan, sedangkan penurunan fungsi jantung dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menjaga keseimbangan kardiovaskular.
Selain itu, kondisi seperti nyeri punggung juga sering dikeluhkan oleh lansia. Penurunan kepadatan tulang, degenerasi diskus intervertebralis, dan perubahan postur tubuh dapat menyebabkan masalah punggung yang menyebabkan ketidaknyamanan dan keterbatasan gerakan.
Selanjutnya, pada usia pertengahan, kartilago sendi juga mengalami perubahan progresif. Kartilago berperan dalam melindungi ujung tulang dan memastikan pergerakan sendi yang lancar. Namun, seiring bertambahnya usia, kartilago dapat mengalami kerusakan dan keausan. Hal ini dapat menyebabkan nyeri sendi, kekakuan, dan gangguan mobilitas.
Meskipun perubahan ini merupakan bagian alami dari proses penuaan, langkah-langkah dapat diambil untuk meminimalkan dampaknya. Menjaga pola makan yang sehat dan kaya nutrisi, serta rutin berolahraga, terutama latihan kekuatan dan latihan keseimbangan, dapat membantu menjaga massa otot dan kepadatan tulang. Selain itu, menjaga postur yang baik, menghindari aktivitas yang berisiko tinggi, dan mengadopsi teknik pengelolaan nyeri yang tepat juga penting dalam menjaga kesehatan tulang dan sendi.
Dengan mengambil tindakan pencegahan yang tepat, lansia dapat menjaga mobilitas, keseimbangan, dan fungsi organ internal sebaik mungkin. Konsultasikan dengan tenaga medis dan ahli geriatri untuk mendapatkan panduan yang sesuai dengan kondisi individu dan memastikan penuaan yang sehat dan bermakna.
Otot-otot pernafasan pada individu lansia mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan, dan menjadi kaku serta menurunnya aktifitas silia dan paru-paru kehilangan elastisitasnya. Penurunan kekuatan dan elastisitas otot-otot pernapasan pada lansia dapat memiliki dampak negatif pada fungsi pernapasan. Otot-otot pernapasan yang mengalami atrofi dan kelemahan menjadi lebih kaku dan kurang responsif terhadap rangsangan. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kemampuan pernapasan yang efisien.
Selain itu, aktivitas silia, yaitu rambut halus yang terdapat di dalam saluran pernapasan untuk membersihkan lendir dan partikel debu, juga dapat menurun pada individu lansia. Penurunan aktivitas silia ini dapat mengganggu mekanisme alami tubuh untuk membersihkan saluran pernapasan, meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan dan masalah pernapasan lainnya.
Selanjutnya, elastisitas paru-paru juga berkurang seiring bertambahnya usia. Paru-paru kehilangan kemampuan untuk dengan mudah mengembang dan berkontraksi, yang berdampak pada kapasitas pernapasan. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan kapasitas vital paru-paru dan membatasi kemampuan tubuh untuk memperoleh oksigen yang cukup.
Kombinasi dari kelemahan otot pernapasan, penurunan aktivitas silia, dan penurunan elastisitas paru-paru dapat menyebabkan kesulitan bernapas, peningkatan kelelahan saat aktivitas fisik, dan penurunan toleransi terhadap latihan. Lansia mungkin merasa lebih cepat lelah dan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari yang melibatkan aktivitas fisik yang lebih intens.
Meskipun perubahan ini adalah bagian alami dari proses penuaan, penting untuk menjaga kesehatan pernapasan dengan menerapkan gaya hidup yang sehat. Menghindari kebiasaan merokok, menjaga lingkungan yang bersih dan bebas dari iritan pernapasan, serta menjaga pola hidup aktif dengan melakukan latihan pernapasan dan aktivitas fisik yang sesuai dapat membantu menjaga kesehatan pernapasan dan mengurangi risiko komplikasi pernapasan pada lansia. Penting juga untuk berkonsultasi dengan tenaga medis atau ahli pernapasan untuk mendapatkan panduan dan pemeriksaan yang tepat guna memonitor dan menjaga kesehatan pernapasan secara optimal pada usia lanjut.
Fungsi kognitif adalah kemampuan mental yang terdiri dari atesi, kemampuan berbahasa, daya ingat dan kemampuan membuat konsep dan intelegasi. Pensiun adalah salah satu perubahan yang signifikan dalam kehidupan lansia. Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam dunia kerja, pensiun seringkali membuat mereka merasa kehilangan identitas dan tujuan hidup. Selain itu, isolasi sosial juga menjadi masalah yang sering dihadapi lansia. Kehilangan pasangan hidup, teman, atau keluarga dapat menyebabkan mereka merasa kesepian dan terisolasi dari masyarakat.
Perubahan seksualitas juga merupakan bagian dari perubahan psikososial pada lansia. Banyak lansia mengalami penurunan hasrat seksual, gangguan seksual, atau kondisi medis yang mempengaruhi fungsi seksual. Selain itu, perubahan lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis lansia. Pindah ke tempat tinggal yang baru atau di lingkungan yang tidak familiar dapat memicu perasaan cemas, takut, dan kebingungan pada lansia.
Namun demikian, penting untuk diingat bahwa setiap lansia mengalami perubahan psikososial dengan cara yang berbeda-beda, tergantung pada latar belakang dan pengalaman hidup mereka. Dengan memahami perubahan psikososial yang umum terjadi pada lansia, kita dapat membantu mereka mengatasi masalah dan menjalani kehidupan yang bermakna di usia lanjut.
Perubahan psikososial yang biasa terjadi pada lansia, pensiun, isolasi sosial, perubahan seksualitas dan perubahan lingkungan tempat tinggal. Selain perubahan psikososial yang telah disebutkan sebelumnya, masih ada beberapa aspek penting lainnya yang juga mempengaruhi kesejahteraan psikologis lansia. Salah satu aspek tersebut adalah perubahan fisik yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Lansia sering mengalami penurunan daya penglihatan, pendengaran, kekuatan otot, dan fleksibilitas sendi. Perubahan ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan membatasi aktivitas sehari-hari, yang pada gilirannya dapat berdampak pada kesehatan mental dan kualitas hidup mereka.
Selain itu, lansia juga dapat mengalami perubahan dalam kemampuan kognitif mereka, seperti penurunan memori dan kesulitan dalam pemecahan masalah. Meskipun beberapa perubahan ini adalah bagian alami dari penuaan, beberapa lansia mungkin mengalami gangguan kognitif yang lebih serius, seperti demensia. Perubahan dalam kemampuan kognitif ini dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan kemandirian mereka, serta menyebabkan kecemasan dan depresi.
Selanjutnya, perubahan peran sosial juga dapat berdampak signifikan pada kesejahteraan psikologis lansia. Misalnya, peran sebagai pasangan, orangtua, atau kakek/nenek seringkali berubah seiring dengan perubahan dalam dinamika keluarga dan lingkungan sosial. Kehilangan pasangan hidup atau menjadi janda/duda dapat memicu perasaan kesepian dan kehilangan. Selain itu, lansia juga mungkin mengalami perubahan peran dalam hubungan dengan anak-anak dan cucu, yang dapat menyebabkan perasaan tidak berguna atau tidak dihargai.
Dalam menghadapi perubahan psikososial ini, penting bagi lansia untuk memiliki dukungan sosial yang memadai. Keluarga, teman, dan komunitas dapat memberikan dukungan emosional, praktis, dan sosial yang diperlukan untuk membantu lansia mengatasi perubahan ini. Selain itu, penting juga bagi lansia untuk menjaga kesehatan mental mereka dengan menjalani gaya hidup yang sehat, tetap aktif secara fisik dan mental, serta terlibat dalam kegiatan sosial yang memberikan rasa tujuan dan kepuasan.
Tidur merupakan kondisi tidak sadar di mana individu dapat dibangunkan oleh stimulus atau sensoris yang sesuai atau juga dikatakan sebagai keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan ciri adanya aktivitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapat perubahan proses terhadap rangsangan dari luar.
Tidur merupakan suatu kondisi alami di mana individu memasuki keadaan tidak sadar atau kurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya. Selama tidur, seseorang dapat dibangunkan oleh rangsangan atau stimulus yang sesuai, seperti suara keras atau sentuhan, meskipun responsnya mungkin berbeda dengan saat individu dalam keadaan terjaga. Tidur tidak hanya merupakan keadaan ketenangan atau kegiatan yang minim, tetapi lebih merupakan sebuah urutan siklus yang berulang secara teratur. Siklus tidur terdiri dari beberapa tahap, termasuk tidur ringan, tidur dalam, dan tidur REM (Rapid Eye Movement). Setiap tahap memiliki ciri-ciri khusus dalam hal aktivitas otak dan aktivitas fisik yang terjadi.
Selama tidur, kesadaran individu dapat bervariasi. Pada tahap tidur yang dalam, kesadaran akan sangat rendah, dan individu mungkin sulit dibangunkan. Namun, pada tahap tidur REM, aktivitas otak menjadi lebih aktif, dan mimpi sering terjadi. Selama tidur REM, meskipun individu berada dalam keadaan tidak sadar, terdapat perubahan proses yang terjadi dalam menanggapi rangsangan dari lingkungan luar.
Tidur memiliki peran penting dalam pemulihan dan regenerasi tubuh. Selama tidur, berbagai proses fisiologis terjadi, termasuk pemulihan otot, pemulihan sistem kekebalan tubuh, dan konsolidasi memori. Tidur yang cukup dan berkualitas diperlukan untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan tubuh secara keseluruhan. Namun, pola tidur individu dapat bervariasi, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, gaya hidup, dan kesehatan fisik dan mental. Gangguan tidur, seperti insomnia atau sleep apnea, dapat mengganggu kualitas tidur dan menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius.
Penting untuk menjaga rutinitas tidur yang teratur dan menciptakan lingkungan tidur yang nyaman agar dapat mencapai tidur yang berkualitas. Jika mengalami masalah tidur yang berkepanjangan atau mengganggu keseharian, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga medis untuk evaluasi dan penanganan yang sesuai. Secara keseluruhan, tidur adalah suatu proses penting dalam kehidupan manusia yang mempengaruhi kesehatan dan keseimbangan fisik dan mental. Memahami karakteristik tidur dan menjaga pola tidur yang sehat dapat berkontribusi pada kesejahteraan umum dan kualitas hidup yang baik.
Ada dua cara terjadinya tidur. Pertama disebabkan oleh menurunnya kegiatan di dalam sistem pengaktivisan, ini disebut tidur gelombang lambat (slow wave sleep). Kedua, disebabkan oleh penurunan abnormal dari isyarat-isyarat di dalam otak, ini disebut tidur paradoks (paradoxical sleep). Tidur adalah proses aktif yang melibatkan aktivitas Reticular Activating System (RAS) dan interaksi dinamis antara neurotransmitter RAS membentuk jaringan interkoneksi neuron-neuron pada medulla, pons, otak tengah dengan proyeksi ke serabut spinal hipotalamus, cerebellum dan korteks serebri. Reticular Activating System (RAS) mengisi ruang di dalam otak di antara saluran besar membawa pesan sensori dan memancarkannya.
Ada dua cara terjadinya tidur yang telah diidentifikasi. Pertama, tidur gelombang lambat (slow wave sleep) disebabkan oleh menurunnya aktivitas di dalam sistem pengaktivisan. Pada tahap ini, terjadi pola gelombang otak yang lambat dan teratur. Tidur gelombang lambat dikenal sebagai tidur yang dalam dan pemulihan, di mana tubuh memperbaiki dan meregenerasi dirinya sendiri. Kedua, terdapat tidur paradoks (paradoxical sleep) yang disebabkan oleh penurunan abnormal dari sinyal-sinyal di dalam otak. Tidur paradoks juga dikenal sebagai tidur REM (Rapid Eye Movement), karena pada tahap ini terjadi gerakan mata yang cepat dan aktivitas otak yang mirip dengan saat individu dalam keadaan terjaga. Tidur REM dikaitkan dengan proses kognitif, seperti mimpi dan konsolidasi memori.
Tidur adalah proses aktif yang melibatkan berbagai mekanisme dan interaksi dalam sistem saraf. Salah satu komponen penting dalam tidur adalah Reticular Activating System (RAS). RAS adalah jaringan neuron yang terletak di medula, pons, dan otak tengah, dengan proyeksi ke berbagai area penting seperti hipotalamus, cerebellum, dan korteks serebri. RAS memiliki peran dalam mengatur tingkat kesadaran dan aktivasi tubuh. Selama tidur, RAS tetap aktif, mengisi ruang di antara jalur-jalur sensori utama dalam otak dan memodulasi aktivitas sel saraf. Melalui interaksi dinamis dengan neurotransmitter, RAS membentuk jaringan interkoneksi neuron-neuron yang memengaruhi berbagai fungsi tidur.
Proses tidur melibatkan koordinasi yang kompleks antara berbagai sistem saraf dan neurotransmitter di dalam otak. Sistem saraf otonom juga terlibat dalam mengatur fungsi-fungsi tubuh yang terkait dengan tidur, seperti pernapasan dan detak jantung. Meskipun masih banyak yang perlu dipelajari tentang mekanisme tidur, pemahaman tentang peran RAS dan interaksi dinamis antara sistem saraf dalam proses tidur telah menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut dan pengembangan pemahaman tentang tidur dan gangguan tidur.
Serotonin adalah neurotransmitter utama yang berhubungan dengan tidur, diproduksi di rephe nuclei pada batang otak. Serotinin merupakan turunan dari precursor tryptophan yang merupakan asam amino esensial yang dapat meningkatkan aktivitas RAS, sehingga mampu mendorong tidur dan menopang atau mempertahankan tidur.
Serotonin adalah salah satu neurotransmitter utama yang terkait dengan tidur. Neurotransmitter ini diproduksi di dalam nukleus raphe yang terletak di batang otak. Serotonin memiliki peran penting dalam regulasi tidur dan bangun, serta pengaturan suasana hati dan emosi.
Serotonin dihasilkan dari prekursor yang disebut tryptophan, yang merupakan salah satu asam amino esensial yang diperoleh dari makanan. Ketika kadar serotonin meningkat, aktivitas Reticular Activating System (RAS) juga akan meningkat. RAS adalah sistem saraf yang terlibat dalam mengatur tingkat kesadaran dan aktivasi tubuh. Dengan meningkatnya aktivitas RAS, tidur dapat diinduksi atau dipicu (induce sleep), dan tidur dapat dipertahankan dengan lebih baik. Serotonin juga berperan dalam mengatur durasi tidur REM (Rapid Eye Movement) yang penting untuk fungsi kognitif, termasuk pemrosesan informasi dan pembentukan memori.
Selain serotonin, neurotransmitter lain juga berperan dalam regulasi tidur. Salah satunya adalah asetilkolin, yang diproduksi terutama di hipotalamus. Asetilkolin berperan dalam pengaturan fase tidur REM dan keterjagaan. Peningkatan asetilkolin dalam otak dapat menyebabkan terjaganya seseorang, sementara penurunan asetilkolin dapat memfasilitasi tidur.
Norepinefrin adalah neurotransmitter lain yang terlibat dalam regulasi tidur dan bangun. Ini diproduksi di locus coeruleus, yang juga terletak di batang otak. Norepinefrin berperan dalam mempertahankan tingkat kewaspadaan dan mempengaruhi peralihan antara tidur dan bangun.
Proses kompleks interaksi antara neurotransmitter seperti serotonin, asetilkolin, dan norepinefrin dalam batang otak dan otak secara keseluruhan membentuk dasar mekanisme neurokimia yang terlibat dalam tidur. Pemahaman lebih lanjut tentang peran neurotransmitter ini dalam regulasi tidur dapat membantu dalam pengembangan pendekatan terapeutik untuk gangguan tidur dan masalah terkait tidur.
Selain serotonin, asetilkolin, dan norepinefrin, terdapat juga neurotransmitter lain yang berperan dalam regulasi tidur. GABA (asam gamma-aminobutirat) adalah salah satu neurotransmitter utama yang terlibat dalam menghambat aktivitas saraf. GABA memiliki efek menenangkan dan menekan aktivitas saraf, sehingga membantu mempromosikan tidur yang nyenyak.
Produksi GABA terjadi di berbagai bagian otak, termasuk korteks serebral, hipotalamus, dan batang otak. GABA bekerja dengan mengikat reseptor GABA di neuron dan menghasilkan efek penenangan serta mengurangi kegiatan saraf yang berlebihan.
Glutamat, neurotransmitter eksitatorik yang berkebalikan dengan GABA, juga berperan dalam regulasi tidur. Glutamat bertanggung jawab untuk membangkitkan aktivitas saraf dan meningkatkan kewaspadaan. Selama tidur, kadar glutamat menurun, sehingga membantu mempromosikan tidur yang lebih dalam dan mengurangi aktivitas saraf yang berlebihan.
Dopamin adalah neurotransmitter lain yang terlibat dalam regulasi tidur dan bangun. Dopamin diproduksi di berbagai bagian otak, termasuk area tegmentum ventral dan substantia nigra. Dopamin memiliki peran penting dalam mengatur keterjagaan dan kewaspadaan serta mempengaruhi proses belajar dan motivasi.
Selain neurotransmitter, hormon juga memainkan peran dalam regulasi tidur. Misalnya, hormon melatonin yang diproduksi oleh kelenjar pineal dalam otak terlibat dalam mengatur ritme sirkadian dan mempersiapkan tubuh untuk tidur. Produksi melatonin meningkat dalam kondisi cahaya rendah, seperti menjelang malam, dan membantu mempersiapkan tubuh untuk tidur.
Pemahaman tentang peran neurotransmitter dan hormon dalam regulasi tidur masih menjadi area penelitian yang aktif. Interaksi kompleks antara berbagai zat kimia dalam otak berkontribusi pada pengaturan tidur dan bangun yang seimbang. Gangguan pada sistem neurokimia tidur dapat menyebabkan masalah tidur seperti insomnia, sleep apnea, atau gangguan tidur lainnya.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang mekanisme neurokimia tidur, diharapkan dapat dikembangkan pendekatan terapeutik yang lebih efektif untuk mengatasi masalah tidur dan meningkatkan kualitas tidur individu.
Selain neurotransmitter dan hormon, terdapat juga neuropeptida yang memainkan peran penting dalam regulasi tidur. Salah satu neuropeptida yang signifikan adalah neuropeptida Y (NPY). NPY diproduksi di berbagai bagian otak, termasuk hipotalamus dan batang otak, dan berperan dalam mengatur kewaspadaan dan ritme sirkadian.
NPY memiliki efek menenangkan dan menurunkan kegiatan saraf, sehingga dapat memfasilitasi tidur. Produksi NPY meningkat selama tidur, terutama selama tidur gelombang lambat. Neuropeptida lain yang terlibat dalam regulasi tidur adalah orexin atau hypocretin. Orexin diproduksi di hipotalamus dan berperan dalam menjaga keterjagaan dan mempromosikan tidur yang teratur.
Selain itu, faktor-faktor eksternal seperti cahaya juga mempengaruhi regulasi tidur melalui mekanisme neurokimia. Fotoreseptor khusus di mata, yang dikenal sebagai sel ganglion melanopsin, mendeteksi intensitas cahaya dan mengirimkan sinyal ke inti suprakiasmatis di hipotalamus. Inti suprakiasmatis ini berfungsi sebagai “jam tubuh” internal yang mengatur ritme sirkadian.
Paparan cahaya terang pada pagi hari membantu menghambat produksi melatonin, hormon yang mempersiapkan tubuh untuk tidur, dan membangun keterjagaan. Sementara itu, penurunan paparan cahaya pada malam hari memungkinkan produksi melatonin meningkat, yang memicu kantuk dan mempersiapkan tubuh untuk tidur.
Selain neurotransmitter, hormon, neuropeptida, dan faktor eksternal, mekanisme genetik juga memainkan peran dalam regulasi tidur. Terdapat beberapa gen yang terkait dengan regulasi tidur dan ritme sirkadian, seperti gen CLOCK dan gen PER. Mutasi atau gangguan pada gen-gen ini dapat menyebabkan gangguan tidur atau gangguan ritme sirkadian.
Pemahaman lebih lanjut tentang mekanisme neurokimia, genetik, dan interaksi kompleks antara neurotransmitter, hormon, neuropeptida, dan faktor-faktor eksternal dalam regulasi tidur dapat membantu dalam pengembangan pendekatan terapeutik yang lebih terarah untuk mengatasi masalah tidur dan gangguan tidur.
Pemahaman tentang regulasi tidur terus berkembang, dan studi baru menyoroti peran penting beberapa neurotransmitter tambahan dalam proses tidur. Salah satu neurotransmitter tersebut adalah adenosin. Adenosin merupakan senyawa yang terbentuk selama metabolisme energi dalam tubuh, terutama saat adenosin trifosfat (ATP) diubah menjadi adenosin difosfat (ADP) dan monofosfat (AMP).
Ketika tubuh menghasilkan adenosin lebih banyak, misalnya saat aktivitas seluler meningkat, adenosin akan berikatan dengan reseptor adenosin di otak. Hal ini menghasilkan efek menenangkan dan menghambat aktivitas saraf, sehingga mempromosikan tidur. Adenosin juga berperan dalam mengatur durasi dan intensitas tidur.
Neurotransmitter lain yang memiliki peran dalam regulasi tidur adalah prostaglandin D2 (PGD2). PGD2 adalah senyawa lipid yang diproduksi oleh sel-sel mast dalam tubuh. PGD2 memiliki efek menenangkan dan memicu tidur. Konsentrasi PGD2 cenderung meningkat selama tidur dan menurun saat bangun.
Selain neurotransmitter, terdapat juga peptida tidur yang memainkan peran penting dalam regulasi tidur. Salah satu contohnya adalah melatonin. Melatonin diproduksi oleh kelenjar pineal di otak dan berperan dalam mengatur ritme sirkadian. Produksi melatonin meningkat pada malam hari, memberikan sinyal tubuh untuk memasuki fase tidur.
Selain melatonin, hormon lain seperti kortisol juga berperan dalam regulasi tidur dan bangun. Kortisol, yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, memiliki pola sirkadian yang terbalik dengan melatonin. Kortisol mencapai tingkat tertinggi pada pagi hari dan menurun menjelang malam, mempersiapkan tubuh untuk bangun dan menjadi lebih terjaga.
Selain neurotransmitter, peptida tidur, dan hormon, regulasi tidur juga melibatkan interaksi kompleks antara berbagai bagian otak, termasuk korteks serebral, hipotalamus, batang otak, dan sistem saraf otonom. Selain itu, faktor lingkungan, seperti suhu tubuh, kebisingan, dan kenyamanan lingkungan tidur, juga dapat mempengaruhi kualitas dan durasi tidur.
Pemahaman yang lebih dalam tentang regulasi tidur dan kompleksitas mekanisme neurokimia, peptida tidur, hormon, dan interaksi antarbagian otak akan membantu dalam pengembangan pendekatan terapeutik yang lebih efektif dalam mengatasi masalah tidur dan meningkatkan kualitas tidur individu.
Studi terbaru juga telah mengungkap peran sistem endokannabinoid dalam regulasi tidur. Sistem endokannabinoid terdiri dari reseptor dan senyawa-senyawa yang terkait, yang terdapat di seluruh tubuh, termasuk dalam sistem saraf pusat. Senyawa utama dalam sistem endokannabinoid adalah endokannabinoid, seperti anandamida dan 2-arachidonoylglycerol (2-AG).
Endokannabinoid berperan dalam mengatur berbagai fungsi fisiologis, termasuk tidur dan bangun. Aktivitas sistem endokannabinoid terkait dengan pengaturan fase tidur gelombang lambat dan tidur paradoks. Stres, rasa sakit, dan gangguan kecemasan juga dapat memengaruhi sistem endokannabinoid dan berdampak pada kualitas tidur.
Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sistem peptida orexin atau hypocretin berperan dalam mengatur kewaspadaan dan tidur. Orexin diproduksi di hipotalamus dan berperan dalam menjaga keterjagaan dan mempromosikan tidur yang teratur. Kekurangan orexin telah dikaitkan dengan gangguan tidur, seperti narcolepsy.
Interaksi kompleks antara neurotransmitter, neuropeptida, hormon, faktor genetik, dan faktor lingkungan membentuk sistem neurokimia yang rumit yang mengatur tidur dan bangun. Perubahan pada salah satu komponen sistem ini dapat menyebabkan gangguan tidur dan mempengaruhi kualitas tidur individu.
Pemahaman yang lebih mendalam tentang neurokimia tidur memberikan landasan bagi pengembangan pendekatan terapeutik yang lebih terarah dalam pengobatan gangguan tidur. Misalnya, obat-obatan yang bertujuan mengatur neurotransmitter atau hormon tertentu dapat digunakan dalam pengobatan insomnia, sleep apnea, atau gangguan tidur lainnya. Selain itu, pendekatan non-farmakologis, seperti terapi perilaku kognitif, perubahan gaya hidup, dan lingkungan tidur yang sehat, juga dapat membantu mengoptimalkan kualitas tidur dan mempromosikan regulasi tidur yang baik. Dengan pemahaman yang terus berkembang tentang neurokimia tidur, diharapkan dapat ditemukan metode yang lebih efektif untuk mengatasi masalah tidur dan meningkatkan kualitas tidur individu, yang berkontribusi pada kesejahteraan umum dan kualitas hidup yang lebih baik.
Tidur NREM sering disebut gelombang lambat (Slow Wave), tidur nyenyak, menyegarkan, tidur tanpa mimpi dengan gambaran gelombang delta disebut tidur normal.
Tidur Non-REM (NREM) adalah salah satu fase tidur yang terjadi sebelum tidur REM. Tidur NREM sering kali disebut sebagai tidur gelombang lambat atau tidur nyenyak. Pada fase ini, aktivitas otak menunjukkan pola gelombang yang lambat dan tinggi, yang juga dikenal sebagai gelombang delta.
Tidur NREM terdiri dari beberapa tahap, yang masing-masing memiliki karakteristik gelombang otak yang berbeda. Tahap 1 tidur NREM adalah tahap peralihan antara terjaga dan tidur. Pada tahap ini, gelombang otak menjadi lebih lambat dengan munculnya gelombang theta.
Tahap 2 tidur NREM adalah tahap tidur yang lebih dalam. Pada tahap ini, aktivitas otak yang lebih lambat dan gelombang tidur khas yang disebut kompleks K muncul. Tubuh memulai proses pemulihan dan pemulihan selama tahap ini.
Tahap 3 dan 4 tidur NREM adalah tahap tidur paling dalam, dengan dominasi gelombang delta. Tahap ini juga dikenal sebagai tidur gelombang lambat karena gelombang otak yang sangat lambat dan besar. Pada tahap ini, tubuh melakukan pemulihan, pemulihan jaringan, dan pemulihan fisik yang penting.
Tidur NREM yang berkualitas baik dan mencukupi penting untuk pemulihan fisik dan kognitif yang optimal. Selama tidur NREM, tubuh memperbaiki jaringan dan organ yang rusak, memperkuat sistem kekebalan tubuh, memperbarui energi, dan mengonsolidasikan memori.
Tidur NREM yang tidak memadai atau terganggu dapat menyebabkan gangguan tidur dan dapat berdampak negatif pada kesehatan dan kualitas hidup. Gangguan tidur NREM, seperti insomnia atau sleep apnea, dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk melakukan pemulihan dan regenerasi yang diperlukan.
Oleh karena itu, penting untuk menjaga rutinitas tidur yang teratur, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, dan mengadopsi praktik tidur yang sehat guna mempromosikan tidur NREM yang berkualitas. Dengan tidur yang cukup dan berkualitas, tubuh dan otak dapat memulihkan diri, memperkuat kesehatan, dan meningkatkan kinerja serta kesejahteraan secara keseluruhan.
Tidur REM berlangsung selama kurang lebih 20% dari seluruh tidur pada orang dewasa. Selama tidur REM otak benar-benar sangat aktif dan metabolisme otak bertambah kurang lebih 20%, bila seseorang sangat lelah, maka tidur paradoks sangat singkat atau bahkan tidak ada sama sekali (Alimul, 2006).
Perbedaan tidur subyek dengan usia muda yaitu tidur lansia kurang dalam, lebih sering terbangun, tidur delta berkurang dan tidurnya tidak efektif. Perubahan yang sangat menonjol terkait dengan gangguan tidur pada lansia yaitu terjadi pengurangan pada gelombang lambat, terutama stadium 4, gelombang alfa menurun, dan meningkatnya frekuensi terbangun di malam hari atau meningkatnya fragmentasi tidur karena seringnya terbangun. Gangguan juga terjadi pada dalamnya tidur sehingga lansia sangat sensitif terhadap stimulus lingkungan (Amir, 2007). Kualitas tidur juga berubah pada kebanyakan lansia. Pada lansia, episode tidur REM cenderung memendek dan terdapat penurunan yang progresif pada tahap tidur NREM 3 dan 4. Beberapa lansia hampir tidak memiliki tahap 4 atau tidur yang dalam (Potter & Perry, 2011).
Perbedaan tidur antara individu muda dan lansia memang terlihat signifikan. Pada lansia, tidur cenderung menjadi lebih dangkal dan sering terganggu. Beberapa perubahan yang terjadi pada tidur lansia meliputi penurunan intensitas gelombang lambat, terutama pada stadium 4 tidur, serta penurunan gelombang alfa. Selain itu, frekuensi terbangun di malam hari atau fragmentasi tidur juga meningkat pada lansia, yang berarti mereka cenderung terbangun lebih sering selama tidur.
Salah satu perubahan tidur yang paling mencolok pada lansia adalah penurunan durasi tidur REM (Rapid Eye Movement) yang terjadi pada setiap siklus tidur. Tidur REM merupakan fase tidur yang diidentifikasi dengan gerakan cepat mata, aktivitas otak yang lebih tinggi, dan mimpi yang intens. Pada lansia, episode tidur REM menjadi lebih pendek dan jumlahnya dapat berkurang.
Selain itu, terjadi penurunan progresif pada tahap tidur NREM 3 dan 4 pada lansia. Tahap ini dikenal sebagai tidur yang dalam, di mana gelombang delta yang lambat dan besar dominan. Beberapa lansia bahkan mungkin hampir tidak memiliki tahap tidur NREM 4 atau tidur yang dalam.
Perubahan-perubahan ini dalam pola tidur lansia dapat menyebabkan gangguan tidur dan masalah kualitas tidur. Lansia mungkin lebih mudah terbangun oleh stimulus lingkungan, dan tidur mereka menjadi lebih sensitif terhadap gangguan eksternal. Selain itu, gangguan tidur pada lansia juga dapat berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan, seperti kelelahan, gangguan konsentrasi, dan perubahan suasana hati.
Penting bagi lansia untuk memperhatikan kualitas tidur mereka dan mengadopsi kebiasaan tidur yang sehat. Ini termasuk menjaga rutinitas tidur yang teratur, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dan tenang, menghindari stimulan seperti kafein dan aktivitas yang berlebihan menjelang tidur, serta menjaga gaya hidup sehat secara umum.
Dalam beberapa kasus, penanganan medis atau konsultasi dengan profesional kesehatan mungkin diperlukan untuk mengatasi gangguan tidur yang signifikan pada lansia. Terdapat berbagai strategi dan terapi yang dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat gangguan tidur pada lansia.
Selain perubahan yang telah disebutkan sebelumnya, perubahan kualitas tidur juga menjadi faktor yang signifikan pada lansia. Banyak lansia mengalami kesulitan tidur secara keseluruhan, termasuk masalah seperti sulit memulai tidur (insomnia awal), sering terbangun di tengah malam, atau terbangun terlalu awal di pagi hari (insomnia terminal).
Gangguan tidur pada lansia dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah perubahan hormonal yang terjadi selama penuaan, seperti penurunan produksi hormon melatonin yang membantu mengatur siklus tidur dan terjaga. Selain itu, kondisi medis seperti nyeri kronis, gangguan pernapasan, penyakit neurodegeneratif, atau gangguan psikologis seperti depresi dan kecemasan juga dapat berkontribusi terhadap gangguan tidur pada lansia.
Penanganan gangguan tidur pada lansia dapat melibatkan pendekatan yang holistik. Hal ini meliputi mengadopsi kebiasaan tidur yang sehat, seperti menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, menjaga rutinitas tidur yang konsisten, dan mempraktikkan kebiasaan relaksasi sebelum tidur. Terapi perilaku kognitif juga dapat membantu mengatasi pikiran dan kecemasan yang mungkin mengganggu tidur.
Dalam beberapa kasus, penggunaan obat tidur atau obat penenang mungkin direkomendasikan oleh profesional kesehatan. Namun, penggunaan obat-obatan ini harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan petunjuk dokter, mengingat risiko ketergantungan dan efek samping yang mungkin terjadi.
Penting untuk menyadari bahwa perubahan tidur yang terjadi pada lansia adalah bagian normal dari proses penuaan. Namun, jika gangguan tidur berdampak signifikan pada kualitas hidup dan kesejahteraan, penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan untuk mengevaluasi dan menangani masalah tidur dengan tepat.
Dengan pemahaman yang baik tentang perubahan tidur yang terjadi pada lansia dan dengan perhatian terhadap kualitas tidur yang sehat, lansia dapat memaksimalkan potensi tidur mereka, memperbaiki kualitas hidup, dan mempertahankan kesehatan yang baik.
Pada umumnya waktu tidur yang dibutuhkan oleh setiap orang untuk tidur tidaklah sama, tidak saja akan menjadi semakin berkurang seiring dengan perjalanan atau pertumbuhan usianya tetapi juga karena pola atau lama tidur yang dibutuhkan oleh setiap orang sangat bervariasi (bisa dipengaruhi oleh situasi dan kondisi atau tergantung pada keadaan–keadaan yang sedang dialami atau dihadapi). Bahkan bisa juga dipengaruhi atau terpengaruh oleh faktor usia (Alimul, 2006).
Perbedaan siklus tidur antara lansia dan remaja bisa dilihat dari jumlah kebutuhan tidurnya yaitu remaja membutuhkan sekitar 8,5 jam/hari dengan 20% REM sedangkan lansia membutuhkan 6 jam/hari dengan 20-25% REM dan sering sulit tidur. Untuk masa paruh baya (usia 40-60 tahun) membutuhkan waktu tidur selama 7 jam (Alimul, 2006). Dalam Amir (2007) dan Erliana (2012) disebutkan bahwa dewasa muda membutuhkan waktu tidur 7-8 jam dengan NREM 75% dan REM 25%. Kebutuhan ini menetap sampai batas lansia.
Perbedaan dalam kebutuhan tidur antara lansia dan kelompok usia lainnya, seperti remaja dan dewasa muda, memang dapat diamati. Kebutuhan tidur adalah jumlah waktu tidur yang diperlukan oleh individu dalam satu siklus tidur yang memadai untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Remaja umumnya membutuhkan sekitar 8,5 jam tidur per hari. Pada usia ini, sekitar 20% tidur adalah fase REM (Rapid Eye Movement) yang penting untuk pemulihan otak dan fungsi kognitif. Fase REM dikenal sebagai fase tidur yang penuh dengan mimpi.
Sementara itu, lansia umumnya membutuhkan sekitar 6 jam tidur per hari. Meskipun jumlah tidur yang lebih pendek, persentase REM pada tidur lansia bisa sedikit meningkat, mencapai sekitar 20-25%. Namun, sering kali lansia mengalami kesulitan tidur, seperti kesulitan memulai tidur, terbangun di tengah malam, atau tidur yang terfragmentasi. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas tidur mereka secara keseluruhan.
Pada usia dewasa muda, kebutuhan tidur biasanya berkisar antara 7-8 jam per hari, dengan sekitar 75% tidur dalam fase NREM (Non-Rapid Eye Movement) dan sekitar 25% dalam fase REM. Fase NREM terdiri dari beberapa tahap tidur yang mendalam dan pemulihan, yang penting untuk pemulihan fisik dan regenerasi jaringan.
Perubahan kebutuhan tidur seiring dengan penuaan mungkin terkait dengan perubahan dalam aktivitas hormonal, perubahan neurologis, dan faktor-faktor lainnya yang terkait dengan proses penuaan. Adapun perbedaan dalam proporsi NREM dan REM dapat mencerminkan perubahan dalam kebutuhan dan kualitas tidur yang terkait dengan penuaan.
Namun, penting untuk diingat bahwa kebutuhan tidur dapat bervariasi antara individu, termasuk dalam kelompok usia yang sama. Beberapa individu mungkin membutuhkan waktu tidur yang lebih sedikit atau lebih banyak daripada rata-rata yang disebutkan di atas. Yang terpenting adalah untuk memperhatikan kebutuhan tidur masing-masing individu dan menjaga kebiasaan tidur yang sehat untuk memastikan tidur yang cukup dan berkualitas.
Gangguan tidur adalah suatu kondisi yang jika tidak diobati, umumnya menyebabkan tidur terganggu yang menghasilkan salah satu dari tiga masalah:
Perbedaan dalam kebutuhan tidur antara lansia dan kelompok usia lainnya, seperti remaja dan dewasa muda, memang dapat diamati. Kebutuhan tidur adalah jumlah waktu tidur yang diperlukan oleh individu dalam satu siklus tidur yang memadai untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Remaja umumnya membutuhkan sekitar 8,5 jam tidur per hari. Pada usia ini, sekitar 20% tidur adalah fase REM (Rapid Eye Movement) yang penting untuk pemulihan otak dan fungsi kognitif. Fase REM dikenal sebagai fase tidur yang penuh dengan mimpi.
Sementara itu, lansia umumnya membutuhkan sekitar 6 jam tidur per hari. Meskipun jumlah tidur yang lebih pendek, persentase REM pada tidur lansia bisa sedikit meningkat, mencapai sekitar 20-25%. Namun, seringkali lansia mengalami kesulitan tidur, seperti kesulitan memulai tidur, terbangun di tengah malam, atau tidur yang terfragmentasi. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas tidur mereka secara keseluruhan.
Pada usia dewasa muda, kebutuhan tidur biasanya berkisar antara 7-8 jam per hari, dengan sekitar 75% tidur dalam fase NREM (Non-Rapid Eye Movement) dan sekitar 25% dalam fase REM. Fase NREM terdiri dari beberapa tahap tidur yang mendalam dan pemulihan, yang penting untuk pemulihan fisik dan regenerasi jaringan.
Perubahan kebutuhan tidur seiring dengan penuaan mungkin terkait dengan perubahan dalam aktivitas hormonal, perubahan neurologis, dan faktor-faktor lainnya yang terkait dengan proses penuaan. Adapun perbedaan dalam proporsi NREM dan REM dapat mencerminkan perubahan dalam kebutuhan dan kualitas tidur yang terkait dengan penuaan.
Namun, penting untuk diingat bahwa kebutuhan tidur dapat bervariasi antara individu, termasuk dalam kelompok usia yang sama. Beberapa individu mungkin membutuhkan waktu tidur yang lebih sedikit atau lebih banyak daripada rata-rata yang disebutkan di atas. Yang terpenting adalah untuk memperhatikan kebutuhan tidur masing-masing individu dan menjaga kebiasaan tidur yang sehat untuk memastikan tidur yang cukup dan berkualitas.
EDES dan kelelahan keluhan yang paling dirasakan dari orang-orang dengan OSA perasaan kantuk biasanya paling sering terjadi, atau terjadi sesaat sebelum tidur, dan sekitar 12 jam setelah periode midsleep. EDES sering menyebabkan gagalnya fungsi untuk tetap terjaga, rendahnya kinerja masyarakat atau sekolah, kecelakaan saat mengemudi atau penggunaan peralatan, serta masalah perilaku atau emosional.
Gejala utama dari Sleep Apnea Obstructive (OSA) adalah episodenya berhenti atau terhenti sementara dalam pernafasan selama tidur. Selama periode apnea ini, pasien mungkin tidak menyadari bahwa mereka berhenti bernapas, tetapi efeknya dapat sangat merugikan kesehatan dan kualitas hidup mereka.
Salah satu dampak utama dari OSA adalah Excessive Daytime Sleepiness (EDS) atau rasa kantuk berlebihan saat berada dalam keadaan terjaga. Orang dengan OSA sering merasakan kantuk yang persisten dan intensitasnya dapat meningkat pada beberapa waktu tertentu, seperti saat sedang duduk diam atau melakukan aktivitas yang monoton. Mereka juga bisa merasa sangat kantuk sebelum tidur atau sekitar 12 jam setelah periode tengah tidur (midsleep). Hal ini terjadi karena tidur yang tidak efisien dan gangguan pernapasan yang terjadi selama tidur mengganggu pola tidur normal dan pemulihan fisik.
Narkolepsi adalah disfungsi mekanisme yang mengatur kondisi tidur dan terjaga. Keluhan kantuk yang berlebihan di siang hari merupakan yang paling umum berkaitan dengan gangguan ini. Seseorang mengalami masalah tidur tak terkendali pada waktu yang tidak tepat. Serangan tidur dianggap sebagi bentuk kemalasan, kurangnya minat dalam beraktivitas atau mabuk. Biasanya gejala utama pada masa remaja dan sering kali bingung dengan kantuk di siang hari yang berlebihan.
Penderita juga diobati dengan obat antidepresan yang menekan katapleksi (cataplexy) atau kelemahan otot dan gejala terkait REM lainnya. Tidur pada siang hari yang singkat, tidak lebih dari 20 menit, membantu mengurangi perasaan ngantuk subjektif. Obat yang diklasifikasikan sebagai agen yang meningkatkan kondisi jaga atau wakefulness-promoting agent, seperti modafinil, tersedia untuk mengobati narkolepsi. Metode manajemen lainnya yang membantu adalah mengikuti program latihan rutin, menghindari perubahan waktu tidur, secara strategis mengatur waktu tidur siang jika mungkin, mengonsumsi makanan ringan tinggi protein, berlatif pernafasan dalam, mengunyah permen karet, dan mengonsumsi makanan ringan tinggi protein (Potter & Perry, 2011). Klien dengan narkolepsi perlu menghindari faktor-faktor yang meningkatkan kantuk (misalnya: alkohol, makanan berat, kegiatan yang melelahkan, duduk lama tempat yang panas, kamar pengap).
Kurang tidur adalah masalah yang paling banyak yang dialami klien sebagai dari disomnia. Penyebabnya meliputi penyakit (misalnya: demam, obat sesak nafas, atau sakit), stress emosional, pengobatan, gangguan lingkungan (misalnya tindakan perawatan yang sering), dan variabilitas dalam waktu tidur karena shift kerja. Hospitalisasi, terutama di unit perawatan intensif (ICU), membuat klien rentan terhadap gangguan tidur ekstrinsik dan sirkadian yang menyebabkan sindrom “Gejala Kurang Tidur” (Potter & Perry, 2011).
Kurang tidur merupakan masalah umum yang sering dialami oleh klien dengan disomnia. Ada beberapa penyebab yang dapat menyebabkan kurang tidur, termasuk penyakit yang sedang dialami seperti demam, gangguan pernapasan yang menyebabkan kesulitan bernapas, atau rasa sakit yang mengganggu tidur. Stress emosional juga dapat menjadi faktor penyebab kurang tidur, di mana pikiran yang gelisah atau kekhawatiran yang berlebihan mengganggu kemampuan untuk tidur dengan nyaman. Penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat mempengaruhi tidur, baik efek samping dari obat-obatan tersebut atau kebutuhan untuk mengonsumsi obat secara teratur. Selain itu, gangguan lingkungan seperti seringnya tindakan perawatan atau perubahan rutinitas juga dapat mengganggu tidur. Variabilitas waktu tidur yang disebabkan oleh shift kerja atau jadwal yang tidak teratur juga dapat menyebabkan kurang tidur.
Klien yang menjalani hospitalisasi, terutama di unit perawatan intensif (ICU), rentan terhadap gangguan tidur ekstrinsik dan sirkadian. Faktor-faktor seperti kebisingan, cahaya terang, gangguan dari perawatan medis, dan perubahan rutinitas dapat mengganggu tidur yang nyaman dan memadai. Hal ini dapat menyebabkan sindrom “Gejala Kurang Tidur” di mana klien mengalami gejala kurang tidur seperti kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, perubahan suasana hati, dan penurunan kinerja fisik dan kognitif.
Penting bagi perawat atau tenaga medis yang merawat klien di rumah sakit untuk memperhatikan dan mengatasi gangguan tidur yang dialami oleh klien. Upaya dapat dilakukan untuk menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, mengurangi kebisingan dan cahaya yang mengganggu, serta menyelaraskan jadwal perawatan agar tidak mengganggu waktu tidur yang diperlukan oleh klien. Penggunaan metode non-farmakologis seperti relaksasi, terapi musik, atau terapi pijat juga dapat membantu meningkatkan tidur yang berkualitas.
Dalam kondisi ICU atau unit perawatan intensif, perawat dapat mempertimbangkan penerapan praktik perawatan tidur yang optimal, seperti meminimalkan interupsi, merencanakan periode tidur yang tidak terganggu, dan memberikan pengobatan yang tepat untuk mengelola gejala kurang tidur yang dialami oleh klien.
Parasomnia adalah masalah umum yang lebih umum terjadi pada anak-anak dari pada orang dewasa. Beberapa orang hipotesis bahwa sindrom kematian bayi mendadak (Sudden Infant Death Syndrome/SIDS) dianggap berkaitan dengan apnea, hipoksia, dan aritmia jantung yang disebabkan oleh kelainan dalam sistem saraf otonom yang terjadi selama tidur (Potter & Perry, 2011).
Parasomnia yang terjadi di antara anak-anak yang lebih tua meliputi kejadian berjalan sambil tidur (sleepwalking), terror malam, mimpi buruk, nokturnal enuresis (mengompol), badan goyang, dan bruxism (gigi bergemeretak). Ketika orang dewasa memiliki masalah ini, hal ini menunjukkan kelainan yang lebih serius. Pengobatan khusus untuk gangguan ini bervariasi. Namun penting untuk selalu mendukung klien dan menjaga keamanan mereka.
Insomnia adalah gejala yang dialami klien ketika mengalami kesulitan tidur kronis, sering terbangun dari tidur dan/atau tidur pendek, atau tidur non restoratif. Kantuk yang berlebihan di siang hari sering dikeluhkan oleh para penderita insomnia, serta kuantitas dan kualitas tidur yang tidak memadai. Insomnia sering menunjukan tanda gangguan fisik atau psikologis yang mendasarinya. Insomnia sering terjadi pada wanita dan masalah tidur yang paling umum.
Gangguan tidur secara umum merupakan suatu keadaan di mana individu mengalami atau mempunyai risiko perubahan dalam jumlah dan kualitas pola tidur yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan. Gangguan pemenuhan tidur pada lansia antara lain berupa: kesulitan untuk memulai tidur, sering terjaga sewaktu tidur, insomnia (gangguan tidur, sulit atau tidak bisa tidur).
Insomnia adalah gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan tidur kronis, sering terbangun dari tidur, tidur pendek, atau tidur yang tidak menghasilkan perasaan istirahat yang memadai. Klien yang mengalami insomnia sering kali mengalami kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur, atau bangun terlalu awal di pagi hari. Mereka mungkin merasa kantuk yang berlebihan di siang hari dan mengeluhkan kurangnya kuantitas dan kualitas tidur yang memadai.
Insomnia dapat menunjukkan adanya gangguan fisik atau psikologis yang mendasarinya. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan insomnia meliputi stres, gangguan mood seperti depresi atau kecemasan, gangguan tidur yang terkait dengan kondisi medis tertentu, penggunaan obat-obatan tertentu, atau gangguan lingkungan yang mengganggu tidur. Wanita cenderung lebih sering mengalami masalah tidur seperti insomnia dibandingkan dengan pria.
Insomnia dapat memiliki dampak yang signifikan pada kualitas hidup klien. Kekurangan tidur yang berkelanjutan dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental, penurunan konsentrasi dan kinerja, perubahan mood, gangguan fungsi kognitif, serta masalah perilaku dan emosional. Oleh karena itu, penting bagi klien yang mengalami insomnia untuk mendapatkan penanganan yang tepat guna mengatasi gangguan tidur yang mereka alami.
Penanganan insomnia dapat melibatkan pendekatan yang beragam, tergantung pada penyebab dan karakteristik individu klien. Terapi perilaku kognitif, pengaturan tidur yang konsisten, penghindaran stimulus yang mengganggu tidur, serta pemilihan obat tidur yang tepat dalam kasus yang lebih parah, dapat menjadi bagian dari penanganan insomnia. Selain itu, mempraktikkan kebiasaan tidur yang sehat seperti menjaga rutinitas tidur yang konsisten, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, dan mengelola stres juga dapat membantu meningkatkan kualitas tidur.
Ada beberapa tanda klinis yang perlu diketahui perawat terhadap klien yang mengalami gangguan tidur yaitu: klien mengungkapkan rasa capek, klien mudah tersinggung, apatis, warna kehitam-hitaman di sekitar mata, konjungtiva merah, sering kurang perhatian, pusing, mual. Apabila gangguan tidur dan kurang istirahat berlangsung lama, maka dapat terjadi gangguan tubuh seperti: perubahan kepribadian dan perilaku, rasa capek meningkat, gangguan persepsi, halusinasi pendengaran dan penglihatan, bingung dan disorientasi, koordinasi menurun, bicara tidak jelas.
Hospitalisasi atau dirawat di rumah sakit terbukti dapat menyebabkan gangguan tidur, ketidak mampuan klien mendapatkan posisi yang nyaman dan rasa nyeri merupakan penyebab tersering gangguan tidur. Ada 4 (empat) faktor yang mempengaruhi tidur, yaitu: faktor fisik, psikologis, gaya hidup, dan lingkungan.
Orang yang mengalami insomnia transien akibat hasil dari stres situasional seperti keluarga, pekerjaan, atau kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Insomnia biasanya dikaitkan dengan kurangnya kebersihan tidur. Pada siang hari, orang dengan insomnia kronik merasa mengantuk, lelah depresi, dan cemas. Pengobatan pada gejalanya termasuk meningkatkan kebersihan tidur, biofeedback, teknik kognitif dan tehnik relaksasi. Terapi teknik perilaku dan kognitif mempunyai efek merugikan dan menunjukan bukti peningkatan yang berkelanjutan pada tidur selama periode 6 bulan ke depan.
Latihan relaksasi progresif dapat sangat bermanfaat bagi lansia untuk mengurangi stres, meningkatkan kualitas tidur, dan meredakan ketegangan otot.
Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan stres. Relaksasi merupakan serangkaian upaya untuk menegangkan dan mengendurkan otot-otot di tubuh untuk mencapai keadaan rileks. Teknik relaksasi progresif merupakan terapi non farmakologis yang mudah dilakukan untuk mengatasi gangguan tidur pada lansia. Relaksasi progresif merupakan kombinasi latihan pernapasan yang terkontrol dan rangkaian kontraksi serta relaksasi kelompok otot.
Kelompok otot dalam relaksasi progresif Relaksasi progresif sebagai salah satu tehnik relaksasi otot pada prinsipnya adalah merelaksasikan empat kelompok otot besar secara bertahap. Empat kelompok otot besar dalam relaksasi progresif yaitu:
Relaksasi progresif dapat dilakukan kapan saja tanpa terikat waktu. Namun, untuk meningkatkan efektivtasnya, perlu memperhatikan tempat dan peralatan yang memadai. Lakukan relaksasi progresif pada suasana yang tenang, dan nyaman. Sediakan aroma wewangian untuk meningkatkan konsentrasi.
Genggam kedua tangan sehingga menjadi kepalan, arahkan ke pundak sehingga otot biseps akan menjadi tegang. Kencangkan otot biseps dan lengan (otot besar pada bagian atas pangkal lengan) selama 5 sampai 7 detik, perawat membimbing dan menganjurkan klien untuk memusatkan fokus pada ketegangan pada otot dan kemudian relaks selama 12 sampai 15 detik. Tekuk kedua lengan ke belakang pada pergelangan tangan sehingga otot tangan bagian belakang dan lengan bawah menegang, jari-jari menghadap ke langit-langit. Gerakan melatih otot tangan bagian depan dan belakang.
Angkat kedua bahu setinggi-tingginya seakan-akan hingga menyantuh kedua telinga, fokuskan atas, dan leher. Lengkungkan punggung ke belakang sambil menarik nafas dalam, tekan ke luar lambung, tahan dan relaks. Gerakkan otot dahi dengan cara mengerutkan dahi dan alis sampai otot terasa dan kulitnya keriput. Tutup mata sehingga dapat dirasakan disekitar mata dan kerutkan kedua dahi selama 5 sampai 7 detik. Katupkan rahang, diikuti dengan menggigit gigi sehingga terjadi ketegangan disekitar otot rahang. Kerutkan muka seperti sedang cemberut, mata dikedip-kedipkan, bibir dimonyongkan ke depan, lidah ditekan ke arah langit-langit, bahu dibungkukkan selama 5 sampai 7 detik. Tetap fokus pada otot yang ditegangkan sepenuhnya, dan rileks selama 12-30 detik. Dongakkan kepala ke belang dengan maksimal, dan kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri.
Tarik kaki dan ibu jari ke belakang mengarah ke muka, tahan dan rilaks. Lipat ibu jari secara serentak, kecangkan betis, paha dan pantat selama 5 sampai 7 detik. Tetap fokus pada otot yang ditegangkan sepenuhnya, dan rileks selama 12-30 detik.
Apabila klien mengalami kelelahan atau rasa nyeri, atau perubahan tanda-tanda vital yang cukup signifikan segera hentikan latihan relaksasi progresif tersebut. Relaksasi progresif bisa dilakukan 4 sampai 6 kali tiap minggu dan dilakukan pada malam hari untuk mengoptimalkan tidur.
Relaksasi otot progresif memodulasi respon rileks tubuh. Respon relaksasi ini terjadi melalui penurunan bermakna dari kebutuhan zat oksigen oleh tubuh, yang selanjutnya aliran darah akan lancar, neurotransmiter penenang akan dilepaskan, sistem saraf akan bekerja secara baik, otot-otot tubuh yang rileks menimbulkan perasaan tenang dan nyaman.
Latihan relaksasi yang dikombinasikan dengan latihan pernafasan yang terkontrol dan rangkaian kontraksi serta relaksasi kelompok otot, dapat menstimulasi respon relaksasi baik fisik maupun psikologis. Respon ini karena terangsangnya aktifitas sistem saraf otonom parasimpatis nuclei rafe yang terletak di bagian bawah pons dan medula oblongata sehingga mengakibatkan penurunan metabolisme tubuh, denyut nadi, tekanan darah, dan frekuensi pernafasan dan peningkatan sekresi serotnonin. Perangsangan pada beberapa area dalam nukleus traktus solitarius yang merupakan region sensorik medula dan pons yang dilewati oleh sinyal sensorik viseral yang memasuki otak melalui saraf vagus dan glossofaringeus juga menimbulkan keadaan tidur.
1
Alimul, A. (2006). Gangguan tidur pada lanjut usia. Cermin Dunia Kedokteran, 153, 10-15.
Amir, M. (2007). Sleep disorders in elderly: a review. Journal of Clinical Gerontology & Geriatrics, 1(2), 63-70.
Black, D. S., O’Reilly, G. A., Olmstead, R., Breen, E. C., & Irwin, M. R. (2015). Mindfulness meditation and improvement in sleep quality and daytime impairment among older adults with sleep disturbances: A randomized clinical trial. JAMA Internal Medicine, 175(4), 494–501. https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2014.8081
Casagrande, M., Forte, G., Favieri, F., & Corbo, I. (2022). Sleep quality and aging: A systematic review on healthy older people, mild cognitive impairment and alzheimer’s disease. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(14), 8457. https://doi.org/10.3390/ijerph19148457
Erliana. (2012). Pengaruh Durasi Tidur terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Keperawatan di Stikes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya. Jurnal Ilmiah Kesehatan (UNISBA), 4(1), 87-91.
Handayani, S., Swasana, A. E., Purnomo, R. T., & Agustina, N. W. (2019). The improvement of sleep quality through the combination of progressive muscle relaxation and murottal therapy among elderly. Journal of Physics: Conference Series, 1179(1), 012127. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1179/1/012127
Hirnle, C. J. (2010). Nursing care of older adults: Theory and practice. F.A. Davis.
Hirnle, C. (2010). Fundamentals of nursing: The art and science of nursing care. Elsevier Health Sciences.
Lai, H.-L., & Good, M. (2006). Music improves sleep quality in older adults. Journal of Advanced Nursing, 53(1), 134–144. https://doi.org/10.1111/j.1365-2648.2006.03693.x
Marasabessy, N. B., Herawati, L., & Achmad, I. (2020). Benson’s relaxation therapy and sleep quality among elderlyat a social institution in inakaka, indonesia. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal), 15(2). https://doi.org/10.21109/kesmas.v15i2.2562
Nuraini, N., Melani, I., & Putri, Y. S. (2011). Gangguan tidur pada lansia. Jurnal Keperawatan Indonesia, 14(1), 36-44.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2011). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik (Edisi 7). Elsevier.
Silva, V. P. O., Silva, M. P. O., Silva, V. L. D. S., Mantovani, D. B. C., Mittelmann, J. V., Oliveira, J. V. V., Pessoa, J. P. D. L., Chaves, Y. L., Haddad, M. P., Andrielli, O., Bento, V. L., Dourado, M. L. C., & Melo, H. M. D. A. (2022). Effect of physical exercise on sleep quality in elderly adults: A systematic review with a meta-analysis of controlled and randomized studies. Journal of Ageing and Longevity, 2(2), 85–97. https://doi.org/10.3390/jal2020008
Toussaint, L., Nguyen, Q. A., Roettger, C., Dixon, K., Offenbächer, M., Kohls, N., Hirsch, J., & Sirois, F. (2021). Effectiveness of progressive muscle relaxation, deep breathing, and guided imagery in promoting psychological and physiological states of relaxation. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine : ECAM, 2021, 5924040. https://doi.org/10.1155/2021/5924040
2
Penerbit Buku Poltekkes Kemenkes Kendari merupakan media diseminasi luaran Tri Dharma Perguruan Tinggi pada cakupan ilmu-ilmu kedokteran, kesehatan, dan biomedis yang tersedia dalam format buku. Melalui program Penerbitan Ilmiah yang saat ini dinaungi oleh Unit Jurnal dan Hak Atas Kekayaan Intelektual, Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Penerbit Buku Poltekkes Kemenkes Kendari mulai dibangun sejak tahun 2021 dan menjadi Anggota ISBN Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.