Poltekkes Kemenkes Kendari
Kota Kendari
Pengetahuan Dasar Pemberian ASI dan Pemantauan Tumbuh Kembang Balita bagi Kader Posyandu
Hak Cipta (c) 2022 Nurmiaty et al. Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis: Dr. Nurmiaty, S.Si.T., MPH; Khalidatul Khair Anwar, S.ST., M.Keb; Dyah Noviawati Setya Arum, S.Si.T., Bdn., M.Keb
Editor: Ainul Rafiq, S.Kep
Penerbit : Poltekkes Kemenkes Kendari
ISBN: 978-623-88118-2-3
DOI: https://doi.org/10.36990/978-623-88118-2-3
Alamat redaksi : Unit Jurnal dan Hak Atas Kekayaan Intelektual, Pusat PPM, Gedung Rektorat Lt. 1, Andounohu, Kambu, Kota Kendari, 93231, Indonesia | editorial.jurnaldanhakcipta@poltekkes-kdi.ac.id | https://mybook.poltekkes-kdi.ac.id
1
Tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Arah pembangunan kesehatan nasional bergerak dari kuratif ke promotif dan preventif. Dan sebagai bentuk upaya partisipasi masyarakat dalam mewujudkan pembangunan kesehatan yang optimal, kader kesehatan perlu ditingkatkan perannya. Kader Posyandu merupakan kader kesehatan yang berasal dari warga masyarakat yang dipilih masyarakat oleh masyarakat serta bekerja dengan sukarela untuk membantu peningkatan kesehatan masyarakat termasuk berupaya dalam mendukung pencegahan kejadian stunting di wilayah kerja Posyandunya. Semoga buku ini memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan bagi kader posyandu, masyarakat, dan akademisi. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan buku.
1
Saat ini ibu yang baru melahirkan memiliki pilihan apakah akan memberikan ASI atau susu formula pada bayinya. Meskipun kampanye mengenai ASI dan menyusui sudah semakin luas pada beberapa tahun terakhir, namun masih banyak orang tua yang belum memahami mengapa ASI dan menyusui adalah yang terbaik, tidak hanya untuk bayi akan tetapi bagi ibu, ayah dan masyarakat/lingkungan. Saat ini masih berkembang mitos bahwa susu formula sama dengan ASI, jadi tidak ada bedanya susu mana yang akan diberikan pada bayi. Ditambah lagi maraknya iklan susu formula diberbagai media, pembagian sampel dan aneka bentuk promosi lainnya yang dilakukan oleh produsen susu yang tidak diimbangi dengan informasi memadai mengenai keunggulan asi dan menyusui.
Pemberian ASI merupakan hal normal bagi bayi. ASI merupakan asupan tepat karena sesuai dengan tubuh bayi dan perkembangan sistemnya serta banyak faktor lain yang terlibat dalam proses menyusui yang belum sepenuhnya kita pahami. Perbedaan utama antara pemberian ASI dan pemberian susu formula adalah adanya risiko dalam pemberian susu formula. Risiko tersebut bisa terjadi pada saat proses produksi, seperti proses produksi makanan lainnya bisa terjadi kesalahan komposisi makanan, kontaminasi bakteri dan materi lainnya serta kesalahan pemrosesan. Bisa juga terjadi risiko pada proses saat menyiapkan susu untuk diberikan kepada bayi.
Pertumbuhan anak sangat cepat pada dua tahun pertama kehidupannya, itulah yang disebut periode emas (golden Period). Jika pada rentang usia tersebut anak mendapatkan asuhan gizi yang optimal, seperti ASI, masalah status gizi anak bisa dicegah. Bila terlewati, periode emas ini tidak dapat diulang Kembali. Pemberian asupan yang optimal sejak bayi adalah upaya yang paling efektif untuk meningkatkan kesehatan anak. Malnutrisi yang terjadi selama periode emas menyebabkan anak tumbuh pendek (stunting) juga berpengaruh terhadap kesehatan dan serta perkembangan intelektualnya.
1000 HPK adalah fase kehidupan yang dimulai sejak terbentuknya janin pada saat kehamilan (270 hari) sampai dengan anak berusia 2 tahun (730 hari), juga dikenal dengan istilah window of opportunity. Pada periode inilah organ-organ vital (otak, hati, jantung, ginjal, tulang, tangan atau lengan, kaki dan organ tubuh lainnya) mulai terbentuk dan terus berkembang.
1000 HPK disebut periode emas karena pada periode ini terjadi perkembangan yang sangat cepat sel-sel otak dan terjadi pertumbuhan serabut-serabut saraf dan cabang-cabangnya sehingga terbentuk jaringan saraf dan otak yang kompleks. Di periode ini otak bayi berkembang hingga 75% berat otak dewasa. Jika terjadi masalah gizi pada 1000 hari pertama kehidupan, dapat berisiko terhadap kecerdasan anak di masa depan.
Asupan gizi pada masa kehamilan adalah semua nutrisi yang didapat bayi berasal dari ibu. Bayi “memakan” apa yang dimakan ibu. Kebutuhan gizi akan meningkat pada fase kehamilan, khususnya energi, protein, beberapa vitamin dan mineral seperti zat besi, asam folat, kalsium serta nutrisi lain untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Ibu hamil harus memperhatikan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsinya karena dapat menentukan kesehatan seumur hidup seorang anak-termasuk faktor pencetus terhadap penyakit tertentu. Ibu hamil sebaiknya memakan makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman. Sedangkan pada masa setelah kelahiran sampai dengan usia anak 2 tahun, perlu diperhatikan asupan gizi diantaranya Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI eksklusif hingga usia 6 bulan, ASI diteruskan hingga usia anak 2 tahun, dan Makanan Pendamping ASI (MPASI) sejak bayi berusia 6 bulan.
Stimulasi harus dilakukan secara terus menerus, dilakukan baik oleh orang tua maupun pengasuh, dalam suasana yang menyenangkan dan melibatkan sebanyak mungkin bentuk stimulasi. Stimulasi bisa berupa stimulasi visual (merangsang penglihatan anak dengan melakukan kontak mata, bermain dengan mainan berbagai warna), auditory (merangsang pendengaran dan bahasa anak dengan mengajaknya bicara), taktil (merangsang sensor raba seperti dengan membelai anak) dan lainnya.
Dengan pola pengasuhan yang baik maka kebutuhan kesehatan dan gizi, kebutuhan kasih sayang dan kebutuhan stimulasi anak akan terpenuhi.
Anak yang sehat akan tercegah dari berbagai infeksi penyakit. Bila anak terkena infeksi akan mempengaruhi nafsu makan sehingga akan mengganggu pemenuhan gizi anak. Selain itu, untuk mencegah anak tertular penyakit infeksi, anak perlu diberikan imunisasi.
Asupan gizi selama masa kehamilan akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan sel-sel otak janin. Apabila asupan gizi tidak mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan dan keadaan ini berlangsung lama akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak, akibatnya terjadi ketidakmampuan otak untuk berfungsi normal. Dalam keadaan yang lebih berat, kekurangan asupan gizi dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak, perkembangan motorik, sensorik dan pertumbuhan badan yang sehat serta pembentukan sistem kekebalan tubuh anak.
Berikut ini beberapa fakta mengenai peran ASI dalam meningkatkan kesehatan bayi.
Keunggulan ASI lainnya, antara lain:
Manfaat menyusui secara eksklusif dibandingkan dengan yang tidak eksklusif (parsial) bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif lebih dapat terhindar dari perawatan di rumah sakit akibat penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif (disusui secara parsial/mix feeding).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan ASI memiliki kemampuan kognitif dan kepandaian yang secara umum lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mendapatkan ASI. Beberapa penelitian tersebut, antara lain:
Menyusui dapat memberi manfaat bagi kesehatan fisik dan psikologis ibu, baik jangka pendek maupun panjang, seperti berikut ini:
Menyusui juga memberikan keuntungan bagi keluarga dan masyarakat (lingkungan), seperti berikut ini:
2
ASI berkembang secara bertahap, mulai dari ASI hari-hari pertama (Kolostrum), ASI Transisi, hingga menjadi ASI matur/matang.
Kolostrum adalah cairan berwarna kuning keemasan/jingga yang mengandung nutrisi dengan konsentrasi tinggi. Kolostrum selain memberikan perlindungan pada bayi terhadap berbagai infeksi, juga memiliki efek laksatif (pencahar) yang dapat membantu bayi mengeluarkan feces/tinja pertama (meconium) dari sistem pencernaannya sehingga bayi terlindungi dari penyakit kuning (jaundice).
Karena kolostrum pertama kali keluar berwarna kuning, banyak ibu menganggap ASI tersebut tidak bagus dan kemudian dibuang. Padahal warna kekuningan merupakan tanda dari kandungan beta-karoten yang tinggi, yang merupakan salah satu antioksidan.
Selain itu banyak ibu yang khawatir kolostrum tidak akan cukup untuk bayi karena jumlahnya yang hanya sekitar 3-5 sendok teh sehingga ibu merasa perlu menambahnya dengan susu formula. Padahal, walaupun jumlah kolostrum relatif sedikit, sudah sangat mencukupi karena ukuran lambung bayi juga masih sangat kecil. Meski sedikit kolostrum sangat padat nutrisinya, kaya karbohidrat dan protein, serta tinggi kandungan antibodinya. Ada 3 macam immunoglobulin (Ig) yang terkandung dalam kolostrum yaitu Imunoglobulin A (IgA), IgG, dan IgM. Di antara ketiga Imunoglobulin, IgA yang konsentrasinya tertinggi. Imunoglobulin A melindungi bayi dari serangan kuman di daerah membran mucus tenggorokan, paru-paru, juga melindungi sistem pencernaan bayi, termasuk usus. Selain antibodi, kolostrum juga kaya leukosit (sel darah putih yang bertugas menghancurkan bakteri jahat dan virus), yaitu sekitar 70%.
Kolostrum berubah menjadi ASI transisi sekitar 4-6 hari setelah kelahiran bayi. Selama proses transisi ini, kandungan antibody dalam ASI menurun dan volume ASI meningkat drastis. Berbeda dengan kolostrum yang produksinya dipengaruhi oleh hormone, produksi ASI transisi dipengaruhi oleh proses persediaan versus permintaan. Oleh karena itu, menyusui yang lebih sering, sekitar 8-12 kali atau setiap 2 atau 3 jam pada awal-awal kelahiran bayi sangat penting.
Selain mengandung 10% leukosit, ASI transisi juga mengandung lemak tinggi yang berguna untuk pertumbuhan, perkembangan otak, mengatur kadar gula darah dan memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.
ASI transisi berubah menjadi ASI matur sekitar 10 hari sampai 2 minggu setelah kelahiran bayi. ASI matur (seperti halnya ASI transisi) mengandung 10% leukosit. Dibandingkan dengan kolostrum ASI matur memiliki kandungan natrium, potassium, protein, vitamin larut lemak dan mineral yang lebih rendah. Sedangkan kandungan lemak dan laktosanya lebih tinggi dari kolostrum.
Asi memiliki kandungan zat gizi yang lengkap yang kandungan terus berubah sesuai usia bayi. ASI lebih mudah dicerna dan diserap tubuh bayi sehingga bayi mendapatkan nutrisi yang tepat sesuai kebutuhannya. Oleh karenanya bayi dapat terhindar dari kekurangan gizi.
Komposisi air dalam ASI adalah sekitar 88,1%. Sisanya adalah karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan lain-lain. Jadi bayi yang menerima ASI tidak perlu tambahan air putih sejenisnya. Bahkan kolostrum yang jumlahnya hanya beberapa tetes cukup untuk menjaga bayi tetap terhidrasi dengan baik. Bayi yang sering menerima air putih rutin akan mengalami beberapa bahaya antara lain: kadar bilirubin tubuh bayi akan meningkat dan menyebabkan bayi kuning, terlalu banyak asupan air dapat menyebabkan kondisi serius yang dinamakan keracunan air putih (oral water intoxication), gejalanya berupa muntah, diare, suhu tubuh rendah (hipotermia) bahkan kejang karena kekurangan natrium. Bayi dapat mengalami kekurangan gizi, hingga gagal tumbuh karena bayi terlanjur kenyang/kembung karena minum air dan tidak mau menyusu. Produksi ASI dapat terganggu atau berkurang karena ibu tidak rajin menyusui. Air putih boleh dikenalkan saat bayi sudah diberikan MP-ASI sejak usia 6 bulan.
ASI mengandung asam amino seimbang sesuai kebutuhan bayi. Konsentrasi protein dalam ASI adalah 0,9 gram/100 ml, lebih rendah kadarnya dari susu mamalia lain. Kandungan protein yang tinggi dalam susu mamalia lain dapat membebani ginjal bayi yang belum matur.
ASI mengandung kasein yang lebih rendah sehingga jauh lebih mudah dicerna dibanding susu mamalia lain. ASI mengandung alfa-laktalbumin, sedangkan susu sapi mengandung beta-laktalbumin yang dapat membuat tubuh bayi intoleran/sulit menerima susu tersebut. Susu formula tidak dapat menyamai laktoferin, yaitu kandungan protein dalam ASI yang berperan melindungi bayi dari infeksi saluran cerna.
Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa yang merupakan komponen utama ASI. Laktosa memenuhi 40-45% kebutuhan energi bayi. ASI mengandung 7 gram laktosa per 100 ml, jauh lebih tinggi dari susu lain dan merupakan sumber energi yang utama dan paling penting. Laktosa meningkatkan penyerapan kalsium dan tidak menyebabkan kerusakan gigi, sedangkan sukrosa yang umum terdapat dalam susu formula bertanggung jawab terhadap kerusakan gigi. Jenis Karbohidrat lain yang ada dalam ASI adalah oligosakarida yang memiliki fungsi penting melindungi bayi dari infeksi.
ASI mengandung 3,5 gram lemak per 100 mi. Lemak sangat dibutuhkan sebagai sumber energi, dan sebanyak 50% kebutuhan energi bayi diperoleh dari lemak ASI. Kandungan lemak ASI meningkat bertahap dalam setiap sesi menyusui. Lemak ASI mengandung DHA (docosahexaenoic acid) dan ARA (arachidonic acid). Kedua asam lemak ini sangat penting untuk perkembangan syaraf dan visual bayi/anak. Berdasarkan penelitian, di dalam ASI terdapat 200 jenis asam lemak.
Secara umum, ASI mengandung berbagai vitamin yang diperlukan bayi. Kadar vitamin D dalam ASI Cukup rendah sehingga bayi juga memerlukan paparan sinar matahari pagi. Bayi yang tinggal di daerah paparan sinar matahari sangat rendah atau daerah dengan musim dingin yang sangat panjang memerlukan suplemen vitamin D. Sebuah penelitian menyarankan ibu menyusui dan bayi untuk mengonsumsi suplemen vitamin D agar kandungan vitamin D dalam ASI meningkat dan bayi tidak kekurangan vitamin D.
Kandungan mineral dalam ASI cukup rendah karena ginjal bayi masih berkembang. Kalsium dalam ASI dapat terserap tubuh lebih efektif dibanding susu formula. Kandungan zat besi dalam ASI juga dapat terserap lebih efektif dibanding susu formula karena ASI mengandung vitamin C yang tinggi. Bayi dapat menyerap hingga 60% zat besi dalam ASI, sementara bila mengonsumsi susu formula hanya 4% zat besi yang diserap tubuh bayi
ASI mengandung 20 enzim aktif. Salah satunya adalah lysozyme yang berperan sebagai faktor anti mikroba. ASI mengandung lysozyme 300 kali lebih banyak dibandingkan susu sapi. Selain lysozyme, ASI juga mengandung lipase (berperan dalam mencerna lemak dan mengubahnya menjadi energi yang dibutuhkan bayi) dan amilase (berperan dalam mencerna karbohidrat).
Faktor pertumbuhan epidermal dalam ASI menstimulasi kematangan usus bayi sehingga usus bayi dapat lebih baik mencerna dan menyerap nutrisi serta tidak mudah terinfeksi protein asing. Faktor pertumbuhan lainnya yang terkandung dalam ASI membantu perkembangan kematangan syaraf dan retina bayi.
ASI mengandung faktor yang berfungsi melindungi bayi dari berbagai infeksi, seperti K-Imunoglobulin, sIgA (secretory immunoglobulin A), sel darah putih-K, dan K-oligosakarida. Perlindungan yang diberikan faktor-faktor ini sangat unik. Pertama, mereka melindungi tanpa menimbulkan efek peradangan (misalnya demam tinggi) yang dapat berbahaya bagi bayi. Kedua, antibody sIgA terbentuk di tubuh ibu yang secara spesifik melindungi bayi sesuai keadaan bayi dan lingkungan saat itu.
3
Anatomi payudara dibagi menjadi beberapa kategori dasar:
Komponen jaringan glandular
Ada 4 hormon yang berperan dalam perkembangan dan pematangan fungsi payudara:
Diproduksi di ovarium (indung telur), kelenjar adrenal dan plasenta. Hormon ini bertanggung jawab dalam perkembangan jaringan payudara dan jaringan penghubungnya.
Prolaktin diproduksi di plasenta dan kelenjar pituitary depan di otak. Isapan bayi saat menyusu menyebabkan sinyal dikirim ke kelenjar hipotalamus (bagian kecil dari otak) untuk menghasilkan hormon prolaktin yang kemudian beredar di dalam darah. Hormon prolaktin berperan dalam produksi ASI. Oleh karena itu, setelah melahirkan, segera susul bayi dan atau perah ASI dengan sering di kisaran frekuensi 8-12 kali dalam 24 jam agar kadar hormon prolaktin tetap tinggi.
Kadar hormon prolaktin sangat tinggi pada malam hari, terutama antara pukul dua hingga empat dini hari sehingga gunakanlah waktu tersebut untuk memerah ASI selain menyusul sesuai keinginan bayi. Hormon prolaktin membuat Ibu merasa rileks dan mengantuk sehingga para ibu yang menyusul malam hari dapat beristirahat dengan baik. Hormon prolaktin juga berfungsi menekan ovulasi sehingga menyusui (terutama secara eksklusif) menjadi salah satu pengatur jarak kehamilan alami.
Progesteron diproduksi di ovarium/indung telur dan plasenta. Progesteron menghambat efek prolaktin selama kehamilan. Ketika seorang ibu melahirkan, plasenta terlepas dari rahimnya sehingga menyebabkan kadar hormon progesteron turun. Efek berikutnya, kadar hormon prolaktin meningkat. Bila terjadi masalah (misalnya sebagian dari plasenta tetap berada di dalam rahim setelah bayi lahir), produksi ASI tidak meningkat hingga hari ke-3 bahkan hari ke-4 pasca kelahiran.
Oksitosin diproduksi di hipotalamus dan disimpan di kelenjar pituitary belakang di otak. Saat bayi mengisap, rangsangan tersebut dikirim ke otak sehingga hormon oksitosin dikeluarkan dan mengalir ke dalam darah, kemudian masuk ke payudara menyebabkan otot-otot di sekitar alveoli berkontraksi dan membuat ASI mengalir di saluran ASI. Hormon oksitosin juga membuat saluran ASI lebih lebar sehingga ASI berperan Mengalir lebih mudah. Hormon oksitosin diproduksi lebih cepat dari hormon prolaktin, bahkan hormon ini dapat bekerja sebelum bayi mulai mengisap. Hal penting lainnya adalah hormon ini berperan dalam kontraksi rahim pasca melahirkan yang sangat berguna untuk mengurangi perdarahan dan membantu mengembalikan kondisi rahim ibu.
Refleks pengeluaran ASI (Let Down Reflex/LDR) disebut juga MER (Milk Ejection Reflex) atau Oxytocin Reflex merupakan tanda bahwa ASI siap untuk mengalir dan membuat proses menyusu lebih mudah, baik bagi bayi maupun Ibu. Refleks pengeluaran ASI juga bisa terjadi saat Ibu mendengar, melihat, atau bahkan hanya memikirkan sang bayi.
Tanda dan sensasi refleks oksitosin aktif, Ibu dapat mengamati:
Ketika proses menyusui sudah lancar (kira-kira saat bayi berusia 1-1,5 bulan), ibu sering merasa payudaranya tidak sepenuh dan seberat seperti minggu awal pasca melahirkan. Banyak ibu khawatir payudara lunak/tidak penuh menandakan ASI berkurang. Berikut adalah dua hal yang memperlambat produksi ASI Ketika payudara ibu penuh.
Agar pengosongan payudara lebih baik, lakukan hal-hal berikut.
Berikut ini beberapa tips merawat payudara.
Perawatan payudara saat menyusui sama seperti saat ibu hamil, yaitu tidak ada hal khusus yang perlu ibu lakukan. Beberapa tambahan tips perawatan payudara selama menyusu adalah sebagai berikut:
Banyak ibu mengira dengan mengoleskan losion akan membantu payudara agar tidak kering. Padahal, sebenarnya puting dan areola sudah terlubrikasi dan bersih secara alami karena adanya sebum (cairan berminyak) yang dikeluarkan oleh Montgomery gland. Di tambah lagi, losion, krim, atau minyak ini dapat ikut termakan oleh bayi dan bisa menyebabkan bayi menolak menyusu (nursing strike) karena adanya wangi dan rasa yang berbeda dari biasanya.
4
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dapat dilaksanakan dengan syarat kondisi ibu dan bayi baik/sehat. Jadi, jangan memaksakan IMD bila salah satu atau keduanya (ibu dan bayi) tidak dalam kondisi sehat. Penilaian kesehatan bayi baru lahir dilakukan oleh tenaga kesehatan yang membantu persalinan, Seperti dokter anak. Secara umum penilaian bayi baru lahir menggunakan APGAR Score, yang dilakukan pada menit pertama dan kelima setelah bayi lahir.
Ada lima hal yang dinilai dalam APGAR SCORE, yaitu Activity (aktivitas/kekuatan otot), Pulse (detak jantung), Grimace (refleks rangsangan, misalnya menyeringai, bersin), Appearance (penampilan atau warna tubuh bayi) dan Respiration (pernapasan, dinilai melalui tangis bayi). Bila didapat nilai/score antara 7-10, bayi baru lahir dinyatakan dalam kondisi baik.
Bila kondisi bayi dan ibu dinyatakan baik dan sehat untuk melaksanakan IMD, berikut ini langkah-langkah pelaksanaannya.
Terdapat sekitar 30 menit sejak awal hingga bayi menunjukkan tanda akhir menyusu, yaitu menangis. Bayi yang sudah menangis akan sulit fokus menyusu. Akibatnya, bayi tidak dapat mengisap dengan baik dan kekuatan mengisapnya menurun. Ibu perlu menenangkan bayi sebelum menyusui. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenal tanda-tanda bayi ingin menyusu sejak awal sebelum bayi menunjukkan tanda terakhir, yaitu menangis.
Bayi mulai bergerak-gerak, membuka mulut dan menengok ke kiri kanan mencari payudara ibu (sumber makanannya). Bila Ibu menyentuh kepala bayi, bayi akan menengok ke arah tersebut, mencari sesuatu untuk diisap.
Bila tahap awal tersebut diabaikan, bayi akan menunjukkan tanda-tanda berikutnya, yaitu badan meregang, pergerakan fisik makin intensif, dan memasukkan jari /tangan ke mulutnya atau mengambil barang lain didekatnya untuk diisap.
Tanda-tanda akhir bayi lapar adalah menangis dan gelisah hingga wajah berubah kemerahan. Bayi yang sudah marah dan menangis perlu ditenangkan lebih dulu sebelum disusui.
Bila bayi sudah merasa kenyang, ia akan menunjukkan tanda-tanda berikut:
5
Dua kunci utama keberhasilan memberikan ASI dan menyusui adalah kepercayaan diri dan komitmen. Para pakar laktasi dunia sangat menyarankan agar persiapan menyusui dilakukan jauh sebelum bayi lahir karena ibu telah memiliki pengetahuan laktasi sebelum melahirkan akan lebih siap dan percaya diri saat mulai menyusui. Persiapan tersebut antara lain sebagai berikut:
Meski sepele dan sering terabaikan untuk didiskusikan saat kehamilan, sebenarnya hal ini sangat penting agar beban ibu berkurang dan dapat fokus menyusui serta mengurus bayi yang baru lahir. Beberapa daftar pertanyaan yang perlu didiskusikan, antara lain sebagai berikut:
Bagi ibu pekerja, Ketika memasuki trimester ketiga, sebaiknya tanyakan mengenai kapan dimulainya cuti melahirkan dan berapa lama cuti melahirkan (disesuaikan dengan peraturan kerja di tempat masing-masing). Sosialisasikan kepada atasan bahwa saat bekerja ibu perlu waktu memerah ASI setiap 3 jam sekali. Akan lebih memudahkan jika terdapat ruangan khusus untuk memerah ASI. Bila ada rekan kerja dikantor yang sedang hamil dan menyusui, mereka bisa menjadi kelompok yang saling mendukung dan menguatkan.
Bicarakan hal ini dengan dokter kandungan atau bidan yang akan menangani persalinan. Sebelum memasuki trimester ketiga kehamilan, mulailah mencari informasi mengenai tempat bersalin yang mendukung IMD, mendukung pemberian ASI eksklusif (bebas dari promosi susu formula), menyediakan rawat gabung dengan bayi pasca melahirkan, memiliki konsultan laktasi/konselor menyusui dan lain-lain.
Selain mempersiapkan referensi atau ilmu pengetahuan tentang menyusui, hal lain yang perlu dipersiapkan adalah peralatan/kebutuhan ibu dan bayi agar Kegiatan menyusui berjalan lancer disesuaikan dengan kemampuan finansial keluarga.
Terdapat tiga prinsip dasar penting yang mempengaruhi keberhasilan ibu dalam menyusui:
Penting diperhatikan saat bayi disusui:
Pada masa awal kelahiran bayi, beberapa ibu perlu menopang payudaranya dengan tangan, terutama bagi ibu yang memiliki payudara besar. Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak menopang/memegang payudara terlalu dekat dengan puting. Usahakan menopang payudara di luar areola (area gelap sekitar puting). Bentuklah jari tangan ibu membentuk huruf C atau U, dan tidak disarankan menopang dengan dua jari (jari telunjuk dan jari tengah) berbentuk gunting karena akan menghambat aliran ASI dan menghalangi bayi menyusu dengan nyaman. Setelah ibu menopang payudara beberapa saat dan bayi sudah menyusu dengan nyaman, ibu dapat melepaskan topangan agar dapat menyusui lebih santai dan nyaman.
Pastikan bayi menyusu dengan posisi dan perlekatan yang baik pada payudara Peluk bayi dekat dengan badan ibu, menghadap payudara. Usahakan kepala dan badan bayi terletak dalam satu garis lurus dan ditopang. Manfaat perlekatan yang baik adalah
Perlekatan mulut bayi pada payudara sudah baik, jika:
Agar bayi membuka mulutnya dengan lebar, ibu dapat menggelitik hidung, mulut atau dagu bayi dengan payudara/puting sebagai rangsangan. Ketika bayi sudah melekat pada payudara, tetapi ibu atau bayi tidak merasa nyaman, ibu dapat melepaskan isapan bayi dengan menekan pelan sambal menarik dagu bayi ke bawah. Bisa juga dengan memasukkan sedikit kelingking ibu ke ujung bibir bayi. Setelah bayi melepas payudara, proses perlekatan dapat diulang Kembali.
Berikut adalah tanda bayi menyusu dengan efektif :
Sebelum kita mengetahui bagaimana tanda atau ciri seorang bayi telah mendapat cukup ASI, maka tidak kalah penting kita harus mengetahui berapa kebutuhan ASI yang dibutuhkan oleh seorang bayi dan seberapa besar ukuran lambungnya. Berikut adalah ilustrasi ukuran lambung dan kebutuhan cairan bayi:
| Umur | 0 hari | 3 hari | 7 hari | 1 bulan |
| Ukuran | buah ceri | buah kenari | buah persik | telur ayam |
| Volume | 5-7 ml | 22-27 ml | 45-60 ml | 80-150 ml |
Bayi mendapat asupan asi yang cukup dapat diketahui melalui tanda-tanda berikut ini:
Sehingga kita tidak perlu merasa terburu-buru untuk memberikan susu formula kepada bayi saat ASI ibu belum lancar. Karena hal ini justru akan membahayakan bayi tersebut.
Mengeluarkan ASI menggunakan tangan, merupakan cara paling baik, cepat, efektif dan ekonomis . Oleh karena itu ibu dianjurkan untuk melakukan cara ini:
Setelah pancaran ASI berkurang, pindahkan posisi ibu jari dan telunjuk tadi dengan cara berputar pada sisi-sisi lain dari batas areola dengan kedua jari selalu berhadapan. Lakukan hal yang sama pada setiap posisi sampai payudara kosong.
Memerah ASI di tempat kerja, bisa juga menggunakan bantuan pompa ASI, beberapa hal yang harus diperhatikan:
ASI yang telah ditampung di cangkir atau gelas tertutup, dapat disimpan:
6
Tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Arah pembangunan kesehatan nasional bergerak dari kuratif ke promotif dan preventif.
Untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia ditetapkan program Indonesia Sehat dengan pilar paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan nasional, yang dilaksanakan antara lain melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, PIS-PK dan SPM bidang Kesehatan.
Undang – Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa menempatkan desa sebagai subyek pelaku pembangunan, paradigma ini disebut sebagai ‘desa membangun’. Oleh karena itu, upaya Promosi Kesehatan yang salah satu strateginya adalah Gerakan Pemberdayaan Masyarakat menjadi sangat penting dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan melalui pemberdayaan masyarakat desa.
Salah satu wujud pemberdayaan masyarakat adalah keberadaan UKBM (Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat) dan dilakukannya tahap pemberdayaan masyarakat yaitu dimulai dari tahap pengenalan kondisi desa, survei mawas diri, musyawarah masyarakat desa, perencanaan partisipasi, pelaksanaan kegiatan dan pembinaan kelestarian. Salah satu bentuk dari UKBM adalah Posyandu, yang secara kelembagaan merupakan Lembaga Kemasyarakatan Desa.
Dukungan ayah dapat meningkatkan kepuasan dalam lama waktu ibu dalam menyusui dan meningkatkan adaptasi ayah dan ibu dalam hal pengasuhan anak. Lebih lanjut lagi, ayah memiliki peran dalam menentukan pemberian asupan untuk bayi : susu formula atau ASI. Ayah yang memilih memberikan ASI untuk bayinya dibandingkan susu formula akan mendapat banyak keuntungan, antara lain ayah ASI dapat menghemat waktu dan biaya, mendapatkan istirahat lebih banyak daripada bayi yang menerima susu formula, dan mendapatkan anggota keluarga yang lebih sehat. Lebih hemat biaya karena tidak perlu membeli susu formula beserta perlengkapannya yang berbiaya tinggi.
Ibu yang baru melahirkan (terutama ibu yang baru pertama kali melahirkan) perlu mendapatkan dukungan tidak hanya dari ayah, tetapi juga dari ibu lain yang telah berpengalaman menyusui dan merawat anak. Hal ini dilakukan agar ibu dapat mempelajari berbagai hal/Teknik seputar menyusui dan merawat anak, membagi peristiwa yang membahagiakan, dan memiliki tempat untuk bersandar saat menghadapi kesulitan.
Dukungan dari ibu untuk ibu (mother to mother support) dapat dilakukan secara kelompok (peer support group) atau individual oleh konselor menyusui. Konselor menyusui adalah seseorang yang telah mengikuti Pelatihan Konseling Menyusui 40 jam WHO-UNICEF.
Dukungan kelompok maupun dukungan individual dari konselor tidak hanya memberikan informasi dan edukasi tentang ASI dan menyusui, tetapi juga memberikan dukungan emosional, penguatan dan membantu ibu dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan menyusui.
Pemerintah mendukung pemberian ASI dan menyusui melalui berbagai kebijakan, seperti undang-undang (UU), peraturan pemerintah (PP) dan surat keputusan Menteri, antara lain:
7
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya.
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Semua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh.
Aspek Tumbuh Kembang, terdiri dari 1) Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya, 2) Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian- bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis, dan sebagainya, 3) Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya, 4) Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, dan sebagainya.
Pengukuran antropometri di Posyandu dilakukan oleh kader dan tenaga kesehatan kepada bayi dan anak usia dini, serta ibu hamil. Pengukuran antropometri pada bayi dan anak usia dini meliputi, pengukuran tinggi badan oleh tenaga kesehatan dengan dibantu kader serta penimbangan berat badan, dan penentuan status pertumbuhan oleh kader. Hasil pengukuran berat badan penentuan status pertumbuhan dilakukan plotting pada Kartu Menuju Sehat (KMS) di buku KIA. KMS adalah kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut umur.
Pengukuran antropometri pada ibu hamil meliputi Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan oleh kader serta pemantauan nilai status gizi (pengukuran lingkar lengan atas), pemeriksaan tinggi fundus uteri oleh tenaga kesehatan.
Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0-6 tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan oleh ibu dan ayah yang merupakan orang terdekat dengan anak, pengganti ibu/pengasuh anak, anggota keluarga lain dan kelompok masyarakat di lingkungan rumah tangga masing-masing dan dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap. Kemampuan dasar anak yang dirangsang dengan stimulasi terarah adalah kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa serta kemampuan sosialisasi dan kemandirian. Dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan, yaitu:
Stimulasi yang tepat akan merangsang otak balita sehingga perkembangan kemampuan gerak, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian pada balita berlangsung optimal sesuai dengan umur anak. Deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang perlu dilakukan untuk dapat mendeteksi secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang balita termasuk menindaklanjuti setiap keluhan orang tua terhadap masalah tumbuh kembang anaknya.
Deteksi dini tumbuh kembang anak atau pelayanan SDIDTK adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan/masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan, bila terlambat diketahui, maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya dengar. Pelayanan rutin SDIDTK sesuai dengan jadwal yang tercakup pada pedoman ini dan pada Buku KIA, namun tidak menutup kemungkinan dilaksanakan pada:
Deteksi dini perkembangan dilakukan mulai dari tingkat Masyarakat, tingkat fasilitas pelayanan kesehatan primer dan tingkat fasilitas pelayanan kesehatan lanjutan. Deteksi dini perkembangan di tingkat Masyarakat dapat dilakukan oleh Kader dan keluarga dengan menggunakan ceklis perkembangan yang ada di dalam buku KIA. Deteksi dini perkembangan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar menggunakan KPSP dan SDIDTK kit.
Deteksi Dini Perkembangan menggunakan buku KIA:
| Usia Anak | Checklist yang Digunakan |
| 1-2 bulan | 1 bulan |
| 3- 5 bulan | 3 bulan |
| 6-8 bulan | 6 bulan |
| 9-11 bulan | 9 bulan |
| 12 bulan -1 tahun 11 bulan | 12 bulan |
| 2 tahun -2 tahun 11 bulan | 2 tahun |
| 3 tahun- 4 tahun | 3 tahun |
| 5 tahun -5 tahun 11 bulan | 5 tahun |
| 6 tahun | 6 tahun |
8
Kader Posyandu merupakan kader kesehatan yang berasal dari warga masyarakat yang dipilih masyarakat oleh masyarakat serta bekerja dengan sukarela untuk membantu peningkatan kesehatan masyarakat termasuk berupaya dalam mendukung pencegahan kejadian stunting di wilayah kerja Posyandunya.
Bagaimana penyuluhan (berkomunikasi) yang baik?
Kelebihan penyuluhan adalah metode yang dapat menjangkau lebih banyak orang dan kader lebih mudah mempersiapkan informasi pesan pemantauan tumbuh kembang balita bagi keluarga. Sedangkan kekurangannya penyuluhan dilakukan dengan ceramah yang merupakan proses komunikasi satu arah. Sasaran tidak bisa menceritakan pendapat atau pengalamannya. Penyuluhan seperti guru yang memberitahu segala sesuatu kepada murid, sehingga seringkali sasaran menjadi bosan dan kurang memperhatikan pembicaraan. Untuk mengatasi kelemahan penyuluhan, dalam melakukan penyuluhan kader bisa memberi kesempatan kepada sasaran untuk bertanya dan mengemukakan pendapat.
Kunjungan rumah adalah kegiatan mengunjungi setiap rumah keluarga yang berada di wilayah binaan kader kesehatan. Manfaat dari kunjungan rumah adalah:
Sebelum kunjungan rumah, perlu menentukan terlebih dahulu keluarga yang akan dikunjungi, mempelajari karakteristik keluarga sehingga dapat memahami kebiasaan dan perilaku kesehatannya. Saat pelaksanaan kunjungan rumah, pastikan bahwa kader telah siap mendengarkan ungkapan keluarga, dan mampu menyampaikan informasi tentang masalah kesehatan yang dihadapi keluarga tersebut.
Ada 4 langkah yang perlu dilakukan dalam kunjungan rumah disingkat SAJI (Salam, Ajak Bicara, Jelaskan dan Bantu, Ingatkan).
| Salam dan Perkenalan | Ajak Bicara | Jelaskan dan Bantu | Ingatkan |
|---|---|---|---|
|
|
|
|
Demonstrasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk memberi contoh nyata bagaimana suatu kegiatan dilakukan dengan benar. Demonstrasi/memperagakan merupakan pengembangan keterampilan sasaran dalam bidang tertentu, menunjukkan proses kerja penanganan suatu perilaku (misalnya: proses/cara melakukan pemberian makan bayi dan anak yang baik sesuai kebutuhan/usia bayi/balita), memperkenalkan dan menjelaskan penggunaan suatu alat yang baru (misalnya menjelaskan dan penggunaan alat ukur lingkar kepala depan bayi/balita dan kartu pencatatannya sesuai jenis kelamin), dan memantapkan penerimaan perilaku (memanfaatkan Buku KIA sebagai alat bantu ibu memantau pemeliharaan kehamilan, memantau kesehatan bayi/balita) ataupun sesuatu hal yang baru.
Sebelum memulai demonstrasi/peragaan, jelaskan terlebih dahulu tentang:
1
Azrul Azwar, Prof Dr. MPH. 1996. Kinerja Ouput Cakupan Hasil Program Gizi di Posyandu. Jakarta
Kemenkes RI. 2020. Buku KIA Kesehatan Ibu dan Anak. Kementerian Kesehatan dan JICA (Japan International Cooperation Agency).
Kementerian dalam negeri. 2007. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembentukan Kelompok Kerja Operasional Pembinaan Pos Pelayanan Terpadu. Jakarta: Kementerian Dalam Negeri
Kementerian Dalam Negeri. 2014. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa. Jakarta: Kementerian Dalam Negeri
Kementerian Kesehatan. 2011. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan
Kementerian Kesehatan. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2015 tentang Peningkatan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2015 Tentang Puskesmas. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan. 2016. Modul ToT Komunikasi Perubahan Perilaku dalam Pemberdayaan Keluarga
Kementerian Kesehatan. 2017. Modul ToT Manajemen Puskesmas: Pusat Pelatihan SDM Kesehatan
Kementerian Kesehatan. 2017. Promosi Kesehatan Komitmen Global dari Ottawa-Jakarta-Shanghai Menuju Rakyat Sehat. Jakarta: Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Kementerian Kesehatan. 2018. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta : Direktorat Kesehatan Keluarga
Kementerian Kesehatan. 2018. Hasil Laporan Pemantauan Status Gizi tahun 2017. Jakarta: Direktorat Bina Gizi
Kementerian Kesehatan. 2018. Modul Pelatihan bagi Pelatih Kader Kesehatan. Jakarta : Pusat Pelatihan SDM Kesehatan
Kementerian Kesehatan. 2019. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI. Buku Kesehatan Ibu dan Anak Kohort bayi, kohort balita dan anak prasekolah dan rekapitulasi SDIDTK
Kementerian Kesehatan RI. Panduan Pelaksanaan Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu Untuk kader dan Petugas Posyandu. 2020
Kementerian Kesehatan RI. Standar Pemantauan Pertumbuhan Balita. 2014.
Mardikanto, Totok. 2010. Konsep-konsep Pemberdayaan Masyarakat. Surakarta: UNS Press
Modul SDIDTK Permenkes Nomor 66 Tahun 2014 Tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak
Monika, F.B. 2015. Buku Pintar ASI dan Menyusui. Noura Books (Mizan Grup), Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2017 tentang Gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga
Perinasia. 2007. Pelatihan Konseling Menyusui, Modul 40 Jam, Standar WHO / UNICEF /KEMKES.
2
Penerbit Buku Poltekkes Kemenkes Kendari merupakan media diseminasi luaran Tri Dharma Perguruan Tinggi pada cakupan ilmu-ilmu kedokteran, kesehatan, dan biomedis yang tersedia dalam format buku. Melalui program Penerbitan Ilmiah yang saat ini dinaungi oleh Unit Jurnal dan Hak Atas Kekayaan Intelektual, Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Penerbit Buku Poltekkes Kemenkes Kendari dimulai sejak tahun 2021 dan menjadi telah menjadi Anggota ISBN Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.