Pelayanan Kebidanan Komplementer

Pelayanan Kebidanan Komplementer: Kumpulan Hasil Penelitian Mahasiswa Kebidanan

Penulis : Novi Melyana; Pitri Gea Natalia; Lenny Nuraida; Sari Wahyu Windarti; Nur Mega Uswatun Khasanah; Salsabilla Damma Nuryayi; Rita Nirmalasari; Ima Rahmatul Maulidah; Nur Bella Maulidiyah; Nisa Latipatunnisa; Durrotunnafisah; Aniyatu Roisah; Suryati; Pipin Oktaliani; Yeni Sri Mulyani; Renny Ambarwati; Maelani; Fariya Azzuri Rahman; Ani Agustina; Citra Paramudita; Sintha Wijayanti; Lidia Stevani; Az Syifa Diaulhaq; Luthfi Assy Syiffa; Titin Darul Yatimah; Erria Sukmasari; Aprilia Prabandari; Nur Asiah Yulli; Fauziah; Delis Yulistiani; Ida Oktiana; Siti Khodijah; Yola Yolanda Rahma; Febriana Yosia Eva; Andrea Dewi Anggia Putri
Edisi : Buku elektronik (PDF)
Editor : Nur Sitiyaroh, S.SiT., M.Kes.; Nofa Anggraini, SST., M.Kes.; Olivia Nency, SST., M.Kes.; Dede Sri Mulyana, SKM., MARS.; Sukarni Setya Yuningsih, SST., M.Kes.; Rahmadyanti, S.K.M., M.K.M.; Omega DR Tahun, SKM., M.Kes.; Rahayu Khairiah, SKM., M.Keb.; Lia Idealistiana, SKM., SST., MARS.; Tuty Yanuarti, S.Si.T., M.Kes.; Ita Herawati, M.Keb.; Dr. Maryati Sutarno, SPd., SST., MARS., MH.; Nasrawati, MPH.
Desain sampul dan tata letak : Ainul Rafiq, S.Kep.
Penerbit : Poltekkes Kemenkes Kendari
Alamat redaksi : Unit Jurnal dan Hak Atas Kekayaan Intelektual
Gedung Rektorat, Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Lantai 1 Sayap Timur, Kampus Terpadu Poltekkes Kemenkes Kendari, Jl. Jenderal A.H. Nasution No. G14, Anduonohu, Kota Kendari, 93232, Sulawesi Tenggara, Indonesia
Pos-el. redaksi : edoffice@mybook.poltekkes-kdi.ac.id
Laman daring : https://mybook.poltekkes-kdi.ac.id

 

Pelayanan Kebidanan Komplementer

Icon for the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

Pelayanan Kebidanan Komplementer by Para Penulis is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License, except where otherwise noted.

Sanksi Pelanggaran Pasal 113

Undang undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta

(1). Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf i untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana paling lama 1 (satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

(2). Setiap orang yang dengan tanpa hak dan atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipa sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan atau huruf h, untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3). Setiap orang yang dengan tanpa hak dan atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cpta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan atau huruf g, untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(4). Setiap orang yang memenuhi unsur sebabagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

Kata Pengantar Penerbit

1

Pelayanan kesehatan komplementer merupakan salah satu rekomendasi tindakan terapeutik dalam komunitas kebidanan, dan menjadi salah satu bagian penting dalam praktik kebidanan. Tindakan terapeutik tersebut dapat berfokus kepada Wanita Usia Subur, pada pelayanan antenatal dan postnatal. Pemberian pelayanan komplementer pun seharusnya berdasarkan kepada hasil penelitian sebagaimana implementasi prinsip evidence-based practice. Dengan hadirnya kumpulan hasil penelitian mahasiswa kebidanan ini semoga menjadi landasan yang baik untuk pengembangan keilmuan kebidanan.

Pengaruh Konseling Teknik Menyusui yang Benar terhadap Perilaku Menyusui pada Ibu Post Partum

1

Novy Melyana and Tuty Yanuarti (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : Dalam Proses Laktasi seringkali terjadi kegagalan baik dari bayi ataupun ibu. Salah satu faktor dari ibu yaitu cara menyusui yang tidak benar dapat menyebabkan puting susu nyeri/ lecet dan payudara bengkak. Hal ini dapat menimbulkan gangguan dalam proses menyusui, sehingga pemberian ASI menjadi tidak adekuat. Pemberian ASI yang tidak adekuat dapat menyebabkan kekurangan nutrisi pada bayi dan bayi rentan terhadap penyakit yang akhirnya menyebabkan kematian bayi khususnya bayi baru lahir (BBL). Metodologi Penelitian: Jenis Penelitian ini Pre eksperimen dengan design one group Pretest-postest menggunakan kelompok kontrol. Metode pengambilan sample menggunakan purposive sampling. Ibu post partum post sectio caesarea diberikan penyuluhan. Metode pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Analisa data bivariat menggunakan uji wilcoxon. Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil analisa data menggunakan SPSS versi 25 statistic, menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test, menunjukkan bahwa nilai Z pada kelompok intervensi adalah -3,827 dengan nilai signifikasi 0,000(α <0,05) dan nilai Z pada kelompok kontrol adalah -1,000 dengan nilai signifikasi adalah 0,317 (α < 0,05). Diskusi: Diharapkan hasil penelitian dapat menjadi refrensi untuk penelitian selanjutnya.

Kata Kunci : Perilaku, Ibu menyusui

PENDAHULUAN

Setiap manusia pada umumnya memiliki payudara, tetapi antara laki-laki dan perempuan berbeda dalam fungsinya. Payudara yang matang adalah salah satu pertumbuhan sekunder dari seorang perempuan dan merupakan salah satu organ yang indah dan menarik. Lebih dari itu, untuk mempertahankan kelangsungan hidup keturunannya, maka organ ini menjadi sumber utama kehidupan, karena ASI (Air Susu Ibu) adalah makanan bayi yang paling penting, terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan bayi (Saleha, 2009:9).

Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan, Payudara semakin padat karena retensi air, lemak, serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit.Segera setelah terjadi kehamilan, maka korpus luteum berkembang terus dan mengeluarkan estrogen dan progesterone untuk mempersiapkan payudara agar pada waktunya dapat memberikan ASI. Proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI dinamakan laktasi (Saleha, 2009:10).

Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan Air Susu Ibu (ASI) dari payudara ibu Menyusui adalah suatu proses yang alamiah namun tetap harus dipelajari bagaimana cara menyusui yang baik dan benar, karena menyusui sebenarnya tidak saja memberikan kesempatan kepada bayi untuk tumbuh menjadi manusia yang sehat secara fisik saja tetapi juga lebih cerdas, mempunyai emosional yang stabil, perkembangan spiritual yang baik serta perkembangan sosial yang lebih baik.

Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan bayi, karena ASI adalah makanan bayi yang paling sempurna baik secara kualitas maupun kuantitas. ASI sebagai makanan tunggal akan mencukupi kebutuhan tumbuh kembang bayi normal sampai usia 4 – 6 bulan (Khairunniyah, 2004).

Jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2008 sebesar 7,2%. Pada saat yang sama, jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16,7% menjadi 27,9% sedangkan persentase pemberian ASI ekslusif di indonesia sama rendahnya dengan persentase IMD. Tahun 2014, Angka cakupan emberian ASI ekslusif pada bayi usia 0-6 bulan hanya sebesar 52,3% saja. Persentase pemberian ASI ekslusif tertinggi dimiliki oeh Nusa Tenggara barat sebesar 84,7% sedangkan persentase pemberian ASI ekslusif terendah dimiliki oleh Jawa Barat dengan nilai sebesar 1,8% ( kemenkes RI, 015). Sedangkan cakupan pemberian ASI ekslusif pada bayi usia 0-6 bulan menurut kabupaten /kota di provinsi jawa barat baru mencapai 53,0%. Menurut Kabupaten/kota terkuhus kota bekasi cakupan pemberian ASI ekslusif mencapai 26,85%. Kesalahan banyak terletak pada posisi menyusui dan langkah-langkah menyusui.

Berdasarkan data yang diambil dari Dinas Kesehatan Jawa Barat cakupan pelayanan ibu nifas (KF3) Tertinggi adalah kabupaten Cirebon sebesar 120,29% dan kabupaen indramayu sebesar 120,14%, sedangkan cakupan kunjungan pelayanan ibu nifas( KF3) terendah berada di kta Bekasi sebesar 83,17% dan kabupaten bandung barat 83,59%.

Prinsip dasar dari menyusui adalah membuat bayi melekat dengan baik. Bayi yang melekat dengan baik akan mendapatkan ASI dengan baik pula. Bayi yang tidak melekat dengan baik akan lebih sulit mendapatkan ASI, terutama jika ASI sedikit. Produksi ASI di awal kelahiran memang sedikit; ini hal yang normal dan alamiah, akan tetapi apabila bayi tidak melekat dengan baik, bayi akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan ASI.

Pada dasarnya, segera setelah melahirkan, secara naluri setiap ibu mampu menjalankan tugas untuk menyusui bayinya. Namun, untuk mempraktikkan bagaimana menyusui bayi yang baik dan benar, setiap ibu perlu mempelajarinya. Bukan saja ibu- ibu yang baru pertama kali hamil dan melahirkan, tetapi juga ibu-ibu yang baru melahirkan anak yang ke-2 dan seterusnya. Karena setiap bayi lahir merupakan individu tersendiri. Dengan demikian ibu perlu belajar berinteraksi dengan bayi yang baru lahir ini, agar dapat berhasil dalam menyusui.

Ketidakefektifan konseling ini disebabkan karena adanya beberapa syarat konseling yang tidak terpenuhi, seperti kurangnya pengutaraan masalah oleh ibu, kurangnya komunikasi antara konselor dan ibu serta pemahaman yang kurang dari ibu, sehingga konselor tidak bisa memberikan konseling yang terbaik untuk ibu.

Sesuai dengan fungsi dari konseling guna memberikan pemahaman- pemahaman pada klien, maka terjadi dua respon stimulus pada klien ketika konseling itu diberikan, respon yang pertama yakni covert behavior, dimana respon ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. Setelah respon tersebut diserap, maka respon yang terjadi selanjutnya adalah overt behavior, dimana respon tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik (practice).

Dengan adanya konseling, konselor mengharapkan dapat membuat ibu untuk membuka diri, menyadari sendiri persepsi keliru yang selama ini mungkin dimilikinya terkait dengan kegiatan menyusui, serta kemudian berkeinginan untuk mengubah atau memperbaiki persepsi keliru tersebut sehingga kegiatan menyusui dapat berjalan lebih lancar.

Data menyebutkan bahwa masalah yang seringkali terjadi adalah puting ibu yang lecet sehingga terasa sakit untuk disusui, bayi merasa tidak kenyang dan terus menerus menangis serta adanya pembengkakan pada payudara ibu. Dengan adanya permasalahan tersebut, maka penulis ingin melakukan sebuah penelitian untuk memberikan sebuah intervensi berupa konseling kepada responden untuk melihat adakah pengaruh konseling teknik menyusui yang benar terhadap perilaku menyusui pada ibu post partum

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Adakah pengaruh konseling cara menyusui yang benar terhadap praktik menyusui pada ibu post. Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk Untuk mengetahui adakah pengaruh konseling teknik menyusui yang benar terhadap perilaku menyusui ibu post partum. Sedakan tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:1) Mengidentifikasi teknik menyusui yang benar pada ibu post partum sebelum dilakukan konseling. 2) Mengidentifikasi teknik menyusui yang benar pada ibu post partum setelah dilakukan konseling. 3) Menganalisis pengaruh konseling teknik meyusui yang benar terhadap perilaku menyusui pada ibu post partum.

Manfaat penelitian secara teoritis adalah untuk menambah wawasan tentang perilaku menyusui pada ibu post partum, serta Melatih berfikir dan bersikap kreatif mencari pemecahan masalah mengenai konseling teknik menyusui yang benar dan juga perilaku menyusui pada ibu post partum. Manfaat praktis penelitian adalah memberikan mengetahui teknik menyusui yang benar, sehingga dapat mengurangi masalah saat nifas.

BAHAN dan METODE

Desain penelitianya adalah pra eksperimental dengan one group pra post test design yaitu untuk mengetahui adakah pengaruh konseling teknik menyusui yang benar terhadap perilaku menyusui ibu post partum yang diobservasi sebelum dilakukan teknik menyusui yang benar, kemudian di observasi lagi setelah diberikan konseling tentang teknik menyusui yang benar. Sampel penelitian ini adalah sebanyak 38 orang ibu post partum hari 1- 14 di RSIA Rinova Intan, dilaksanakan pada bulan April 2022 dengan teknik sampling total sampling. Variabel bebasnya adalah konseling teknik menyusui yang benar.

Pengumpulan data dengan observasi menggunakan checklist pre dan post tes. Analisis data menggunakan Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan 0,05.

KAJIAN PUSTAKA

Konsep Konseling

Definisi

Menurut Notoatmodjo (2005), konseling pada hakikatnya merupakan metode penyuluhan yaitu kegiatan menyampaikan pesan atau kesehatan kepada masyarkat, kelompok dan individu dimana pengetahuan merupakan hasil tahu, dan hal ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Tujuan Konseling

Tujuan konseling dimaksudkan sebagai emberian layanan untuk membantu masalah klien, karena masalah klien yang benar-benar telah terjadi akan merugikan diri sendiri dan orang lain, sehingga harus segera dicegah dan jangan timbul masalah baru.

Tujuan konseling menurut Yulifah (2009) dapat dijelaskan dengan 5 point,yaitu sebagai berikut:

  1. Memfasilitasi perubahan tingkah laku klien. Proses konseling menekankan adanya perubahan tingkah laku, dengan tujuan memberikan klien kesempatan agar dapat lebih produktif dan memuaskan dalam hidupnya.
  2. Meningkatkan kemampuan klien untuk menciptakan dan memelihara hubungan. Proses konseling pada intinya adalah menjalin dan melanggengkan hubungan baik antara konselor dan klien sampai dengan proses konseling berakhir.
  3. Mengembangkan keefektifan dan kemampuan klien untuk memecahkan masalah. Konseling diarahkan untuk memanfaatkan kemampuan atau potensi klien.

Praktik

Praktik mempunyai beberapa tingkatan yaitu:

  1. Persepsi
  2. Respon terpimpin
  3. Mekanisme Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga.
  4. Adopsi

Menyusui

  1. Pembentukan dan Persiapan ASI. Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan:
    • Membersihkan putting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
    • Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
    • Bila putting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi
  2. Posisi dan Perlekatan Menyusui. Menurut Varney (2007), hal yang harus diperhatikan dalam posisi menyusui adalah sebagai berikut:
    • Posisi menggendong, bayi berbaring miring, menghadap ibu. Kepala,leher, dan punggung atas bayi diletakkan pada lengan bawah lateral payudara. Ibu menggunakan tangan sebelah nya untuk memegang payudara jika diperlukan.
    • Pada posisi menggendong-menyilang, bayi berbaring miring, menghadap ibu. Kepala, leher, dan punggung atas bayi diletakkan pada telapak kontra lateral dan sepanjang lengan bawahnya. Ibu menggunakan tangan sebelahnya untuk memegang payudara jika di perlukan.
    • Posisi mengapit, bayi berbaring miring atau punggung melingkar antara lengan Lengan bawah dan tangan ibu menyangga bayi, dan ibu menggunakan tangan sebelahnya untuk memegang payudara jikadi perlukan.
    • Posisi berbaring miring, ibu dan bayi berbaring miring saling berhadapan. Posisi ini merupakan posisi paling nyaman bagi ibu.
  3. Lama dan Frekuensi Menyusui. Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan setiap saat apabila bayi membutuhkannya. Ibu harus menyusui bayinya jika bayi menangis bukan karena sebab yang Lain misalnya buang air besar, buang air kecil kepanasan atau kedinginan

Pengaruh Konseling Cara Menyusui Terhadap Praktik Menyusui Yang Benar

Konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara dan cara-cara yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi individu untuk mencapai kesejahteraan (Rahayu,2010).

Dalam memberikan penyuluhan atau konseling terdapat beberapa factor yang mempengaruhi keberhasilan, diantaranya adalah:

  1. Pendidikan
  2. Sosial ekonomi
  3. Pekerjaan
  4. Adat istiadat
  5. Kepercayaan masyarakat

METODELOGI PENELITIAN

Penelitian ini termasuk penelitian Eksprimen Semu (quasi experimental designs), karena peneliti tidak melakukan randomisasi kepada anggota-anggota kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Rancangan penelitian ini menggunakan test awal dan test akhir dengan kelompok kontrol (Non-Equivalent Control Group). Sebuah rancangan penelitian dengan melakukan test awal kemudian dilakukan perlakukan dalam jangka waktu tertentu kemudian dilakukan pengukuran untuk kedua kalinya sebagai test akhir yang dilakukan pada kedua kelompok (kelompok eksprimen dan kelompok kontrol) adapun skema rancangannya sebagai berikut (Notoatmodjo, 2002).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan bahwa 1 orang atau 5,3 % ibu post partum Praktik Menyusui memiliki prilaku Kurang sebelum dilakukan Konseling pada Kelompok Intervensi, dan 13 orang atau 68,4% ibu post partum memiliki perilaku menyusui yang cukup, 5 orang atau 26,3% ibu post partum memiliki perilaku menyusui yang baik.

Setelah dilakukan konseling pada kelompok intervensi berdasarkan hasil penelitian bahwa didapatkan 1 orang atau 5,3 % ibu post partum Praktik Menyusui memiliki prilaku Kurang, dan 17 orang atau 94,7% ibu post partum memiliki perilaku menyusui yang cukup, 1 orang atau 5,3% ibu post partum memiliki perilaku menyusui yang baik.

Sedangkan pada Kelompok kontrol Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan bahwa 1 orang atau 5,3 % ibu post partum Praktik Menyusui memiliki prilaku Kurang sebelum dilakukan Konseling pada Kelompok Kontrol, dan 17 orang atau 94,7% ibu post partum memiliki perilaku menyusui yang cukup, 1 orang atau 5,3% ibu post partum memiliki perilaku menyusui yang baik.

Sedangkan pada Kelompok kontrol Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan hasil 0% ibu post partum Praktik Menyusui memiliki prilaku Kurang setelah dilakukan Konseling pada Kelompok Kontrol, dan 0% ibu post partum memiliki perilaku menyusui yang cukup, 19 orang atau 100% ibu post partum memiliki perilaku menyusui yang baik.

Menurut Suradi dan Hesti (2004), adanya tingkatan perilaku menyusui pada ibu post partum tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor perubahan sosial budaya, faktor psikologis, faktor fisik ibu, faktor kurangnya petugas kesehatan, meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI, kurang atau salahnya informasi yang diterima oleh ibu.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan tehadap usia, pendidikan dan juga paritas turut mempengaruhi perilaku menyusui ibu post partum sebelum dilakukan konseling.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, 1 orang atau 5,3% dari ibu post partum memiliki pengetahuan yang kurang, hal ini disebabkan karena kurangnya informasi teknik menyusui yang benar yang di dapat oleh ibu post partum tersebut, sehingga berdampak pada perilaku menyusui ibu post partum.

Bahwa dapat disimpulkan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan tehadap usia, pendidikan dan juga paritas turut mempengaruhi perilaku menyusui ibu post partum sebelum dilakukan konseling.

Dari hasil penelitian yang ada, hal yang sering tidak dilakukan oleh para ibu post partum dalam menyusui adalah persiapan dan prosedur setelah menyusui, selain itu masih terdapat ibu post partum yang belum bisa memposisikan bayi dengan benar dan melakukan perlekatan yang benar antara puting dan areola dalam mulut bayi. Sehingga perilaku menyusui pada ibu post partum itu masih kurang. Dalam teknik menyusui yang benar persiapan sebelum menyusui dibagi menjadi tiga tahap.

Tahap yang pertama yakni ibu mencuci tangan sebelum menyusui. Tahap yang kedua yakni payudara dibersihkan dengan menggunakan air hangat, kemudian dilap menggunakan handuk atau kain bersih, kemudian tahap ketiga adalah ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting susu dan areola.

Pada posisi menyusui yang terdapat di teknik menyusui yang benar, kebanyakan ibu post partum tidak memegang bayinya dengan benar. Masih terdapat ibu yang tidak memegang bayi dengan benar, justru hanya memegang bantal yang berada di bawah bayi saat menyusui, sehingga perlekatan posisi untuk badan ibu dan bayi tidak dapat melekat secara sempurna. Posisi kepala yang seharusnya berada di pertengahan antara siku dan lengan pun kebanyakan tidak dilakukan dengan benar oleh ibu, sedangkan bokong bayi yang seharusnya berada di telapak tangan ibu, kebanyakan tidak berada di telapak tangan dan ibu biasanya hanya memegang kepala bayi saat menyusui.

Pada prosedur menyusui dalam teknik menyusui yang benar pun terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan oleh ibu post partum. Kebanyakan kesalahan terletak pada perlekatan antara puting dan areola ibu dengan mulut bayi. Puting dan areola ibu yang seharusnya masuk secara menyeluruh, hanya masuk sebagian, sehingga bayi tidak akan puas meskipun sudah menyusui secara lama karena ASI yang didapatkan dengan perlekatan yang tidak benar, maka hanya sedikit ASI yang didapat dan kejadian ini menyebabkan puting lecet.

Sedangkan dalam prosedur setelah menyusui terdiri dari tiga tahapan. Tahap pertama yakni melepas hisapan bayi dengan cara memasukkan jari kelingking ibu ke mulut bayi melalui sudut mulut bayi atau dagu bayi ditekan ke bawah. Tahap kedua yakni Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya, biarkan kering dengan sendirinya dan tahap terakhir yakni Bayi disendawakan dengan cara bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu, kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan atau bayi ditengkurapkan di pangkuan ibu, kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan. Kebanyakan dari ibu post partum tidak melakukan prosedur ini.

Dari beberapa kesalahan yang terdapat pada teknik menyusui yang benar maupun prosedur yang tidak dilakukan, maka kebanyakan dari ibu post partum memeliki tingkat perilaku menyusui yang kurang dan cukup.

Identifikasi teknik menyusui yang benar pada ibu post partum setelah dilakukan konseling

Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan bahwa 19 orang atau 100% ibu post partum memiliki perialku menyusui yang baik setelah diberikan konseling.

Menurut Division of conselling psychology konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangan dirinya dan untuk mecapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya, proses tersebut dapat terjadi setiap waktu.

Dari hasil konseling tersebut dapat membuat ibu untuk membuka diri, menyadari sendiri persepsi keliru yang selama ini mungkin dimilikinya terkait dengan kegiatan menyusui, serta kemudian berkeinginan untuk mengubah atau memperbaiki persepsi keliru tersebut sehingga kegiatan menyusui dapat berjalan lebih lancar.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, perilaku menyusui ibu post partum setelah diberikan konseling mengalami kenaikan. Pada perilaku menyusui ibu post partum sebelum dilakukan konseling, terdapat1 orang dengan perilaku baik, sedangkan setelah diberikan konseling, perilaku menyusui ibu post partum yang baik mengalami peningkatan menjadi 19 orang.

Terdapat pula 13 orang ibu post partum sebelum dilakukan konseling memiliki perilaku yang cukup menjadi perilaku yang baik setelah dilakukan konseling. Sedangkan 1 orang ibu post partum yang memiliki perilaku tidak baik sebelum konseling, menjadi perilaku yang baik setelah dilakukan konseling.

Menurut peneliti, hal ini disebabkan oleh intervensi yang dilakukan oleh peneliti baik secara verbal maupun non verbal untuk memberikan konseling teknik menyusui yang benar kepada ibu postpartum, konseling tersebut berupa pemberian pengetahuan yang benar dengan metode roll play, peneliti memberikan pengetahuan kepada ibu tentang teknik menyusui yang benar dan ibu mengadopsi pengetahuan tersebut dengan cara mempraktikkan langsung kepada bayinya, pemberian konseling ini juga ditunjang dengan alat bantu yakni leaflet dan lembar balik, sehingga ibu dapat mempelajari lebih lanjut tentang teknik menyusui yang benar, peneliti juga memberikan pengarahan langsung terhadap ibu post partum apabila ibu salah dalam teknik menyusuinya, sehingga ibu post partum dapat mengubah perilaku menyusui ibu post partum menjadi lebih baik.

Dari hasil konseling tersebut, ibu post partum yang sebelumnya tidak melakukan prosedur sebelum dan sesudah menyusui, salah dalam posisi duduk, salah dalam posisi menggendong, salah dalam melakukan perlekatan antara badan bayi dengan ibu, salah dalam melakukan perlekatan antara areola dan puting terhadap mulut bayi menjadi melakukan prosedur tersebut dengan lebih baik. Sehingga nilai yang dihasilkan ibupun menjadi semakin baik. Hal inilah yang menyababkan terjadi penigngkatan yang signifikan antara perilaku menyusui ibu sebelum dengan sesudah diberikan konseling.

Dari hasil penelitian yang ada, terdapat kecenderungan bahwa ibu primipara memiliki tingkat perilaku menyusui yang cukup setelah dilakukan konseling, hal ini disebabkan karena ibu primipara masih belum memiliki pengalaman dalam memberikan ASI kepada bayinya. Pendidikan juga berpengaruh dalam penyerapan proses konseling yang diberikan, dengan pendidikan yang lebih tinggi, proses konseling tersebut berjalan lebih baik dengan hasil konseling yang berupa perilaku menyusui cenderung lebih baik pula.

Analisis pengaruh konseling teknik menyusui yang benar terhadap perilaku menyusui pada ibu post partum

Berdasarkan pada penghitungan statistik dengan menggunakan Wilcoxon Test dengan α = 0,05 didapatkan bahwa ρ value = 0,000. Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh konseling teknik menyusui yang benar terhadap perilaku menyusui ibu post partum di RSIA Rinova Intan. Post partum mengalami kenaikan akibat pemberian konseling yang dilakukan. Terdapat 19 orang ibu post partum yang mengalami kenaikan dalam perilaku menyusuinya.

Menurut skinner 1938 seorang ahli psikologi (Notoatmodjo, 2003) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus- Organisme-Respons.

Konseling yang diberikan kepada responden merupakan sebuah stimulus untuk responden, dan kemudian responden tersebut merespon konseling yang diberikan, sehingga dari respon tersebut akan di dapatkan dua respon yakni respondent respons atau reflexive dan operant respons atau instrumental respons.

Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku pertama yang dilakukan responden adalah covert behavior atau perilaku tertutup yakni respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi pengetahuan atau kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. Dari perilaku tertutup ini, responden memberikan perhatian terhadap konseling teknik menyusui yang benar yang diberikan oleh peneliti. Persepsi dan pengetahuan yang selama ini dimiliki oleh responden tentang teknik menyusui yang benar akan bertambah atau sedikit tergantikan dengan konseling yang diberikan.

Sesuai dengan gejala-gejala jiwa yang saling mempengaruhi dalam bentuk perilaku manusia (Notoatmodjo, 2003) yakni pengamatan,perhatian, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir dan motif, maka respon selanjutnya yang dilakukan oleh responden adalah perilaku terbuka (overt behavior) dimana respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Dalam penelitian ini, praktik yang dilakukan oleh responden adalah perilaku menyusui pada ibu post partum, sehingga peneliti dapat mengamati perilaku tersebut dan memberikan penilaian terhadap perilaku tersebut.

KESIMPULAN

Pada penelitian ini diketahui bahwa karakteristik responden memiliki usia memiliki usia 17-35 tahun sebanyak 35 responden (92,1%) dan memiliki umur > 35 tahun sebanyak 3 responden (7,9%), berpendidikan Sekolah Menengah Pertama sebanyak 10 responden (26,3%), yang berpendidikan sekolah menengah Atas sebanyak 28 responden (73,3%). Pekerjaan didapatkan Ibu rumah Tangga sebanyak 34 responden (98,5%), Pegawai Swasta sebanyak 4 responden (10,5%).

Frekuensi Praktik Menyusui Sebelum dan Setelah dilakukan Konseling pada Kelompok Intervensi diketahui hasil pretest sebelum dilakukan konseling pada kelompok intervensi, sebagian besar responden memiliki skor cukup, yaitu sebesar 13 responden (68,4%) sedangkan hasil posttest setelah dilakukan konseling pada kelompok intervensi, seluruh responden memiliki skor baik yaitu sebesar 19 responden (100%).

Frekuensi Praktik Menyusui Sebelum dan Setelah dilakukan Konseling pada Kelompok Kontrol. Diketahui hasil pretest sebelum konseling pada kelompok kontrol, sebagian besar responden memiliki pengetahuan cukup, yaitu sebesar 17 responden (94,7%). Dan hasil posttest setelah konseling pada kelompok kontrol, sebagian besar responden memiliki pengetahuan cukup, yaitu sebesar 17 responden (94,7%).

Berdasarkan hasil analisa data menggunakan SPSS versi 25 statistic, menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test, menunjukkan bahwa nilai Z pada kelompok intervensi adalah -3,827 dengan nilai signifikasi 0,000(α <0,05) dan nilai Z pada kelompok kontrol adalah -1,000 dengan nilai signifikasi adalah 0,317 (α < 0,05). Sehingga H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti ada pengaruh konseling cara menyusui terhadap praktek menyusui yang benar.

SARAN

Tenaga kesehatan khususnya bidan lebih aktif melakukan kegiatan konseling khususnya dalam konseling cara menyusui menggunakan metode ceramah dan diskusi dengan menggunakan media leaflet sehingga kegiatan konseling dapat di lakukan secara teratur untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai praktik menyusui yang benar.

REFERENSI

  1. Apriliana, A., Kuswanto, K., & Runjati, R. (2017). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Dengan Metode Ceramah Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Pemberian Asi Eksklusif Pada Ibu Hamil Primigravida Di Puskesmas Kapuan Tahun 2016. Jurnal Kebidanan, 6(13), 26. https://doi.org/10.31983/jkb.v6i13.2871
  2. Arikunto,S.2006.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi VIII. PT Rineka Cipta: Jakarta. Hal. 128
  3. Budiasih, 2008. Hand book Ibu Menyusui. Cetakan I. Hayati Qualita: Bandung Hal. 20-27
  4. Budiharja, 2011. Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia. Available at http://www.rri.co.id/index.php/component/content/article/43-index-headline/4282-tingkat-pemberian-asi-ekslusif-di-indonesia-masih-rendah.
  5. Depkes RI, 2010. Field Book: Metode dan Media Promosi Kesehatan. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan. Hal. 9.

Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Terhadap Persepsi Remaja Putri tentang Pernikahan Dini

2

Pitri Gea Natalia and Rahmadyanti (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : Pernikahan anak usia dini merupakan salah satu bentuk tindak kekerasan terhadap anak dan melanggar HAM. Menurut  data Badan Pusat Statistik (BPS Tahun 2020, jumlah pernikahan dini atau pernikahan anak pada tahun 2019 sebanyak 10.82 %, Kemudian pada tahun 2020 menurun menjadi 10.18 %, namun terjadi kenaikan di 9 provinsi Data menunjukkan bahwa pada tahun 2018, 1 dari 9 perempuan berumur 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun atau sekitar 11 persen.Sementara hanya 1 dari 100 laki-laki berumur 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun atau sekitar 1 persen. Tujuan Penelitian : Mengetahui Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Terhadap Persepsi Remaja Putri Tentang Pernikahan Dini Di SMA Mandalahayu 304 Bekasi Timur. Metode Penelitian : Jenis penelitian yang bersifat analitik observasional secara cross sectional dengan pendekatan kuantitatif . Besar sampel yaitu 100 orang pada remaja putri. Teknik sampling yang di gunakan dengan non probability sampling dengan metode purposive sampling. Hasil Penelitian : Hasil Univariat Mayoritas remaja putri di sekolah SMA Mandalahayu 304 Bekasi Timur memiliki persepsi kurang paham, pengetahuan kurang, sikap tidak mendukung terhadap pernikahan dini, pendidikan orang tua tinggi, pekerjaan orang tua pedagang, Terdapatnya pengaruh antara umur, pengetahuan, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua terhadap persepsi remaja putri tentang pernikahn dini di sekolah SMA Mandalahayu 304 Bekasi Timur dengan nilai Asimp.sign sebesar 0,000, yang mana 0,000 < 0,05, serta tidak terdapat pengaruh sikap terhadap persepsi persepsi remaja putri tentang pernikahn dini di sekolah SMA Mandalahayu 304 Bekasi Timur. Kesimpulan dan Saran : Bagi pelayanan kesehatan atau pihak kesehatan khususnya bidan untuk promosi pada remaja khususnya tentang faktor penyebab pernikahan dini, sehingga dapat mengubah persepsi remaja terhadap pernikahan dini.

Kata Kunci : persepsi pernikahan dini, pengetahuan, sikap

PENDAHULUAN

Pernikahan anak usia dini merupakan salah satu bentuk tindak kekerasan terhadap anak dan melanggar HAM. Menurut  data Badan Pusat Statistik (BPS Tahun 2020, jumlah pernikahan dini atau pernikahan anak pada tahun 2019 sebanyak 10.82 %, Kemudian pada tahun 2020 menurun menjadi 10.18 %, namun terjadi kenaikan di 9 provinsi Data menunjukkan bahwa pada tahun 2018, 1 dari 9 perempuan berumur 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun atau sekitar 11 persen.Sementara hanya 1 dari 100 laki-laki berumur 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun atau sekitar 1 persen.

Pernikahan dini tidak hanya merenggut masa depan remaja . Pernikahan dini menimbulkan dampak buruk bagi anak. Seperti memiliki kerentanan dalam mengakses pendidikan dan layanan kesehatan, berisiko mengalami tindak kekerasan dan hidup dalam kemiskinan.tetapi juga menimbulkan dampak buruk seperti putus sekolah dimana 85% anak perempuan di Indonesia mengakhiri pendidikan mereka setelah mereka menikah.Pernikahan dini pada remaja merupakan motivasi remaja yang bisa berasal dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Selain itu Pengetahuan yang kurang tentang kesehatan reproduksi menyebabkan ketidaktahuan akan bahaya dari pernikahan dini. Pernikahan dini tidak hanya merenggut masa depan remaja tetapi juga menimbulkan dampak buruk seperti putus sekolah dimana 85% anak perempuan di Indonesia mengakhiri pendidikan mereka setelah mereka menikah (Jayanti 2021).

Maraknya pernikahan dini di Indonesia juga menjadi masalah kesehatan reproduksi dan psikologis (Rusdayanti1, Ida Sofiyanti2, Isfaizah3 2020).

Pernikahan dini pada remaja terjadi karena buruknya pemahaman kesehatan reproduksi dan kurangnya Kasahara remaja perempuan terhadap resiko kehamilan dan persalinan dini serta terjadinya ketidaksetaraan gender. Selain itu, terjadinya pernikahan dini juga disebabkan karena tingkat pendidikan yang rendah, ekonomi, adat dan tradisi (Suyani and Hidayanti 2020), Pernikahan dini disebabkan oleh faktor ekonomi, pendidikan serta pengetahuan, orang tua, media massa, adat/budaya, dan keinginan remaja sendiri. Faktor budaya merupakan faktor penyebab pernikahan dini yang paling dominan dan kemungkinan remaja melakukan pernikahan dini 30 kali lebih besar dibandingkan yang tidak memiliki budaya pernikahan dini.

Pernikahan usia muda yang menjadi fenomena sekarang ini pada dasarnya merupakan satu siklus fenomena yang terulang dan tidak hanya terjadi di daerah pedesaan yang kebanyakan dipengaruhi oleh minimnya kesadaran dan budaya namun juga terjadi di wilayah perkotaan yang secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh era model dari dunia hiburan yang mereka tonton. Di abad 21, fenomena pernikahan gadis belia yang masih di bawah umur masih banyak terjadi di negara berkembang. Menurut data dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), satu dari sembilan anak perempuan di negara berkembang, menikah di usia yang masih tergolong muda yakni 15 tahun. Jika tidak ada perubahan terhadap tradisi ini, diperkirakan pada tahun 2020, ada 14,2 juta gadis belia akan menjadi pengantin perempuan tiap tahunnya. Berbagai alasan, mulai dari kemiskinan hingga tradisi budaya, melatar belakangi terjadinya pernikahan gadis di usia dini.

Pernikahan dini berakibat kepada kekerasan fisik, seksual, psikologis dan emosional serta isolasi sosial dimana bayi yang dilahirkan hasil pernikahan dini juga memiliki kemungkinan yang untuk lahir prematur dengan berat badan lahir rendah dan kekurangan gizi bahkan pernikahan dini berdampak negatif hingga pada kematian dimana kehamilan merupakan penyebab utama kematian anak perempuan usia 15-19 tahun (Jayanti 2021).

Kasus pernikahan usia dini biasanya memiliki faktor penyebab yaitu pengaruh pergaulan, kurangnya budaya akan bahaya pernikahan usia dini, faktor sosial ekonomi, kebudayaan, kurangnya budaya agama dan masih banyak lagi. Di sini peran orang tua sebagai keluarga sangat penting untuk mengarahkan anak ke arah yang lebih baik serta peran tokoh agama pun dibutuhkan untuk lebih memberikan edukasi tentang pernikahan dini serta memberikan pemahaman agar para remaja memiliki keyakinan agar hidup lebih terarah.

Dalam suatu lingkungan peran masyarakat sangat penting dalam pembentukan suatu hubungan sosial, baik dilingkungan pedesaan mau pun perkotaan. Masyarakat adalah suatu kumpulan individu yang saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai kesejahteraan bersama. Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya sering ditemukan kejadian dan masalah yang tidak di duga dan masyarakat pun kadang bersikap acuh tak acuh dan bahkan memilih tidak peduli untuk mengatasinya, tapi pada hakikatnya dalam mengatasi masalah yang ada di lingkup lingkungan masyarakat peran anggota masyarakat sangat penting untuk memecahkan dan memberikan solusi pada masalah tersebut (Ade Rahayu Prihartini dan Rosidah 2018).

Berdasarkan latar belakang yang di kemukakan sebelum nya, peneliti tertarik mengambil judul penelitian  Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Terhadap Persepsi Remaja Putri Tentang Pernikahan Dini Di SMA Mandalahayu 304 Bekasi Timur

METODE

Penelitian ini bersifat observasional analitik cross sectional pendekatan kuantitatif. Variable dependen dalam penelitian ini adalah persepsi remaja putri tentang pernikahan dini sedangkan variable indenpenden adalah penegtahuan dan sikap dan variabel counfounding yaitu umur, pendidikan orang tua dan pekerjaan orang tua.

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa dan siswi SMA Mandahayu 304 dengan jumlah keseluruhan siswi yaitu 210 yang masih aktif  belajar, Teknik Sampling yang di gunakan dalam penelitian ini adalah non probalitiy sampling yaitu teknik sampling yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi tidak memberi  peluang  atau kesempatan bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk di pilih mejadi sampel secara purposive sampling dengan sampel memenuhi kriteria

tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya berdasarkan dengan kriteria inklusi yaitu bersedia menjadi responden, Siswi aktif SMA Mandalahayu 304 Bekasi yang berusia 15 tahun – 18 tahun.

Kriteria eksklusi yaitu Siswi SMA Mandalahayu yang telah melakukan seks bebas, Siswi SMA Mandalahayu yang memiliki status ekonomi kurang dari UMR. penelitian dilaksanakan pada  Mei 2022.

Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya dengan menggunakan data primer untuk mengetahui pengtahuan remaja putri  dan mengunakan kuesioner yg sudah di sesuaikan tujuan penilitian untuk mengetahui varibel dependen , independen dan varibel penganggu di bagikan kepada responden yang sesuai dengan kriteria inklusi Peneliti menggunakan kuesioner sebagai variabel dependen untuk mengetahui pengetahuan tentang gizi oleh responden, lalu penelitian ini menggunakan instrument penelitian yaitu berbentuk kuesioner dengan 15 pertanyaan tentang  persepsi pernikahan dini, sikap siswi terhadap pernikahan dini. Pada instrument penelitian ini peneliti uji statistik dengan cara uji validitas dan reliabilitas di dapatkan instrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan uji validitas dan reliabilitas maka hasil uji validitas R hitung > R tabel  Pada signifikan 5% pada distribusi nilai R tabel  dengan total responden 100, Df = N-2,  100-2 = 98, pada Df  28 maka dari itu R tabel  pada penelitian ini adalah 0.201. Hasil output uji validitas di dapatkan R hitung > 0,201 yang di simpulkan uji validitas yaitu valid dan  uji reliabilitas di katakan valid jika nilai alpha > 0,60  karena hasil uji reliabilitas 0,740 > 0,60 maka data butir soal valid.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran secara umum mengenai persepsi remaja tentang pernikahan dini pada tiga aspek khusus yaitu aspek kognitif, aspek afektif serta aspek konatif. Peneliti melakukan riset di SMA Mandalahayu 304 Bekasi Timur . Responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas X, XI, remaja perempuan yang bersedia dilakukan penelitian sebanyak 100 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan data melalui kuesioner penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 14 Mei 2022. Hasil penelitian ini diperoleh melalui kusioner yang telah dibagikan dan di rekam dalam form kuesioner oleh setiap responden.

Dengan keterbatasan waktu penelitian tidak mengembangkan lebih banyak variabel lain dan semoga dimasa yang akan datang bisa dikembangkan oleh peneliti peneliti selanjutnya. Penelitian ini di lakukan saat pada masa pandemi sehingga untuk mengumpulkan siswi di sekolah SMA Mandalahayu 304 Bekasi Timur agak terhambat dalam mengumpulkan siswi karena siswi tidak tatap muka (online). Pada bulan juni siswi sekolah sudah mulai tatap muka, maka penelitian ini di lakukan pada bulan Juni 2022.

Jika dilihat dari karakteristik diatas mayoritas remaja  putri persepsi kurang paham tentang pernikahan dini sebanyak 65 orang ( 65%). Menurut asusmsi peneliti persepsi remaja putri masih banyak kurang paham  karena dalam pemikiran siswi tersebut pernikahan merupakan salah satu cara untuk menghindari terjadinya perzinaan, dan dalam adat mereka bahwa dengan menikah muda salah satu cara tidak membebani orang tua karena untuk rezeki sudah ada yang  ngatur sehingga persepsi tersebit apabila ada yang sudah mau melamar menikah tidak ada penolakan dalam konsep keluarga. Hal ini sejalan dengan penelitian Sakdiyah (2013) di dusun pereng ampel, desa pamoroh, kecamatan kadur Madura dengan judul mencegah pernikahan dini untuk membentuk generasi berkualitas yang didapatkan hasil faktor pendorong menikah usia dini adalah faktor ekonomi, faktor diri sendiri, faktor pendidikan, dan faktor orang tua. Pembinaan dan penyuluhan tentang pembentukan generasi bekualitas dan dampak dari pernikahan dini dari instansi terkait.

Menurut Montazeri (2016) dalam publikasi ilmiahnya tentang “Determinants of Early Marriage from Married Girls; Perspectives in Iranian Setting: A Qualitative Study” mengemukakan bahwa Pernikahan dini adalah masalah di seluruh dunia yang terkait dengan serangkaian konsekuensi kesehatan dan sosial bagi remaja putri. Merancang Intervensi kesehatan yang efektif untuk mengelola pernikahan dini perlu menerapkan pendekatan berbasis masyarakat. Namun, memang begitu kurang mendapat perhatian dari pembuat keputusan dan peneliti kesehatan di Iran. Penelitian tersebut dilakukan dari Mei 2013 sampai Januari 2015 di Ahvaz, Iran. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tiga kategori muncul dari data kualitatif termasuk struktur keluarga, Otonomi rendah dalam pengambilan keputusan, dan menanggapi kebutuhan. Menurutnya, meski para responden belum siap untuk menikah dan berniat menunda pernikahan mereka, beberapa faktor seperti faktor individu dan kontekstual mendorong mereka untuk menikah dini (Montazeri, 2016).

Mayoritas remaja putri kurang terhadap pengetahuan pernikahan dini. Menurut asusmi peneliti pengetahuan kurang tersebut karena mayoritas mereka tidak berpikiran untuk menikah muda. Sikap terhadap pernikahan dini mayoritas tidak mendukung tentang pernikahan dini. Remaja putri tidak mendukung pernikahan dini dapat juga di sebabkan memiliki orang tua pendidikan mayoritas berpendidikan tinggi

Selain itu, ada juga hasil jawaban kuesioner di dapatkan hasil mendukung dalam pernikahan dini, menurut asusmi peneliti hal ini di sebabkan faktor dari pekerjaaan sehingga berkaitan dengan perekonomian keluarga. Analisa ini di lihat hasil penelitian berdasarkan pekerjaan orang tua di temukan ada orang tua yang tidak bekerja sejak masa pandemi, dan ada yang menyatakan tidak menambah sekolah ke pendidikan lebih tinggi terkait dengan biaya di tambah saudara yang lebih dari 3 orang. Hasil penelitian hubungan antara karakteristik faktor penyebab terjadinya pernikahan dini dengan persepsi tentang pernikahan dini di dapatkan hasil terdapat hubungan antara umur, pengetahuan, pendidikan orang tua , pekerjaan orang tua dan jumlah saudara dengan persepsi remaja putri tentan pernikahan dini dengan nilai Asimp.sign sebesar 0,000. Hal ini sejalan dengan teori menurut BKKBN, 2012 yang menyatakan  adapun faktor – faktor yang mempengaruhi pernikahan usia dini adalah akibat rendahnya pendidikan, kebutuhan ekonomi, kultur nikah muda, pernikahan di atur, serta seks bebas pada remaja.

Perkawinan usia muda terjadi karena rendahnya tingkat pendidikan, baik pendidikan orang tua maupun anak. rendahnya tingkat pendidikan orang tua membuat rendahnya pengetahuan terhadap dampak perkawinan usia muda, baik dampak dari segi hukum, segi psikologis, maupun dari segi biologis anak. Rendahnya tingkat pendidikan orang tua menyebabkan rendahnya pengetahuan orang tua terhadap dampak tersebut, sehingga membuat orang tua tidak merasa bersalah mengawinkan anaknya pada usia berapapun. selain itu Adanya budaya nikah muda dikalangan masyarakat tertentu. Anak yang belum kawin sampai usia 20 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki – laki maka di anggap tidak laku, khususnya bagi perempuan. perempuan yang belum menikah hingga usia 20 tahun di juluki sebagai perawan tua. Kalangan masyarakat miskin menganggap bahwa mengawinkan anak perempuannya merupakan pelepasan beban, dengan adanya perkawinan maka anaknya akan menjadi tanggungan suaminya (Kertamuda, 2009 dalam Jannah, 2012).

Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga di garis kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka wanitanya dikawinkan dengan orang yang di anggap mampu ( Agustian, 2013). Pada penelitian ini menurut asumi peneliti di dapatkan pendidikan orang tua mayoritas tinggi maka untuk pernikahan dini tidak ada dalam pemikiran pada remaja, hal ini di sertai dengan adanya pengaruh dari orang tua untuk mewujudkan masa depan. Pada penelitian sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Iskandar (2019) dengan judul penelitian persepsi remaja menikah terhadap pernikahan dini di kecamatan Baranti Kabupaten Sidrap yang menyatakan persepsi objek terhadap pernikahan dini objek tidak setuju dengan adanya perniikahan dini karena belum matang secara psikologis maupun fisiologis dan belum mengerti bagaimana harus mengurus rumah tangga karena ketidaktahuan mengenai hak dan kewajibab sebagai suami istri, hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, tertutup kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang baik dan menghilangkan kesempatan bagi remaja untuk memilih pasangan yang di sukai. Sedangkan dari segi persepsi sosial menolak adanya pernikahan usia dini karena melihat realitas yang terjadi banyaknya dampak megatif dibanding positif yaitu harus berakhir dengan perceraian.

Pada penelitian ini di dapatkan hasil terdapatnya pengaruh antara pengetahuan terhadap persepsi remaja putri tentang pernikahan dini hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya dengan (Fitrianis 2018) Berdasarkan hasil uji statistic Chi_square di dapatkan ρValue= (0,000)< α=0, 05. Hal ini menunjukan bahwa ada hubungan yang Signifikan antara pengetahuan terhadap pernikahan dini sehingga hipotesis awal menyatakan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan remaja terhadap pernikahan dini.

Terdapatnya pengaruh  umur terhadap persepsi perniikahan dini pada remaja putri, menurut asumsi peneliti adanya hubungan di karenakan dalam Nursalam 2013 semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melalui proses sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam terbentuknya perilaku terbuka atau open behavior (Donsu, 2016).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan, yaitu :

  1. Mayoritas remaja putri di sekolah SMA Mandalahayu 304 Bekasi Timur memiliki persepsi kurang paham, pengetahuan kurang, sikap tidak mendukung terhadap pernikahan dini, pendidikan orang tua berpendidikan tinggi, pekerjaan orang tua pedagang.
  2. Terdapatnya pengaruh antara umur, pengetahuan, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua terhadap persepsi remaja putri tentang pernikahn dini di sekolah SMA Mandalahayu 304 Bekasi Timur.
  3. Tidak terdapatnya pengaruh antara sikap  terhadap persepsi remaja putri tentang pernikahn dini di sekolah SMA Mandalahayu 304 Bekasi Timur.

SARAN

  1. Bagi pelayanan kesehatan atau pihak kesehatan khususnya bidan untuk promosi pada remaja khususnya tentang faktor – faktor penyebab pernikahan dini, sehingga dapat mengubah persepsi remaja terhadap pernikahan dini.
  2. Bagi remaja putri, agar memperluas pengetahuan dalam hal tentang kesehatan reproduksi remaja khusunya tentang pernikahan dini yang sangat berbahaya bagi remaja serta untuk masa depan para remaja.
  3. Bagi peneliti selanjutnya, untuk melakukan penelitian tentang persepsi remaja tentang pernikahan dini untuk lebih banyak variabel yang mempengaruhi terjadinya pernikahan dini dan dapat penelitian ini berguna bagi remaja untuk menjadikan masa depan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Jayanti A. Perilaku pernikahan dini masyarakat di Kecamatan Onembute Kabupaten Konawe ditinjau dari theory of reasoned action. Indones J Educ Humanit. 2021;1(1):54-62. http://ijoehm.rcipublisher.org/index.php/ijoehm/article/view/8
  2. Rusdayanti1, Ida Sofiyanti2, Isfaizah3. 2020;2(1):11-23.
  3. Suyani S, Hidayanti EA. Gambaran Kecemasan Istri dalam Menjalani Pernikahan Dini. Proceeding of The URECOL. 2020;(4):397-401. http://repository.urecol.org/index.php/proceeding/article/view/1087%0Ahttp://repository.urecol.org/index.php/proceeding/article/download/1087/1059
  4. Ade Rahayu Prihartini dan Rosidah. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pernikahan Usia Muda di Desa Gunung Sembung. Sereal Untuk. 2018;51(1):51.
  5. Kemenppa RI 2018. Health Statistics. Vol 1.; 2018. doi:10.1080/09505438809526230
  6. Agustriana F, Angriani P, Hastuti KP. Persepsi pelajar sekolah menengah atas (SMA) terhadap pernikahan usia dini di kecamatan banjarmasin selatan kota banjarmasin. J Pendidik Geogr. 2015;2(4):38-49.
  7. Yuspa H, Tukiman. Dampak Pernikahan Dini Terhadap Kesehatan Alat Reproduksi Yuspa, H., & Tukiman. (2017). Dampak Pernikahan Dini Terhadap Kesehatan Alat Reproduksi Wanita. Jurnal Keluarga Sehat Sejahtera, 13, 36–43. https://ejournal.up45.ac.id/index.php/cakrawala-hukum/art. J Kel Sehat Sejah. 2017;13:36-43. https://ejournal.up45.ac.id/index.php/cakrawala-hukum/article/view/329/292
  8. Rustiana E, Hermawan Y, Triana Y. Pencegahan Pernikahan Dini Pendahuluan. 2020;1(1):11-15.
  9. Sumara, D; Humaedi, S; Santoso MD. Kenalakan Remaja dan Penanganannya. Penelit PPM. 2017;4(kenkalan remaja):129-389.
  10. Kementerian Kesehatan RI. Infodatin Reproduksi Remaja-Ed.Pdf. Situasi Kesehat Reproduksi Remaja. 2017;(Remaja):1-8.
  11. Wulandari A. Karakteristik Pertumbuhan Perkembangan Remaja dan Implikasinya Terhadap Masalah Kesehatan dan Keperawatannya. J Keperawatan Anak. 2014;2:39-43. https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKA/article/view/3954
  12. Dr. Vladimir VF No Title No Title No Title. Gastron ecuatoriana y Tur local. 2019;1(69):5-24.
  13. Hannah Fithrotien Salsabila Nadiani. Bab I Pendahuluan. Published online 2018:1-17.
  14. Winda Desi Arianti. Persepsi Remaja tentang Pernikahan Dini di SMA Pesantren Guppi Samata Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Published online 2018:63. http://repositori.uin-alauddin.ac.id/12255/
  15. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung. Metod Penelit Pendidik (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Published online 2015:308.
  16. Imas Masturoh, SKM., M.Kes. (Epid) Nauri Anggita T, SKM MK. No Title. Published online 2018.Rafidah. HUBUNGAN PERSEPSI ORANGTUA TENTANG PERNIKAHAN USIA DINI DENGAN NIKAH DINI DI KECAMATAN KERTAK HANYAR Rafidah, Erni Yuliastuti. 2014;2(1):20-25.
  17. Sari ER, Maemunaty T, Baheram M, Studi P, Luar P. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERNIKAHAN USIA MUDA KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU. :1-10.
  18. Dewi AP, Kusumaningrum T, Febriyana N. Persepsi Remaja Putri Terhadap Kecenderungan Perilaku Pernikahan Dini. Indones Midwifery Heal Sci J. 2021;3(2):120-130. doi:10.20473/imhsj.v3i2.2019.120-130
  19. Siti Salamah. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pernikahan Usia Dini Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan. Published online 2016:1-163. lib.unnes.ac.id
  20. Septiningsih Y, Sari DNA, Timiyatun E. Fungsi Afektif Keluarga Berhubungan Dengan Tingkat Stres Pada Wanita Menikah Usia Dini Di Pedukuhan Jaranan Desa Banguntapan Kabupaten Bantul Yogyakarta. Surya Med J Ilm Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehat Masy. 2019;13(1):50-56. doi:10.32504/sm.v13i1.101
  21. Fitrianis N. Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja dan Lingkungan Pergaulan Terhadap Pernikahan Dini di Desa Samili Tahun 2017 Relationship Between Teenegers Knowledge Level and Social Environmental Towrd Early Marriage in Samili Village 2017. 2018;2:109

Pengaruh Penyuluhan terhadap Tingkat Kepatuhan dalam Mengkonsumsi Tablet FE pada Ibu Hamil Trimester II

3

Lenny Nuraida and Omega DR Tahun (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang: Zat besi memiliki peran vital dalam pertumbuhan janin. Selama kehamilan, asupan zat besi harus ditingkatkan mengingat peningkatan volume darah pada ibu. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan ibu dan memasok makanan dan oksigen ke janin, diperlukan asupan zat besi yang lebih banyak. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia adalah 47,6%. Meskipun pemerintah telah melakukan program pengendalian anemia pada ibu hamil yaitu dengan memberikan 90 tablet Fe kepada ibu hamil selama masa kehamilan dengan tujuan untuk menurunkan angka anemia pada ibu hamil, namun angka kejadian anemia masih tinggi. Tujuan: adakah pengaruh penyuluhan tablet Fe terhadap tingkat kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe pada ibu hamil trimester II di kp. Rawa lumpang, kecamatan Kosambi, kabupaten Tangerang. Metodologi: Desain penelitian yang digunakan adalah Eksperimental dengan menggunakan Pre Test Post Test Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di kp. Rawa Lumpang, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang dari Februari sampai April 2022 sebanyak 30 orang. Untuk memperoleh data kepatuhan dari klien, peneliti menggunakan lembar observasi yang disusun secara sistematis, terstruktur dan berdasarkan tujuan investigasi. Dalam penelitian ini, pengumpulan data menggunakan lembar observasi. Untuk Penyuluhan Peneliti menggunakan Extension Events Unit (SAP). Hasil: Ada pengaruh penyuluhan terhadap tingkat kepatuhan konsumsi tablet Fe ibu hamil trimester II di kp. Rawa Lumpang, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang pada tahun 2022 dengan nilai p = 0,037.

Kata Kunci: Anemia, Ibu Hamil

PENDAHULUAN

Menurut WHO (2018), secara global prevalensi anemia pada ibu hamil di seluruh dunia adalah sebesar 41,8 %. Prevalensi anemia pada ibu hamil diperkirakan di Asia sebesar 48,2 %, Afrika 57,1 %, Amerika 24,1 %, dan Eropa 25,1 %.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 47,6 %. Pemberian tablet Fe di Indonesia pada tahun 2012 sebesar 85 %. Presentase ini mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 2011 yang sebesar 83,3 %. Meskipun pemerintah sudah melakukan program penanggulangan anemia pada ibu hamil yaitu dengan memberikan 90 tablet Fe kepada ibu hamil selama periode kehamilan dengan tujuan menurunkan angka anemia ibu hamil, tetapi kejadian anemia masih tinggi.

Salah satu komponen pelayanan kesehatan ibu hamil yaitu pemberian zat besi sebanyak 90 tablet (FE). Zat besi merupakan mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin). Selain itu, zat besi juga berperan sebagai salah satu komponen dalam membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat pada tulang, tulang rawan, dan jaringan penyambung), serta enzim.

Tingkat pengetahuan ibu hamil yang rendah mempengaruhi penerimaan informasi sehingga penerimaan tentang tablet FE menjadi terbatas dan berdampak pada terjadinya defisiensi zat besi. Semakin baik pengetahuan, maka dalam menyerap informasi semakin baik khususnya tentang tablet FE. Hal ini berdampak pada kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet FE karena ibu hamil dapat mengetahui pengertian, manfaat, efek samping dan kandungan tablet FE. Tingkat pengetahuan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti tingkat pendidikan, pengalaman, dan pengaruh dari orang lain.

Menurut Seftiani, 2018 dalam penelitiannya menjelaskan bahwa suplementasi besi atau pemberian tablet FE adalah salah satu strategi pencegahan dan penanggulangan anemia gizi yang paling efektif meningkatkan kadar hemoglobin pada ibu hamil. Upaya ini telah direkomendasikan secara universal di negara-negara berkembang. Sejak tahun 1970 an, program pemberian tablet FE telah dibuktikan hasilnya di beberapa negara, dengan pemberian tablet FE dapat menurunkan prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 20/25%.

Zat besi memiliki peran vital terhadap pertumbuhan janin. Selama hamil, asupan zat besi harus ditambah mengingat volume darah pada ibu meningkat. Sehingga, agar dapat memenuhi kebutuhan ibu dan menyuplai makanan serta oksigen pada janin dibutuhkan asupan zat besi yang lebih banyak. Asupan zat besi ini akan digunakan janin untuk kebutuhan tumbuh kembangnya, termasuk perkembangan otaknya, sekaligus menyimpannya dalam hati sebagai cadangan hingga bayi berusia 6 bulan. Selain itu, zat besi juga membantu dalam mempercepat proses penyembuhan luka khususnya luka yang timbul dalam proses persalinan. Kekurangan zat besi sejak sebelum kehamilan bila tidak diatasi mengakibatkan ibu hamil menderita anemia. Anemia merupakan salah satu resiko kematian ibu, kejadian bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), infeksi terhadap janin dan ibu, keguguran, dan kelahiran prematur.

METODOLOGI

Desain penelitian yang digunakan adalah Eksperimental dengan menggunakan Pre Test – Post Test Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di kp. Rawa Lumpang, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang dari Februari sampai April 2022 sebanyak 30 orang. Untuk memperoleh data kepatuhan dari klien, peneliti menggunakan lembar observasi yang disusun secara sistematis, terstruktur dan berdasarkan tujuan investigasi. Dalam penelitian, pengumpulan data menggunakan lembar observasi. Untuk Penyuluhan Peneliti menggunakan Extension Events Unit (SAP).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peneliti menggunakan uji analisis Bivariat dengan uji Paired Sample T-Test untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pada sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan.

Sebagian besar jumlah responden yang tidak patuhi sebelum penyuluhan sebanyak 27 orang (90%). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti didapatkan ketidakpatuhan responden disebabkan oleh karena beberapa faktor diantaranya adalah usia responden yang relatif muda, antara 16 – 30 tahun, tingkat pendidikan responden sebagian besar adalah lulusan SMP, serta kurangnya informasi yang di dapat responden karena sebagian besar responden belum pernah mendapat penyuluhan atau informasi sebelumnya.

Sebagian besar responden patuh sesudah dilakukan penyuluhan tentang tablet Fe atau tambah darah sebanyak 22 orang (73,3%).

Hasil statistik pada penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil di kp. Rawa Lumpang kec kosambi ini berada di rentan usia 16 – 35 tahun yaitu sebanyak 23 orang atau 76,7%. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Indreswari, Hardinsyah dan Damanik (2017) bahwa usia responden pada penelitian tersebut berkisar antara 16 – 35 tahun, ibu muda yang melaksanakan ANC (Antenatal Care) biasanya rajin dan aktif mengikuti penyuluhan di posyandu dibandingkan dengan usia ibu hamil yang usianya tergolong tua dan bukan kehamilan anak pertama.

Ada 3 orang (10%) yang patuh sebelum dilakukan penyuluhan tentang tablet Fe atau tambah darah dan ada 22 orang (73,3%) setelah dilakukan penyuluhan tentang tablet Fe atau tambah darah. Ada 27 orang (90%) yang tidak patuh sebelum dilakukan penyuluhan tentang tablet tambah darah atau Fe dan ada 8 orang (26,7%) yang tidak patuh setelah dilakukan penyuluhan tentang tablet Fe atau tambah darah.

Hasil penelitian memperlihatkan tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet fe pada ibu hamil trimester sebelum dilakukan penyuluhan sejumlah 27 orang atau 90% tidak patuh. Pada saat dilakukan pengukuran setelah mendapatkan intervensi berupa penyuluhan terjadi peningkatan kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet Fe pada ibu hamil trimester I sejumlah 22 orang atau 73,3% patuh.

Adapun jumlah ibu hamil yang tidak patuh dalam mengkonsumsi tablet Fe sejumlah 8 orang atau 26,7%. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh efek samping yang kurang nyaman dirasakan oleh ibu hamil ketika mengkonsumsi tablet besi seperti mual, muntah dan nyeri ulu hati (Anasari dan Hidayah, 2016). Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Deglin (2018), Tjay dan Rahardja (2017), efek samping yang timbul setelah mengkonsumsi tablet Fe diantaranya adalah perasaan tidak nyaman di lambung, mual, muntah , konstipasi dan kadang-kadang diare.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian tentang pengaruh penyuluhan terhadap tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet Fe pada Ibu hamil trimester II di kp. Rawa Lumpang kecamatan Kosambi kabupaten Tangerang Tahun 2022 terhadap 30 responden, penulis mendapatkan kesimpulan sebagai berikut :

  1. Ibu hamil sebelum dilakukan penyuluhan di kp. Rawa Lumpang kecamatan Kosambi kabupaten Tangerang Tahun 2022 yaitu tidak patuh sebanyak 27 responden (90%).
  2. Ibu hamil setelah dilakukan penyuluhan di kp. Rawa Lumpang kecamatan Kosambi kabupaten Tangerang Tahun 2022 yaitu patuh sebanyak 22 responden (73,3%).
  3. Ada pengaruh penyuluhan terhadap tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet Fe pada Ibu hamil trimester II di kp. Rawa Lumpang kecamatan Kosambi kabupaten Tangerang Tahun 2022 dengan p value = 0,037.

DAFTAR PUSTAKA

  1. WHO (World Health Statistics). Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. 2018.
  2. Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Republik Indonesia; 2019.
  3. Kemenkes RI. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 Provinsi DKI Jakarta. 2018;271.
  4. Martini S. Hubungan Tingkat Pengetahuan Hamil Tentang Tablet FE Dengan Kepatuhan Ibu Hamil Mengkonsumsi Tablet FE. Akademi Kebidanan Purwodadi; 2017.

Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Metode Amenorea Laktasi terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu Nifas

4

Sari Wahyu Windarti and Olivia Nency (Editor)

ABSTRAK

Metode Amenorea Laktasi adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif artinya hanya diberikan ASI saja tanpa pemeberian makanan tambahan atau minuman apapun. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Babelan I Bekasi. Metode pada penelitian ini menggunakan penelitian secara pra- eksperimen desain One – group pre test – post test design, sampel diambil secara non probability sampling dengan metode purposive sampling berjumlah 62 orang. Hasil analisa data univariat di dapatkan hasil mayoritas umur di atas 25 tahun, pendidikan SMA, pekerjaan IRT, memiliki anak 2 orang, pengetahuan kurang dan sikap negatif sebelum penyuluhan kesehatan. rata – rata nilai pretest penyuluhan kesehatan didapatkan nilai pengetahuan 60,65 sedang rata – rata nilai posttest penyuluhan kesehatan di dapatkan hasil nilai pengetahuan yaitu 84,20. rata – rata nilai pretest penyuluhan kesehatan di dapatkan nilai sikap 51,90 sedang rata – rata nilai posttest penyuluhan kesehatan di dapatkan hasil nilai sikap yaitu 67,50 . Hasil analisa bivariat menggunakan uji Z di dapatkan hasil dengan nilai Sig ( 2- tailed) 0,000 < 0,05 berdasarkan analisa tersebut maka ada perbedaan rata – rata hasil 2 kuesioner yaitu pre test dan post test. Oleh karena itu, di simpulkan ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap ibu nifas. Di harapkan penelitian ini mampu memberikan informasi dan edukasi khususnya bagi tenaga kesehatan dalam program KB alami yaitu metode amenorea laktasi dengan pemberian edukasi secara penyuluhan kesehatan.

Kata kunci : Penyuluhan kesehatan tentang MAL, Pengetahuan, Sikap.

PENGANTAR

Metode Amenorea Laktasi adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif artinya hanya diberikan ASI saja tanpa pemberian makanan tambahan atau minuman apapun. (Srihandayani, 2018). Penggunaan kontrasepsi alami Metode Amenorea Laktasi (MAL) secara tidak langsung memberikan dampak pengurangan resiko kematian ibu akibat perdarahan pasca persalinan (Melyani,2017).

Seperti kita ketahui bahwa penggunaan metode KB yang tepat akan meningkatkan kualitas penduduk serta pengendalian jumlah penduduk akan tercapai. Terutama pada saat pasca persalinan seorang ibu pasti menginginkan untuk menunda kehamilan berikutnya, oleh karena itu, Metode Amenorea Laktasi ( MAL) dapat menjadi pilihan yang efisien hingga 6 bulan ke depan. Namun kenyataannya, kekhawatiran akan keberhasilan MAL menjadikan MAL jarang digunakan. Kebanyakan ibu pasca melahirkan justru lebih memilih metode KB lain yang dianggap lebih aman jika dibandingkan dengan Metode Amenorea Laktasi (MAL) (Mujiati, 2013).

Hasil penelitian Puspa Desi Malinda, dkk, 2013 . Berdasarkan hasil penelitian yang mengalami peningkatan dari 54,3% sebelum penyuluhan sampai 100% sesudah penyuluhan yang artinya ada perbedaan pengetahuan ibu hamil trimester III tentang metode amenorea laktasi ( MAL) sebelum dan sesudah penyuluhan.

Survey pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di wilayah kerja Puskesmas Babelan I yaitu peneliti mengambil 10 responden ibu nifas 6 hari pasca persalinan kemudian peneliti memberi pertanyaan tentang kontrasepsi MAL di dapatkan hasil 8 orang dari 10 responden (80%) tidak mengetahui adanya kontrasepsi alami yaitu MAL. Selain itu, peneliti menemukan ibu nifas 6 hari dari 15 orang yang datang ke Puskesmas Babelan I terdapat 10 orang dari 15 responden ( 66,6%) tidak memberi ASI Ekslusif.

Berdasarkan pemaparan dan penjelasan diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian berkaitan dengan judul Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Metode Amenorea Laktasi Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Ibu Nifas Di Wilayah Kerja Puskesmas Babelan I Bekasi Tahun 2022.

METODE

Penelitian ini menggunakan pra – eksperimen dengan desain One sample T Test atau pre test – post test design yaitu desain yang terdapat pre- test sebelum diberi perlakuan tanpa kelompok kontrol.

Populasi penelitian ini adalah adalah ibu nifas yang memiliki bayi 0-6 bulan berjumlah 162 orang di wilayah kerja Puskesmas Babelan I Bekasi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu dengan non probability sampling dengan metode purposive sampling yaitu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel di antara populasi sesuai dengan yang di kehendaki peneliti dilakukannya penelitian yaitu pada April – Mei 2022 berdasarkan dengan kriteria inklusi yaitu bersedia menjadi responden, belum datang haid, bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Babelan I Bekasi.

Peneliti menggunakan kuesioner sebagai variabel dependen untuk mengetahui pengetahuan dan sikap tentang MAL oleh responden, lalu penelitian ini menggunakan instrument penelitian yaitu berbentuk kuesioner dengan 15 pertanyaan tentang pengetahuan MAL dan 15 pertanyaan tentang sikap pada responden ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Babelan I Bekasi. Pada saat penyebaran kuesioner tahap awal yang di lakukan peneliti yaitu pre test pada responden, selanjutnya peneliti melakukan penillaian pada nilai responden pada saat sebelum di berikan penyuluhan kesehatan. Setelah itu peneliti memberikan penyuluhan kesehatan tentang keluarga berencana ( KB) dengan metode MAL. Pada instrument penelitian ini peneliti uji statistik dengan cara uji validitas dan reliabilitas di dapatkan instrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan uji validitas dan reliabilitas maka hasil uji validitas R hitung > R tabel Pada signifikan 5% pada distribusi nilai R tabel dengan total responden 62, Df = N-2, 62 -2 = 60, pada Df 60 maka dari itu R tabel pada penelitian ini adalah 0.25. Hasil output uji validitas di dapatkan R hitung > 0,25 yang di simpulkan uji validitas yaitu valid dan uji reliabilitas di katakan valid jika nilai alpha > 0,60 karena hasil uji reliabilitas 0,820 maka di nyatakan valid.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari data yang di peroleh melalui kuesioner yang disebarkan ke 62 responden di wilayah kerja puskesmas Bebelan I Bekasi tahun 2022. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada saat penyebaran kuesioner di karenakan di masa pandemi yang sulit untuk mengumpulkan para responden oleh karena itu, peneliti menyebarkan kuesioner dalam bentuk google form yang di berikan melalui WhatsApps ( WA) agar lebih mudah

untuk mendapatkan data responden sesuai inklusi peneliti. Adapun kendala dalam pemberian penyuluhan kesehatan oleh peneliti yaitu pemberian leaflet, maka peneliti mempunyai solusi dengan cara responden yang datang ke puskesmas di berikan leaflet dan sisa responden yang tidak datang ke puskesmas di berikan leaflet melalui whatsApp (e- leaflet). Karateristik ibu nifas yang menjadi responden dalam penelitian ini dibedakan menurut umur, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, pengetahuan dan sikap tentang MAL.

Dari 62 orang yang menjadi responden mayoritas umur ibu di atas 25 tahun, pendidikan SMA, Pekerjaan ibu seorang IRT, ibu memiliki anak berjumlah 2 orang. Pengetahuan dan sikap ibu sebelum dan sesudah penyuluhan kesehatan di dapatkan pengetahuan sebelum penyuluhan mayoritas kurang (40,3%) dan sikap negatif (67,7%) . Menurut peneliti terdapatnya mayoritas pengetahuan kurang sebelum diberikan penyuluhan kesehatan tentang MAL adalah masih minimnya pemberian informasi tentang KB alami khususnya Metode Amenorea Laktasi (MAL) karena observasi peneliti pada puskesmas Babelan I adalah untuk pelayanan KB lebih prioritaskan tentang KB jangka panjang. padahal dengan diberikan infromasi tentang KB alami tersebut juga salah satu program pemerintah tentang pemberian ASI Ekslusif. pemberian ASI Ekslusif merupakan salah satu syarat untuk menggunakan KB alami yaitu MAL sesuai dengan teori (Srihandayani, 2018). Pada Metode Amenore Laktasi adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif artinya hanya diberikan ASI saja tanpa pemberian makanan tambahan atau minuman apapun. pendapat peneliti bahwa ASI Ekslusif merupakan salah satu program pemerintahan berdasarkan undang – undang no. 36 tahun 2009 tentang kesehatan pada pasal 128 ayat (1) yang menyatakan setiap bayi berhak mendapat Air Susu Ibu (ASI) sejak lahir selama 6 bulan kecuali atas indikasi medis oleh karena itu penyuluhan kesehatan tentang MAL akan lebih baik di sampaikan sebelum pasca persalinan agar metode amenorea laktasi dapat di gunakan oleh ibu nifas yang memiliki bayi 0-6 bulan.

Pada jurnal penelitian Rofik Darmayanti dan Indah Nurul Hidayati, 2016 dengan judul penelitian yaitu hubungan pengetahuan ibu hamil tentang Metode Amenorea Laktasi (MAL) dengan melakukan Metode Amenorea Laktasi di dapatkan hasil adanya hubungan pengetahuan ibu hamil tentang metode amenorea laktasi dengan minat melakukan kontrasepsi dengan metode amenorea laktasi dan memberikan saran pentingnya konseling KB alami yang melibatkan bidan, suami dan keluarga pada saat ibu melakukan kunjungan Ante Natal care (ANC).

Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melalui proses sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam terbentuknya perilaku terbuka atau open behavior (Donsu, 2016).

Supaya tercapainya pengetahuan kontrasepsi MAL maka menurut peneliti penyuluhan kesehatan salah satu metode terbaik sesuai dengan penelitian yang dilakukan Sawitri (2009, Dewi (2010) dan Maylani (2012) mengenai efektifitas penyuluhan dan manfaat penyuluhan, evaluasi atau pemberian posttest pada penyuluhan dilakukan dengan memberikan jeda 1 hari dengan tujuan agar responden dapat memahami materi yang diberikan saat penyuluhan dan mendapatkan ingatan informasi yang diberikan sehingga dapat meningkatkan pengetahuannya. Karena responden lebih ingat dengan kejadian 1 hari yang lalu dan responden mampu melakukan pengulangan- pengulangan ingatan mengenai penyuluhan yang telah dilakukan sebelumnya yang dapat mempengaruhi hasil nilai posttest.

Pada Uji Independen Sample Test pengetahuan dan sikap ibu nifas di dapatkan hasil Sig ( 2- tailed) 0,000 < 0,05 dengan kesimpulan adanya perbedaan antara nilai kuesioner pre test dengan kuesioner post test. Berdasarkan hasil tersebut maka peneliti menyimpulkan bahwa adanya pengaruh penyuluhan kesehatan tentang metode amenorea laktasi terhadap pengetahuan dan sikap ibu nifas dalam pemberian ASI Ekslusif. Hasil penelitian ini selaras dengan jurnal penelitian Puspa Desi Malinda, dkk, 2013 yang menyatakan yang mengalami peningkatan dari 54,3% sebelum penyuluhan sampai 100% sesudah penyuluhan yang artinya ada perbedaan pengetahuan ibu hamil trimester III tentang metode amenorea laktasi ( MAL) sebelum dan sesudah penyuluhan.

Adanya pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap sesuai dengan teori menurut (Arsyad, 2012) yang menyatakan media dalam penyuluhan memiliki beberapa manfaat, yaitu media dapat memperjelas informasi yang disampaikan sehingga dapat meningkatkan pemahaman sasaran, media penyuluhan dapat mengarahkan perhatian sasaran sehingga meningkatkan motivasi sasaran untuk memperhatikan materi penyuluhan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian didapat bahwa :

  1. Pada karakteristik ibu nifas terdapat mayoritas ibu nifas berumur di atas 25 tahun, pendidikan SMA, Pekerjaan sebagai IRT, jumlah anak 2 orang, pengetahuan kurang dan sikap negatif pada ibu nifas di wilayah kerja puskesmas Babelan I Bekasi Tahun 2022.
  2. Rata – rata nilai pretest atau sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan di dapatkan hasil nilai pengetahuan 60,65 dan standar deviation yaitu 15,261 sedang rata – rata nilai posttest atau sesudah dilakukan penyuluhan kesehatan di dapatkan hasil nilai pengetahuan yaitu 84,20 standar deviation yaitu 11,38.
  3. Rata – rata nilai pretest atau sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan di dapatkan nilai sikap 51,90 dan standar deviation yaitu 5,291 sedang rata – rata nilai posttest atau sesudah dilakukan penyuluhan kesehatan di dapatkan hasil nilai sikap yaitu 67,50 standar deviation yaitu 7,5.
  4. Adanya perbedaan antara kuesioner pre test dan kuesioner post test setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang metode amenorea laktasi di wilayah kerja puskesmas Babelan I Bekasi Tahun 2022, dengan hasil uji Z Sig ( 2- tailed) 0,000 < 0,05.

SARAN

  1. Bagi pelayanan kesehatan atau pihak kesehatan khususnya bidan untuk melakukan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya KB alami metode amenorea laktasi pada masa kehamilan Trimester III untuk menambah pengetahuan kontrasepsi MAL yang sangat berkaitan erat dengan pemberian ASI Ekslusif.
  2. Bagi ibu nifas khususnya yang mempunyai bayi 0-6 bulan, untuk melakukan pemberian ASI ekslusif agar dapat menggunakan metode amenorea laktasi sebagai KB alami.
  3. Bagi peneliti selanjutnya, untuk melakukan penelitian dengan topik KB alami khususnya metode amenorea laktasi dengan judul yang berhubungan dengan penggunaan KB alami metode amenorea laktasi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Astutik, Reni. (2017). Continuity Of Care Pada Ibu Hamil Trimester III Dengan Anemia Di Wilayah Kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri.
  2. Haryono R, Setianingsih, S. 2014. Manfaat Asi Eksklusif Untuk Buah Hati Anda. Yogyakarta: Gosyen Publising.
  3. Arifiati, N. (2017). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Di Kelurahan Warnasari Kecamatan Citangkil Kota Cilegon. IKAKESMADA, 129-135.
  4. Nugroho, T., dkk. (2014). Buku ajar asuhan kebidanan nifas (askeb 3). Yogyakarta : Nuha Medika
  5. Astuti, Sri. 2015. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Jakarta: Erlangga.
  6. Maritalia D, (2014). Asuhan Kebidanan Menyusui. Yogyakarta : Pustaka Belajar
  7. Saleha S. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta: SalembaMedika; 2013.
  8. Prawirohardjo, Sarwono. 2016. Ilmu Kebidanan. Edisi 4 Cetakan 5. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
  9. Azwar. Saifuddin. 2013. Metode Penelitian . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  10. Maryunani Anik, 2013. Asuhan Bayi Dengan Berat badan Lahir Rendah ( BBLR)
  11. Mansyur, N. 2014.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Malang : Selaksa Medika.
  12. Astutik, Reni Yuli. (2014). Payudara dan laktasi. Jakarta : Salemba Medika
  13. Nugroho, T. 2011. Asi dan Tumor Payudara. Nuha Medika. Yogyakarta
  14. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta
  15. Pollard, M. 2016. Asi Asuhan Berbasis Bukti. EGC. Jakarta.
  16. Nirwana, A.B. 2014. Asi dan Susu Formula : Kandungan dan Manfaat Asi dan Susu Formula. Nuha Medika. Yogyakarta.
  17. Mustofa, A., dan H. Prabandari. 2010. Pemberian Asi Eksklusif dan Problematika Ibu Menyusui. Jurnal Studi Gender & Anak 5(2).
  18. Anik Puji Rahayu (2017). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: Selemba Medika
  19. Arikunto, S. (2019). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka cipta
  20. Nursalam. 2016. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan Praktis Edisi.4. Jakarta : Salemba Medika.
  21. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
  22. Ambarwati, E,R,Diah, W. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Nuha
  23. Proverawati, Atikah, Islaley AD, Aspuah S. Panduan Memilih Kontrasepsi. Yogyakarta: Nuha Medica; 2010.
  24. Marmi. 2016. Buku Ajar Pelayanan KB. Yogyakarta: Psutaka Pelajar
  25. Kementrian Kesehatan RI.2021. Profil kesehatan Indonesia 2020. Jakarta. Kemenkes RI. di akses 20 Januari 2022
  26. Rofik Damayanti & Indah Nurul Hidayati. 2016. Hubungan pengetahuan ibu hamil tentang metode amenorea laktasi ( MAL) dengan minat melakukan metode amenorea laktasi. Jurnal Kebidanan Dharma Husada Vol.5 No.2 Oktober 2016, di akses 20 Mei 2022
  27. Puspa Desi Malinda, Suprapti, Erna Kusumawati, 2013. Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tablet FE. Jurnal Kebidanan Vol.2 No.2 Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS). di akses 20 Januari 2022
  28. Donsu, J, D, T. (2016). Metodologi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta : Pustaka Baru Press. Cetakan I.

Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Tali Pusat sebelum dan Sesudah Diberikan Edukasi

5

Nur Mega Uswatun Khasanah and Maryati Sutarno (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang: Sering diketahui bahwa tali pusat bayi lebih rentan terkena nfeksi, dan adanya infeksi pada tali pusat disebabkan berawal dari pengetahuan ibu yang rendah dan kesalahannya tindakan yang telah dilakukan pada saat merawat tali pusat. Kesalahan yang diakibatkan berawal dari pengetahuan yang rendah yang dimiliki oleh ibu post partum pada usia muda tentang perawatan tali pusat, disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : tidak memiliki pengetahuan yang luas, pengalaman, kepercayaan diri, serta rendahnya informasi dan edukasi yang didapatkan oleh ibu post partum tentang perawatan tali pusat. Tujuan: Untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Tali Pusat Sebelum Dan Sesudah Diberikan Edukasi Di Klinik Bidan Titis Tangerang 2022. Metodologi: Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experimental dengan one group pretest and posttest design. Besar sampel pada penelitian ini sebanyak 126 ibu nifas yang akan dijadikan responden. Penelitian ini akan dilaksanakan di Klinik Bidan Titis Sukasari Tangerang. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Maret 2022. Hasil penelitian: Hasil analisa dengan menggunakan uji Wilcoxon pretest pengetahuan dan posttest pengetahuan nilai Z=-9,514 dan Asymp. Sign(2-tailed)= 0,000. Simpulan: terdapat perubahan pengetahuan pada ibu nifas terhadap perawatan tali pusat sebelum dan sesudah diberikan edukasi di Klinik Bidan Titis Tangerang 2022. Saran: Diharapkan kepada seluruh tenaga kesehatan agar lebih lagi memberikan penyuluhan tentang manfaat perawatan tali pusat pada bayi baru lahir, sehingga para Ibu nifas tidak lagi salah dalam melakukan perawatan tali pusat pada bayi baru lahir, sehingga mengurangi terjadinya infeksi pada tali pusat bayi baru lahir.

Kata Kunci: Edukasi, Perawatan Tali Pusat

PENDAHULUAN

Rendahnya pengetahuan pada ibu post partum usia muda tentang perawatan tali pusat, terkadang bisa menyebabkan terjadinya infeksi pada tali pusat setelah dilakukan pemberian tindakan perawatan tali pusat pada bayi. Kesalahan yang diakibatkan berawal dari pengetahuan yang rendah yang dimiliki oleh ibu post partum pada usia muda tentang perawatan tali pusat, disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : tidak memiliki pengetahuan yang luas, pengalaman, kepercayaan diri, serta rendahnya informasi dan edukasi yang didapatkan oleh ibu post partum tentang perawatan tali pusat, dan didapatkan 50% ibu usia muda yang rata-rata masih memiliki pengetahuan yang rendah terhadap perawatan tali pusat.

Dari hasil survey SDKI (2014) didapatkan data ibu yang memiliki pengetahuan yang rendah dalam merawat tali pusat sekitar 20-40%. Dan didapatkan data kesalahan dalam perawatan tali pusat 30-40% rata-rata kesalahan tersebut diakibatkan karena kurangnya pemberian edukasi, informasi, pengalaman, dan motivasi. Menurut profil kesehatan indonesia tahun 2014 menyebutkan bahwa angka terjadinya infeksi pada tali pusat bayi mencapai hingga 24 -34%. Kasus terjadinya infeksi pada tali pusat bisa diakibatkan dari keslahan pengetahuan ibu, dan selain itu juga dikarenakan alat yang digunakan untuk merawat tali pusat kemungkinan tidak steril.

Menurut World Health Organization (WHO) tahun (2014) menemukan ada sekitar 300.000 ibu yang memiliki pengetahuan yang rendah terhadap perawatan tali pusat, selain itu didapatkan jumlah bayi yang mengalami infeksi tali pusat sekitar 240.000. Negara Afrika angka kematian bayi disebabkan infeksi tali pusat 126.000 (21%). Angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2013 mencapai 23/1000 kelahiran hidup. Dimana 79% terjadi pada minggu pertama pasca kelahiran. Penyebab kematian neonatal yang tertinggi adalah infeksi neonatorum, yang salah satunya disebabkan karena perawatan tali pusat yang tidak benar. AKB dan AKI adalah salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan suatu negara. AKI dan AKB menentukan kemampuan dalam menangani kasus dan memahami masalah kesehatan yang sering muncul baik secara maternal dan neonatal (Wiknjosastro, 2009).

Pada umumnya perawatan tali pusat yang benar dan sesuai standar yang ditetapkan diharapkan tidak menyebabkan terjadinya komplikasi pada bayi. Akibat komplikasi yang dapat terjadi yaitu infeksi yang kemudian menjadi tetanus neonatorum dan sepsis dengan berbagai macam perawatan tali pusat, diantaranya menggunakan alkohol 70%, beberapa diantaranya masih menggunakan povidone iodine dan penggunaan kassa kering steril (Paisal, 2008).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang di lakukan di Klinik Bidan Titis, diperoleh hasil dari data 2 bulan terakhir 36 ibu melahirkan dan masing-masing ibu memiliki cara yang berbeda dalam merawat tali pusat bayinya. Hasil wawancara yang dilakukan diperoleh hasil bahwa 12 orang ibu yang melahirkan (33,33%) merawat tali pusat bayinya menggunakan kassa kering dan 6 orang ibu melahirkan (25%) memilih menggunakan bubuk-bubuk herbal dari bahan kunyit, kapur dan dedaunan. Sedangkan 4 orang ibu melahirkan (11,11%) merawat tali pusat mengunakan alkohol serta betadine.

METODE PENELITIAN

Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experimental dengan one group pretest and posttest design untuk mengetahui tingkatan pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat di Klinik Bidan Titis Tangerang periode Maret 2022. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu nifas yang lahir di Klinik Bidan Titis pada tahun 2021 yang berjumlah 183 responden. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, Dalam penelitian ini pengambilan sampel dengan menggunakan yaitu teknik sampling accidental. Penelitian ini akan dilaksanakan di Klinik Bidan Titis Sukasari Tangerang. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Maret 2022. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang telah disediakan kepada responden untuk diisi secara tertutup. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk data analisis yaitu univariat dan bivariat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari 126 responden rata-rata pengetahuan ibu nifas saat pretest yakni 10,10 yang tergolong kedalam pengetahuan yang kurang. Skor rata-rata pengetahuan ibu nifas posttest yakni 16,79 tergolong kedalam pengetahuan baik. Dari data tersebut diperoleh selisih rata-rata pengetahuan sebelum melakukan edukasi dan setelah melakukan edukasi yakni 6,69.

Hal ini sejalan dengan penelitian Rahani (2015) yang menyatakan mayoritas ibu yang berpengetahuan cukup sebanyak 26 responden (86,7%) dan minoritas ibu berpengetahuan baik sebanyak 2 responden (6,7%). Menurut teori Notoadmodjo (2010) dalam bukunya menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan hal ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, penciuman, raba, dan rasa. Pengetahuan diperlukan sebagai dorongan sikap dan perilaku setiap hari, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan stimulasi terhadap tindakan.

Hasil analisa dengan menggunakan uji Wilcoxon pretest pengetahuan dan posttest pengetahuan nilai Z=-9,514 dan Asymp. Sign(2-tailed)= 0,000. Jika probabilitas < α 0,05 maka, artinya terdapat perubahan pengetahuan pada ibu nifas terhadap perawatan tali pusat sebelum dan sesudah diberikan edukasi di Klinik Bidan Titis Tangerang 2022. Ditunjang dengan pemberian leaflet yang merupakan salah satu media pendidikan, setelah pemberian pendidikan kesehatan sehingga ibu bisa lebih mengingat dan memahami dalam perawatan tali pusat bayi baru lahir. Dalam memberikan pendidikan kesehatan hendaknya menggunakan salah satu media kesehatan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian diatas maka peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut :

  1. Diketahuinya hasil rata-rata pengetahuan ibu nifas sebelum diberikan edukasi sebesar 10,10. Sedangkan hasil rata-rata pengetahuan ibu nifas sesudah diberikan edukasi sebesar 16,79.
  2. Adanya peningkatan pengetahuan setelah diberikan edukasi dengan nilai p-value 0,000.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Abata, Q. ‘. (2015). Merawat Bayi Baru Lahir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  2. Astuti, M. (2011). Buku pintar kehamilan. Jakarta: EGC.
  3. Badriyah, M. (2015). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: CV. Pustaka Setia.
  4. Handayani, & Pujiastuti. (2016). Asuhan Holistic Masa Nifas dan Menyusui. Yogyakarta: Salemba Medika.
  5. Jenny. (2013). Asuhan Kebidanan Persalinan Dan Bayi Baru Lahir. Jakarta: Erlangga.
  6. Maryunani. (2016). Manajemen Kebidanan Terlengkap. Jakarta: Trans Info Media.
  7. Notoatmodjo. (2014). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
  8. Nursalam. (2016). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
  9. Oktaria. (2015). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Postpartum. Bandung: PT.Refika Aditama.
  10. Padeng, E. P., Laput, D. O., & Djehamur, O. (2021). Pendidikan Kesehatan Melalui Penyuluhan Terkait Perawatan Tali Pusat Pada Bayi Baru Lahir Di Puskesmas Pembantu Golodukal. Jurnal pengabdian Pada Masyarakat.
  11. Paisal. (2008). Perawatan Tali Pusat. Retrieved from http://ereasoft.files.wordpress.com
  12. Prawirohardjo, S. (2014). Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT.Bina Pustaka.
  13. Riksani, R. (2012). Keajaiban Tali Pusat dan Plasenta Bayi. Jakarta: Dunia Sehat.
  14. Sajidah , A., & Rusmini. (2018). Pengaruh Model Pendidikan Kesehatan Tentang Cara Merawat Tali Pusat Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dalam Perawatan Tali Pusat Pada Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas Ampenan. Jurnal Citra Keperawatan.
  15. SDGs. (2015). Kesehatan dalam Kerangka Sustainable Development Goals (SDGs). Retrieved from http://sdgsindonesia.or.id/index.php?option
  16. Sodikin. (2009). Buku Saku Perawatan Tali Pusat. Jakarta: EGC.
  17. Stefanus, T. (2020). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Perawatan Tali Pusat Bayi Baru Lahir Terhadap Tingkat Pengetahuan. Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah.
  18. Susilowati, D. (2016). Promosi Kesehatan. Jakarta: Kementrian Kesehatan.
  19. Wahyuni, S. (2012). Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: EGC.
  20. Widyasih, H. (2012). Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.
  21. Wiknjosastro, H. (2009). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Pengaruh Suplementasi Omega 3 terhadap Kolesterol Darah dan Kejadian Ovulasi pada Individu Terlatih

6

Salsabilla Damma Nuryayi and Rahayu Khairiah (Editor)

Abstrak

Latar Belakang: Wanita terlatih yang mengalami gangguan menstruasi ditemukan kadar kolesterol darah yang tinggi. Keadaan ini bertolak belakang dengan yang tidak mengalami gangguan menstruasi. Keadaan gangguan menstruasi memiliki hormon estrogen yang rendah. Estrogen yang rendah berkaitan dengan disfungsi endotel yang menyebabkan kadar kolesterol darah naik. Manfaat suplementasi omega 3 sudah dibuktikan secara klinis untuk mencegah terjadinya atherosclerosis, menurunkan kadar kolesterol darah, dan berperan penting dalam memodulasi inflamasi. Suplementasi omega 3 diduga menurunkan kadar kolesterol darah pada wanita terlatih. Metode: Penelitian ini menggunakan metode field experimental dengan pendekatan case control . jumlah sampel sebanyak 30 orang wanita terlatih terdiri dari 15 kelompok kontrol dan 15 kelompok perlakuan. Teknik pengambilan sampel menggunakan randomized allocation. Variabel independen penelitian ini adalah omega 3 300mg dan variabel dependen adalah kadar kolesterol darah. Data terkumpul diuji dengan statistik parametrik uji T-test berpasangan. Hasil: Hasil analisis bivariat adanya perbedaan yang bermakna suplementasi omega 3 selama 8 minggu terhadap kadar kolesterol pada kelompok perlakuan p=0,0027, dan tidak ada perubahan pada kelompok kontrol p=0,191. Kesimpulan: suplementasi omega 3 menurunkan kadar kolesterol darah pada wanita terlatih.

Kata kunci: wanita terlatih, kadar kolesterol darah, suplementasi omega 3

PENDAHULUAN

Ketika wanita terlatih melakukan kegiatan yang bervolume tinggi, keadaan kekurangan energi, dan latihan olahraga aerobic yang kronis dapat menyebabkan terjadinya hilangnya menstruasi atau amenorrhea pada wanita, yang mana memiliki peranan penting untuk fungsi sistemik vaskular dan resiko CVD (Cardiavascular Desease). Keadaan ini seperti atlet wanita amenorrhea yang memiliki kadar estrogen yang rendah. Hal ini dapat dikaitkan dengan kejadian disfungsi endotel (Augustine, 2016). Disfungsi endotel terlibat dalam patogenesis atherosclerosis. Kegiatan vasodilator dan anti thrombotik dapat dikaitkan dengan produksi endotel oleh oksida nitrat dan prostaciklin yang prosesnya dipengaruhi oleh estrogen (Sperrof,2010). Pada penelitian Rickenlund (2004), ditemukan keadaan dimana atlet yang mengalami amenore memiliki kadar kolesterol yang tinggi dibandingkan yang tidak. Hipercholestrolemia memberikan efek negatif pada proses endotel, sehingga keberadaan estrogen sangatlah penting untuk meningkatkan oksidasi nitrat dan menurunkan kolesterol (Hoch,2007).

Manfaat umum dari suplementasi omega 3 yang sudah buktikan secara klinis, ekperimental adalah mencegah terjadinya atherosclerosis dan thrombosis dengan menurunkan kadar kolesterol, dan berperan penting melalui modulasi proses inflamasi. Omega 3 juga meningkatkan fungsi endotel vasodilator dari mekanisme peningkatan ketersediaan oksida nitrat (Mori, 2004). Manfaat

terbesar dari omega 3 berhubungan dengan penyakit jantung. Omega 3 melindungi jantung dengan mengurangi pembentukan bekuan darah, trigliserida, menurunkan tekanan darah dan inflamasi (Bellows, 2015).

Hypolipidemik, antitrombotik dan antiinflamasi adalah beberapa efek dari omega 3 yang banyak dipelajari di model penyakit kronis non menular dan obesitas. Studi yang mengverifikasi efek ini pada atlet masih langka. Sebenarnya, kondisi pada wanita terlatih ini dikaitkan dengan pengeluaran tenaga yang besar tetapi tidak diimbangi dengan pemasukan nutrisi yang seimbang. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk memverifikasi efek suplementasi omega 3 terhadap kadar kolesterol darah pada wanita terlatih.

METODE

Ketika wanita terlatih melakukan kegiatan yang bervolume tinggi, keadaan kekurangan energi, dan latihan olahraga aerobic yang kronis dapat menyebabkan terjadinya hilangnya menstruasi atau amenorrhea pada wanita, yang mana memiliki peranan penting untuk fungsi sistemik vaskular dan resiko CVD (Cardiavascular Desease). Keadaan ini seperti atlet wanita amenorrhea yang memiliki kadar estrogen yang rendah. Hal ini dapat dikaitkan dengan kejadian disfungsi endotel (Augustine, 2016). Disfungsi endotel terlibat dalam patogenesis atherosclerosis. Kegiatan vasodilator dan anti thrombotik dapat dikaitkan dengan produksi endotel oleh oksida nitrat dan prostaciklin yang prosesnya dipengaruhi oleh estrogen (Sperrof,2010). Pada penelitian Rickenlund (2004), ditemukan keadaan dimana atlet yang mengalami amenore memiliki kadar kolesterol yang tinggi dibandingkan yang tidak. Hipercholestrolemia memberikan efek negatif pada proses endotel, sehingga keberadaan estrogen sangatlah penting untuk meningkatkan oksidasi nitrat dan menurunkan kolesterol (Hoch,2007).

Manfaat umum dari suplementasi omega 3 yang sudah buktikan secara klinis, ekperimental adalah mencegah terjadinya atherosclerosis dan thrombosis dengan menurunkan kadar kolesterol, dan berperan penting melalui modulasi proses inflamasi. Omega 3 juga meningkatkan fungsi endotel vasodilator dari mekanisme peningkatan ketersediaan oksida nitrat (Mori, 2004). Manfaat terbesar dari omega 3 berhubungan dengan penyakit jantung. Omega 3 melindungi jantung dengan mengurangi pembentukan bekuan darah, trigliserida, menurunkan tekanan darah dan inflamasi (Bellows, 2015).

Hypolipidemik, antitrombotik dan antiinflamasi adalah beberapa efek dari omega 3 yang banyak dipelajari di model penyakit kronis non menular dan obesitas. Studi yang mengverifikasi efek ini pada atlet masih langka. Sebenarnya, kondisi pada wanita terlatih ini dikaitkan dengan pengeluaran tenaga yang besar tetapi tidak diimbangi dengan pemasukan nutrisi yang seimbang. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk memverifikasi efek suplementasi omega 3 terhadap kadar kolesterol darah pada wanita terlatih.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis uji beda menunjukkan bahwa omega 3 menurunkan kadar kolesterol. Hal ini sesuai dengan penelitian Yates (2009) yang meneliti tentang efek suplementasi omega 3 pada pemain football selama 60 hari. Penelitian tersebut menunjukkan hasil perubahan yang signifikan yaitu penurunan pada kadar kolesterol dalam darahnya. Penelitian serupa yang memiliki hasil sesuai yaitu penelitian yang di lakukan Andrade (2006) yang mana ia memberi suplementasi omega 3 pada atlet elite dengan dosis sebanyak 500mg/ hari selama 6 minggu. Pada kelompok perlakuan didapatkan penurunan pada kadar kolesterol, tetapi pada kelompok kontrol didapatkan kadar kolesterol yang tinggi.

Omega 3 bekerja pada endotel untuk menurunkan respon inflamasi. Inflamasi terjadi karena oksidasi lemak darah yang telah berinvasi di pembuluh darah. Invasi ini memicu terjadinya plaque dan resiko yang timbulkan adalah atherosclerosis. Endotel mengoksidasi lipid dalam intima, kemudian menyebabkan migrasi dan pengaktifan sel inflamasi, seperti monosit, makrofag sehingga merespon reaksi inflamasi (Yates, 2009). Adanya atheroscleorosis ini mempromosikan adanya kolesterol. Efek hipokolestrolemik dari omega 3 disebabkan oleh penurunan indeks pembentukan LDL, karena EPA dan DHA merangsang aktivitas reseptor dalam jaringan hati, memberikan kontribusi lebih untuk pengurangan konsentrasi LDL. Selain itu efek ini dapat dikaitkan dengan penekanan aktivitas enzim HMG-CoA reduktase dalam jaringan hati (Du C, 2003).

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian maka kesimpulan yang didapatkan bahwa suplementasi omega 3 menurunkan kadar kolesterol darah yang ditandai dengan hasil pretest dan post-test yang menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan.

Sebaiknya untuk peneliti selanjutnya dilakukan penelitian dengan menggunakan jumlah sampel / lokasi penelitian yang lebih banyak agar didapatkan hasil yang lebih signifikan perbedaannya. Dan alangkah lebih baik jika dilakukan pemeriksaan pendahuluan untuk memastikan ada tidaknya riwayat penyakit diperlukan untuk menghindari bias dan mempengaruhi hasil penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Andreade, P. Et al. (2006) ‘Omega 3 fatty acids-supplementation to competition athletes: impact on the biochemical indicators related to the lipid metabolism’.Rev Bras Med Esporte .Vol. 12, No 6. Pp. 303e-3073
  2. Augustine,J.A. Et al. (2016) ‘Subclinical Atherosclerotic Risk in EnduranceTrained Premenopausal Amenorrheic Women’. Atherosclerosis.
  3. Bellows,L., et al. (2015) ‘Omega-3 Fatty Acids. CSU Extension’. Fact Sheet No 9.pp.382.
  4. Du C. et al. (2003) ‘Cholesterol synthesis in mice is suppressed but lipofuscin formation is not affected by long-term feeding of n-3 fatty acid-enriched oils compared with lard and n-6 fatty acid-enriched oils’. Biol Pharm Bull. 26 (6), p.766- 770
  5. Hoch, A.Z., et al. (2007) ‘The Female Athlete Triad and Cardiovascular Dysfunction’ Phys Med Rehabil Clin N Am 18. 385–400
  6. Mori, T.A., et al. (2004) ‘Omega-3 Fatty Acids and Inflammation’. Current Atherosclerosis Reports. 6:461–467
  7. Rickenlund, A., et al. (2004) ‘Amenorrhea in Female Athletes Is Associated with Endothelial Dysfunction and Unfavorable Lipid Profile’. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 90(3):1354–1359
  8. Speroff, L., Fritz, M. A.(2011) ‘Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility’. 8th edn. United State of America: Lippincott Williams & Wilkins.
  9. Yates. Et al. (2009) ‘Evaluation of Lipid Profiles and the Use of Omega-3 Essential Fatty Acid in
  10. Professional Football Players’. Sport Health. Pennsylvania. American Orthopaedic Society for Sports Medicine. Pp 21-30

Efektivitas Teknik Marmet terhadap Produksi ASI Ibu Nifas

7

Rita Nirmalasari and Ita Herawati (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : Masalah terbesar ibu nifas adalah terhambatnya pengeluaran ASI. Teknik marmet menjadi salah satu metode yang aman dan signifikan dalam merangsang pengeluaran ASI. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui keefektifan teknik marmet terhadap produksi ASI Ibu Nifas di Klinik Bilal Medika Tahun 2022. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, Dalam penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan pendekatan Pre-Posttest with control Design dilakukan dengan melakukan satu kali pengukuran di depan (pretest) pada kelomok kontrol maupun intervensi, lalu diberikan perlakuan (treatment) pada kelompok intervensi, setelah itu dilakukan pengukuran lagi (posttest). Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah perlakuan baik kelompok kontrol maupun intervensi. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Teknik Marmet, dan Variabel dependen yaitu Produksi ASI Ibu Nifas. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 responden, yaitu 20 responden untuk kelompok kontrol dan 20 responden untuk kelompok intervensi, dengan teknik sampling menggunakan purposive sampling technique. Hasil Penelitian : Berdasarkan hasil analisis data, nilai p value pada kelompok kontrol dan pada kelompok intervensi sebesar 0,001 (p-value=0,001<0,05). Kesimpulan  : Teknik Marmet Efektif terhadap Produksi ASI Ibu Nifas di Klinik Bilal Medika Tahun 2022

Kata Kunci : Teknik Marmet, ASI, Ibu Nifas

PENDAHULUAN

Masa nifas (Post Partum) adalah masa di mulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali semula seperti sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari. Selama masa pemulihan tersebut berlangsung, ibu akan mengalami banyak perubahan fisik yang bersifat fisiologis dan banyak memberikan ketidak nyamanan pada awal postpartum, yang tidak menutup kemungkinan untuk menjadi patologis bila tidak diikuti dengan perawatan yang baik.1

Perempuan merupakan salah satu makhuk yang mendapat anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa untuk dapat mengandung, melahirkan dan menyusui. Kodrat yang diberikan kepada perempuan ini ditandai oleh perangkat reproduksi yang dimilikinya, yakni rahim, untuk tempat tumbuh kembang janin selama di dalam kandungan, dan payudara untuk dapat menyusui anak ketika sudah dilahirkan, artinya semua perempuan berpotensi untuk menyusui anaknya, sama dengan potensinya untuk dapat mengandung dan melahirkan. Fenomena yang terjadi pada ibu melahirkan anak pertama mengalami masalah menyusui dengan ketidak lancaran keluarnya ASI, Selain itu ibu sering mengeluhkan bayinya sering menangis atau menolak menyusu. Puting lecet sehingga tidak memberikan ASI. Sering diartikan bahwa ASI nya tidak cukup atau ASI nya tidak enak, sehingga sering menyebabkan diambilnya keputusan untuk menghentikan menyusui. Hal ini akan menjadi faktor penyebab rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif kepada bayi baru lahir.2

ASI (Air Susu Ibu) adalah makanan alami untuk bayi karena mengandung nutrisi yang seimbang dan sempurna untuk tumbuh kembang buah hati. Memberikan asi akan memberikan maanfaat ganda bagi ibu dan bayi. ASI merupakan sumber energi dan nutrisi terpenting pada anak usia 6-23 bulan. ASI memenuhi lebih dari setengah kebutuhan energi pada anak usia 6-12 bulan dan sepertiga dari kebutuhan energi pada anak usia 12-24 bulan. ASI juga merupakan sumber nutrisi yang penting pada proses penyembuhan ketika anak sakit.3

Faktor ibu yang menjadi masalah dalam pemberian ASI adalah pada pengeluaran ASI. Masalah pengeluaran ASI pada hari pertama setelah melahirkan dapat disebabkan oleh berkurangnya rangsangan hormon oksitosin. Faktor psikologi merupakan hal yang perlu diperhatikan seperti kecemasan. Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang mengakibatkan perubahan psikisnya. Kondisi ini dapat mempengaruhi proses laktasi. Fakta menunjukan bahwa cara kerja hormon oksitosin dipengaruhi oleh kondisi psikologis. Persiapan ibu secara psikologis sebelum menyusui merupakan faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan menyusui. Cemas, stres, rasa kuatir yang berlebihan, ketidak bahagiaan pada ibu sangat berperan dalam mensukseskan pemberian ASI eksklusif.4

World Health Organization (WHO) dan UNICEF menganjurkan bayi baru lahir sampai usia bayi 6 bulan hanya mengkonsumsi ASI tanpa cairan atau makanan lain kecuali suplemen vitamin, mineral, dan atau obat-obatan untuk keperluan medis dilanjutkan sampai bayi berusia dua tahun dengan makanan pendamping ASI. Agar pemberian ASI eksklusif bertahan sampai 6 bulan WHO merekomendasikan agar ibu memberikan inisiasi dalam satu jam pertama kehidupan bayi hanya menerima ASI dan tidak menggunakan botol atau dot.5

Salah satu cara untuk memperlancar produksi ASI yaitu dengan teknik Marmet. Teknik Marmet merupakan memerah ASI secara manual mengeluarkan ASI secara manual dan membantu refleks pengeluaran susu (Milk Ejection Reflex) telah bekerja bagi ribuan ibu dengan cara yang tidak dimiliki sebelumnya.

METODOLOGI

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, Dalam penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan pendekatan Pre-Posttest with control Design dilakukan dengan melakukan satu kali pengukuran di depan (pretest) pada kelomok kontrol maupun intervensi, lalu diberikan perlakuan (treatment) pada kelompok intervensi, setelah itu dilakukan pengukuran lagi (posttest). Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah perlakuan baik kelompok kontrol maupun intervensi. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Teknik Marmet, dan Variabel dependen yaitu Produksi ASI Ibu Nifas. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 responden, yaitu 20 responden untuk kelompok kontrol dan 20 responden untuk kelompok intervensi, dengan teknik sampling menggunakan purposive sampling technique.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan dimana suami telah diberikan edukasi breastfeeding faher dengan melihat riwayat dukungan seorang ayah tentang menyusui bayinya secara eksklusif.

Bahwa dari 40 ibu menyusui (100%) yang suaminya pernah diberikan Teknik Marmet di Klinik Bilal Medika, didapatkan hasil yang diberikan Teknik Marmet sebanyak 23 orang (57,5%), dan tidak diberikan Teknik Marmet sebanyak 17 orang (42,5%).

Bahwa dari 40 ibu nifas (100%) yang menyusui di Klinik Bilal Medika, didapatkan sebanyak 20 Orang (50%) mengalami Produksi ASI lancer dan didapatkan 20 Orang (50%) teknik marmet tidak berpengaruh terhadap Produksi ASI Sesuai dengan perbandingan kasus dan kontrol 1:1, Kasus pada berhasil meningkatkan Produksi ASI dan kontrol tidak berhasil meningkatkan Produksi ASI.

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat pengaruh antara variabel teknik marmet terhadap Produksi ASI di wilayah kerja Klinik Bilal Medika, Kabupaten Tangerang dengan uji statistik yang digunakan adalah Chi Square dan Fisher Exact Test dengan tingkat kemaknaan (α = 0,05). Hasil analisis bivariat yang merupakan hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas.

Bahwa yang diberikan teknik marmet sebanyak 16 Ibu nifas (69,6%) dengan Produksi ASI meningkat dan sebanyak 7 Ibu nifas (30,4%) tidak mengalami peningkatan. Pada kelompok kasus yang tidak diberikan teknik marmet Sebanyak 4 Ibu nifas (23,5%) mengalami peningkatan dan sebanyak 13 Ibu nifas (76,5%) dengan priduksi ASI kurang. Hal ini menunjukan bahwa ibu yang diberikan Teknik Marmet lebih banyak pada pada kelompok kasus. Ibu yang tidak diberikan teknik marmet cenderung tidak mengalami peningkatan produksi ASI. Hasil uji hipotesis didapatkan nilai p value 0,010 <0,05 sehingga diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengaruh dilakukannya Teknik Marmet terhadap peeningkatan Produksi ASI di Kinik Bilal Medika, Odd Ratio yang didapatkan dari perhitungan yaitu 7,429, berarti ibu nifas yang diberikan teknik marmet berpeluang 7,429 kali lebih besar dapat meningkatkan Produksi ASI dibanding ibu yang tidak diberikan.

KESIMPULAN

  1. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden kelompok eksperimen lebih banyak yang mengalami lancar ASI saat masa nifas yaitu sebanyak 17 responden (85%).
  2. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden kelompok kontrol lebih banyak yang mengalami tidak lancar ASI yaitu sebanyak 16 responden (65%).
  3. Ada hubungan yang signifikan antara teknik marmet terhadap kelancaran ASI pada saat masa nifas di klinik bilal medika tahun 2022.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Yuliana W, Hakim BN. Emodemo Dalam Asuhan Kebidanan Masa Nifas [Internet]. Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia; 2020. Available from: https://books.google.co.id/books?id=PZgMEAAAQBAJ
  2. Naziroh U. PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP KELANCARAN ASI PADA IBU PRIMIPARA (Di Posyandu Balita Desa Segodobancang Kecamatan Tarik Kabupaten Sidoarjo). STIKES Insan Cendekia Medika Jombang.; 2017.
  3. Kemenkes RI. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 Provinsi DKI Jakarta. 2018;271.
  4. Sulastri, Wiwin and Sugiyanto S. Hubungan Tingkat Kecemasan Ibu Dengan Pemberian Asi Pada Masa Nifas Di Puskesmas Umbulharjo I Yogyakarta Tahun 2016. Fak Ilmu Kesehat Univ Aisyiyah Yogyakarta [Internet]. 2016;1–8. Available from: http://digilib.unisayogya.ac.id/id/eprint/2166.
  5. WHO (World Health Statistics). Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. 2018.

Pengaruh Pengetahuan Ibu Hamil tentang Hubungan Seksual selama Kehamilan terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Hamil dalam Melakukan Hubungan Seksual Selama Kehamilan

8

Ima Rahmatul Maulidah and Nur Sitiyaroh (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : Hubungan seksual merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan bagi pasangan suami istri dalam kehidupan rumah tangga karena bagaimanapun hubungan seksual yang baik merupakan bentuk komunikasi yang paling penting diantara pasangan suami istri. Ketidaktahuan mengenai seksual selama kehamilan dapat menimbulkan kesalahan persepsi sehingga selanjutnya dapat mempengaruhi perilaku seksualnya. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan ibu hamil tentang hubungan seksual selama kehamilan terhadap tingkat kecemasan ibu hamil dalam melakukan hubungan seksual selama kehamilan di PMB Bidan I Tangerang. Metode Penelitian : Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi korelasi dengan rancangan penelitian cross sectional. Studi korelasi dilakukan untuk melihat hubungan antara gejala yang satu dengan gejala yang lain, atau antara variable satu dengan variable lain. Sampel dalam penelitian ini adalah 37 ibu hamil. Dari berbagai latar belakang Pendidikan, Pekerjaan, Usia dan Status Sosial. Pada penelitian kali ini, jumlah sampel diambil dengan cara purposive sampling dimana pengambilan sampel melalui kuesioner pada ibu hamil. Hasil Penelitian : Hasil Univariat umur responden paling banyak pada rentang dewasa awal (26-35 tahun) yaitu sebanyak 20 orang, 19 dari 37 responden (51,3%) tidak bekerja, responden yang berpendidikan tinggi sebanyak 20 responden, 19 (51%) responden memiliki pengetahuan yang Baik, kecemasan kurang baik yaitu 20 dari 37 responden. Hasil Bivariat Tidak ada pengaruh pengetahuan ibu hamil tentang hubungan seksual selama kehamilan terhadap tingkat kecemasan ibu hamil dalam melakukan hubungan seksual selama kehamilan berdasarkan hasil analisis yaitu didapatkan nilai x2= 1,303 dan melebihi nilai Frekuensi Harapan maksimal yakni 0,05 yang berarti hitungan statistik tidak bermakna atau tidak ada pengaruh antara variable. Kesimpulan dan Saran : Tenaga kesehatan dapat menjelaskan pola seksualitas, perubahan dalam hasrat seksual tiap trimesternya, memberitahukan dampak seks pada kehamilan, mendiskusikan kapan sebaiknya membatasi hubungan seksual saat kehamilan, dan menganjurkan posisi hubungan seksual yang dapat dilakukan.

Kata Kunci : Hubungan Seksual, Tingkat Kecemasan Ibu Hamil

PENDAHULUAN

Kehamilan adalah suatu proses alami yang terjadi di dalam rahim wanita yang diawali pertemuan sel telur dan sperma di satu tempat di dalam organ reproduksi sehingga akan menghasilkan seorang calon janin yang akan berkembang dalam rahim wanita selama jangka waktu tertentu (Solihah, 2012). Selama hamil ada dua aspek terpisah yang menandai kehamilan. Aspek pertama adalah perubahan fisik yang meliputi tanda-tanda fisik di tubuh, seperti rasa mual, lebih sering kencing, dan pembesaran payudara. Aspek kedua berkenaan dengan perubahan emosional yang berupa kecemasan dan kekhawatiran. Selain perubahan fisik dan psikologis, perubahan lain yang terjadi pada masa kehamilan adalah aktivitas seksual. Keinginan seksual pada waktu hamil sebagian besar berubah, bahkan sebagian besar meningkat, berkaitan dengan meningkatnya hormon estrogen (Manuaba,2011).

Pada laporan Nation Health and Social Life Survei (NHSLS) yakni survei kesehatan dan kehidupan sosial nasional Amerika Serikat yang meneliti populasi pria dan wanita berumur 18-59 tahun menunjukan estimasi tentang insidensi dari disfungsi seksual (Tobing, 2013). Suatu penelitian di Swedia tahun 1991, terhadap pasangan suami istri 40% dari wanita mengatakan bahwa mereka mengalami penurunan gairah seksual selama kehamilan pada trimester pertama dan kedua. Sebaliknya, hanya 9% dari suami yang 2 melaporkan hilangnya gairah seksual selama trimester pertama dan hanya17% selama semester kedua. Sedangkan para wanita maupun laki-laki masing-masing 75% dan 64% melaporkan hilangnya seksual mereka pada masa-masa akhir kehamilan (Jelsoft, 2012).

Hubungan seksual merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan bagi pasangan suami istri dalam kehidupan rumah tangga karena bagaimanapun hubungan seksual yang baik merupakan bentuk komunikasi yang paling penting diantara pasangan suami istri. Dalam melakukan hubungan seksual ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan tentang hubungan seksual yaitu: Tingkat pendidikan, Informasi, Budaya dan Pengalaman (Notoatmodjo, 2011). Faktor-faktor tersebut mempengaruhi nyaman dan tidaknya dalam melakukan hubungan seksual. Hubungan seksual yang nyaman dan memuaskan merupakan salah satu komponen penting dalam hubungan perkawinan, selain itu hubungan seksual termasuk kebutuhan biologis yang tidak bisa ditawar bagi pasangan suami istri, tapi perlu diperhatikan bagi mereka yang sedang hamil, meskipun hubungan seksual selama kehamilan sama sekali tidak dilarang namun selama hamil hubungan seksual sebaiknya dilakukan setelah kehamilan 16 minggu serta 6 minggu sebelum dan setelah persalinan, karena perubahan hormon juga mempengaruhi hasrat seksual selama hamil (Darrly, 2014).

Ketidaktahuan mengenai seksual selama kehamilan dapat menimbulkan kesalahan persepsi sehingga selanjutnya dapat mempengaruhi perilaku seksualnya yang dapat menyebabkan gangguan psikis. Gangguan psikis yang bisa timbul adalah ketidakpuasan, kecewa, perasaan bersalah, dan gejala psikomatik seperti pusing, cepat marah, dan sukar tidur (Prawirohardjo, 2015). Dampak dari kecemasan yang berlebih saat melakukan hubungan seksual menyebabkan pelumas vagina sedikit diproduksi, akibatnya akan muncul kondisi hubungan seksual yang tidak nyaman. Cairan vagina yang sedikit jumlahnya akan berdampak pada kuatnya gesekan penis dengan dinding vagina, sehingga disamping bisa menimbulkan rasa nyeri juga lecet yang bisa menyebabkan perdarahan (Andik, 2013).

METODE

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi korelasi dengan rancangan penelitian cross sectional. Studi korelasi dilakukan untuk melihat hubungan antara gejala yang satu dengan gejala yang lain, atau antara variable satu dengan variable lain (Notoatmodjo, 2015). Penelitian cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi dengan cara pendekatan, observasi, atau pengumpulan data sekaligus pada suatu waktu (Notoatmodjo, 2015). Pada penelitian kali ini, jumlah sampel diambil dengan cara purposive sampling dimana pengambilan sampel melalui kuesioner pada ibu hamil yang berada di PMB Bidan I Tangerang. Dalam menentukan jumlah sampel yang akan diambil untuk dilakukan penelitian maka penulis akan menggunakan rumus Slovin Steph Ellen,eHow Blog, (2010). Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi biodata yang ada pada kuesioner berupa nama ibu, umur ibu, usia kehamilan, pekerjaan, suku/bangsa dan pendidikan terakhir serta mengisi kuesioner terkait pengetahuan mengenai hubungan seksual selama kehamilan.

Dalam melakukan analisis, data terlebih dahulu harus diolah dengan tujuan mengubah data menjadi informasi. Dalam statistik, informasi yang diperoleh dipergunakan untuk proses pengambilan keputusan, terutama dalam pengujian hipotesis. Untuk mengetahui apakah ada hubungan atau tidak maka diperlukan uji statistik menggunakan chi square, karena kedua variabel merupakan data kategorik. Nilai p yang diharapkan bisa lebih kecil dari 0,05 sehingga uji statistik bermakna.

PEMBAHASAN

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zakirman (2011) di RS KIA Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu hamil dengan pengetahuan hubungan seksual saat kehamilan trimester III. Hasil analisa diatas, peneliti mengasumsikan bahwa pengetahuan yang kurang pada ibu hamil di wilayah Tigaraksa Tangerang tidak hanya berdasarkan rendahnya tingkat pendidikan, melainkan faktor-faktor lain seperti tersedianya sumber informasi yang cukup tentang hubungan seksual saat kehamilan, pengalaman kehamilan sebelumnya yang mendukung seseorang melakukan hubungan seksual yang aman saat hamil. Lingkungan juga mempunyai peranan penting, eratnya keakraban antara satu warga dengan warga lain dan sering diadakannya pertemuan warga setiap bulannya memungkinkan pertukaran informasi tentang pengetahuan seputar kehamilan.

Penelitian yang dilakukan oleh Sandy dan Sari (2012) menyatakan dimana dengan pendidikan akhir yang rendah bukan berarti pengetahuan kurang. ibu hamil memiliki pengetahuan yang baik kemungkinan mendapat informasi dari berbagai sumber misalnya majalah, koran, orang terdekat (keluarga), atau dari pengalaman yang terdahulu baik dari diri sendiri atau orang lain yang menceritakan pengalamannya.

Pengetahuan tidak hanya dipengaruhi pendidikan, tapi juga dipengaruhi hal lain salah satunya yaitu pengalaman sebelumnya dan kebutuhan individu (Swansburg, Russel, 2011). Ibu dengan paritas primigravida belum mempunyai pengalaman dengan kehamilan termasuk hubungan seksualitas selama kehamilan, sehingga ibu takut melakukan hubungan seksual karena pengalaman mereka tentang hubungan seksualitas selama kehamilan kurang. Mitos-mitos yang beredar juga menjadi pemicu ketakutan ibu untuk melakukan hubungan seksual seperti membahayakan janin, terjadinya keguguran dan kelahiran prematur, dan terjadinya perdarahan.

Pengetahuan tentang seksual selama kehamilan diperoleh dari lingkungan sekitar yang berpengaruh besar terhadap proses masuknya pengetahuan. Hal ini terjadi karena ada interaksi timbal balik antar individu dalam merespon pengetahuan yang diterimanya sehingga sumber informasi baik dari pendidikan formal maupun nonformal berpengaruh untuk meningkatkan pengetahuan (Notoatmodjo, 2015). Pengaruh lingkungan memberikan andil yang cukup besar bagi ibu hamil dalam menerima benar tidaknya informasi yang disampaikan, dalam penelitian ini didapatkan banyak ibu hamil yang merasa khawatir melakukan hubungan seksual karena salahnya informasi yang diterima dari lingkungan sekitar, seperti dari orangtua. Selain itu, unsur sosial budaya dan agama juga berperan dalam membentuk pengetahuan ibu hamil,

Notoatmodjo (2015) menjelaskan bahwa tahu yaitu mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk mengingat kembali atau recall sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, oleh karena itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Salah satu program pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil yaitu dengan pembentukan kelas ibu hamil, dimana merupakan sarana belajar mengenai kesehatan ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai kehamilan (Depkes, 2010). Bagi petugas kesehatan juga diharapkan memberikan informasi yang tepat serta menggali masalah yang ada pada ibu hamil, sehingga ibu hamil lebih terbuka tentang seksualitas selama kehamilan. Hal penting lain untuk meningkatkan pengetahuan yang baik dan menghindari kesalahpahaman yaitu komunikasi terbuka antara ibu dan pasangannya untuk membicarakan perubahan yang terjadi selama kehamilan khususnya tentang hubungan seksual, sehingga ketika terdapat permasalahan tentang hubungan seksual seputar kehamilan ibu hamil dapat berkonsultasi dengan petugas kesehatan.

Seksualitas selama hamil merupakan suatu komponen integral dari kehidupan seorang wanita normal, dimana hubungan seksual pada masa kehamilan merupakan salah satu faktor yang berperan penting dan mempengaruhi quality of relationship pada pasangan. Hubungan seksual merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan dan didiskusikan di kalangan petugas kesehatan maupun ibu hamil. Pegetahuan ibu hamil menjadi sesuatu yang penting yang dapat mempengaruhi hubungan seksual saat hamil.

KESIMPULAN

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan, pengetahuan ibu hamil dikategorikan menjadi baik dan kurang tentang hubungan seksual saat hamil dan dibedakan menurut tingkat pendidikan ibu. Setelah dilakukan penelitian pada 37 responden ibu hamil dapat ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan ibu hamil berpendidikan tinggi sebanyak 20 orang (54,1%) namun pengetahuan ibu hamil tentang hubungan seksual saat kehamilan dikategorikan kurang sebanyak 43 orang (52,4%).

Pendidikan yang tinggi namun pengetahuan kurang dapat disebabkan beberapa faktor yaitu pengaruh lingkungan yang memberikan informasi yang kurang tepat, pengalaman ibu seputar kehamilan, kekhawatiran dan mitos yang beredar di masyarakat. Sehingga, hasil penelitian disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan ibu hamil tentang hubungan seksual saat kehamilan ditunjukkan dengan hasil Frekuensi Harapan 1,303.

DAFTAR PUSTAKA

  1. A Health Handbook For Women With Disabilities. (2012). Diunduh dari www.hesperian.org pada tanggal 10 Februari 2022 pukul 17.39
  2. Arikunto, S. (2016). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rhineka Cipta
  3. BKKBN. (2016). Anak Indonesia Rentan Pornografi. http://www.bkkbn.go.id Bobak, I.M.,
  4. Lowdermilk, D.L., & Jensen, M.D. (2004). Buku Ajar keperawatan Maternitas. Ed. 4. Jakarta: EGC.
  5. Budiarti, Astrida. (2010). Studi Fenomenologi: Pengalaman Seksualitas Perempuan Selama Masa Kehamilan di Surabaya. Tesis Fakultas Ilmu Keperawatan Program Magister Keperawatan.
  6. Budiarto, Eko. (2013). Metodologi Penelitian Kedokteran: sebuah pengantar.Jakarta: EGC.
  7. Cedli, Lussi Giovani. (2012). Fungsi Seksual Suami Selama Masa Kehamilan Pasangan. Skripsi Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Keperawatan.
  8. Emilia, dr. Ova & Harry Freitag, S. Gz, Dietisien. Tetap Bugar dan Energik Selama Hamil. Agro Medika.
  9. Hapsari, Vike Dwi & Sari Sudarmiati. (2011). Pengalaman Seksualitas Ibu Hamil Di Puskesmas Pondok Aren Tangerang. Vol 6, 76-85. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang
  10. Hasbullah. (2016). Dasar-dasar ilmu pendidikan. Ed 5. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
  11. Hidayat, Aziz Alimul (2018). Metode Pendidikan Keperawatan dan Tekhnik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika
  12. Imron M & Munif A. (2010). Metodologi Penelitian bidang Kesehatanbahan ajar untuk mahasiswa. Jakarta: Sagung Seto
  13. Kresno, Sudarti. (2016). Aplikasi dan Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: FKM UI
  14. Kurniawati, Siti (2013). Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Trimester 3 tetang Hubungan Seksual Selama Kehamilan di BPS Suratini Soewarno Surakarta. KTI DIII Kebidanan Stikes Kusuma Husada.
  15. Kuswandani, Ana Budi. (2011). MAYO CLINIC: Kehamilan yang Sehat. Jakarta: PT. Mitra Media Publisher.
  16. Macdougall, Dr. Jane. Alih bahasa Dr Nina Irawati .Kehamilan Minggu Demi Minggu,. Erlangga . 2013
  17. Manuaba, Dr. Ida Ayu Chandranita., dr. Ida bagus gde Fajar Manuaba,. & Prof. Manuaba. (2011). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Ed.2. Jakarta: EGC.
  18. Marshall, Connie. (2009). Calon Ayah: Membantu Ayah Memahami dan Menjadi Bagian dari Pengalaman Kehamilan. Jakarta: Arcan.
  19. Murkoff, Heidi. (2016). Kehamilan apa yang anda hadapi bulan per bulan. Ed.3.Jakarta: ARCAN.
  20. Notoatmodjo, S. (2017). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rhineka Cipta.
  21. Notoatmodjo, S. (2010). Metode Penelitian Kesehatan Edisi Revisi. Jakarta: Rhineka Cipta
  22. Nursalam dan Effendi F. (2018). Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Efektivitas Pemberian Jus Wortel dan Manajemen Hidroterapi (Sitzbath) terhadap Penurunan Dismenore

9

Nur Bella Maulidiyah and Nofa Anggraini (Editor)

ABSTRAK

Latar belakang : Dimenore yang terjadi waktu menstruasi yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan memerlukan pengobatan dengan nyeri dan rasa sakit diarea dan panggul. Banyak cara untuk menghilangkan nyeri dismenore tersebut dengan terapi non farmakologi yang mempunyai manfaat salah satunya adalah hidroterapi dan air hangat dan mengkonsumsi wortel. Tujuan : Mengetahui efektivitas pemberian jus wortel dengan manajemen hidroterapi terhadap penurunan disminore. Metodologi: Jenis penelitian ini adalah penelitian Quasi eksprement Design With Pre-post tes Two Group. Penelitian ini dilakukan di sekolah SMAN 1 Jawilan, populasi dalam penelitian adalah siswi kelas X sebanyak 55 orang yang mengalami menstruasi, pengambilan sampel menggunakan Siratifled Random sebanyak 48 orang siswi dismenore. Hasil Penelitian : Setelah melakukan uji tes diketahui tingkat dismenore sebelum pemberian Jus Wortel sebagaian besar merasakan nyeri sedang sebanyak (54,3%), dan sesudah sebagian besar merasakan nyeri sedang sebanyak (50,0%), Setelah melakukan uji tes diketahui tingkat dismenore sebelum pemberian Manajemen Hidroterapi (Sitzbath) sebagian besar merasakan nyeri berat (54,2), dan sesudah sebagian besar merasakan nyeri ringan (87,5%). Simpulan : Ada perbedaan dalam uji tes efektivitas pemberian Jus Wortel dan Manajemen Hidroterapi (Sitzbath) di SMAN 1 Jawilan. Saran: Petugas kesehatan diharapkan dapat menyampaikan nformasi dan penyuluhan tentang nutrisi, pola hidup sehat, pola menstruasi dan penanganan dismenore dengan cara non farmakologi salah satunya ndengan konsumsi jus wortel atau rendam air.

Keyword : Dismenore, Wortel, Hydrotheraphy, Nyeri Haid

LATAR BELAKANG

Menurut World Health Organization (WHO, 2012 dalam nora, 2018) didapatkan kejadian sebesar 1.769.425 (90%) remaja mengalami dismenore 10-15% mengalami dismenore berat. WHO dalam penelitian Sulistyorini (2017) angka kejadian cukup tinggi diseluruh dunia.

Disminore (dysmenore) berasal dari kata Yunani kata dys yang berarti sulit, nyeri, abnormal. Meno yang berarti bulan dan orrhea yang berarti aliran. Dimenore yaitu dimana kondisi medis yang terjadi waktu menstruasi yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan memerlukan pengobatan dengan nyeri dan rasa sakit diarea dan panggul (judha, 2012). Nyeri sebelum saat menstruasi yang paling sering dikeluhkan adalah gangguan sekunder. Nyeri tersebut timbul akibat adanya hormone prostaglandin yang membuat otot uterus (rahim) berkontraksi.

Nyeri dismenore berhubungan dengan prostaglandin endometrial dan leukotiren. Setelah terjadi proses ovulasi sebagai respons peningkatan produksi progesterone, asam lemak akan meningkat dalam fosfolipid membrane sel. Kemudian asam arakidonat, asam lemak omega-7 lainnya, prostaglandin dan leukotriene dilepaskan memulaui suatu aliran mekanisme dalam uterus.

Nyeri kram mulai 24 jam sebelum menstruasi dan mungkin bertahan selama 24-36 jam, walaupun nyeri beratnya berlangsung selama 24 jam pertama. Kram dirasakan pada abdomen bawah, perut dan pinggang tetapi dapat menjalar ke punggung atau permukaan dalam pala. Nyeri sering disertai dengan pegal-pegal, lemas, mual, diare dan kadang sampai muntah (Nugroho dan Indra, 2014). Saat sarah haiod dikeluarkan terjadi kontraksi kuat dan lama pada dinding rahim, prostaglandin tinggi, dan pelebaran dinding rahim sehingga menimbulkan nyeri haid pada nyeri (Larasati & Alatas, 2016).

Cara mengatasi dismenore bisa dilakukan dengan penjelasan dan nasehat, terapi hormonal, pemberian obat analgetik, terapi alternative (Jhuda, 2012). Cara mengobati dimenore dengan meminum obat pereda rasa sakit dengan beristirahat, menarik nafas panjang, menenangkan diri, berolahraga ringan mengkonsumsi sayur dan buah, mengopres daerah yang sakit dengan air panas (Nurchasanah, 2014).

Wortel adalah salah satu sayuran yang banyak manfaatnya. Wortel mengandung gula, karoten, pectin, aspargin, serat, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, besi, sodium, asam amino, minyak esensial dan wortel dalam 100 gram mengandung Beta Karoten sebanyak 754 mcg. Wortel juga mengdung vitamin A,C,D,C,E dan K (Hembing 2007). Selain sebagai antioksidan beta Karoten juga memiliki efek analgetik (anti nyeri) dan anti inflamansi (anti peradangan) jika dikonsumsi sebanyaj 3.071,93 SI/kgBB (Astawan,2008). Melihat problem (masalah) yang terjadi pada remaja putri dampak dari dismenore ini memaksa mereka menggunakan berbagai cara untuk mengurangi rasa nyeru haid/dismenore tersebut (savitri,2006).

Banyak cara untuk menghilangkan nyeri dismenore tersebut dengan terapi non farmakologi yang mempunyai manfaat salah satunya adalah hidroterapi dan air hangat. Hidroterapi rendam air hangan pada ekstremitas bawah akan memperbaiki sirkulasi darah dengan cara memberikan sinyal ke hipotalamus melalui sumsum tulang bekalang. Ketika reseptor yang peka terhadap hangat dihipotalamus dirangsang, sistem efektor mengeluarkan sinyal untuk memulai vasodilatasi perifer (Potter & Perry, 2010). Dan secara farmakologi yaitu dengan obat-obatan analgesic anti nyeri (feminax) (kumalasari, 2012).

Remaja yang mengalami dismenore pada saat menstruasi mempunyai lebih banyak libur dan prestasinya kurang baik disekolah dibandingkan remaja yang tidak dismenore. Perawat disini memberikan teknik kebidanan untuk mengurangi nyeri juga dapat diterapkan seperti kompres hangat pada daerah abdomen, masase abdomen, mempertahankan postur tubuh yang baik, latihan atau olagraga, sefrta gizi seimbang (Kasdu, 2005). Penanganan dismenore dapat dilakukan dengan olahraga ringan, mengkonsumsi buah dan sayur, serta mengurangi kadar gula dan kafein. Jika keadaan semakin parah maka harus berkonsultasi dengan dokter (Dianawati, 2003).

Peneliti melakukan studi pendahuluan dengan sampel 10 orang lalu didapatkan hasil 7 orang siswi saat dismenore hanya menggunakan obat preda nyeri dan 3 siswi lainnya menggunakan air kompres hangat. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Efektivitas Pemberian Jus Wortel dan Manajemen Hidroterapi Terhadap Penurunan Dismenore Pada Siswi SMAN 1 Jawilan Tahun 2022”

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian Quasi eksprement Design With Pre-post tes Two Group. Penelitian ini dilakukan di sekolah SMAN 1 Jawilan, Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswi kelas X yang berdiri dari 4 kelas yaitu kelas x1, x2, x,3 dan x4 di SMAN 1 Jawilan pada tahun 2022, pengambilan sampel menggunakan Siratifled Random sebanyak 48 orang siswi dismenore. Pada penelitian ini menggunakan lembar observasi, dan menggunakan skala ukur terdiri dari 1 skala ukur dengan skala VAS. Untuk nilai 0 dikatakan tidak nyeri, untuk 1-3 yaitu nyeri ringan, 4-6 yaitu nyeri sedang, 7-9 yaitu nyeri berat, 10 yaitu nyeri sangat berat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Terdapat beberapa keterbatasan yang belum dapat dipenuhi dan menjadi kekurangan dalam penelitian ini. Berbagai kekurangan tersebut terdapat pada isi penelitian ini yaitu:

  1. Pada saat dilakukan penelitian, peneliti tidak dapat menyamakan waktu/jam pada saat melakukan pretest, ntervensi dan posttest, hal tersebut dikarenakan keterbatasan tempat dalam memberikan penyuluhan.
  2. Waktu pemberian pendidikan kesehatan masih dalam kondisi covid sehingga membutuhkan waktu yang lama saat mengumpulkan responden.

Berdasarkan hasil uji beda menggunakan wilcoxon pada kelompok pemberian jus wortel terhadap tingkat dismenore memiliki nilai signifikan 0,000 (< 0,05) artinya terdapat perbedaan tingkat dismenore sebelum dan sesudah diberikan jus wortel pada siswi SMAN 1 jawilan tahun 2022. Sedangkan pada kelompok manajemen hidroterapi memiliki nilai signifikan 0,000 (< 0,05) artinya terdapat perbedaan tingkat dismenore sebelum dan sesudah dilakukan manajemen hidroterapi pada siswi SMAN 1 jawilan tahun 2022.

Dysmenorreha primer seringkali menimbulkan gejala fisik dan gejala psikologis. Setiap individu bisa mengalami gejala fisik dan gejala psikologis sekaligus, namun juga bisa mengalami hanya salah satu gejala, baik fisik maupun psikologisnya. Tanda gejala yang dapat muncul seperti rasa tidak enak di badan, lelah, mual dan muntah, diare, nyeri punggung bawah, sakit kepala, kadang kala disertai vertigo, perasaan cemas, gelisah, hingga kehilangan keseimbangan dan kehilangan kesabaran (Anisa Wulandari et al., 2018).

Perhitungan selisih nilai mean (rata-rata) pretest tingkat dismenore pada kelompok pemberian jus wortel dan manajemen hidroterapi sebesar 1,46. Hasil uji Mann Whitney diketahui nilai signifikansi sebesar 0,680 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat dismenore sebelum diberikan perlakuan pada kelompok pemberian jus wortel dan manajemen hidroterapi pada siswi SMAN 1 jawilan tahun 2022.

Perhitungan selisih nilai mean (rata-rata) posttest tingkat dismenore pada kelompok pemberian jus wortel dan manajemen hidroterapi sebesar 10,12. Hasil uji Mann Whitney diketahui nilai signifikansi sebesar 0,002 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan tingkat dismenore sebelum diberikan perlakuan pada kelompok pemberian jus wortel dan manajemen hidroterapi pada siswi SMAN 1 jawilan tahun 2022.

Hasil penelitian Rahayu Susilo tahun 2018 bahwa hasil yang diperoleh mengalami penurunan sebanyak 11 orang (67,7%), yang mengalami penurunan sebanyak 5 orang (29,4%) dan tidak mengalami penurunan ada 1 orang (5.9%). Menggunakan uji Wilcoxon Match Pairs Test menunjukan bahwa dengan taraf kesalahan 5%.

Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Rilla pada tahun 2019 yaitu hasil penelitian yang ditemukan dilapangan, responden yang diberikan jus wortel dan manajemen hidroterapi (sitzbath) sesuai prosedur terbukti nyeri yang dialaminya berkurang, dari hasil yang didapat bahwasannya pemberian jus wortel lebih cepat terjadi penurunan dibandingkan dilakukan manajemen hidroterapi (sitzbath). Dengan pemberian jus wortel sebanyak 7 orang dan melakukan manajemen hidroterapi sebanyak 7 orang. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh 14 responden dari 55 orang populasi di SMA N1 Kayutanam dan dilakukan lebih kurang sebanyak 2 kali dalam sehari pada tiap respondennya, maka hasil nilai rerata nyeri yang dirasakan sebelum pemberian jus wortel adalah 8,14 dan manajemen hidroterapi adalah 7,29 dengan kategori nyeri berat, yang kemudian sesudah pemberian jus wortel menjadi 5,29 dan sesudah dilakukan manajemen hidroterapi adalah menjadi 2,73 dengan kategori nyeri ringan. Hal ini membuktikan bahwa terjadinya penurunan nyeri setelah diberikan jus wortel dan manajemen hidroterapi tersebut.

Menurut asumsi peneliti dengan pemberian jus wortel dan manajemen hidroterapi secara baik dan benar akan dapat menurunkan intensitas nyeri yang dirasakan klien dan sebaliknya nyeri akan berkurang, apabila tidak diimbangi dengan pemberian jus wortel dan manajemen hidroterapi (sitzbath). Jadi disimpulkan bahwa melakukan manajemen hidroterapi (Sitzbath) lebih cepat terjadinya penurunan nyeri menstruasi dibandingkan dengan pemberian jus wortel.

Jadi disimpulkan bahwa melakukan manajemen hidroterapi (Sitzbath) lebih cepat terjadinya penurunan nyeri menstruasi dibandingkan dengan pemberian jus wortel.

KESIMPULAN

Setelah melakukan uji tes diketahui tingkat dismenore sebelum pemberian Jus Wortel sebagaian besar merasakan nyeri sedang sebanyak (54,3%), dan sesudah sebagian besar merasakan nyeri sedang sebanyak (50,0%) Setelah melakukan uji tes diketahui tingkat dismenore sebelum pemberian Manajemen Hidroterapi (Sitzbath) sebagian besar merasakan nyeri berat (54,2), dan sesudah sebagian besar merasakan nyeri ringan (87,5%). Ada perbedaan dalam uji tes efektivitas pemberian Jus Wortel dan Manajemen Hidroterapi (Sitzbath) di SMAN 1 Jawilan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anisa Wulandari, Oswati Hasanah, R. W. (2018). Gambaran Kejadian Dan Manajemen Dismenore Pada Remaja Putri Di Kecamatan Lima Puluh Kota Pekanbaru. 468–476.
  2. Rilla. (2019). Skripsi Efektivitas Pemberian Jus Wortel Dan Manajemen Hidroterapi (Sitzbath) Terhadap Penurunan Dismenore Pada Siswi Sma N 1 Kayutanam Tahun 2019. Journal of Chemical nformation and Modeling, 01(01), 1689–1699.

Efektivitas Frekuensi Senam Hamil Terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Trimester II Dan III

10

Nisa Latipatunnisa and Nur Sitiyaroh (Editor)

ABSTRAK

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan penulis terhadap ibu hamil yang melakukan pemeriksaan hamil di Puskesmas Cinangka terdapat 8 dari 20 ibu hamil yang sudah melakukan senam hamil, merasakan kondisi fisik dan mental lebih rileks di bandingkan tidak melakukan senam hamil. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Efektifitas frekuensi Senam Hamil Terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Trimester II Dan III Di UPT Puskesmas Cinangka Kabupaten Serang Tahun 2022. Metode pada penelitian ini menggunakan Quasy Eksperiment dengan desain penelitian pre dan post test design. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh Ibu hamil trimester II dan III yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Cinangka pada saat jadwal USG pada tanggal 29 Juni 2022 yaitu sebanyak 15 orang dengan menggunakan teknik purposive sample. Analisis data menggunakan Uji Paired samples T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rata-rata tingkat kecemasan ibu hamil Trimester II dan III sebelum senam hamil adalah 1,8 dan sesudah senam hamil adalah 1,2. Ada pengaruh senam hamil terhadap tingkat kecemasan ibu hamil terlihat dari nilai sig post-test sebesar 1.01 > 0.05. Sehingga diharapkan penelitian ini mampu memberikan informasi dan edukasi dalam menurunkan tingkat kecemasan ibu hamil dengan menggunakan metode senam hamil.

Kata Kunci : Senam Hamil, Tingkat Kecemasan, Ibu Hamil

PENGANTAR

Kehamilan merupakan saat yang sangat menakjubkan dalam kehidupan seorang wanita. Ini juga saat yang menegangkan ketika kehidupan baru yang misterius tumbuh dan berkembang di dalam rahim (Dewi & Sunarsih, 2012). Kehamilan didefinisikan sebagai pembuahan atau penyatuan oleh spermatozoa dan ovum dan diikuti oleh nidasi atau implantasi (Ludmila, 2018).

Kehamilan juga dapat menghasilkan perubahan fisiologis dan psikologis pada seorang wanita (Gebreweld A, 2018). Perubahan psikologis dan emosional ini tampaknya berhubungan dengan perubahan biologis yang dialami ibu selama kehamilan, emosi ibu hamil cenderung labil, sehingga reaksi yang ditunjukan terhadap kehamilan dapat saja berlebihan dan mudah berubah-ubah (Rukiah, dkk., 2013). Perubahan psikis pada ibu hamil dibagi dalam tiga periode yang pertama ditrimester ke satu biasanya seorang ibu mudah mengalami depresi, timbul rasa kecewa, cemas, penolakan terhadap kehamilannya, dan rasa sedih atau perubahan-perubahan yang dialami selama masa kehamilan, sedangkan perubahan psikis pada periode trimester kedua keadaan psikologis ibu nampak lebih tenang dan mulai dapat beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang menyertainya pada masa kehamilan, dan yang terakhir perubahan psikis pada periode trimester ketiga perubahan psikologis ibu tanpak lebih kompleks dan meningkat kembali dibandingkan keadaan psikologis pada trimester sebelumnya, hal ini dikarenakan ibu semakin menyadari adanya janin dalam rahimnya yang semakin lama semakin membesar sehingga sejumlah Kecemasan mulai bertambah, ibu semakin merasakan kecemasan terhadap keadaan bayi bahkan keadaan ibu sendiri (Rinata & Andayani, 2018).

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), angka kematian ibu (AKI) adalah 500.000 orang per tahun. Di Indonesia, AKI adalah 305 per 100.000 penduduk. Dan AKB adalah 24 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini tidak sejalan dengan target Global MDG (Millenium Development Goal) ke-5 yaitu menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2016 (Kemenkes, 2019).

Banyaknya angka kematian ibu hamil menyebabkan kecemasan, Kecemasan dan gangguan psikologis pada ibu yang mengalami kehamilan baik itu yang pertama kali hamil (Primigravida) maupun yang sudah pernah hamil satu kali atau disebut juga Multigravida (Hasim & Sulastri, 2018).

Kecemasan yang terjadi pada ibu hamil juga bisa di sebabkan karena faktor usia. Individu yang memiliki selisih usia lebih muda atau lebih tua dapat mempengaruhi dalam hal yang mengalami kecemasan (Prasetyo, D, 2015). Rentang 20-35 tahun ini kondisi fisik wanita dalam keadaan prima. Rahim sudah mampu memberi perlindungan, mental pun siap untuk merawat dan menjaga kehamilannya secara hati–hati. Sedangkan untuk usia ibu kurang dari 20 tahun dapat menimbulkan masalah karena kondisi fisik belum siap, sel–sel Rahim masih belum matang, hal ini dapat menyebabkan ancaman terjadinya abortus, prematuritas, bahkan kematian maternal ( Nila marwiyah, 2017). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Shodiqoh dan Fahriani (2014) yang menyebutkan bahwa ibu hamil trimester ketiga dengan rentang usia <20 tahun mengalami tingkat kecemasan sedang 3 orang (50%) dan mengalami tingkat kecemasan berat sebanyak 3 orang (50%).

Serta Pendidikan yang rendah juga mengakibatkan seseorang mudah mengalami kecemasan. Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi tentang persalinan baik dari orang terdekat, keluarga, tenaga kesehatan, maupun dari berbagai media seperti majalah dan lainnya. Pasangan suami istri yang berpendidikan tinggi dan mengikuti kelas ibu hamil serta banyak membaca buku tentang kelahiran mereka lebih tenang dan siap dalam proses persalinan (Bobak, 2012). Sesuai dengan penelitian Asri wanda ( 2014 ) sebagian besar responden pada tingkat pendidikan PT dengan tingkat kecemasan ringan yakni 3 responden, tingkat pendidikan SMA dengan tingkat kecemasan sedang dan berat yakni 8 responden, dan tingkat pendidikan SMP dengan tingkat kecemasan panik yakni 7 responden.

Penelitian Yuliana (2008), mengenai kecemasan pada ibu hamil trimester III, dimana kecemasan yang dialami dibagi kedalam kategori jenis kehamilan graviditas, usia, dan tingkat pendidikan. Dari 51 responden yang diteliti diperoleh 49% tidak mengalami kecemasan (normal), 47.1% kecemasan ringan, 3.9% kecemasan sedang, dan tidak ada yang mengalami kecemasan berat.

Ada beberapa cara untuk meredakan kecemasan misalnya dengan memberi informasi atau pengetahuan kepada ibu hamil melalui konsultasi dengan bidan ataupun mencari informasi melalui media cetak dan audiovisual, yaitu dengan menonton vidio yang mengenai proses persalinan (Fazdria & Harahap, 2016). Sedangkan menurut Mardjan (2016) ada empat upaya meredakan kecemasan yaitu, dukungan suami, konseling, emotional freedom techniques, dan senam hamil.

Senam hamil adalah senam yang memiliki banyak manfaat dan ditunjukan khusus untuk ibu hamil, selain itu senam hamil juga merupakan salah satu metode yang cukup efektif dan banyak diterapkan pada pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta. Pada saat mengikuti senam hamil sebaiknya senam hamil tersebut dipandu oleh instruktur yang terlatih sehingga ibu dapat dengan mudah mengikutinya. Kegiatan senam hamil ini dapat diikuti setelah usia kandungan lebih dari tiga bulan sampai menjelang persalinan (Mardjan, 2016).

Selain adanya tujuan dari senam hamil, senam hamil juga memiliki manfaat. Manfaat senam hamil menurut Mardjan (2016) yaitu, dapat mengurangi stress dan kecemasan selama masa kehamilan ataupun pada masa pascamelahirkan, meningkatkan pertumbuhan janin dan plasenta pada trimester I dan II, mengurangi insiden komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan seperti pra ekslamsia dan gestational diabetes, memudahkan proses persalinan, mengurangi sakit punggung selama trimester III. Selain itu manfaat senam hamil juga dapat mengurangi stress dan kecemasan, mengurangi terjadinya inkontinesia urine, pertumbuhan dan kesejateraan bayi (Irianti, 2015).

Senam hamil dapat menurunkan kecemasan, hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryani, Mose, Tarawan, Husin dan Prasetyo (2015) bahwa dengan dilakukan senam hamil secara teratur yaitu > 8 kali dalam 6 minggu berpengaruh terhadap penurunan kecemasan pada ibu hamil.

Senam hamil yang dilakukan dengan frekuensi tertentu juga dapat mengurangi tingkat kecemasan pada ibu hamil. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Marwiyah & Sari, 2018) senam hamil secara teratur yaitu lebih dari 8 kali dalam 6 minggu memiliki efek dalam mengurangi kecemasan pada ibu hamil.

Kecamatan Cinangka merupakan wilayah strategis karena merupakan wilayah pesisir pantai yang menghubungkan kabupaten Serang dan Pandeglang. Banyaknya penduduk di daerah Cinangka memerlukan fasilitas kesehatan yang baik bagi masyarakatnya termasuk Ibu hamil. Puskesmas Cinangka menjadi satu-satunya fasilitas Kesehatan Pertama masyarakat di daerah Cinangka yang dikelola oleh pemerintah. Hal ini berdamak pada membludaknya ibu hamil yang ingin memeriksakan diri dan kehamilannya di Puskesmas Cinangka. Karena kurangnya fasilitas kesehatan dan edukasi dari Dinas Kesehatan maupun pemerintah, mengakibatnya banyaknya Ibu Hamil yang kurang memiliki edukasi awal kehamilan, yang mengakibatnya seringnya terjadi gangguan kecemasan pada Ibu hamil. Hal ini pula mengakibatkan dampak bertambahnya kasus AKI dan AKB.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan penulis terhadap beberapa ibu hamil yang melakukan pemeriksaan hamil di Puskesmas Cinangka pada bulan Desember 2021, terdapat 20 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan. Dari 20 ibu hamil terdapat 8 ibu hamil yang sudah melakukan senam hamil. Ibu hamil tersebut memiliki kondisi fisik yang jauh lebih santai dan rileks dari ibu hamil yang tidak melakukan senam. Hal ini berdasarkan pengamatan dan mengajukan pertanyaan terhadap beberapa ibu hamil ketika melakukan pemeriksaan. Sesuai dengan kutipan wawancara singkat kepada salah seorang Ibu hamil multigravida yang menjelaskan bahwa senam hamil berdampak pada kondisi fisik yang lebih baik dari kehamilan sebelumnya. “Ya, dulu kan pas anak pertama, ke dua saya gak ikutan senam hamil karena belum ada di sekitar sini, kalau mau ikut senam jauh dari rumah saya. Sekarang pas kehamilan ketiga saya ikutan senam hamil di Puskesmas sini ternyata, hasilnya ke badan saya jauh lebih rileks, lebih enak digerakin, pegel badan sama punggung juga agak berkurang (Anggaraeni, 2021)”.

Berdasarkan dari latar belakang diatas maka perlu diadakan penelitian lebih mendalam, maka penulis mengambil skripsi dengan judul “Efektifitas Frekuensi Senam Hamil Terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Trimester II dan III Di UPT Puskesmas Cinangka Kabupaten Serang”.

METODE

Metode pada penelitian ini menggunakan quasy eksperiment dengan desain penelitian pre dan post test design. pada ibu hamil yang melakukan senam hamil.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Ibu hamil trimester II dan III yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Cinangka. Sample dalam penelitian ini adalah seluruh Ibu hamil trimester II dan III yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Cinangka pada saat jadwal USG pada tanggal 29 Juni 2022 yaitu sebanyak 15 orang. Lalu disertai kriteria inklusi yaitu Ibu hamil yang bersedia menjadi responden, Ibu hamil dalam kondisi sehat, Ibu hamil yang berdomisil di wilayah kecamatan Cinangka. Sedangkan kriteria eksklusinya yaitu Ibu hamil yang sedang mengalami gangguan mental dan Ibu hamil yang patologis.

Penelitian ini menggunakan skala verbal dan numerik untuk mengetahui tingkat kecemasan pada ibu hamil. Pengisian lembar observasi oleh peneliti dilakukan sebanyak dua kali, yaitu sebelum dan sesudah dilakukan senam hamil. Lalu peneliti menggunakan metode pengumpulan data dengan mewawancarai responden setelah mendapatkan persetujuan dari responden untuk menjadi responden penelitian, Setelah mendapatkan hasil responden pada pengisian lembar observasi peneliti melakukan pengolahan data dan analisa data.

Data frekuensi dan rata-rata tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan senam hamil diolah menggunakan analisis univariat, sedangkan untuk menguji sebaran data pre-test dan post-test tersebut berdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan Uji Normalitas. Apabila data tersebut berdistribusi normal p value > 0,05 maka peneliti menggunakan uji Paired T- Test untuk melakukan analisis bivariat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kepada ibu hamil yang berada di wilayah Puskesmas Cinangka kabupaten Serang didapatkan hasil karakteristik responden berdasarkan usia dari 15 orang responden rerata ibu hamil terbanyak berada di usia 20 – 35 tahun yaitu sebanyak 12 dari 15 responden (80%). Hasil ini menandakan dimana usia tersebut mental dari seorang ibu tergolong cukup stabil dan merupakan kehamilan yang ideal. Hal ini dikarenakan pada usia ibu hamil umur 20 tahun ke bawah organ reproduksi pada Wanita masih belum matang dan belum sempurna sehingga dapat berakibat terjadinya komplikasi obstetri yang dapat meningkat angka kematian ibu dan perinatal. Sedangkan untuk Ibu hamil usia lanjut 35 tahun ke atas akan lebih beresiko lebih tinggi mengalami penyulit-penyulit obstetrik seperti masalah kesehatan yakni hipertensi, diabetes, persalinan premature, lahir mati. Karena pada usia 35 tahun ke atas kesuburan wanita mulai menurun. Hasil ini sesuai dengan teori yang di ungkapkan oleh Menurut Badudu (2012) wanita berusia 20-35 tahun secara fisik sudah siap hamil karena organ reproduksinya sudah terbentuk sempurna, dibandingkan perempuan yang usianya <20 tahun organ reproduksinya masih tahap perkembangan, sehingga tingkat kecemasan lebih berat, sedangkan wanita yang usia >35 tahun sebagian digolongkan dalam kehamilan berisiko tinggi terhadap kelainan bawaan dan penyulit persalinan.

Sedangkan untuk graviditas dari ke 15 responden terdapat primigravida berjumlah 4 dari 15 responden ( 26.7 % ) dan multigravida 11 dari 15 responden (73.3%). Hal ini menandakan bahwa ibu hamil yang berada di Puskesmas Cinangka merupakan ibu hamil yang sudah pernah hamil dan melahirkan dan bukan anak yang pertama. Hasil ini menandakan bahwa ibu hamil telah memiliki pengalaman dalam hamil dan melahirkan lebih tenang dalam menghadapi persalinan dan saat kehamilan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bobak (2012) ibu yang sudah hamil atau melahirkan (multigravida) sudah berpengalaman dalam menghadapi persalinan, maka mereka akan lebih memahami dan akan lebih tenang.

Selanjutnya untuk hasil responden ibu hamil yang di identifikasi berdasarkan pendidikan di dapatkan bahwa dari 15 responden terdapat Ibu hamil yang memiliki latar belakang pendidikan terbanyak yakni berada di Sekolah Menengah Atas sebanyak 7 responden, Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) berjumlah 7. Selain itu untuk Ibu hamil yang berlatar pendidikan Diploma dan Sarjana berjumlah 1 responden Hal ini menandakan bahwa tingkat Pendidikan ibu hamil masih tergolong kurang. Hasil ini mengidentifikasi bahwa Pendidikan yang telah di tempuh oleh ibu hamil berdampak pada kehamilan dan persalinan karena rendahnya Pendidikan yang telah di tempuh ibu hamil. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang telah di lakukan oleh Bobak (2012) yang menjelaskan bahwa Pendidikan mempengaruhi pada pengembangan potensi diri dalam kecerdasan ibu hamil. Pendidikan salah satu aspek yang berperan dalam meningkatkan kecerdasan dan pola berpikir, pengetahuan yang cukup baik berdampak pada kemampuan pengetahuan yang dimiliki dan pola berpikir cukup. Rendahnya Pendidikan ini terjadi dikarenakan kondisi ekonomi yang di alami oleh ibu hamil yang masih tergolong ke dalam menengah ke bawah. Hal ini mengakibatkan jenjang Pendidikan yang di dapat oleh ibu hamil di bangku sekolah tergolong rendah karena faktor ekonomi yang masih kurang.

Berdasarkan hasil penelitian di atas di mana hasil perhitungan Dari hasil tabel diatas didapatkan nilai sebelum dilakukan treatment senam hamil atau pre-test, presentase sebanyak 20% atau 3 orang tingkat kecemasannya berada pada kategori sedang. Sedangkan untuk nilai tidak ada kecemasan sebanyak 40% atau sebanyak 6 orang ibu hamil.

Pada hasil Post-test nilai kecemasan berkurang dari yang tadinya memiliki kecemasan sedang sekarang berada di “kecemasan ringan” yang memiliki nilai 20% atau hanya 3 orang saja dan “tidak memiliki kecemasan” sebanyak 12 orang ibu hamil atau sebanyak 80%. Hal ini menandakan bahwa senam hamil yang telah dilakukan memberikan pengaruh kepada ibu hamil mengenai tingkat kecemasannya, hal ini dilihat dari mayoritas ibu hamil berada pada kategori “tidak ada kecemasan” setelah dilakukan treatment senam hamil.

Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Marwiyah & Sari, 2018) senam hamil secara teratur yaitu lebih dari 8 kali dalam 6 minggu memiliki efek dalam mengurangi kecemasan pada ibu hamil. Senam hamil dapat menurunkan tingkat kecemasan pada ibu hamil, gerakan yang dilakukan dalam gerakan pendinginan berguna untuk mengatasi tekanan atau ketegangan yang dirasakan selama kehamilan. Latihan fisik dapat mengurangi kecemasan.

Dan sesuai juga dengan penelitian yang dilakukan Nurlaelah tahun 2020 dari 73 responden yang telah mengikuti senam hamil atau post-test, secara rutin 3 kali seminggu yaitu sebanyak 46 orang (63%) mengalami persalinan lancar dan 27 orang (37%) tidak mengikuti senam hamil atau tidak rutin < 3 kali seminggu mengikuti senam hamil mengalami persalinan tidak lancar.

Pada hasil penelitian yang telah dilakukan, dari hasil perhitungan nilai signifikan untuk mengetahui sejauh apa pengaruh dan tidak ada pengaruhnya kecemasan pada ibu hamil terhadap keefektifan senam hamil yang dilakukan sebagai treatment di Puskesmas Cinangka. Dari hasil perhitungan data nilai sebelum di lakukan treatment senam hamil dan sesudah dilakukan senam hamil di dapatkan data nilai mean dari variabel di atas adalah 0.400 yang menunjukan bernilai positif. Hal ini menandakan bahwa sesudah dilakukan treatment senam hamil sebanyak 3 kali dalam seminggu terdapat penurunan tingkat kecemasan terhadap ibu hamil yang bernilai rata-rata penurunan kecemasannya sebesar 0.400. Untuk nilai korelasi antara variabel pre-test dan post-test pada penelitian tersebut adalah 0.875 yang artinya di mana terdapat hubungan kuat dan berdampak positif. Untuk hasil t test pada hasil di atas di dapatkan nilai t hitung 3.055 di mana nilai t tabel nya adalah 0.69242. Hasil ini menunjukan bahwa t hitung > t tabel yakni 3.055> 0.69242 di mana menandakan bahwa hasil bersifat signifikan.

Hasil di atas sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Nila marwiyah (2018) bahwa diperoleh hasil selisih rata – rata tingkat kecemasan ibu hamil dari 14 ibu hamil sebelum dan sesudah dilakukan senam hamil didapatkan nilai rata -rata adalah 7,429 dengan standar devisiasi 3,180. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji t dependen didapatkan nilai p value 0,000 berarti p α (0.05) maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak. Hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pemberian senam hamil terhadap tingkat kecemasan ibu trimester 2 dan 3 di Desa Margaluyu Wilayah Kerja Puskesmas Kasemen. Senam hamil yang teratur dapat mengurangi ketidaknyamanan dan keluhan-keluhan ibu dalam menghadapi persalinan, seperti nyeri punggung, mual, kejang tungkai, konstipasi, sesak nafas serta kecemasan (Kusmiyati,dkk, 2017).

Dari hasil perhitungan data yang telah dilakukan dan dijelaskan pada hasil penelitian, di dapatkan bahwa nilai signifikasi dari pengaruh senam hamil terhadap faktor prediposisi kecemasan Umur adalah nilai hasil hitung sig sebesar 0.003 di mana nilai tersebut < dari nilai sig standar yakni 0.05. hal ini menandakan bahwa Ha di tolak dan Ho di terima yang berarti faktor prediposisi variabel Umur tidak memiliki pengaruh terhadap kecemasan ibu hamil. Hasil ini menjelaskan bahwa senam hamil yang telah dilakukan sebagai treatment tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadap faktor kecemasan yakni Umur.

Hasil penelitian ini tentunya tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Shodiqoh dan Fahriani (2014) yang menyebutkan bahwa ibu hamil trimester ketiga dengan rentang usia <20 tahun mengalami tingkat kecemasan sedang 3 orang (50%) dan mengalami tingkat kecemasan berat sebanyak 3 orang (50%). Pada penelitian ini sendiri terdapat 1 orang ibu hamil yang berada pada rentang usia <20 tahun (Agustini, 2020).

Prasetyo (2015) juga sependapat dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Agustini (2020) yang menjelaskan bahwa Usia adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kecemasan. Individu yang memiliki selisih usia lebih muda atau lebih tua dapat mempengaruhi dalam hal yang mengalami kecemasan. Hal ini terjadi karena usia dapat memberikan dampak perasaan cemas pada saat hamil dan melahirkan. Ibu usia di bawah 20 tahun kesiapan mental masih sangat kurang sehingga dalam menghadapi kelahiranpun masih belum mantap. Ibu berusia di atas 35 tahun meskipun secara fisik risiko terjadinya komplikasi lebih besar, tetapi secara mental mereka lebih siap.

Dari hasil perhitungan yang telah di lakukan senam hamil yang telah dilakukan sebagai treatment dari menguranginya tingkat kecemasan ternyata dari hasil 15 responden Ibu hamil nilai faktor prediposisi kecemasan yang dilihat dari tingkat pendidikan yang telah didapatkan oleh Ibu hamil nilai sig sebesar 0.34, hasil ini > dari pada nilai sig yakni 0.05 yang menadakan bahwa Ha diterima dan Ho di tolak. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa Tingkat Pendidikan memiliki pengaruh signifikan terhadap kecemasan Ibu hamil. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan Agustini (2020) yang menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula pengetahuan dan pola pikirnya tentang manfaat senam hamil yang mampu memberikan pengaruh terhadap kualitas tidur dan kecemasnya. Pendidikan salah satu aspek yang berperan dalam meningkatkan kecerdasan dan pola berpikir, pengetahuan yang cukup baik berdampak pada kemampuan pengetahuan yang dimiliki dan pola berpikir cukup. Pendidikan menengah (SMA/SMK) merupakan pendidikan yang diberikan dengan kemampuan pola berpikir yang cukup bila dibandingkan dengan pendidikan dasar (SD, SMP) (Agustini, 2020).

Pada hasil penelitian faktor prediposisis kecemasan Gravida atau Paritas terhadap tingkat kecemasan ibu hamil di Puskesmas Cinangka sig untuk variabel faktor prediposisi kecemasan ibu hamil yang di lihat dari Gravida Ibu Hamil sebesar 0.03 hasil ini < dari pada nilai sig yakni 0.05 yang menadakan bahwa Ha ditolak dan Ho di terima. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa Gravida pada Ibu hamil tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kecemasan Ibu hamil.

Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Musbikin (2007) yang menerangkan Gravida atau Paritas juga dapat mempengaruhi kecemasan. Pada primigravida merasakan kecemasan karena tidak adanya bayangan mengenai apa yang akan terjadi saat bersalin nanti dan mendengar cerita mengerikan dari teman atau kerabat tentang pengalaman saat melahirkan seperti ibu atau bayi meninggal dan hal ini dapat mempengaruhi pikiran ibu mengenai proses persalinan yang menakutkan. Pada multigravida muncul perasaan cemas biasanya diakibatkan oleh bayangan rasa sakit yang dideritanya dulu sewaktu melahirkan.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti yakni Pengaruh Senam Hamil Terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Trimester Ii Dan Iii Di Upt Puskesmas Cinangka Kab Serang dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Nilai rata-rata tingkat kecemasan sebelum melakukan senam hamil yang ada di UPT Puskesmas Cinangkan dengan nilai 1.80 di mana mayoritas ibu hamil tingkat kecemasannya berada pada tingkat “kecemasan ringan” sebanyak 40% atau sebanyak 6 orang sedangkan untuk kategori “kecemasan sedang” sebanyak 20% atau sebanyak 3 orang ibu hamil.
  2. Nilai rata-rata tingkat kecemasan setelah melakukan senam hamil yang ada di UPT Puskesmas Cinangka dengan nilai 1.20 di mana mayoritas ibu hamil tingkat kecemasannya berada pada tingkat “tidak ada kecemasan” sebanyak 80% atau sebanyak 12 orang sedangkan untuk kategori “kecemasan ringan” sebanyak 20% atau sebanyak 3 orang ibu hamil.
  3. Faktor Kecemasan pada Ibu hamil yang dilihat dari “Umur” memiliki nilai sig 0.003<0.05 di mana tidak ada pengaruh efektifitas senam hamil yang telah dilakukan terhadap faktor kecemasan “umur”, sedangkan untuk faktor kecemasan “tingkat pendidikan” 0.34> 0.05 dimana senam hamil memiliki pengaruh positif terhadap penurunan tingkat kecemasan pada kategori tingkat pendidikan memiliki pengaruh positif yakni sebanyak 0.34.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Agustini, F. (2020). Gambaran Persiapan Persalinan Pada Ibu Hamil Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Tahun 2020. Jurnal Bidkesmas Respati.
  2. Anggaraeni, E. (2021, 12 13). Senam Hamil. (N. Latipatunnisa, Interviewer)
  3. Arikunto. (2017). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  4. Banten, D. (2021). Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kabupaten Serang. Serang: Dinkes Provinsi Banten.
  5. Bobak, L. J. (2012). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC.
  6. Datiningrum, M. D. (2015). Hubungan antara konsep Diri DenganKecemasan Menghadapi Ujian Akhir Sekolah Pada Siswa Kelas VIII di SMP Muhammadiyah II Malang. Malang: Universitas Muhamadiyah Malang.
  7. Dewi, V. N., & Sunarsih, T. (2012). Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta: Salemba.
  8. Evayanti, Y. (2015). Hubungan Pengetahuan Ibu Dan Dukungan Suami Pada Ibu Hamil Terhadap Keteraturan Kunjungan Antenatal Care (ANC) DI Puskesmas Wates Lampung Tengah Tahun 2014. Jurnal Kebidanan, 81-90.
  9. Fazdria, & Harahap, M. S. (2016). Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Ibu Hamil Dalam Menghadapi Persalinan Di Desa Tualang Teungoh Kecamatan Langsa Kota Kabupaten Langsa Tahun 2014. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 6-13.
  10. Gebreweld A, T. A. (2018). Prevalence and factors associated with anemia among pregnant women attending antenatal clinic at St. Paul’s Hospital Millennium Medical College,. Addis Ababa: Adv Hematol.
  11. Ghozali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
  12. Hasim, R. P., & Sulastri. (2018). Gambaran Kecemasan Ibu Hamil. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  13. Heriani. (2016). Kecemasan dalam Menjelang Persalinan Ditinjau dari Paritas, Usia dan Tingkat Pendidikan. Jurnal Ilmu Kesehatan Aisyah.
  14. Intan, K., & Andhyantoro. (2014). Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Salemba.
  15. Irianti. (2015). Asuhan Kehamilan Berbasis Bukti. Jakarta: Sagung Seto.
  16. Kbbi. (2018). Kbbi. Retrieved from Kbbi: http://kbbi.web.id/frekuensi
  17. Kemenkes. (2019). Infodatin (Pusat Dta dan Informasi Kementrian Kesehatan RI). Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
  18. Lestari, T. (2015). Kumpulan teori untuk kajian pustaka penelitian kesehatan. Yogyakarta: Nuha medika.
  19. Ludmila, I. A. (2018). Asuhan Kebidanan Continuity Of Care Pada Ny M Masa Hamil Sampai Dengan Keluarga Berencana Di BPM Muryati Sst.Keb Sukorejo Ponorogo. Sukoharjo: Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
  20. Manuaba. (2017). Pengantar Kuliah Obstetri. ECG . Jakarta: Marson.
  21. Mardjan. (2016). Pengaruh Kecemasan Pada Kehamilan Primipara Remaja. Pontianak: Abrori Institute.
  22. Marwiyah, N., & Sari, P. A. (2018). Efektifitas Senam Hamil Terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Trimester 2 dan 3 Di Desa Margaluyu Wilayah Kerja Puskesmas Kasemen. Jurnal Kesehatan.
  23. Musbikin, I. (2007). Misteri Shalat Berjama‟ah Bagi Kesehatan Fisik dan Psikis. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
  24. N, S., & P, N. (2017). Asuhan Kebidanan. Komprehensif pada. Ny.Y. Jurnal Komunikasi Kesehatan. Jurnal Komunikasi Kesehatan.
  25. Notoatmodjo. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
  26. Nuraini. (2011). Intensitas Menonton Televisi. dalam A. Haidir. Hubungan ntensitas Menonton Tayangan Acara Memasak di Televisi terhadap Pengetahuan Bidang Boga pada Siswa Kelas XII Jasa Boga SMK Negeri 6 Yogyakarta.
  27. Prasetyo. (2015). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Pustaka.
  28. Rahmawati, N. A., Rosyidah, T., & Marharani, A. (2016). Hubungan Pelaksanaan Senam Hamil Dengan Ketidaknyamanan Ibu Hamil Trimester III Di Bidan Praktek Mandiri Supadmi, Kunden Bulu, Sukoharjo. Involusi Jurnal Ilmu Kebidanan.
  29. Rinata, E., & Andayani, G. A. (2018). Karakteristik Ibu (Usia, Paritas, Pendidikan) dan Dukungan Keluarga dengan Kecemasan Ibu Hamil Trimester III. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Kesehatan, 14-20.
  30. Rukiah, A. Y., Yulianti, L., Maemunah, & Susilawati, L. (2013). Asuhan Kebidanan 4 Patologi Kebidanan. Jakarta Timur: CV Trans Info Media.
  31. Rustikayanti, N. e. (2016). Perubahan Psikologis pada Ibu Hamil Trimester. III. The Southeast Asian Jornal Of Midwifery., 2(1).
  32. Shodiqoh, E. R., & Fahriani, S. (2014). Perbedaan Tingkat Kecemasan Dalam Menghadapi Persalinan Antara Primigravida Dan Multigravida. Surabaya: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Jurnal Berkala Epidemiologi.
  33. Siswosuharjo, Suwignyo, & Fitria, C. (2010). Panduan Super Lengkap Hamil Sehat. Jakarta: Penebar Plus.
  34. Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R & D. Bandung: CV. Alfabeta.
  35. Sukarni, I., & P, W. (2015). Buku ajar keperawatan maternitas. Yogyakarta: Nuha Medika.
  36. Sunarti. (2013). Asuhan Kehamilan. Jakarta: In media.
  37. Suyanto, & Salamah. (2009). Riset Kebidanan: Metodologi dan Aplikasi. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
  38. Tobing. (2017, 07). Hamil Di Usia 20,30, dan 40. Retrieved from Ayah Bunda Online.com: http://www.ayahbundaonline.com/info_ayahbunda/infodetail.asp?id=pengalaman&info_id=853
  39. Widiani, A., & Noviani. (2020). The effect of pregnancy exercise on the anxiety level of the third trimester of pregnant woman in the Kecamatan Sukawati. International Journal of Research in Medical Sciences, 4197-4199.
  40. Widianti, A. T., & Proverawati, A. (2010). Senam Kesehatan. Yogyakarta: Kuha Medika.
  41. Yuliana. (2017). Konsep Dasar Pengetahuan. Surakarta: Cipta Grah

Pengaruh Riwayat Hipertensi dan Status Gizi terhadap Kejadian Hipertensi pada Ibu Hamil

11

Durrotunnafisah and Olivia Nency (Editor)

ABSTRAK

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di puskesmas Bahagia berdasarkan data bulan januari sampai Maret 2022 ibu hamil yang mengalami hipertensi berjumlah 20 orang dari 120 ibu hamil. Tujuan penelitian ini penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh antara Riwayat Hipertensi dan Status Gizi Terhadap Kejadian Hipertensi Pada Ibu Hamil Di wilayah Kerja Puskesmas Bahagia Bekasi Tahun 2022. Metode pada penelitian ini menggunakan Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik kuantitatif dengan pendekatan case control secara retrospektif sampel ibu hamil diambil secara purposive sampel, berkunjung ke PKM Bahagia Bekasi terhitung Januari – April 2022 trimester I, II dan III, sampel sebanyak 80 orang. Data diuji Chi Square test DF 95% (α = 0,05). Hasil analisis univariat menunjukan usia mayoritas diatas 25 tahun, UK TM II, berpendidikan SMA, ibu hamil bekerja, dan mempunyai anak 2 orang, tidak punya riwayat hipertensi sebelumnya, namun memiliki riwayat keluarga hipertensi. dan status gizi gemuk. Hasil analisis bivariat didapatkan riwayat hipertensi sebelum hamil dan riwayat keluarga tidak ada pengaruh signifikan terhadap kejadian hipertensi, namun umur dan status gizi menunjukan pengaruh signifikan p < 0.05, p=0.004, dan nilai OR 5,231 > 1 ini menunjukan bahwa status gizi berdasar IMT, kegemukan memberikan resiko terjadinya hipertensi 5 kali pada ibu hamil. Berdasarkan hasil ini maka diharapkan ibu hamil dapat memperhatikan pada umur dan Status gizinya.

Kata kunci : Riwayat hipertensi, status gizi, kejadian hipertensi pada ibu hamil

PENGANTAR

Hipertensi dalam kehamilan adalah adanya tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih setelah kehamilan 20 minggu pada wanita yang sebelumnya normotensif, atau kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg dan atau tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai normal (Indriani, 2013). Hipertensi pada kehamilan adalah hipertensi yang ditandai dengan tekanan darah ≥ 140/90 mmhg setelah umur kehamilan 20 minggu, disertai dengan proteinuria ≥ 300 mg/24 jam (Nugroho, 2012: 1).

Tekanan darah tinggi dapat menurunkan aliran darah ke plasenta, yang akan mempengaruhi persediaan oksigen dan nutrisi dari bayi. Hal ini dapat memperlambat pertumbuhan bayi dan meningkatkan resiko saat melahirkan. Tekanan darah tinggi juga dapat meningkatkan resiko kerusakan tiba-tiba dari plasenta, dimana plasenta akan terpisah dari uterus sebelum waktunya (Lalage, 2013)

Menurut data WHO (World Health Organization) hipertensi kehamilan adalah salah satu penyebab kesakitan dan kematian diseluruh dunia baik bagi ibu maupun janin. Secara global, 80% kematian ibu hamil yang tergolong dalam penyebab kematian ibu secara langsung, yaitu disebabkan karena terjadinya pendarahan (25%) biasanya pendarahan pasca persalinan, hipertensi pada ibu hamil (12%), partus macet (8%), aborsi (13%) dan karena sebab lainnya (7%) (WHO, 2015).

Di Indonesia menurut departemen kesehatan alat ukur yang di gunakan unruk mengetahui KEK atau obesitas pada ibu hamil menggunakan metode LILA ( Kalsum, Bambang, Ratna el.,2014) dimana di katakan KEK apabila LILA > 23,5 cm dan apabila >23, 5 cm dikatakan normal. Selain itu, menilai status gizi termasuk normal, kurus, gemuk, obesitas di nilai berdasarkan TB dan BB sebelum hamil pada saat menilai status gizi ibu hamil.

Hipertensi pada kehamilan merupakan penyakit tidak menular penyebab kematian maternal. Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit kronis yang tidak ditularkan dari orang ke orang. PTM diantaranya adalah hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). PTM merupakan penyebab kematian hampir 70% di dunia. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2013, tampak kecenderungan peningkatan prevalensi PTM seperti hipertensi, diabetes, stroke, dan penyakit sendi/rematik/encok. Fenomena ini diprediksi akan terus berlanjut (Kemenkes RI, 2018).

Frederick dkk. Penelitian sebelumnya kurang lebih memperlihatkan hubungan antara indeks massa tubuh dan peningkatan berat badan pada kehamilan. Hal ini mendorong peneliti untuk melakukan penelitian untuk melihat hubungan tersebut lebih lanjut di puskesmas di Manado. menemukan bahwa setiap peningkatan IMT sebelum kehamilan menyebabkan peningkatan risiko preeklampsia sebesar 8%. Semua penelitian sebelumnya ini dilakukan dengan menggunakan standar IMT secara umumnya, dan belum ada penelitian yang dilakukan dengan menggunakan standar IMT pada orang Asia sehingga tidak diketahui bagaimana pengaruh kedua faktor tersebut terhadap orang Asia.

Menurut Aulia, R. (2017) faktor risiko hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu faktor yang tidak dapat di ubah dan faktor yang dapat di ubah. Faktor yang tidak dapat di ubah yaitu riwayat keluarga atau keturunan, usia, jenis kelamin, ras/etnik. Faktor yang dapat di ubah yaitu merokok, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, pola makan.

Menurut penelitian Fahira (2017) bahwa riwayat hipertensi merupakan faktor risiko kejadian preeklampsia dengan kata lain riwayat hipertesnsi berisiko 1,591 kali lebih besar untuk mengalami preeklampsia dibanding dengan yang tidak memiliki riwayat hipertensi.

Menurut penelitian Chairiah (2012) dengan judul pengaruh pola makan dan status gizi terhadap kejadian hipertensi pada ibu hamil di RSU Tanjung Pura Kabupaten Langkat di dapatkan hasil Penambahan berat badan sesuai IMT Lebih (p)=0,046., sementara Penambahan berat badan IMT normal tidak berpengaruh terhadap kejadian hipertensi pada ibu hamil dengan nilai (p)=0,367.

Survey awal yang dilakukan peneliti di puskesmas Bahagia berdasarkan data bulan januari sampai Maret 2022 ibu hamil yang mengalami hipertensi berjumlah 20 orang dari 120 ibu hamil. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ Pengaruh Riwayat Hipertensi Dan Status Gizi Terhadap Kejadian Hipertensi Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Bahagia Bekasi Tahun 2022”

METODE

Metode penelitian menggunakan adalah metode penelitian bersifat Jenis penelitian yang dilakukan bersifat observasional-analitik.

Populasi adalah seluruh subjek yang diteliti. Populasi dari penelitian ini adalah ibu hamil berkunjung di Wilayah Kerja Puskesmas Bahagia Bekasi terhitung Januari – April 2022 ibu hamil trimester I, II dan III berjumlah 150 orang. Cara pengambilan sampel secara purposive sampling yaitu suatu teknik sampling non random sampling. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut yaitu bersedia menjadi responden, ibu hamil yang mengalami hipertensi maupun tidak mengalami hipertensi dan Kriteria eksklusi yaitu ibu yang mengalami sakit saat dilakukan penelitian.

variabel penelitian terdiri variabel terikat yaitu kejadian hipertensi, variabel bebas yaitu hipertensi dan status gizi dan variabel penganggu yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anak

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan. Keterbatasan waktu dan kemampuan peneliti, adapun penelitian yang dilakukan adalah penelitian bersifat analitik dengan pendekatan Case control yang bertujuan untuk mendapatkan data penelitian ibu hamil terhadap pengaruh riwayat hipertensi dan status gizi dengan kejadian hipertensi. Penelitian dalam kondisi pandemic yang sulit dalam bertemu terhadap responden maka peneliti mengambil langkah yaitu membuat lembar angket dalam bentuk google form sehingga kesulitan tidak semua responden yang paham dalam pengisian angket pertanyaan sehingga peneliti melalukan penjelasan secara berulang – ulang. Karateristik ibu hamil yang menjadi responden dalam penelitian ini dibedakan menurut umur, usia kehamilan, tingkat pendidikan, pekerjaan dan jumlah anak yang dimiliki hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 45% responden berusia diatas 25 tahun, dengan usia kehamilan 42,2% berada pada trimester II, 60% berpendidikan SMA/SMK dan 51.2% ibu mengaku tidak bekerja. Dari 80 orang yang menjadi responden mayoritas atau 50% nya memiliki 2 orang anak. Hasil penelitian sejalan dengan Casey dan Benson, (2006) bahwa faktor kejadian hipertensi di tandai dengan 2 faktor yaitu faktor risiko yang dapat di ubah ( genetis, usia, jenis kelamin, Ras) dan faktor risiko yang tidak dapat di ubah ( merokok, obesitas, gaya hidup, stress, kelebihan garam).

Hipertensi yang terjadi pada ibu hamil akan sangat berbahaya lebih jauhnya ibu hamil akan mengalami komplikasi dalam kehamilannya Saifudin (2019) mengungkapkan hipertensi dapat mengganggu pertumbuhan janin menjadi terhambat (IUGR), kematian janin, persalinan premature, solusio plasenta. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan ibu hamil 35% diantaranya mengaku pernah mengidap hipertensi sebelumnya dan 65% mengakui bahwa tidak pernah merasakan penyakit tersebut. Jika dilihat dari keluarga yang mengidap hipertensi 78.8% responden mengaku di keluarga mereka ada yang mengidap hipertensi dan hanya 21.3% saja yang mengaku di lingkungan keluarganya tidak ada yang hipertensi. Namun demikian jika dilihat dari ibu hamilnya sendiri saat hamil 75% nya tidak memiliki hipetensi namun ada 25% ibu yang selama kehamilannya merasakan hipertensi. Melihat hasil ini hipertensi memang secara relatif masih terjadi di kalangan ibu hamil. Hasil penelitian menunjukan dari 80 orang responden 25% diantaranya mengidap hipertensi selama kehamilannya, dan 75% tidak mengalami hipertensi selama kehamilannya, dari data penelitian diketahui usia pengidap hipertensi adalah > 25 tahun, hasil pengujian 0.000 < 0,05 ini menunjukan terdapat hubungan antara umur dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas bahagia Bekasi, ini sekiranya sejalan dengan pendapat dari Casey dan Benson, (2006) yang menyatakan Walaupun penuaan tidak selalu memicu hipertensi. Tekanan darah tinggi biasanya terjadi pada usia lebih tua. Pada usia antara 30 dan 60 tahun, tekanan sistolik meningkat rata – rata sebanyak 20 mmHg dan terus meningkat setelah usia 70 tahun. Peningkatan risiko yang berkaitan dengan faktor usia ini sebagian besar menjelaskan tentang hipertensi sistolik terisolasi dan dihubungkan dengan peningkatan periheral vascular resistance ( hambatan aliran darah dalam pembuluh darah dalam arteri), hasil ini sejalan juga dengan penelitian Widya (2018) dimana ada terdapat pengaruh antara usia dengan kejadian hipertensi. Lebih jauh ternyata usia kehamilan ibu tidak ada memiliki pengaruh terhadap kejadian hipertensi pada ibu hamil nilai Asimp.sign 0,082 > 0.05 ini menunjukan bahwa usia kehamilan tidak menunjukan adanya pengaruh atau hubungan dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas bahagia Bekasi, hasil ini sejalan dengan penelitian Andarista Ayu Ningtias (2019) didapatkan nilai p-value 0,499 yang berarti tidak ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian hipertensi pada kehamilan, sedangkan untuk usia kehamilan didapatkan nilai p-value 0,861 yang berarti tidak ada hubungan usia kehamilan dengan kejadian hipertensi pada kehamilan.

Tingkat pendidikan ibu juga tidak menunjukan adanya hubungan yang signifikan artinya tingkat pendidikan ibu tidak memengaruhi terhadap kejadian hipertensi saat kehamilan pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas bahagia Bekasi terlihat nilai Asimp.sign > 0,05,hasil ini sejalan dengan penelitian Yodya Syanindita (2020) hasil tidak ada perbedaan antara tingkat pendidikan pada pasien hipertensi, jadi setidaknya pendidikan tinggi seorang ibu tidak menjamin ibu untuk tidak terkena hipertensi, ada faktor lain yang memengaruhi secara signifikan terjadinya hipertensi pada ibu hamil. Begitu juga dengan pekerjaan ibu, didapatkan hasil tidak terdapat hubungan antara pekerjaan dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas bahagia Bekasi terlihat nilai Asimp.sign > 0.05. penelitian ini sama dengan penelitian sebelumnya oleh Febi Kolibu dan Angela Kalesaran 2017, Menurut peneliti tidak adanya hubungan pekerjaan dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas bahagia bekasi yaitu ibu hamil mayoritas tidak bekerja yang aktivitas yang tidak banyak sehingga dapat lebih untuk menjaga kondisi kehamilannya, Namun demikian nilai OR > 1 yaitu sebesar 1.397 hasil ini menunjukan bahwa pekerjaan memang memberikan resiko terhadap kejadian hipertensi pada ibu hamil, ini menunjukan tingkat kelelahan dan stress saat bekerja memicu terjadinya hipertensi pada ibu saat hamil, adanya resiko pada ibu bekerja sepertinya sejalan dengan pendapat Casey dan Benson, (2006) dimana kondisi tersebut memicu terjadinya hipertensi pada ibu hamil. Begitu juga dengan memiliki anak ternyata hanya 25% saja yang megaku mengidap hipertensi saat kehamilannya 75% diantaranya ibu hamil mengaku tidak mengalami hipertensi selama kehamilannya meskipun sudah memiliki anak sebelumnya. Asimp.sign 0,282 > 0,05 hasil ini menunjukan tidak terdapat hubungan antara jumlah anak dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas bahagia Bekasi, pada kenyataannya memang mayoritas ibu memiliki anak 2 orang ini sepertinya yang mengurangi tingkat stress ibu berkurang sehingga tidak memicu terjadinya hipertensi di saat kehamilannya.

Pengaruh riwayat hipertensi dan status gizi terhadap kejadian hipertensi pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas bahagia tahun 2022 hasil penelitian menunjukan bahwa uji chy – square didapatkan nilai P.value 1,00 > 0,05 hasil ini menunjukan tidak adanya hubungan atau pengaruh signifikan antara riwayat hipertensi ibu sebelumnya dengan kejadian hipertensi pada ibu di saat hamil di wilayah kerja puskesmas bahagia Bekasi tahun 2022. Namun demikian Jika dilihat resiko didapat Nilai OR=1 ini menunjukkan riwayat hipertensi ibu sebelumnya memang memberikan resiko pada ibu saat hamil mengalami hipertensi, tepatnya ibu dengan riwayat hipertensi sebelumnya beresiko 1.00 kali mengalami hipertensi pada ibu saat hamil ( 95% CI 0,346 – 2.889), kondisi ini memberikan warning bahwa ibu yang sebelumnya pernah hipertensi harus tetap waspada disaat kehamilannya berlangsung.

Riwayat hipertensi anggota keluarga terhadap kejadian hipertensi pada ibu hamil di dapatkan hasil pada uji chy – square ini di dapatkan nilai P value 0.156 > 0,05 nilai ini tidak menunjukah adanya pengaruh antara riwayat hipertensi anggota keluarga dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas bahagia Bekasi tahun 2022. Namun demikian berdasarkan hasil perhitungan nilai OR>1 disini hasilnya 3, kondisi ini menunjukkan bahwa riwayat hipertensi yang ada terjadi di lingkungan keluarga memberikan 3 kali resiko terjadinya hipertensi pada ibu disaat hamil di banding ada hipertensi pada ibu hamil ( 95% CI 0,346 – 2.889), dengan kata lain jika ada banyak anggota keluarga yang mengidap hipertensi ada kemungkinan terkena gangguan hipertensi pada ibu hamil.

Responden ibu hamil dengan IMT normal lebih banyak pada kelompok mengalami tidak hipertensi pada ibu hamil sebanyak 34 orang ( 42,55%) dari pada kelompok mengalami ada hipertensi pada ibu hamil sebanyak 4 orang (5%). Pada uji chy – square ini di dapatkan hasil P value 0.004 < 0,05 hasil ini menunjukan adanya pengaruh antara status gizi berdasarkan IMT dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas bahagia Bekasi tahun 2022. Hasil perhitungan OR>1 hasil ini menunjukkan bahwa status gizi berdasarkan IMT 5.231 kali resiko ibu tidak mengalami hipertensi pada saat ibu hamil di banding ada hipertensi ( 95% CI 0,242 – 4.126 ), dalam kaitan ini IMT yang berimbang mampu mengurangi tingkat terjadinya hipertensi pada ibu saat kehamilannya, hasil ini sejalan dengan Muflihan (2012) Tingginya indeks massa tubuh merupakan masalah gizi karena kelebihan kalori, kelebihan gula dan garam yang bisa menjadi faktor risiko terjadinya berbagai jenis penyakit degenerative, seperti diabetes mellitus, hipertensi dalam kehamilan, penyakit jantung koroner, reumatik, dan berbagai jenis keganasan (kanker) dan gangguan kesehatan lain. Hal tersebut berkaitan dengan adanya timbunan lemak berlebih dalam tubuh .

Kesimpulan

  1. Tidak ada hubungan signnifikan antara usia kehamilan, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, riwayat hipertensi sebelumnya, riwayat hipertensi keluarga, status gizi berdasarkan LILA dengan kejadian hipertensi ibu saat hamil,
  2. Status gizi berdasarkan IMT dan usia menunjukan ada hubungan yang signifikan terjadinya hipertensi ibu saat hamil.
  3. Dilihat dari sisi Resiko terjadinya Hipertensi saat hamil ditemukan bahwa riwayat hipertensi ibu sebelum hamil, riwayat hipertensi di keluarga, status gizi berdasarkan LILA dan status gizi berdasarkan IMT tebukti memberikan resiko terhadap terjadinya hipertensi pada ibu saat hamil.

Saran

  1. Diharapkan ibu dapat memperhatikan sisi usia dan Status gizinya dapat dijaga berimbang, usia menunjukan ibu masuk resiko tinggi, semakin tinggi usia semakin rentan terjadinya hipertensi saat kehamilan.
  2. Ibu dan keluarga harus selalu mewaspadai sedini mungkin faktor pencetus/resiko terjadinya hipertensi dalam hal ini dari sisi riwayat ibu hipertensi sebelumnya, riwayat hipertensi keluarga, status gizi berdasarkan LILA dan IMT ibu
  3. Petugas kesehatan lebih mewaspadai terhadap beberapa faktor yang ditemukan tersebut sehingga dapat diantisipasi terjadinya hipertensi saat kehamilan pada ibu.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Notoatmodjo, (2010). Metodologi penelitian kesehatan . Jakarta: PT Rineka Cipta Nugroho. (2012). Keperawatan gerontik & geriatrik, edisi 3. Jakarta : EGC
  2. WHO. World Health Statistic Report 2015. Geneva: World Health Organization; 2015.
  3. Prawiroharjo, S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2014.
  4. Sugiyono. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta; 2011.
  5. Hidayat, A. Tutorial Rumus Chi Square dan Metode Hitung. Statistikian (2017)
  6. Saifuddin, A. B. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Materna dan
  7. Neonatal. Jakarta: PT. Bina PustakaSarwono Prawirohardjo; 2009
  8. Icemi Sukarni K & Wahyu P (2013). Buku Ajar Keperwatan Maternitas dilengkapi contoh Askep. Yogyakarta : Nuha Medika
  9. Arikunto, S. (2019). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka cipta
  10. Nursalam. 2016. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan Praktis Edisi.4. Jakarta : Salemba Medika.
  11. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
  12. Aggie Casey & Herbert Benson (2006) “Menurunkan Tekanan Darah” Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer
  13. Anon. 2017. “Frequency of Hypertension Associated with Pregnancy among The Pregnant Women Attending Maternal and Child Care Centers in Belbeis City.” The Egyptian Journal of Community Medicine. doi: 10.21608/ejcm.2017.4101.
  14. Camdadi, Zulaeha A., Afriani Afriani, and Fitriati Sabur. 2020. “Mean Arterial Presurre Dan Indeks Massa Tubuh Dengan Kejadian Preeklamsia Pada Ibu Hamil Di Rumah Sakit Bhayangkara Makasar.” Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar. doi: 10.32382/medkes.v15i2.1469.
  15. Dr. Ketut Novia Arini, S.ST, M.Kes. 2021. “Hubungan Umur Ibu Dan Usia Kehamilan Dengan Hipertensi Pada Ibu Hamil Di Kota Denpasar Tahun 2020.” Jurnal Genta Kebidanan. doi: 10.36049/jgk.v11i1.37.
  16. Fahruddin, and Eva Purwati. 2018. “Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Suli Kabupaten Luwu.” Penelitian, Artikel.
  17. Hairiah. 2013. “Pengaruh Pola Makan Dan Status Gizi Terhadap Kejadian Hipertensi Pada Ibu Hamil Di RSU Tanjung Pura Kabupaten Langkat.” Thesis.
  18. Isnaniar, Isnaniar, Wiwik Norlita, and Niken Safitri. 2019. “Pengaruh Obesitas Terhadap Kejadian Hipertensi Dalam Masa Kehamilan Di Puskesmas Harapan Raya Pekanbaru” Photon: Jurnal Sain Dan Kesehatan. doi: 10.37859/jp.v9i2.1123.
  19. Lilis, Fatmawati, Agus Sulistyono, and Hari Basuki Notobroto. 2017. “Pengaruh Status Gizi Dengan Kejadi Preeklamsia Ibu Hamil Trimester 3.” Ilmu Kesehatan Masyarakat.
  20. Lewandowska, Małgorzata. 2021. “The Association of Familial Hypertension and Risk of Gestational Hypertension and Preeclampsia.” International Journal of Environmental Research and Public Health. doi: 10.3390/ijerph18137045.
  21. Renaningrum, Yahya, Elisa Ulfiana, and Ida Putra Ariyanti. 2017. “Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Preeklampsia Pada Kehamilan Di Rsup Dr. Kariadi Semarang Tahun 2015.” Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine. doi: 10.36408/mhjcm.v4i3.338.
  22. Surianti, Tetti, Ruslang Ruslang, and Rosdiana Rosdiana. 2021. “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Terjadinya Hipertensi Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja UPT Puskemas Wosu Kecamatan Bungku Barat Kabupaten Morowali.” Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health Sciences Journal. doi: 10.34305/jikbh.v12i1.250.
  23. Pramanick, Sudipta, and Pulak Panda. 2017. “Study Of The Efects Of Hypertension On Pregnant Mothers And Their New-Born Babies In a Medical College In Kolkata.” Journal of Evolution of Medical and Dental Sciences. doi: 10.14260/jemds/2017/541.
  24. Winancy, W. 2019. “Penkes Preeklampsi Untuk Pengetahuan Ibu Hamil Dalam Menghadapi Komplikasi.” Jurnal Bidan Cerdas (JBC)

Pengaruh Efektifitas Konseling Gizi dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada Ibu Hamil

12

Aniyatu Roisah and Olivia Nency (Editor)

ABSTRAK

Pada study pendahuluan yang di lakukan oleh peneliti pada ibu hamil didapatkan data terhitung bulan Januari sampai Maret 2022 populasi ibu hamil yaitu 113 orang. Peneliti mengambil 4 orang dengan memberikan kuesioner yang udah dirancang oleh peneliti di dapatkan hasil (100%) pengetahuan yang kurang tentang gizi pada ibu hamil dan sikap yang negatif terhadap gizi pada ibu hamil serta memiliki pendapatan yang rendah di sebabkan ibu hamil tersebut hanya sebagai ibu rumah tangga ( IRT). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas konseling gizi dengan KEK. Metode pada penelitian ini menggunakan penelitian secara case control retrospektif di mana sampel diambil menggunakan non probability sampling dengan metode purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 74 responden yang terdiri kelompok kasus dan kelompok kontrol. Analisis data menggunakan uji chy-square. Hasil penelitian data univariat menunjukkan bahwa mayoritas umur ibu 21-35 tahun, pendidikan SMA, pekerjaan IRT, status ekonomi rendah, pengetahuan kurang dan sikap negatif, setelah di beri konseling gizi pengetahuan cukup dan sikap positif. Analisa bivariat terdapat hubungan antara pendidikan,pekerjaan, status ekonomi,pengetahuan dan sikap dengan kejadian KEK. Analisa data multivariat dengan uji persamaan regresi di dapatkan hasil penurunan pengetahuan dengan pemberian konseling gizi maka akan meningkatkan probabilitas kejadian KEK sebesar (0,730) dan setiap peningkatan pengetahuan dengan pemberian konseling gizi maka akan menurunkan probabititas angka kejadian KEK sebesar (– 1,694) Sehingga diharapkan penelitian ini mampu memberikan informasi kepada tenaga kesehatan dalam hal pemberian konseling gizi dengan cara penyampaian berulang – ulang agar target dan sasaran dalam memberikan pengetahuan dapat diterima secara maksimal.

Kata Kunci : Pemberian Konseling Gizi, Kejadian Kekurangan Ener Kronik (KEK)

PENGANTAR

Ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang rawan akan terjadinya masalah gizi karena mengalami peningkatan kebutuhan gizi pada ibu dan janin. Masalah gizi yang sering dijumpai pada ibu hamil diantaranya Kurang Energi Kronis (KEK) dan anemia (Waryana, 2010). Kekurangan Energi Kronis (KEK) merupakan keadaan dimana terjadinya malnutrisi atau keadaan patologis akibat kekurangan zat gizi secara relative maupun absolut. Ibu hamil dikategorikan KEK jika Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23,5 cm (Muliarini,2015).

Salah satu masalah kurang gizi pada ibu hamil yang masih menjadi fokus perhatian adalah ibu hamil dengan risiko kurang energi kronis (KEK). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan proporsi KEK pada ibu hamil (15-49 tahun) sebesar 17,3%

Kondisi ibu hamil dengan risiko KEK, berisiko terhadap penurunan kekuatan otot yang membantu proses persalinan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya partus lama dan perdarahan pascasalin, bahkan kematian ibu. Risiko pada bayi dapat mengakibatkan terjadinya kematian janin (keguguran), premature, lahir cacat, berat badan lahir rendah (BBLR) bahkan kematian bayi. Ibu hamil dengan risiko KEK dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, yaitu pertumbuhan fisik (stunting), otak dan metabolisme yang menyebabkan penyakit tidak menular di usia dewasa

Faktor penyebab langsung ibu hamil dengan risiko KEK adalah konsumsi gizi yang tidak cukup dan penyakit. Penanggulangan ibu hamil risiko KEK dilaksanakan melalui intervensi gizi spesifik secara lintas program, terutama pada pelaksanaan pelayanan antenatal terpadu. Salah satu intervensi yang dilakukan adalah pemberian makanan tambahan (MT) pada ibu hamil yang terdeteksi berisiko KEK.

Menurut Wulandari (2009) proses konseling menggambarkan adanya kerjasama antara konselor dengan klien dalam mencari tahu tentang masalah yang dihadapi klien. Proses konseling memerlukan keterbukaan dari klien dan konselor agar mencapai jalan keluar pemecahan masalah klien. Hasil penelitian Yuniarti (2005) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna antara konseling dengan pengetahuan ibu hamil (p=0,000). Dalam penelitian tersebut juga didapatkan hasil rata-rata konsumsi energi ibu hamil meningkat dari 57,5% menjadi 69,4%, rata-rata konsumsi protein ibu hamil meningkat dari 70,5% menjadi 87,4%, rata-rata berat badan ibu hamil juga mengalami peningkatan (p=0,000). Berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan adanya penurunan status KEK setelah pemberian konseling yaitu 57,9%

Pada study pendahuluan yang di lakukan oleh peneliti pada ibu hamil di Puskesmas Carenang Kabupaten Serang didapatkan data terhitung bulan januari sampai Maret 2022 populasi ibu hamil yaitu 113 orang . Peneliti mengambil 4 orang dengan memberikan kuesioner yang udah di rancang oleh peneliti di dapatkan hasil (100%) pengetahuan yang kurang tentang gizi pada ibu hamil dan sikap yang negatif terhadap gizi pada ibu hamil serta memiliki pendapatan yang rendah di sebabkan ibu hamil tersebut hanya sebagai ibu rumah tangga ( IRT).

Berdasarkan pemaparan dan penjelasan di atas maka peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Efektifitas Konseling Gizi Dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronik ( KEK ) pada ibu hamil di Puskesmas Carenang Kabupaten Serang”.

METODE

Penelitian ini menggunakan Metode penelitian menggunakan adalah metode penelitian case control dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester I,II dan III Populasi dari penelitian ini adalah ibu hamil berjumlah 113 orang di Puskesmas Carenang Kabupaten Serang.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu dengan Teknik sampling yang di gunakan dengan non probability sampling dengan metode purposive sampling penetapan sampel dengan cara memilih sampel di antara populasi sesuai dengan yang di kehendaki peneliti sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya berdasarkan dengan kriteria inklusi yaitu bersedia menjadi responden, kehamilan mengalami atau tidaknya KEK. kriteria eksklusi yaitu berpendidikan SD atau SMP, responden mengalami sakit saat penelitian. penelitian dilaksanakan pada Mei – Juni

Peneliti menggunakan kuesioner sebagai variabel dependen untuk mengetahui pengetahuan dan sikap tentang gizi oleh responden, lalu penelitian ini menggunakan instrument penelitian yaitu berbentuk kuesioner dengan 15 pertanyaan tentang pengetahuan gizi dan 15 pertanyaan tentang sikap pada responden ibu hamil di Puskesmas Carenang kabupaten Serang. Pada saat penyebaran kuesioner tahap awal yang di lakukan peneliti yaitu pretest pada responden, selanjutnya peneliti melakukan penillaian pada nilai responden pada saat sebelum di berikan penyuluhan kesehatan. Setelah itu peneliti memberikan konseling gizi terhadap ibu hamil. Setelah di beri konseling gizi selanjutnya peneliti melakukan penilaian posttest tentang gizi dengan soal yang sama. Pada instrument penelitian ini peneliti uji statistik dengan cara uji validitas dan reliabilitas di dapatkan instrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan uji validitas dan reliabilitas maka hasil uji validitas R hitung > R tabel Pada signifikan 5% pada distribusi nilai R tabel dengan total responden 74, Df = N-2, 74 -2 = 72, pada Df 72 maka dari itu R tabel pada penelitian ini adalah 0.235. Hasil output uji validitas di dapatkan R hitung > 0,235 yang di simpulkan uji validitas yaitu valid dan uji reliabilitas di katakan valid jika nilai alpha > 0,60 karena hasil uji reliabilitas 0,712 > 0,60 maka data butir soal valid.

Peneliti menggunakan analisa data univariat untuk mengetahu gambaran distribusi frekuensi dari karakteristik responden, data bivariat untuk mengetahui pengaruh karakteritik responden terhadap kejadian KEK dengan menggunakan uji chy-square, serta analisa data multivariat untuk melihat efektifitas konseling gizi tehadap kejadian KEK dengan menggunakan uji regresi ordinal.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini menggunakan instrument penelitian yaitu kuesioner dengan peneliti membuat 15 pertanyaan dari pengetahuan gizi ibu hamil dan 15 pertanyaan sikap ibu hamil tentang gizi ibu hamil. Pada responden ibu hamil di Puskesmas Carenang Kabupaten Serang, pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui pengaruh efektifitas konseling gizi dengan kejadian KEK pada ibu hamil di Puskesmas Carenang Kabupaten Serang.

Sebelum di lakukan konseling peneliti memberikan kuesioner pada responden, dengan beberapa pertanyaan selain soal pengetahuan dan sikap, ada pertanyaan kriteria ibu hamil berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, riwayat pemberian konseling sebelumnya.

Setelah melakukan penyebaran kuesioner pada responden maka selanjutnya peneliti melakukan pemberian konseling dengan menggunakan leaflet. Adapun keterbatasan peneliti pada penelitian ini yaitu dalam pemberian konseling karena masa pandemi yang tidak di benarkan untuk kontak langsung kepada responden, maka peneliti mempunyai solusi yaitu konseling gizi di lakukan dengan mengumpulkan responden di ruang group aplikasi WhatsApp ( WA) dalam ruang group tersebut mempermudah peneliti untuk komunikasi dan segala kebutuhan oleh peneliti dapat tersalurkan melalui aplikasi ini.

Peneliti memberikan konseling gizi penyampaian informasi dengan alat bantu leaflet, food model, dan Daftar Bahan Makanan Penukar (DBMP) mengenai gizi pada ibu hamil KEK, pengertian penyebab dan penanggulangan ibu hamil dengan status gizi KEK, asupan makanan dengan gizi seimbang untuk ibu hamil, pola makan ibu hamil, bahan makanan yang baik, yang harus dibatasi dan di hindari untuk ibu hamil yang sesuai dengan ilmu gizi, serta aktifitas fisik yang baik untuk ibu hamil.

Setelah diberikan konseling gizi selanjutnya peneliti menyebarkan kuesioner untuk menilai hasil post test pada responden. pada hasil posttest untuk melihat perbedaan pada nilai pretest dan posttest. Pada instrumen penelitian peneliti melakukan uji validitas dan realibitas mengguanakan statistik SPSS versi 16 Pada signifikan 5% pada distribusi nilai r tabel dengan total responden 74, df = N-2, 74 -2 = 72, maka df 72 dengan r tabel pada penelitian ini adalah 0.235, hasil validitas yang di dapatkan yaitu > 0,235 maka di nyatakan valid. Pada uji realibitas dapat dilakukan secara bersama-sama terhadap seluruh butir pertanyaan. Jika nilai Alpha > 0,60 maka realbilitas nya valid , nilai alpha yaitu 0.820.

Hasil data univariat berdasarkan pengetahuan sebelum diberi perlakuan konseling gizi di dapatkan hasil mayoritas kurang ( 56,8%) dan hasil setelah di berikan perlakuan konseling gizi di dapatkan hasil mayoritas cukup (59,5%). Hasil penelitian yang di dapat sejalan dengan penelitian Ani Retni & Nikmawati Puluhulawa pada Jurnal Ilmu Kesehatan Zaitun dengan hasil penelitian bahwa pengetahuan ibu hamil berada pada kategori kurang lebih banyak ibu hamil KEK memiliki pengetahuan kurang dibandingkan dengan ibu hamil tidak KEK dan pengetahuan ibu hamil dapat berpengaruh terhadap kejadian kekurangan energi kronis ( KEK ) P value = 0,000

Pengetahuan setelah perlakuan di dapatkan hasil pengetahuan cukup yang tidak sesuai harapan peneliti dengan nilai baik, hal ini menurut asumsi peneliti responden yang kurang fokus dalam pemberian konseling dan sebagian besar peneliti melakukan konseling melalui aplikasi WhatsApp ( WA) menggunakan e – leaflet yang tidak di baca ulang oleh responden, dan kepuasan dalam pemberian konseling yang belum maksimal, hal ini di dasari oleh teori menurut ( I Kullen, Burdon, & H, 2014) dalam jurnal kesehatan vokasional yang menyatakan kepuasan ibu hamil terhadap konseling gizi pun menjadi output yang perlu di evaluasi untuk pada akhirnya dapat di nilai apakah ibu puas, paham, mengerti dan merasa informasi yang di sampaikan dapat bermanfaat atau tidak.

Berdasarkan sikap sebelum diberi perlakuan konseling gizi didapatkan mayoritas sikap negatif (58,1%) dan setelah diberi perlakuan konseling gizi di dapatkan hasil 100% positif. menurut asumsi peneliti dengan sikap negatif karena rasa ingin tahu yang sangat kurang, dengan pengetahuan yang kurang menyebabkan sikap negatif. Hal ini sesuai dengan teori Menurut Azwar S (2013), struktur sikap terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang salah satu di antaranya adalah komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini) terutama apabila menyangkut masalah isu atau yang kontroversial.

Hasil data berdasarkan hubungan antara pendidikan dengan kejadian KEK di dapatkan hasil Asym.Sig < 0,05 dengan nilai 0,001 yang artinya terdapat hubungan antara pendidikan dengan kejadian KEK. peneliti yang sejalan dalam Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No. 1, 2016 tentang Analisis faktor determinan kejadian KEK pada ibu hamil di RSIA Citra Keluarga Kediri Tahun 2015 yang menyatakan bahwa kesimpulan dari peneliti menunjukkan 12 kali pendidikan ibu berpengaruh terhadap defisiensi energi kronik, artinya 5,595 kali untuk berpengaruh terhadap defisiensi energi kronis. maka menurut asumsi peneliti dengan memberikan pendidikan mempengaruhi dikarenakan semakin tinggi pendidikan seseorang maka rasa ingin tahu akan tinggi. Hal ini sesuai teori (Rahayu dkk., 2014). yang menyatakan peengetahuan merupakan salah satu faktor internal yang mempengaruhi perilaku kesehatan dan pengetahuan berkaitan erat dengan pendidikan seseorang.

Hasil data berdasarkan hubungan antara pekerjaan dengan kejadian KEK di dapatkan hasil Asym.Sig < 0,05 dengan nilai 0,000 yang artinya terdapat hubungan antara pekerjaan dengan kejadian KEK. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya pada Jurnal Intisari Sains Medis Vol.10, No.3 P-ISSN.2503-3638 dengan judul faktor – faktor yang mempengaruhi kejadian kurang energi kronis (KEK) pada ibu hamil di wilayah kerja UPT Puskesmas Jembrana, Bali dengan hasil sebagian besar mayoritas ibu hamil tidak bekerja (91,7%). Menurut asumsi peneliti hubungan pekerjaan dengan kejadian KEK yaitu berdasarkan mayoritas di puskesmas Carenang Kabupaten Serang adalah tidak ibu rumah tangga ( IRT), yang mana pekerjaan IRT merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan di karenakan pekerjaan yang hanya mengurus rumah tangga yang tidak ada habis- habisnya sehingga membuat ibu menjadi lelah dan stres. Sesuai menurut pendapat Walker dan Thompson (Mumtahinnah, 2011) ibu rumah tangga adalah wanita yang telah menikah dan tidak bekerja, menghabiskan sebagian waktunya untuk mengurus rumah tangga dan mau tidak mau setiap hari akan menjumpai suasana yang sama serta tugas–tugas rutin.

Hasil data berdasarkan hubungan antara status ekonomi dengan kejadian KEK didapatkan hasil Asym.Sig < 0,05 dengan nilai 0,000 yang artinya terdapat hubungan antara status ekonomi dengan kejadian KEK. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya pada Jurnal Intisari Sains medis Vol.10, No.3 P-ISSN.2503-3638 dengan judul faktor – faktor yang mempengaruhi kejadian kurang energi kronis (KEK) pada ibu hamil di wilayah kerja UPT Puskesmas Jembrana, Bali dengan hasil yaitu hasil analisis dengan uji statistik menggunakan Fisher’s Exact dan perhitungan nilai Odds Ratio (OR) dengan taraf kepercayaan (IK) 95%, dapat diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara status ekonomi dengan kejadian KEK pada ibu hamil (p = 0,000). Nilai OR = 115,0 (IK = 9,3 – 1418,0) menunjukkan bahwa probabilitas kejadian ibu hamil KEK terhadap status ekonomi rendah adalah 115 kali lebih tinggi daripada ibu hamil tidak KEK. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa status ekonomi rendah meningkatkan probabilitas risiko terjadinya KEK pada ibu hamil 115 kali lebih kuat daripada ibu hamil dengan status ekonomi tinggi.

Hasil data berdasarkan hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang gizi ibu hamil di dapatkan hasil Asym.Sig < 0,05 dengan nilai 0,000 yang artinya terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan kejadian KEK. Penelitian ini sejalan oleh Fitrianingtyas, 2018 pada Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol.6 No.2 yang menyatakan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan tentang gizi (p value = 0,004) Oleh karena nilai p < α (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan proporsi kejadian Kurang Energi Kronis (KEK) responden yang memiliki pengetahuan tidak baik dan responden yang memiliki pengetahuan baik (ada hubungan antara pengetahuan dengan Kejadian Kurang Energi Kronis). Berdasarkan penelitian pada Jurnal Dinamika Kesehatan Vol. 5 No 2 (2014) dengan judul Hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) dengan Hasil uji statistik dilihat dari nilai Coefficient Correlation didapatkan 0,897 dan tingkat keeratan dalam rentang 0,800 – 1,000 bahwa hubungan pengetahuan kejadian KEK memiliki hubungan sangat kuat. Demikian juga bila dilihat dari nilai Coefficient Correlation didapatkan 0,867 dan tingkat keeratan dalam rentang 0,800 – 1,000 bahwa hubungan sikap dengan kejadian KEK memiliki hubungan sangat kuat.

Hasil data berdasarkan pengaruh efektifitas konseling gizi dengan kejadian KEK menggunakan uji regresi ordinal di dapatkan hasil semakin tinggi pengetahuan ibu hamil tentang pengetahuan dengan pemberian konseling gizi maka cendrung semakin menurun angka kejadian KEK pada ibu hamil di Puskesmas Carenang Kabupaten Serang. Setiap penurunan 1 % pada pengetahuan dengan pemberian konseling gizi maka akan meningkatkan probabilitas kejadian KEK sebesar (0,730) dan setiap peningkatan pengetahuan dengan pemberian konseling gizi maka akan menurunkan probabititas angka kejadian KEK sebesar (– 1,694). Artinya bahwa pemberian konseling sangatlah penting bagi tenaga kesehatan berikan kepada ibu hamil, karena pemberian konseling dalam hal semua program penurunan angka kejadian KEK merupakan salah satu program pemerintahan dalam Undang-undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 Bab VIII pasal 141 menyatakan bahwa upaya perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat, peningkatan mutu gizi yang dimaksud dilakukan melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Amanah tersebut telah ditindaklanjuti sesuai Peraturan Menteri Kesehatan nomor 23 tahun 2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi

Pada penelitian yang sama oleh peneliti dengan judul pengaruh konseling gizi di Puskesmas pada ibu hamil trimester III penderita KEK terhadap berat badan bayi Baru Lahir di Kabupaten Jember terdapatnya pengaruh konseling dengan asupan energi dan protein.

program pemberian konseling sudah ada pada Puskesmas Carenang Kabupaten Serang, namun untuk mendapatkan nilai baik atau nilai maksimal maka teknik dalam penyampaian konseling gizi secara berulang – ulang sampai ibu hamil tersebut lebih mudah di pahami. Hal ini sesuai teori Notoatmodjo,2010 bahwa Konseling menumbuhkan kerjasama dan komunikasi yang baik antar konselor dengan responden dengan menciptakan suasana yang nyaman agar konselor dapat menggali seberapa jauh pengetahuan responden terhadap asuhan gizi yang selama ini diketahui dan di terapkan. Peningkatan pengetahuan terjadi karena adanya faktor pengulangan informasi yang diberikan pada saat konseling. Informasi yang diberikan secara berulang-ulang untuk meningkatkan pengetahuan seseorang

KESIMPULAN

  1. Mayoritas umur ibu hamil 21-35 tahun, berpendidikan SMA, Pekerjaan sebagai IRT, Status ekonomi kurang, tidak pernah mendapatkan konseling gizi dan tidak mengalami KEK
  2. Pengetahuan sebelum di berikan konseling gizi pengetahuan kurang dan sikap negatif, setelah di berikan konseling gizi mayoritas pengetahuan cukup dan sikap positif
  3. Terdapatnya pengaruh antara pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, pengetahuan dan sikap dengan kejadian KEK
  4. Tidak terdapatnya pengaruh antara umur terhadap kejadian KEK
  5. Terdapatnya pengaruh efektifitas konseling gizi terhadap kejadian KEK

SARAN

  1. Bagi pelayanan kesehatan atau pihak kesehatan khususnya bidan untuk memberikan informasi kepada tenaga kesehatan dalam hal pemberian konseling gizi dengan cara penyampaian berulang – ulang agar target dan sasaran dalam memberikan pengetahuan dapat diterima secara maksimal.
  2. Bagi hamil, agar memperluas pengetahuan dan ikut program pemerintah dalam hal tentang gizi untuk mengurangi resiko terjadinya KEK pada masa kehamilan.
  3. Bagi peneliti selanjutnya, untuk melakukan penelitian dengan kejadian KEK pada ibu hamil dengan judul penelitian yang lebih maksimal dalam variabel yang di teliti yang berkaitan dengan kejadian KEK pada ibu hamil.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aldriana, Nana. 2021. “Pengendalian Kejadian Kekurangan Eenergi Kronik (KEK) Pada Masa Kehamilan Di Wilayah Kerja Puskesmas Rambah.” JOURNAL : MATERNITY AND NEONATAL.
  2. Andini, Fauziah Rizki. 2020. “Hubungan Faktor Sosio Ekonomi Dan Usia Kehamilan Dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronis Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Prambontergayang Kabupaten Tuban.” Amerta Nutrition. doi: 10.20473/amnt.v4i3.2020.218-224
  3. Dictara, Ahmad Alvin, Dian Isti Angraini, Diana Mayasari, and Aila Karyus. 2020. “Hubungan Asupan Makan Dengan Kejadian Kurang Energi Kronis ( KEK ) Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukaraja Kota Bandar Lampung.” Majority.
  4. Fiari, TMI, S. Suprida, … Y. Yulianto-of Maternal and, and undefined 2021. 2021. “Risk Factors Of Chronic Energy Lack In Pregnant Women.” Jurnal.Poltekkespalembang.Ac.Id.
  5. Fitrianingtyas, Indriati, Fenti Dewi Pertiwi, and Wina Rachmania. 2018. “FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KURANG ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS WARUNG JAMBU KOTA BOGOR.” HEARTY. doi: 10.32832/hearty.v6i2.1275.
  6. Fitriani, Asnidar, and Suhartini Suardi. 2019. “The Effect Of Health Education About Balanced Nutrition On The Level Of Pregnant Women Knowledge Who Suffers Chronic Energy Lacks.” Jurnal Life Birth.
  7. Hani, Umu, and Luluk Rosida. 2018. “Gambaran Umur Dan Paritas Pada Kejadian KEK.” JHeS (Journal of Health Studies). doi: 10.31101/jhes.438.
  8. Husna, Asmaul, Fauziah Andika, and Nuzulul Rahmi. 2020. “DETERMINAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) PADA IBU HAMIL DI PUSTU LAM HASAN KECAMATAN PEUKAN BADA KABUPATEN ACEH BESAR.” JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE. doi: 10.33143/jhtm.v6i1.944
  9. Khasanah, Siti Nur, Dhita Aulia Octaviani, and Intan Nugraheni. 2020. “The Effect of Green Bean Extract To Increase of Pregnant Women’s Upper Arm Circumference in The Primary Health Care Center of Gubug I Grobogan Regency.” Journal of Midwifery Science: Basic and Applied Research. doi: 10.31983/jomisbar.v2i2.6515.
  10. Kesehatan, Jurnal Ilmiah, Sandi Husada, Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, and Artikel Info. 2020. “Effects of Adolescent Pregnancy on the Occurrence of Anemia and KEK in Pregnant Women.” Juni. doi: 10.35816/jiskh.v10i2.347.
  11. Nur’aini, Fadiyah, Ichayuen Avianty, and Tika Noor Prastia. 2021. “Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kurang Energi Kronis(KEK) Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Tegal Gundil Bogor TAHUN 2020.” PROMOTOR. doi: 10.32832/pro.v4i3.5589.
  12. Nur Cahya Rachmawati, Yulia Lanti Retno Dewi, and Vitri Widyaningsih. 2019. “Multilevel Analysis on Factors Associated with Occurrence Chronic Energy Deficiency among Pregnant Women.” Journal of Maternal and Child Health. doi: 10.26911/thejmch.2019.04.06.08.
  13. Novita, Elfira Sri Futriani, and Lia Idealistiana. 2021. “Hubungan Paritas Dengan Kekurangan Energi Kronik Pada Ibu Hamil  Di Puskesmas Danau Indah.” JURNAL ANTARA KEBIDANAN.
  14. Novitasari, Yayuk Dwi, Firdaus Wahyudi, and Arwinda Nugraheni. 2019. “Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK) Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Rowosari Semarang.” Diponegoro Medical Journal (Jurnal Kedokteran Diponegoro).
  15. Nurdika Parsya, Asnidar, and Haerani. 2021. “Factors Associated With Chronic Lack of Energy In Pregnant Women.” Jurnal Life Birth. doi: 10.37362/jlb.v5i3.752
  16. Rohiman, Imas Rafiyah, and . Sukmawati. 2019. “Characteristic Of Pregnant Women With The Chronic Energy Deficieny At The PHC Of Pasundan Garut.” Journal of Maternity Care and Reproductive Health. doi: 10.36780/jmcrh.v2i1.67.
  17. Sari, Liya Lugita. 2020. “Faktor -Faktor Yang Berhubungan Dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK) Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Seginim Bengkulu Selatan.” Jurnal Sains Kesehatan. doi: 10.37638/jsk.27.1.23-29.
  18. Safrida Sitompul, Henni. 2021. “Relationship Between Diet Chronic Energy Lack In Preegnant Women In Trimester.” MORFAI JOURNAL. doi: 10.54443/morfai.v1i2.99.
  19. Simbolon, Demsa. 2018. “Pencegahan Dan Penanggulangan Kurang Energi Kronis (KEK) Dan Anemia Pada Ibu Hamil.” in Cv Budi Utama.
  20. Siregar, Annisa Febriana, Jelita Manurung, and Wira Maria Ginting. 2021. “Pendampingan Ibu Hamil Dalam Penanggulangan Kejadian KEK Di Puskesmas Tinggi Raja.” JURNAL PENGMAS KESTRA (JPK). doi: 10.35451/jpk.v1i1.719.
  21. Simbolon, Demsa, Antun Rahmadi, and Jumiyati Jumiyati. 2019. “Pengaruh Pendampingan Gizi Terhadap Perubahan Perilaku Pemenuhan Gizi Ibu Hamil Kurang Energi Kronik (KEK).” Jurnal Kesehatan. doi: 10.26630/jk.v10i2.1366.
  22. Prawita, Arsy, Ari Indra Susanti, and Puspa Sari. 2017. “Survei Intervensi Ibu Hamil Kurang Energi Kronik (Kek) Di Kecamatan Jatinangor Tahun 2015.” Jurnal Sistem Kesehatan. doi: 10.24198/jsk.v2i4.12492
  23. Tinggi, Sekolah, Ilmu Kesehatan, Muhammadiyah Klaten, Chori Elsera, Agus Murtana, Endang Sawitri, Uus Seila, and Oktaviani Stikes. 2021. “Faktor Penyebab Kekurangan Energi Kronik (Kek) Pada Ibu Hamil: Study Literature.” Proceeding of The URECOL
  24. Umisah, Igna Nur’Arofah, and Dyah Intan Puspitasari. 2017. “Perbedaan Pengetahuan Gizi Prakonsepsi Dan Tingkat Konsumsi Energi Protein Pada Wanita Usia Subur (WUS) Usia 15-19 Tahun Kurang Energi Kronis (KEK) Dan Tidak KEK Di SMA Negeri 1 Pasawahan.” Jurnal Kesehatan. doi: 10.23917/jurkes.v10i2.5527.

Pengaruh Perbedaan Terapi Musik dengan Kombinasi Terapi Musik Klasik dan Senam Yoga terhadap Penurunan Nyeri Haid pada Siswi SMP

13

Suryati and Olivia Nency (Editor)

ABSTRAK

Berdasarkan survey awal pada remaja putri di sekolah SMP Islam Al-Hidayah pada siswi tersebut peneliti memberikan pertanyaan dalam bentuk wawancara di dapatkan hasil dari 10 siswa putri mengalami nyeri haid dan harus izin untuk tidak sekolah dan mayoritas seluruhnya mengatakan untuk penanganan nyeri haid dengan konsumsi obat – obatan penghilang nyeri yang beredar di pasaran ataupun minum jamu kunyit asem.. Metode pada penelitian ini menggunakan Quasi Eksperiment melalui pendekatan Pre-Post Test Design di mana sampel diambil menggunakan accidentaly sampling Analisis data menggunakan uji Independen sampel T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Berdasarkan Uji Mann- Whitney di dapatkan Mean Rank pada perlakuan kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga merupakan tindakan dengan hasil ada kecepatan penurunan nyeri haid dengan nilai 10,50 di bandingkan perlakuan terapi musik saja dengan nilai 30,50. Hasil uji Independen sampel T-test (0,000< 0,05) artinya terdapat perbedaan signifikan antara perlakuan terapi musik klasik dengan kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga pada siswi Siswi SMP Islam AL- Hidayah Ciakar Di Kabupaten Tangerang Sehingga diharapkan penelitian ini mampu memberikan informasi dan edukasi dalam menurunkan nyeri haid dengan menggunakan metode kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga.

Kata Kunci : Terapi musik klasik, kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga, penurunan nyeri haid

PENGANTAR

Dismenore adalah keadaan nyeri di bagian abdomen, kram, dan sakit punggung serta dapat mengganggu aktivitas sehari- hari. Dismenore dibedakan menjadi dua yaitu dismenore primer dan dismenore sekunder. Dismenore primer terjadi karena produksi prostaglandin yang lebih besar sehingga menyebabkan kontraksi uterus, iskemia uterus, dan nyeri pelvis. Dismenore sekunder terjadi akibat berbagai kondisi patologis seperti endometriosis, salfingitis, dan kelainan duktus. (Kusmiran, 2011).

Salah satu dampak yang terjadi pada saat nyeri menstruasi adalah ketidakhadiran baik ditempat kerja maupun di sekolah yang dapat mengakibatkan prestasi turun, Hal inilah yang memerlukan penanganan yang cukup serius bagi perempuan yang mengalami nyeri saat menstruasi sehingga tidak menagnggu aktifitas sehari-hari. Didukung oleh penelitianYulinda mengatakan bahwa beberapa remaja putri sering tidak mengikuti perkuliahan dan tidak dapat hadir saat kuliah karena sakit saat menstruasi yang berakibat pada berkurangnya presentasi kehadiran dan berdampak pada penguasaan topik mata kuliah. (Yulinda 2017).

Upaya penanganan disminore dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu farmakologi dengan analgesik dan hormonal sedangkan secara dan Pengobatan nonfarmakologi dapat dilakukan berbagai cara seperti kompres hangat, massage, latihan fisik, dan terapi relaksasi seperti terapi akupuntur dan terapi akupresur (Bobak, 2004). Salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian dismenorea saat haid adalah kebiasaan olahraga. Olahraga adalah suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang melibatkan gerakan tubuh berulang – ulang dan ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani (Angel et al., 2015).

Wanita Indonesia yang mengalami dysmenorhe lebih banyak mengatasinya dengan mengkonsumsi obat-obatan penghilang rasa nyeri yang beredar dipasaran. Sebagian masyarakat mempunyai anggapan yang salah bahwa nyeri ini dapat hilang dengan sendirinya apabila wanita yang bersangkutan menikah, sehingga mereka membiarkan gangguan tersebut. (Marlia, 2020).

Salah satu olah raga yang dapat meredakan rasa nyeri yaitu dengan melakukan senam yoga, hal ini di buktikan dengan riset berdasarkan hasil penelitian, kelompok eksperimen setelah diberikan terapi yoga mengalami penurunan skala nyeri haid yaitu tidak nyeri dan nyeri ringan, sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberikan terapi yoga juga mengalami penurunan skala nyeri haid yaitu nyeri ringan, nyeri sedang dan nyeri berat. Berlatih yoga meningkatkan sirkulasi darah keseluruh tubuh, meningkatkan kapasitas paru saat bernafas, mengurangi ketegangan tubuh, fikiran dan mental, serta mengurangi rasa nyeri. Selain itu yoga juga dipercaya dapat mengurangi cairan yang menumpuk di bagian pinggang yang menyebabkan nyeri saat haid (Amalia, 2015).

Terapi musik adalah terapi kesehatan menggunakan musik yang bertujuan untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, kognitif, dan sosial bagi individu dari berbagai kalangan usia dengan cara mengalihkan perhatian seseorang pada hal-hal lain sehingga akan lupa pada nyeri yang dialami, dengan demikian akan menurunkan kewaspadaan terhadap nyeri bahkan meningkatkan toleransi terhadap nyeri (Suhartini, 2008) Selain itu, Terapi akupresur secara empiris terbukti dapat membantu produksi hormon endorphin pada otak yang secara alami dapat membantu menawarkan rasa sakit saat menstruasi (Hartono, 2012)

Berdasarkan survey awal pada remaja putri di sekolah SMP Islam Al-Hidayah pada siswi tersebut peneliti memberikan pertanyaan dalam bentuk wawancara di dapatkan hasil dari 10 siswa putri mengalami nyeri haid dan harus izin untuk tidak sekolah dan mayoritas seluruhnya mengatakan untuk penanganan nyeri haid dengan konsumsi obat – obatan penghilang nyeri yang beredar di pasaran ataupun minum jamu kunyit asem . Berdasarkan uraian latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang terapi non farmakologi dengan judul “Pengaruh Perbedaan Terapi Musik Dengan Kombinasi Terapi Musik Klasik Dan Senam Yoga Terhadap Penurunan Rasa Nyeri Haid Pada Siswi SMP Islam AL- Hidayah Ciakar Di Kabupaten Tangerang

METODE

Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperiment dengan pendekatan pre-post test pada kedua kelompok yang diberikan metode pemberian coklat dan relaksasi nafas dalam.

Populasi dari penelitian yaitu seluruh siswi SMP Islam pada kelas 7,8 dan 9 dilakukannya penelitian yaitu pada tanggal 21 – 23 Mei 2022. Pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik accidental sampling di mana sampel yang diambil hanya siswi yang sedang mengalami haid dan terdapat nyeri pada haid pada hari dilakukannya penelitian, jumlah sampel sebanyak 20 orang yang terbagi 2 kelompok yaitu kelompok 1 berjumlah 10 orang untuk eksperimen terapi musik klasik dan 1 kelompok berjumlah 10 orang eksperimen kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga. berdasarkan dengan kriteria inklusi yaitu siswi bersedia menjadi responden, sedang hadi dan merasa nyeri haid, tidak mengkonsumsi obat dan minuman untuk menurunkan nyeri haid, kriteria eksklusi yaitu siswi mengalami gangguan reproduksi dan sedang sakit pada saat dilakukan penelitian.

Peneliti menggunakan waktu dalam bentuk stopwatch sebagai variabel dependen untuk mengetahui pada detik berapakah saat dilakukan perlakuan siswi mengalami penurunan rasa nyeri haid, lalu peneliti memberikan lembar observasi pre test yang diberikan setelah siswi menyatakan setuju menjadi responden penelitian, selanjutnya peneliti memberikan metode sesuai dengan kelompok pemberian metode, dan setelahnya peneliti melakukan post-test dengan memberikan lembar observasi untuk mengetahui waktu penurunan rasa nyeri haid. Kemudian data penurunan nyeri haid dan metode pemberian diolah dengan menggunakan analisis univariat, sedangkan untuk mengidentifikasi kesetaraan karakteristik responden, penurunan nyeri haid yang dialami dengan teknik terapi musik klasik dan kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga dengan menggunakan uji Independen Sampel T-tes (p-value < α (0,05)).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa pada penilaian terapi musik klasik untuk penurunan nyeri haidnya lebih lama di bandingkan dengan kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga yaitu penilaian terapi musik klasik rata-rata penurunan rasa nyeri haid sebesar 577,75 detik dan Standar Deviation yaitu 42,457, penurunan nyeri haid minimal 500 detik dan maksimal 680 detik Pada penelitian hamper sama dengan penelitian sebelumnya oleh Firsty Ayu Paramitha, 2018 dengan judul penelitian yaitu Perbedaan Waktu Pemberian Terapi Musik Klasik ( Mozart) terhadap tingkat nyeri haid pada remaja putri dengan hasil adalah Setelah dilakukan uji statistik lanjut maka didapatkan ada perbedaan atau lebih efektif apabila terapi musik klasik (mozart) didengarkan selama 30 menit.. Menurut asumsi peneliti terapi musik klasik di lakukan secara efektifitas dalam penurunan waktu dala hitungan jam yaitu selama 30 menit, berdasarkan hasil dari penelitian peneliti pada uji coba terapi musik klasik di dapatkan hasil maksimal 680 detik, artinya butuh waktu yang lama dalam penurunan nyeri haid.penelitian ini juga sejalan dengan teori Menurut Qittun (2008) waktu pelaksanaan terapi musik waktu yang ideal untuk mendengarkan musik selama kurang lebih 30 menit hingga satu jam tiap hari, namun jika tidak memiliki waktu yang cukup, 10 menit juga bisa menjadi efektif, karena selama waktu 10 menit musik telah membantu pikiran seseorang beristirahat (Rahmawati, 2010).

Pada hasil penelitian kombinasi terapi musik dan senam yoga di dapatkan bahwa terapi secara kombinasi memiliki nilai lebih cepat dalam penurunan nyeri haid di bandingnkan dengan terapi musik klasik saja yaitu di dapatkan hasil nilai rata – rata penurunan nyeri haid sebesar 267,00, nilai standar deviation 65,059, nilai maksimal penurunan nyeri haid yaitu 380 detik dan nilai minimal penurun nyeri haid yaitu 200 detik.

Menurut Elva Febri Ashari, 2020 dalam naskah publikasi dengan judul pengaruh yoga terhadap penurunan nyeri Dismenorea pada remaja putri tahun 2020 yang menyatakan dari hasil analisis beberapa artikel dalam Literature Review dapat ditarik kesimpulan bahwa yoga dapat mempengaruhi penurunan nyeri dismenorea pada remaja putri, melakukan yoga mampu menghasilkan hormone endorphin yang dapat mengurangi nyeri saat menstruasi, yoga merupakan teknik relaksasi yang member kesehatan fisik dan mental, yoga dapat dijadikan alternative lain untuk menghilangkan nyeri saat menstruasi dan yoga mudah untuk dilakukan oleh remaja dan hemat biaya. penelitian sesuai dengan teori (sindhu,2015) Senam yoga pada masa menstruasi merupakan latihan yang terdiri dari gerakan fisik, pernafasana dalam, dan meditasi untuk meringankan masalah yang muncul saat menstruasi. Posisi yoga di lakukan saat sedang menstruasi terdiri dari posisi yang merilekkan tubuh dengan metode pernafasan yang dapat membuat kondisi mental menjauh lebih baik. Posisi yoga untuk menstruasi dapat memberikan kekuatan dan menstimulasi otak, dada, paru – paru dan hati, serta dapat mempertahankan keseimbangan hormone dalam tubuh. Berdasarkan Uji Mann- Whitney di dapatkan Mean Rank pada perlakuan kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga merupakan tindakan dengan hasil ada kecepatan penurunan nyeri haid dengan nilai 10,50 di bandingkan perlakuan terapi musik saja dengan nilai 30,50. Uji perbedaan antara terapi musik dengan kombinasi terapi musik dan senam yoga menggunakan uji Indepent sample t-test didapatkan hasil yang memiliki nilai signifikan 0,000 (< 0,05). Hasil tersebut memiliki arti bahwa terdapat perbedaan signifikan antara perlakuan terapi musik klasik dengan kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga pada siswi Siswi SMP Islam AL- Hidayah Ciakar Di Kabupaten Tangerang.

Penelitian ini sejalan dengan Aulia Elvianti, 2019 dengan judul Efektivitas pemberian terapi yoga dan teknik distraksi musik klasik philharmonic orchestra terhadap intensitas nyeri haid (dismenorea) pada remaja putri di dapatkan hasil adanya perbedaan efektivitas antara kedua kelompok perlakuan bahwa terapi yoga lebih efektif dibandingkan dengan teknik distraksi musik klasik philharmonic orchestra dalam menurunkan intensitas nyeri hadi ( dismenorea) pada remaja putri kelas X di MAN Madiun. Manurut asumsi peneliti berdasarkan teknik terapi musik dan kombinasi terapi musik dan senam yoga sama- sama memiliki kesamaan untuk salah satu tindakan non farmakologik secara terapis. akan tetapi, di bandingkan antara terapi musik dan kombinasi terapi musik dan senam yoga ternyata di temukan penurunan nyeri haid yang lebih cepat pada tindakan tersebut adalah kombinasi terapi musik dan senam yoga. perpaduan antara terapi musik dan senam yoga dengan tujuan untuk mengeluarkan hormone endorphin sehingga penurunan nyeri haid menjadi lebih cepat. Hal ini di lihat berdasarkan teori menurut Jain, 2011 berpendapat bahwa yoga merupakan perpaduan antara gerakan, penenangan pikiran, latihan nafas dan meditasi sedangkan Musik klasik adalah musik yang komposisinya lahir dari budaya Eropa pada zaman klasik atau kuno. Dibandingkan dengan musik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada musik klasik mampu merangsang dan memperdayakan kreatifitas serta menenangkan atau memberi semangat dan yang jelas musik klasik berperan dalam mempengaruhi perasaan dan emosi (Lidyansyah, 2013)

KESIMPULAN

  1. Penilaian jenis kelompok terapi musik klasik rata-rata penurunan rasa nyeri haid sebesar 577,75 detik dan Standar Deviation yaitu 42,457, penurunan nyeri haid minimal 500 detik dan maksimal 680 detik
  2. Penilaian jenis kelompok kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga di dapatkan hasil nilai rata – rata penurunan nyeri haid sebesar 267,00, nilai standar deviation 65,059, nilai maksimal penurunan nyeri haid yaitu 380 detik dan nilai minimal penurun nyeri haid yaitu 200 detik.
  3. Berdasarkan Uji Mann- Whitney di dapatkan Mean Rank pada perlakuan kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga merupakan tindakan dengan hasil ada kecepatan penurunan nyeri haid dengan nilai 10,50 di bandingkan perlakuan terapi musik saja dengan nilai 30,50.
  4. Hasil uji perbedaan antara terapi musik dengan kombinasi terapi musik dan senam yoga menggunakan uji Indepent sample t-test didapatkan hasil yang memiliki nilai signifikan 0,000 (< 0,05). Hasil tersebut memiliki arti bahwa terdapat perbedaan signifikan antara perlakuan terapi musik klasik dengan kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga pada Siswi SMP Islam AL- Hidayah Ciakar Di Kabupaten Tangerang.

SARAN

  1. Bagi pihak sekolah

Hasil penelitian ini dalam pelayanan sekolah di SMP Islam Al-Hidayah Ciakar Kabupaten Tangerang maupun ditempat sekolah lain dapat dijadikan sebagai kebijaksanaan memberikan memberikan pengetahuan dalam tindakan dalam penurunan nyeri haid sehingga mengurangi konsumsi obat – obatan pada siswi tersebut.

  1. Bagi Tenaga Kesehatan

Diharapkan bagi tenaga kesehatan khusunya kebidanan dibidang komplementer agar lebih menggali lebih mendalam tentang penanganan dalam mengurangi konsumsi obat- obatan dengan tindakan non farmakologik khususnya kombinasi terapi musik dan senam yoga.

  1. Bagi Remaja Putri

Adanya pemahaman pada remaja putri dalam penangan mngurangi rasa nyeri haid, sehingga pelaksanaan kombinasi terapi musik dan senam yoga dapat dilakukan sendiri dan biaya lebih hemat.

  1. Bagi Institusi Pendidikan

Adanya penelitian ini disarankan bagi institusi pendidikan sebagai masukan ilmiah dan referensi diskusi tambahan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan tentang kombinasi terapi musik dan senam yoga.

  1. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat melanjutkan penelitian yang sejenis, tetapi dalam penanganan penurunan nyeri haid dengan metode yang lain sehingga diperoleh hasil yang lebih efektif serta dapat memperbesar jumlah sampel dalam penelitian tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Laila, N. N. (2011). Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta : Salemba Medika
  2. Aulia. (2009). Kupas tuntas menstruasi. Yogyakarta: Milestone.
  3. Hartono. (2007). Stress dan diemenore. Jakarta: Puspa Suara.
  4. Nursalam.(2011). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan pedoman skripsi, tesis, dan instrumen penelitian keperawatan. Jakarta : Medika Salemba.
  5. Proverawati, A. & Misaroh, S. (2009). Menarche menstruasi pertama penuh makna. Yogyakarta: Nuha Medika.
  6. Thaniez. (2009). Dasar-dasar obstetri dan ginekologi. Jakarta : Hipokrates
  7. Sari, W., Indrawati, L. & Harjanto, B. D. (2012). Panduan lengkap kesehatan wanita. Jakarta: Penebar Swadaya Grup.
  8. Amalia, Astrid (2015). Tetap Sehat dengan Yoga. Jakarta : Panda Medika
  9. Andira,D. (2010). Seluk Beluk Kesehatan Reproduksi Wanita. Jogjakarta:Aplus Books
  10. Holder A (2009). Dysmenorrhea. Jakarta : Bina Pustaka
  11. Judha, Mohamad (2012). Teori Pengukuran Nyeri & Nyeri Persalinan. Solo : Rahma Surakarta
  12. Kusmiran, Eny (2013). Kesehatan Reproduksi dan Wanita. Jakarta : Selemba Medika
  13. Notoatmodjo, Sukidjo (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
  14. Widya, Setta (2015). Panduan Dasar Yoga. Jakarta : PT. Kawan Pustaka
  15. Tamsuri,2007, Konsep Penatalaksanaan Nyeri EGC, Jakarta
  16. Ratnasari, Dhiar. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perataan Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2007-2010. Jurnal Universitas Diponegoro: Semarang
  17. Novia, I. P. 2008. Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Dismenore Primer. The Indonesian Journal Of Public Health 4(3): 97-102.
  18. Prawirohardjo, S. 2013. Ilmu Kebidanan. Yayasan PT Bina Pustaka Sarwono. Jakarta.
  19. Taylor Nelson Sofrens (TNS). 2013. Survei Indeks Pola Hidup Sehat American International Assurance (AIA). Indonesia.
  20. Wati, L. A. 2017. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Derajat Dysmenorrhea Primer pada Remaja. Journal Of Issues in Midwifery 1(2): 1-8.
  21. Ahmad, Nawaz. 2015. Impact of Music on Mood: Empirical Investigation
  22. Astari, Ruri Yuni. 2020. “Effect of Warm Compress, Ginger Drink and Turmeric Drink on The Decrease in The Degree of Menstrual P.” JURNAL KEBIDANAN. doi: 10.31983/jkb.v10i1.5611.
  23. Colin, Vellyza, Buyung Keraman, and Dwi Rolita. 2020. “PENGARUH PEMBERIAN KOMPRES AIR HANGAT TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI DYSMENORRHEA PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 10 KOTA BENGKULU.” Jurnal Vokasi Keperawatan (JVK). doi: 10.33369/jvk.v2i2.10694.
  24. Dhirah, Ulfa Husna, and Aris Natri Sutami. 2019. “Efektifitas Pemberian Kompres Hangat Terhadap Penurunan Intensitas Dismenorea Pada Remaja Putri Di SMAS Inshafuddin Banda Aceh.” JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE. doi: 10.33143/jhtm.v5i2.457.
  25. Fidiarti, Mey, Widyoningsih Widyoningsih, and Engkartini Engkartini. 2018. “PENGARUH LATIHAN ABDOMINAL STRETCHING DAN MUSIK KLASIK TERHADAP INTENSITAS NYERI HAID PADA REMAJA PUTRI.” Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan. doi: 10.26751/jikk.v9i2.437.
  26. Harmawati, Ayu Gustia Ningsih, and Debi Yulia. 2018. “PENGARUH KOMPRES HANGAT JAHE MERAH (Zingiber Officinale Rosc.Var.Rubrum) TERHADAP DERAJAT NYERI MENSTRUASI (DISMENORRHEA) PADA REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 12 SUNGAI PENUH TAHUN 2018.” Jurnal Kesehatan Saintika Meditory.
  27. Ituga, Almahida Salnaf, Usrah Taqiyah, and Tutik Agustini. 2020. “Pengaruh Pemberian Terapi Musik Klasik Terhadap Penurunan Dismenore Primer Pada Remaja Putri.” Window of Nursing Journal.
  28. Khulafa’ur Rosidah, Lely, and Adelina Diah Permata Larasati. 2019. “PENGARUH KOMPRES HANGAT TERHADAP PENURUNAN DISMINORE PRIMER PADA REMAJA PUTRI (Di Pondok Pesantren Queen Al-Falah Ploso Mojo Kediri).” JURNAL KEBIDANAN. doi: 10.35890/jkdh.v5i1.63.
  29. Hartatik, Fransiska Sri, and Diah Mulia Putri. 2015. “Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Nyeri Haid Pada Mahasiswi Semester VI Akper William Booth Surabaya.” Jurnal Keperawatan
  30. Lia, Natalia. 2018. “Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Intensitas Nyeri Menstruasi (Dysmenorrhea) Pada Siswi Kelas x Di Smk Ypib Majalengka Kabupaten Majalengka.” Jurnal Kampus Stikes YPIB Majalengka.
  31. Natalia, Lia. 2019. “PENGARUH KOMPRES HANGAT TERHADAP INTENSITAS NYERI MENSTRUASI (DYSMENORRHEA) PADA SISWI KELAS X DI SMK YPIB MAJALENGKA KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2018.” Jurnal Kampus STIKES YPIB Majalengka. doi: 10.51997/jk.v7i1.59.
  32. Munthe, Lijah. 2021. “PENGARUH PEMBERIAN KOMPRES AIR HANGAT TERHADAP NYERI DISMENOREA PADAREMAJA DI WILAYAH PUSKESMAS SIMALANGALAM.” JIDAN (JURNAL ILMIAH KEBIDANAN). doi: 10.51771/jdn.v1i1.50.
  33. Mahua, Hawa, Sri Mudayatiningsih, and Pertiwi Perwiraningtyas. 2018. “Pengaruh Pemberian Kompres Air Hangat Terhadap Dismenore Pada Remaja Putri Di SMK Penerbangan Angkasa Singosari Malang Hawa.” Nursing News.
  34. Matei, Raluca, and Jane Ginsborg. 2020. “Physical Activity, Sedentary Behavior, Anxiety, and Pain Among Musicians in the United Kingdom.” Frontiers in Psychology. doi: 10.3389/fpsyg.2020.560026
  35. Nida, Rima Maratun, and Defie Septiana Sari. 2021. “PERBEDAAN PENURUNA NYERI DISMENORHEA PADA REMAJA PUTRI ANTARA YANG DIBERIKAN KOMPRES HANGAT DENGAN KOMPRES HANGAT JAHE MERAH (ZINGIBEER OFFICINALE VAR, RUBRUM) (Studi Di Asrama Putri NHM).” Jurnal Kebidanan Dan Kesehatan Tradisional.
  36. Rahmadhayanti, Eka, Rahmalia Afriyani, and Annisa Wulandari. 2017. “Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Penurunan Derajat Nyeri Haid Pada Remaja Putri Di SMA Karya Ibu Palembang.” Jurnal Kesehatan. doi: 10.26630/jk.v8i3.621.
  37. Padilah Siregar, Afrahul, Yulida Effendi Nasution, Verawati D. Lubis, Kebidanan Fakultas Farmasi dan Kesehatan, and Institut Kesehatan Helvetia. 2021. “Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Menstruasi Pada Remaja Putri Di Mas Al-Manar Hamparan Perak Tahun 2020.” Afrahul Padila Siregar.
  38. Susanti, Evy Tri, Rusminah, and Amanda Kartika Putri. 2016. “Kompres Hangat Terhadap Tingkat Nyeri Dismenore.” Jurnal Keperawatan Volume 2, Nomor 1, Juli 2016 Hal 1-6.
  39. Satriawati, Arisda Candra, Esti Nugraheny, and Yuni Kusmiyati. 2020. “The Effect of Combination of Warm Compression and Chocolate Against Menstrual Pain Reduction (Dysmenorrhea) In Teens In SMP Negeri 1 Bangkalan.” Jurnal Ners Dan Kebidanan Indonesia. doi: 10.21927/jnki.2020.8(1).36-42.

Perbedaan Lamanya Pelepasan Tali Pusat Teknik Terbuka dan Tertutup pada Pemeliharaan Tali Pusat

14

Pipin Oktaliani and Lia Idealistiana (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang: Perawatan tali pusat merupakan upaya pengobatan untuk mencegah terjadinya infeksi, perawatan tali pusat yang kurang baik, mencuci tangan yang tidak benar juga dapat menyebabkan terjadinya infeksi tali pusat Selain itu tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi pada tali pusat adalah dengan melakukan perawatan tali pusat yang baik dan benar. . Ada 2 jenis teknik perawatan tali pusat, yaitu teknik modern dan teknik tradisional. Tujuan: Untuk mengetahui dan melihat perbedaan antara teknik tertutup dan terbuka dalam perawatan tali pusat di wilayah Desa Pasar Kemis. Metodologi: Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan desain posttest group design. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Kutabumi, Kec. Pasar Kemis. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang berdomisili pada tahun 2022. Alat atau instrumen penelitian ini antara lain lembar identitas bayi dan orang tua, standar operasional prosedur (SOP) perawatan tali pusat dan format observasi perbedaan lama persalinan. waktu pelepasan tali pusat dengan teknik terbuka dan tertutup. Hasil Penelitian : Berdasarkan hasil uji beda panjang lepasnya tali pusat pada teknik terbuka dan tertutup pada pemeliharaan tali pusat di Kecamatan Pasar Kemis dengan menggunakan uji Mann Whitney diperoleh nilai yang signifikan 0,799 > 0,05 artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna lama lepasnya tali pusat pada teknik terbuka dan tertutup pada pemeliharaan. tali pusat di Kecamatan Pasar Kemis. Kesimpulan: Rata-rata lama pelepasan tali pusat pada kelompok terbuka adalah 6,00 yaitu 6 hari, panjang pelepasan tali pusat minimum untuk kelompok terbuka adalah 3 hari, sedangkan panjang pelepasan tali pusat maksimum untuk kelompok terbuka adalah 14. hari. Saran : Instansi kesehatan harus memiliki Standard Operating Procedure (SOP) tentang perawatan tali pusat terbuka. Puskesmas dan rumah sakit harus memberikan informasi kepada ibu atau orang tua bayi tentang cara merawat tali pusat yang benar saat di rumah.

Katakunci : Pelepasan Tali Pusat, Teknik Terbuka, Teknik Tertutup

LATAR BELAKANG

Perawatan tali pusat adalah upaya perawatan untuk mencegah infeksi pada tali pusat dengan tindakan sederhana dengan cara di daerah sekitar tali pusat selalu bersih dan kering serta menggunakan sabun sebelum merawat tali pusat (sodikin, 2015). Lama waktu pelepasan plasenta adalah salah satu penyebab dari Kematian Bayi yakni Infeksi pada bayi baru lahir akibat infeksi tali pusat (tetanus neonatorum). WHO melaporkan bahwa sekitar 500.000 bayi baru lahir meninggal setiap tahunnya karena infeksi bakteri. Salah satu penyebabnya adalah praktik pemotongan tali pusat yang tidak steril. (Djami, 2013).

Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKB adalah jumlah kematian bayi dalam usia 28 hari pertama kehidupan per 1000 kelahiran hidup (Wahyuningsih dan Wahyuni, 2017). Infeksi merupakan salah satu penyebab penting tingginya angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir di seluruh dunia.

Pada tahun 2015, WHO (Word Hearth Organization) menemukan angka kematian bayi sebesar 450.000, yang disebabkan karena infeksi tali pusat, Sedangkan negara di Asia Tenggara diperkirakan ada 210.000 kematian bayi yang disebabkan karena perawatan tali pusat yang kurang bersih.

Menurut Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangerang, Banten, menyatakan bahwa kematian bayi setiap 1.000 orang bayi baru lahir mecapai 322 kasus selama tahun 2015, angka kematian bayi pada tahun 2014 per 1.000 kelahiran mencapai 147 bayi (Wahyono, 2015).

Pada saat kehidupan di dalam rahim, paru-paru janin tidak berfungs sebagai alat pernapasan, pertukaran gas dilakukan oleh plasenta. Darah yang kaya oksigen dan nutrisi mengalir dari plasenta ke seluruh tubu janin melalui vena umbilikalis, selanjutnya darah dari janin akan menuju ke plasenta kembali melalui dua arteri umbilikalis yang terdapat dalam tali pusat. Arteri yang mengandung darah yang kotor dan vena mengandung darah yang bersih (Indrayani & Djami, 2016 : 75

Salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi pada tali pusat yaitu dimulai dari pemotongan tali pusat dan pengikatan tali pusat menggunkan teknik aseptic dan alat yang steril. Perawatan tali pusat yang buruk, mencuci tangan yang tidak benar juga dapat menyebabkan terjadinnya infeksi tali pusat. (Davies & McDonald, 2012) selain itu tindakan yang dapat mencegah terjadinnya infeksi pada tali pusat adalah melakukan perawatan tali pusat yang baik dan benar . Teknik perawatan tali pusat ada 2 macam yaitu teknik modern dan tradisional.

Perawatan tali pusat kering adalah merawat tali pusat dengan dibersihkan dan dirawat serta dibalut dengan kassa steril, tali pusat dijaga agar bersih dan kering agar tidak terjadi infeksi sampai tali pusat kering dan lepas. Kasa kering terbuat dari tenunan longgar dan dapat menyerap cairan dengan baik (Depkes RI, 2015). Penggunaan kassa telah dipercaya efektif dan efisien untuk mencegah terjadinya infeksi dan mempercepat putusnya tali pusat. Infeksi tali pusat pada dasarnya dapat dicegah dengan melakukan perawatan tali pusat yang baik dan benar, yaitu dengan prinsip perawatan kering dan bersih (Anwar, 2015). berhubungan dengan infeksi tali pusat masih banyak ditemukan.

Perawatan tali pusat adalah tali pusat yang dirawat dalam keadaan yang steril, bersih dan terhindar dari infeksi tali pusat. Perawatan tali pusat yang baik dan benar akan menimbulkan dampak positif yaitu tali pusat akan putus pada hari ke 5 dan hari 7 tanpa ada komplkasi, sedangkan dampak negative dari perawatan tali pusat yang tidak benar adalah bayi akan mengalami penyakit Tetanus Neonatorum dan dapat mengakibatkan kematian (Rahardjo, 2015)

Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Perbedaan Pengetahuan Ibu Terhadap Lamanya Pelepasan Tali Pusat Teknik Terbuka Dan Tertutup Pada Pemeliharaan Tali Pusat Di Wilayah Kelurahan Puskesmas Pasar Kemis.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, Jenis penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperiment dengan rancangan posttest group design dilakukan dengan melakukan satu kali pengukuran (posttest) pada kelomok kontrol maupun intervensi. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Teknik Terbuka dan Teknik Tertutup, dan Variabel dependen yaitu Pelepasan Tali Pusat. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 responden, yaitu 20 responden untuk kelompok teknik tertutup dan 20 responden untuk kelompok teknik terbuka, dengan teknik sampling menggunakan purposive sampling technique.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Diperoleh rata-rata lama pelepasan tali pusat pada kelompok tertutup yakni 6,35 yakni kurang lebih selama 6 hari, minimum lamanya pelepasan tali pusat untuk kelompok tertutup yakni 3 hari sementara maksimum lamanya pelepasan tali pusat untuk kelompok tertutup yakni 14 hari. Selanjutnya diperoleh rata-rata lama pelepasan tali pusat pada kelompok terbuka yakni 6,00 yakni selama 6 hari, minimum lamanya pelepasan tali pusat untuk kelompok terbuka yakni 3 hari sementara maksimum lamanya pelepasan tali pusat untuk kelompok terbuka yakni 14 hari. Dari data tersebut diperoleh selisih rata-rata lamanya pelepasan tali pusat pada kelompok tertutup dan terbuka yakni 0,35 hari.

Tali pusat bayi pada umumnya akan putus dalam waktu 1-2 minggu jika dirawat dengan kassa alkohol. Jika menggunakan kassa steril sekitar 3-7 hari akan lepas. Secara teori, alkohol akan menguap hingga yang tertinggal dalam kassa hanyalah air. Kassa yang dibiarkan basah lama-kelamaan beresiko infeksi (Mitayani, 2017).

Penggunaan kasa steril yang dililitan pada tali pusat membuat keadaan tali pusat yang semula lembab, kaku dan berbau akan kering lebih cepat karena udara bisa masuk melalui kasa sehingga tali pusat lebih mudah lepas (Sodikin, 2018).

Tujuan perawatan tali pusat untuk menjaga agar tali pusat tetap kering dan bersih, mencegah infeksi pada bayi baru lahir, membiarkan tali pusat terkena udara agar cepat kering dan lepas (Paisal, 2008). Cara persalinan yang tidak steril dan cara perawatan tali pusat dengan pemberian ramuan tradisional meningkatkan terjadinya tetanus pada bayi baru lahir (Ratri Wijaya, 2006).

Berdasarkan hasil uji beda lamanya pelepasan tali pusat teknik terbuka dan tertutup pada pemeliharaan tali pusat di Wilayah Kecamatan Pasar Kemis menggunakan uji Mann Whitney diperoleh nilai signifikan 0.799 > 0,05, artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan lamanya pelepasan tali pusat teknik terbuka dan tertutup pada pemeliharaan tali pusat di Wilayah Kecamatan Pasar Kemis.

Penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Azizah (2015) menunjukkan bahwa waktu lepasnya tali pusat bayi menggunakan perawatan terbuka memiliki rata-rata pelepasan tali pusat 5 – 7 hari (70%) dan < 5 hari (30%). Rerata waktu lepas tali pusat bayi yang dirawat dengan perawatan terbuka lebih cepat yaitu 5-10 hari.

Hasil penelitian Sukarni (2012) menunjukkan bahwa rata-rata lama pelepasan tali pusat pada kelompok yang dirawat secara terbuka adalah 5,6 hari. Hasil penelitian Azizah (2015) dan Sukarni (2012) berbeda dengan penelitian ini karena karakteristik bayi yang diteliti pada penelitian ini adalah bayi sakit.

Pengeringan dan pelepasan tali pusat dipermudah karena terpapar udara sehingga dalam 24 jam warna putih tali pusat menghilang dan berubah menjadi kuning kecoklatan atau kehitaman menjadi kering dan kaku. Pemisahan yang terjadi antara pusat dan tali pusat dapat disebabkan oleh keringnya tali pusat atau diakibatkan oleh terjadinya inflamasi karena terjadi infeksi bakteri. Pada proses pemisahan secara normal jaringan yang tertinggal sangat sedikit, sedangkan pemisahan yang dilakukan oleh infeksi masih menyisakan jaringan dalam jumlah banyak dan waktu terlama adalah 175 jam atau 7,3 hari (Novi, 2015).

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang berkaitan dengan bab sebelumnya, maka dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut:

  1. Distribusi frekuensi Tali pusat bayi pada umumnya akan putus dalam waktu 1-2 minggu jika dirawat dengan kassa alkohol. Jika menggunakan kassa steril sekitar 3-7 hari akan lepas.
  2. rata-rata lama pelepasan tali pusat pada kelompok tertutup yakni 6,35 yakni kurang lebih selama 6 hari, minimum lamanya pelepasan tali pusat untuk kelompok tertutup yakni 3 hari sementara maksimum lamanya pelepasan tali pusat untuk kelompok tertutup yakni 14 hari. Selanjutnya diperoleh rata-rata lama pelepasan tali pusat pada kelompok terbuka yakni 6,00 yakni selama 6 hari, minimum lamanya pelepasan tali pusat untuk kelompok terbuka yakni 3 hari sementara maksimum lamanya pelepasan tali pusat untuk kelompok terbuka yakni 14 hari.
  3. Dari data tersebut diperoleh selisih rata-rata lamanya pelepasan tali pusat pada kelompok tertutup dan terbuka yakni 0,35 hari.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Asiyah, N., Islami, I., & Mustagfiroh, L. (2017). Perawatan Tali Pusat Terbuka Sebagai Upaya Mempercepat Pelepasan Tali Pusat. Indonesia Jurnal Kebidanan.
  2. A.Wawan Dan Dewi M (2018) Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Manusia.Yogyakarta : Nuha Medika
  3. Cuningham, FG., et al,2015. Obstetri Williams Jakarta: EGC.
  4. Handayani, L. A. (2015). Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan tali Pusat Di Bpm Uut Sri Rahayu Kelurahan Rejomulyo Kecamatan Semarang Timur. (Doctoral Dissertation, Fakultas Kedokteran Unissula).
  5. Hastuti, P. (2014). Pengetahuan Ibu Tentang Perawatan Tali Pusat Berhubungan Dengan Waktu Lepas Tali Pusat (Doctoral Dissertation, Universitas’ Aisyiah Yogyakarta).
  6. Jannah, 2017. ASKEB II Persalianan Berbasis Kompetensi.Jakarta:EGC
  7. Kemenkes RI. (2012). Buku Saku Pelayanan Kesehatan Neonatal. Esensial. Direktorat Jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta: Kemenkes RI.
  9. Kemenkes RI. (2014). riset kesehatan dasar. www.depkes.go.id.
  10. Kemenkes (2015). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI 2015.
  11. Nursalam. (2014) Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis. Edisi 3: Jakarta Salemba Medika
  12. Prawirohardjo S. 2014. Buku Acuan Pelayaanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : PT Bina Pustaka.
  13. Purwoastuti, Endang dan Elisabeth S. Walyani. 2016. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Yogyakarta: PT Pustaka Baru
  14. Sarwono Prawirohardjo (2014) . Ilmu Kebidanan .Jakarta :P.T. Bina Pustaka
  15. Sondakh, J. J.2016. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi baru Lahir. Malang: Penerbit Erlangga.
  16. Sodikin, M.Kes (2018) . Perawatan Tali Pusat. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.
  17. Sianturi, E.Organisasi Dan ManajemenPelayananKesehatan. Jakarta : EGC, 2015.
  18. Simsin Penny. 2017. Panduan Lengkap Kehamilan Melahirkan dan Bayi. Jakarta:Archan
  19. Trijayanti, W. R., Martanti, L. E., & Wahyuni, S. (2020). Perbedaan Perawatan Tali Pusat Tertutup dan Terbuka Terhadap Lama Pelepasan Tali Pusat. Midwifery Care Jorunal, 1(2), 13–23.
  20. Walyani, ES & Purwoastuti Th. Endang.Asuhan Kebidanan Persalinan Dan Bayi Baru Lahir. Yogyakarta: 2015.

Pengaruh Kualitas Pelayanan dengan Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap

15

Yeni Sri Mulyani; Iin Indriyani; and Nur Sitiyaroh (Editor)

ABSTRAK

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Saketi Kabupaten Pandeglang ditemukan 80% pasien merasa kurang puas terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati terhadap tingkat kepuasan pasien rawat inap di Puskesmas Saketi Kabupaten Pandeglang. Metode pada penelitian ini menggunakan cross sectional melalui pendekatan point time approach di mana sampel diambil menggunakan total sampling sebanyak 32 responden. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bukti fisilk berpengaruh terhadap kepuasan pasien (p-value 0,005), kehandalan berpengaruh terhadap kepuasan pasien (p-value 0,009), daya tanggap berpengaruh terhadap kepuasan pasien (p-value 0,002), jaminan berpengaruh terhadap kepuasan pasien (p-value 0,013), dan empati berpengaruh terhadap kepuasan pasien (p-value 0,005). Sehingga diharapkan penelitian ini mampu memberikan informasi dan edukasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan untuk memenuhi tingkat kepuasan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan.

Kata Kunci : Bukti Fisik, Kehandalan, Daya Tanggap, Jaminan, Empati, Kepuasan Pasien

PENGANTAR

Sustainable Development Goals (SDG’s) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, meningkatkan kesehatan masyarakat, mempromosikan pendidikan, dan melindungi lingkungan serta perubahan iklim. SDG’s berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030. Dengan pertimbangan untuk memenuhi komitmen pemerintah dalam pelaksanaan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDG’s), pemerintah memandang perlu adanya penyelerasan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

Berdasarkan pertimbangan tersebut pada 4 Juli 2017, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Peraturan Presiden, Perpres Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, sebagaimana disampaikan secara langsung oleh Presiden dalam kesempatan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Hamburg Messe Und Congress, Jerman (7 Juli 2017). Perpres ini menetapkan 17 goals dan 169 target dan selaras dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, dan selanjutnya dijabarkan dalam peta jalan, Rencana Aksi Nasional (RAN), dan Rencana Aksi Daerah (RAD).

Tujuan Pembangunan Sasaran Nasional TPB digunakan sebagai pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi RAN TPB sesuai dengan bidang tugasnya, dan Pemerintah Daerah dalam penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi RAD TPB. Selanjutnya, dalam mencapai sasaran TPB Daerah, Gubernur menyusun RAD TPD 5 (lima) tahunan bersama Bupati/Walikota di wilayah masing-masing.

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Dinas Kesehatan Provinsi Banten tahun (2017-2022) yang secara langsung berkaitan dengan urusan kesehatan memiliki tujuan yang diantaranya, terwujudnya peningkatan kualitas, akses, dan pemerataan pelayanan kesehatan. Tujuan RPJMD tersebut didukung oleh Fasilitas Kesehatan salah satunya adalah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Data dari (Dinkes Provinsi Banten tahun 2021) Menunjukkan sebanyak 157 Puskesmas Non Perawatan dan sebanyak 79 Puskesmas Perawatan yang tersebar di seluruh wilayah Provinsi Banten.

Kabupaten Pandeglang memiliki 36 Puskesmas induk (26 Puskesmas rawat jalan dan 9 Puskesmas rawat inap) (Data Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang tahun 2021). Salah satu Puskesmas rawat inap di Kabupaten Pandeglang adalah Puskesmas Saketi. Pelayanan yang terdapat di Puskesmas Rawat Inap Saketi dibagi menjadi dua bagian yaitu pelayanan rawat jalan dan pelayanan rawat inap. Puskesmas Saketi memiliki 1 Puskesmas pembantu, 2 Poskesdes, dan 1 Polindes.

Puskesmas sebagai salah satu pelayanan kesehatan masyarakat mempunyai tugas pokok memberikan pembinaan kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan dasar yang dapat meningkatkan kepuasan pasien. Kepuasan pasien adalah hasil penilaian dalam bentuk respon emosional (perasaan senang dan puas) pada pasien karena terpenuhinya harapan atau keinginan dalam menggunakan dan menerima pelayanan perawat. Sejalan dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan, maka peningkatan sumber daya manusia menjadi tuntutan masyarakat, sehingga kinerja pelayanan dapat diandalkan, bermutu dan berorientasi kepada pelanggan yang dapat memberikan kepuasan pasien. Tata cara penyelenggaraannya harus juga sesuai dengan standar kode etik yang telah ditetaptkan (Azwar, 2009).

Berdasarkan survey awal yang dilakukan kepada 20 pasien yang pernah menggunakan layanan rawat inap di Puskesmas Saketi, hasil yang didapatkan adalah sebanyak 16 pasien dari 20 pasien merasa tidak puas. Alasan ketidakpuasan pasien antara lain adalah kurang nyamannya kamar mandi karena tidak dijaga kebersihannya, lamanya waktu tunggu mendapatkan pemeriksaan, dan tenaga kesehatan yang kurang ramah (Data Primer tahun 2022). Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Kualitas Pelayanan Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap Di Puskesmas Saketi Kabupaten Pandeglang Tahun 2022.

METODE

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan point time approach. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien rawat inap dan persalinan di Puskemas Saketi Kabupaten Pandeglang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik total sampling dikarenakan jumlah populasi kurang dari 100 responden. Waktu penelitian yaitu pada tanggal 01 – 31 April 2022. Kriteria inklusi penelitian ini yaitu pasien rawat inap perawatan dan persalinan yang telah mendapatkan pelayanan minimal 1 (satu) hari, dapat berkomunkasi dengan baik, dan bersedia menjadi responden. Sehingga didapatkan 32 responden dalam penelitian ini.

Peneliti menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian, dengan menggunaka skala guttman sebagai skala ukur variabel penelitian. Pada tahap pelaksanaan peneliti memastikan calon responden memenuhi kriteria inklusi penelitian, memberikan penjelasan kepada calon responden tentang maksud dan tujuan penelitian, jika calon responden setuju untuk ikut serta dalam penelitian maka calon responden diwajibkan melakukan penandatanganan informed consent, memberikan penjelasan kepada responden mengenai teknik pengisian kuesioner dan setelah pengisian selesai kuesioner dikumpulkan kepada penulis, setelah data didapat proses selanjutnya kemudian analisa data. Pada analisis univariat, didapatkan gambaran distribusi karakteristik responden serta distribusi frekuensi bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan kepuasan pasien. Sedangkan untuk mengidentifikasi pengaruh kualitas pelayanan terhadap tingkat kepuasan pasien menggunakan uji chi square (p-value < α (0,05)).

HASIL DAN DISKUSI

Dalam melakukan penelitian, penulis mengalami beberapa kendala diantaranya keterbatasan responden penelitian dikarenakan jumlah responden yang sedikit yang menurut penulis sendiri kurang menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pada bukti fisik (p value = 0,005), kehandalan (p value = 0,009), daya tanggap (p value = 0,002), jaminan (p value = 0,013), dan empati (p value = 0,005) terhadap tingkat kepuasan pasien.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Andoko, dkk (2018) di Puskesmas Way Halim Kota Bandar Lampung, dimana ada hubungan antara dimensi bukti langsung dengan tingkat kepuasan pasien. Semakin baik kualitas bukti langsung yang diberikan maka semakin tinggi kepuasan pelanggan. Menurut Soraya (2011), menyatakan karena suatu bentuk jasa tidak bisa dilihat, dicium, diraba maka bukti fisik menjadi penting sebagai ukuran dari suatu pelayanan. Walaupun penampilan jasa diwakili oleh wujud tertentu, namun esensi yang dibeli adalah penampilan (Alma dalam Sondari, 2015). Selain itu, hal yang penting dan berkaitan erat dengan mutu produk/jasa adalah bagaimana institusi penyedia pelayanan mampu menghadirkan keindahan, kerapihan, kebersihan, dan kelengkapan dan kesehatan terhadap produk jasa yang ditawarkan kepada pelanggan (Perwani dalam Sondari, 2015).

Pelayanan yang tepat waktu dinilai sangat penting bagi pasien karena setiap pasien menginginkan masalah kesehatannya cepat dan segera diatasi. Harapan utama saat pasien datang ke Puskesmas adalah kesembuhan dari penyakit yang diderita. Kesembuhan merupakan salah satu bukti keberhasilan kinerja pelayanan klinis, sehingga bila pasien sembuh bukan saja menunjukkan keberhasilan kinerja pelayanan, tetapi juga membuat pasien puas karena tujuan utamanya tercapai (Budayanti, 2007).

Seorang pelanggan akan mengharapkan bahwa ia seharusnya juga dilayani dengan baik apabila pelanggan yang lainnya dilayani dengan baik oleh penyedia jasa. Disinilah diperlukan responsivitas penyedia jasa untuk memperlakukan dan memanjakan pelanggan secara nyata, pelanggan butuh dilayani dan dihargai tanpa membedakan status sosial ekonomi (Tjiptono, 2016).

Menurut Tjiptono (2016), kekhawatiran pasien akan muncul jika dokter/perawat gagal memberikan jaminan atas pertolongannya. Hal ini terkait dengan kompetensi keahlian dan keilmuan. Pasien butuh kepastian, diagnosis dan prediksi kesembuhan yang tepat dan hal-hal yang berkaitan dengan keadaan penyakitnya (rasa aman). Pengetahuan, kepercayaan dan kesopanan pemberi jasa untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan yang berupa pengetahuan dan kemampuan petugas dalam bekerja, serta jaminan keamanan pelayanan dan kepercayaan terhadap pelayanan akan berdampak pada tingkat kepuasan pasien (Kotler dalam Sondari, 2015).

Orang yang berinteraksi langsung dengan pelanggan harus memberikan pelayanan kepada pelanggan secara tulus, responsive, ramah, fokus, dan menyadari bahwa kepuasan pelanggan adalah segalanya. Pasien membutuhkan perhatian dan komunikasi teraupetik yang harmonis. Perhatian yang diberikan penyedia pelayanan akan dapat memberikan rasa nyaman dan aman dalam menjalani perawatan (Tjiptono, 2016).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh kualitas pelayanan terhadap tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Saketi Kabupaten Pandeglang maka dapat ditarik kesimpulan :

  1. Ada pengaruh bukti fisik (tangible) dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di Puskesmas Saketi Kabupaten Pandeglang tahun 2022.
  2. Ada pengaruh kehandalan (reliability) dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di Puskesmas Saketi Kabupaten Pandeglang tahun 2022.
  3. Ada pengaruh daya tanggap (responsiveness) dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di Puskesmas Saketi Kabupaten Pandeglang tahun 2022.
  4. Ada pengaruh jaminan (assurance) dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di Puskesmas Saketi Kabupaten Pandeglang tahun 2022.
  5. Ada pengaruh empati (empathy) dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap di Puskesmas Saketi Kabupaten Pandeglang tahun 2022.

DAFTAR PUSTAKA

  1. A’A Gde Muninjaya. 2011. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta. EGC.
  2. Arief. 2007. Pemasaran jasa dan kualitas pelayanan. Jakarta: Bayumedia Publishing.
  3. Azwar, S. 2009. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  4. Bustami. 2011. Penjamin Mutu Pelayanan Kesehatan & aksepbilitasnya. Erlangga, Padang.
  5. Depkes RI. 2011. Target Tujuan Pembangunan MDGs. Direktorat Jenderal Kesehatan Ibu dan Anak.
  6. Depkes RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Tentang Puskesmas. Jakarta: Dirjen PPM dan PL.
  7. Eninurkhayatun, B., Suryoputro, A., dan Fatmasari, Eka Y. (2017). Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Kualitas Pelayanan Rawat Jalan di Puskesmas Duren dan Puskesmas Berga Kabupaten. Semarang Tahun 2017. Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat Univ. Diponogoro Semarang, Vol. 5, No. 4, 33-42.
  8. Faridah, I., Afiyanti, Y., dan Basri, M. H. (2020). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien di Puskesmas Periuk Jaya Tahun 2020. Tangerang. Jurnal Kesehatan STIKes Yatsi Tangerang, Vol. 9, No. 2, 86-95.
  9. Lupiyadi Rambat dkk. 2006. Manajemen Pemasaran Jasa. Jakarta: Salemba Empat.
  10. Maniagasi, B., Pasinringi, S. A., dan Noor, N. B. (2013). Kepuasan Pasien Rawat Inap Terhadap Kualitas Pelayanan Puskesmas di Kabupaten Keroom. Makassar. Jurnal Kesehatan Univ. Hasanuddin Makassar.
  11. Nengsih, Vina S., dan Maidelwita, Yeni. (2011). Hubungan Mutu Pelayanan Kesehatan dengan Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kesehatan di Ruang Rawat Inap Intern RSUD Dr. M. Zein. Painan. Sumatera Barat.
  12. Notoatmodjo. 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta. PT. Rineka Cipta Nursalam. 2012. Manajemen Keperawatan Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional; Edisi 3. Salemba Medikal: Jakarta.
  13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas.
  14. Profil Kesehatan Puskesmas Saketi Tahun 2021
  15. Profil Dinkes Kabupaten Pandeglang Tahun 2021
  16. Respati, Shinta Ayu. (2014). Hubungan Mutu Pelayanan Kesehatan dengan Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap di Puskesmas Halmahera Kota Semarang. Kota Semarang. Jawa Tengah.
  17. Salasim, N., Sirait, Rina W., dan Sinaga, Morida. (2021). Hubungan Mutu Pelayanan Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap di Puskesmas Pasir Panjang. Kota Kupang. Jurnal Kesehatan Masyarakat Univ. Nusa Cendana Kupang, Vol. 3, No. 1, 44-51.
  18. Saryono.2011. Metode Penelitian kualitatif dalam kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medica.
  19. Snyder & Gangestad. 2012.On the Nature Self Monitoring: Matters of Assesment, Matters of Validity. Journal of Personality and Social Psychology. Vol 16.
  20. Sulastri, Serli, K. A., dan Sirait, Rina W. (2021). Hubungan Mutu Pelayanan Kesehatan Dengan Kepuasan Pasien Rawat Jalan di Puskesmas Lurasik Kabupaten Timor Tengah Utara. Kota Kupang. Jurnal Kesehatan Masyarakat Univ. Cendana Kupang, Vol. 10, No. 2, 94-107.
  21. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabet
  22. Supranto J. 2011. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan. Rineka Cipta: Jakarta.
  23. Tanan, L., Indar, dan Darmansyah. (2013). Analisis Tingkat Kepuasan Pasien di Puskesmas Bara Permai Kota Palopo. Makassar. Jurnal AKK Univ. Hasanuddin Makassar, Vol. 2, No. 3, 15-21.
  24. Tazkiyatun, Nafs Az-zahroh. (2017). Pengaruh Mutu Pelayanan Kesehatan Terhadap Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap di Ruang Dewasa Umum Rumah Sakit X Kabupaten Gresik. Kabupaten Gresik. Jawa Timur.
  25. Tjiptono, Fandy dan Chandra, Gregorius. 2016. Service Quality & Satisfaction, Edisi 4. Yogyakarta: Andi.
  26. Uma, Sekaran. 2011. Research Methods for Business Edisi 1 and 2. Jakarta: Salemba Empat.

Pengaruh Pemberian Kombinasi Susu Kurma dan Susu Kedelai terhadap Kelancaran Produksi Air Susu Ibu Postpartum

16

Renny Ambarwati and Tuty Yanuarti (Editor)

ABSTRACT

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di wilayah Puskesmas Kopo pada 12 Januari – 25 Januari tahun 2022 di ruang nifas terdapat 20 ibu postpartum. Dari 20 ibu postpartum terdapat 15 orang (75%) ibu postpartum yang tidak mengetahui manfaat susu kurma dan susu kedelai sebagai pelancar produksi ASI. dan ibu mengatakan lebih memilih susu formula jika ASI nya tidak keluar atau ASI nya tidak lancar. Hanya 5 responden (25%) ibu postpartum yang mengetahui manfaat susu kurma dan susu kedelai sebagai pelancar produksi ASI. Metode pada penelitian ini menggunakan Quasi eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Penelitian quasi eksperimental merupakan salah satu bentuk penelitian eksperimental yang tidak memiliki control grup. rata-rata produksi Asi sebelum pemberian susu kurma dan susu kedelai pada ibu pos partum di puskesmas kopo kabupaten Serang tahun 2022. Sebesar 29.32 dan rata-rata produksi Asi sesudah pemberian susu kurma dan susu kedelai pada ibu postpartum di puskesmas kopo kabupaten Serang tahun 2022 sebesar 34,13. Adanya pengaruh pemberian kombinasi susu kurma dan susu kedelai terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu postpartum di puskesmas kopo kabupaten Serang tahun 2022.

Kata Kunci: Postpartum, Susu Kurma, Susu Kedelai, Kelancaran ASI

PENDAHULUAN

Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi yang sangat berkualitas untuk meningkatkan daya tahan tubuh, menjalin kasih sayang antara ibu dan bayi dan juga meningkatkan kecerdasan anak. Seseorang ibu sering mengalami masalah dalam memberikan ASI Eksklusif, salah satu kendala utamanya adalah produksi ASI yang tidak lancar. Hal ini akan menjadi faktor penyebab rendahnya pemberian ASI Eksklusif terhadap bayi yang baru lahir namun, banyak ibu yang menggantikan ASI dengan susu formula untuk bayinya. Padahal hal itu tidak baik untuk seorang bayi. Bayi pada umumnya diberikan ASI Eksklusif hingga berusia 6 bulan.

UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan pemerintah dan semua pemangku kepentingan untuk mempertahankan dan mempromosikan akses kepada layanan yang memungkinkan para ibu untuk tetap menyusui selama pandemi Covid-19. Inisiasi menyusu dini dan menyusui secara eksklusif membantu anak-anak bertahan hidup dan membangun antibodi yang mereka butuhkan agar terlindung dari berbagai penyakit yang sering terjadi pada masa kanak-kanak, seperti diare dan pneumonia.

Bukti – bukti juga menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan ASI memperlihatkan hasil yang lebih baik pada tes inteligensi, kemungkinan mengalami obesitas dan kelebihan berat badan lebih kecil, dan kerentanan mengalami diabetes semasa dewasa kelak lebih rendah. Peningkatan angka ibu menyusui secara global berpotensi menyelamatkan nyawa lebih dari 820.000 anak usia balita dan dapat mencegah penambahan 20.000 kasus kanker payudara pada perempuan setiap tahunnya.

Namun, di Indonesia, hanya 1 dari 2 bayi berusia di bawah 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif, dan hanya sedikit lebih dari 5 persen  anak yang masih mendapatkan ASI pada usia 23 bulan. Artinya, hampir setengah dari seluruh anak Indonesia tidak menerima gizi yang mereka butuhkan selama dua tahun pertama kehidupan. Lebih dari 40 persen bayi diperkenalkan terlalu dini kepada makanan pendamping ASI, yaitu sebelum mereka mencapai usia 6 bulan, dan makanan yang diberikan sering kali tidak memenuhi kebutuhan gizi bayi[CITATION WHO20 \l 1033 ]

Menurut Kementrian Kesehatan Bayi usia kurang dari 6 bulan mendapat ASI Esklusif merupakan indikator yang tercantum pada Renstra Kementrian Kesehatan periode 2020-2024, bahkan pada Renstra periode sebelumnya (2015-2019) indikator ini sudah menjadi kinerja kegiatan (IKK) Direktorat Gizi Masyarakat, karena sangat terkait dengan program prioritas pemerintah, yaitu percepatan penurunan stunting. Pada tahun 2020, dari jumlah bayi usia kurang dari 6 bulan yang di recall, dari 3.196.303 sasaran bayi kurang dari 6 bulan terdapat 2.113.564 bayi kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI Ekslusif atau sekitar 66,1 %. Capaian indikator persentase bayi kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI Ekslusif sudah memenuhu target tahun 2020, yaitu 40%. Berdasarkan distribusi provinsi sebanyak 32 Provinsi telah mencapai target yang di harapkan dan masih mendapat 2 provinsi yang tidak mencapai target. Yaitu Papua Barat (34%) dan Maluku (37,2%) sementara Provinsi dengan capaian tertinggi adalah Nusa Tenggara Barat (87,3%).

Faktor yang menghambat pencapaian tujuan adalah pada awal tahun 2020 dunia dilanda pandemic Covid-19, tidak terkecuali Indonesia. Adanya pembatasan social bersekala besar yang dimaksudkan untuk mengurangi dan memutus rantai penularan Covid-19. Berdampak pada pelaksanaan pelayanan Kesehatan di puskesmas, posyandu, kelas ibu, dan lain-lain. Sebagian besar aktivitas posyandu di tunda, termasuk Penimbangan, Penyuluhan dan konseling. Kondisi pandemic kepada aturan dan kebijakan di rumah sakit terkait pelaksanaan inisiasi menyusui dini (IMD), pemberian ASI secara langsung serta rooming-in pada bayi Hal ini disesuaikan dalam rangka menghindari penularan Covid-19.[CITATION RIK21 \l 1033 ]

Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Serang Cakupan ASI tahun 2018 ekslusif sebesar 114% naik 46,3% dibandingkan tahun 2017 sebesar 61,7%. ASI memiliki kenggulan dari beberapa aspek seperti aspek gizi yang komplit dan sesuai dengan organ anatomis pencernaan bayi, aspek imunologi yang berjangka panjang, aspek psikologis berupa curahan kasih sayang ibu dan anak yang menstimulus kecerdasan emosi dan otak bayi.[ CITATION Ser19 \l 1033 ]

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di wilayah Puskesmas Kopo pada 12 Januari – 25 Januari tahun 2022 di ruang nifas terdapat 20 ibu postpartum. Dari 20 ibu postpartum terdapat 15 orang (75%) ibu postpartum yang tidak mengetahui manfaat susu kurma dan susu kedelai sebagai pelancar produksi ASI. dan ibu mengatakan lebih memilih susu formula jika ASI nya tidak keluar atau ASI nya tidak lancar. Hanya 5 responden (25%) ibu postpartum yang mengetahui manfaat susu kurma dan susu kedelai sebagai pelancar produksi ASI.

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh pemberian kombinasi susu kurma dan susu kedelai terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu postpartum di Puskesmas Kopo Kabupaten Serang Tahun 2022”

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Penelitian quasi eksperimental merupakan salah satu bentuk penelitian eksperimental yang tidak memiliki control grup (Notoatmodjo, 2018).

Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat. Untuk menghilangkan bias dari hasil penelitian, maka pretest dan posttest akan dilakukan pada setiap perlakuan pemberian susu kurma dan susu kedelai. Metode pengumpulan data penelitian menggunakan data primer yang di ambil langsung dari responden dengan observasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Karakteristik Responden

Berdasarkan tabel 1 diatas dapat diketahui bahwa dari 30 responden sebagian besar berumur 20-35 tahun sebanyak 29 orang (96,7%), umur < 20 tahun sebanyak 1 orang (3,3%), dan umur > 35 tahun yaitu 0 (0%). Berdasarkan paritas dari 30 responden sebagian besar dengan paritas multipara sebanyak 20 orang (66,7%), paritas primipara sebanyak 7 orang (23,3%), dan paritas grandemultipara sebanyak 3 orang (10,0%).

Pada penelitian ini sejalan dengan penelitian Happy (2018) variabel usia dibagi menjadi dua kategori yaitu ≤35 tahun kategori usia reproduktif dan >35 tahun kategori usia non reproduktif. Pada kategori ≤35 tahun sebanyak 53(76,8%) responden melakukan pemberian ASI eksklusif, sedangkan pada kategori >35 tahun sebanyak 5 (50%) responden melakukan pemberian ASI eksklusif. Hasil uji statistik didapat p value 0,120 (p <0,05) maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara usia dengan

pemberian ASI eksklusif [CITATION Sim44 \l 1033 ]

Usia yang < 20 tahun dianggap masih belum matang secara fisik mental dan psikologi dalam menghadapi kehamilan, persalinan serta pemberian ASI, semakin muda usia ibu maka bayi cenderung semakin untuk tidak diberikan ASI Eksklusif karena tuntutan sosial, kejiwaan ibu dan tekanan sosial yang dapat mempengaruhi produksi ASI. Usia yang kurang dari 20 tahun merupakan masa pertumbuhan termasuk organ reproduksi (payudara), sedangkan usia > 35 tahun organ reproduksi sudah lemah dantidak optimal dalam pemberian ASI Ekslusif, sehingga kemampuan seorang ibu untuk menyusui secara eksklusif juga sudah tidak optimal lagi karena penurunan fungsi dari organ reproduksi seperti payudara

Usia antara 20-35 tahun merupakan masa reproduksi sehat, karena secara fisik organ reproduksi telah siap, dan kondisi psikologis ibu berdampak terhadap kesiapan dalam menerima kehadiran bayi. Ibu dengan usia yang lebih tua dianggap memiliki pengalaman dalam hal menyusui yang lebih banyak dibandingkan dengan ibu usia muda, sehingga pengetahuannya pun lebih baik dibandingkan dengan usia muda. Semakin cukup usia maka tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Proporsi pemberian ASI eksklusif lebih banyak diberikan oleh ibu berusia tua.

Usia 20-35 tahun merupakan usia yang baik untuk masa reproduksi, dan pada umumnya pada usia tersebut memiliki kemampuan laktasi yang lebih baik dibandingkan dengan ibu yang usianya > 35 tahun sebab pengeluaran ASI-nya lebih sedikit dibandingkan dengan yang berusia reproduktif. Pada usia < 20 tahun secara psikis umumnya belum siap untuk menjadi ibu, sehingga bisa menjadi beban psikologis yang akan menyebabkan depresi dan menyebabkan ASI susah untuk keluar. ASI eksklusif dipengaruhi beberapa faktor yaitu fisik seperti mengatur rencana kelahiran dan menjaga kebugaran jasmani, mental seperti menghindari stres.[CITATION Gem20 \l 1033 ]

Paritas juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil. Jumlah kehamilan yang terlalu sering menyebabkan resiko sakit dan kematian pada ibu hamil dan juga janinnya. Paritas yang sesuai akan berdampak baik bagi ibu akan tetapi paritas yang sangat banyak
juga akan menggangu ibu. Pada paritas multipara kondisi elastisitas produksi ASI cukup baik sehingga kelancaran ASI juga baik. Adanya hubungan antara pengalaman ibu dalam memberikan ASI pada bayinya sehingga cara merawat payudara ibu juga baik dengan demikian kelancaran produksi ASI nya juga baik. Selain itu kondisi elastisitas paydara yang telah terlatif untuk ditetekkan juga berpengaruh pada kondisi kelancaran produksi ASI pada ibu itu sendiri.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Halimatus (2021) Berdasarkan paritas dari 31 responden sebagian besar dengan paritas multipara sebanyak 15 orang (48,4 %), paritas primipara sebanyak 11 orang (35,5 %), dan paritas grandemultipara sebanyak 5 orang (16,1%).

Beberapa istilah yang berkaitan dengan paritas yaitu primipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk pertama kali, multipara yaitu wanita yang pernah melahirkan bayi beberapa kali sampai 5 kali dah grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati. Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika menyusui yang sebenarnya karena tidak tahu cara yang sebenarnya dan apabila ibu mendengar ada pengalaman menyusui yang kurang baik dari orang lain memungkinkan ibu untuk ragu dalam memberikan ASI kepada bayinya. ibu yang pertama kali mempunyai anak (primipara) memiliki masalah menyusui. Berbeda dengan ibu yang sudah pernah menyusui sebelumnya, lebih baik dibandingkan yang baru pertama kali menyusui.[ CITATION Rah21 \l 1033 ]

  1. Produksi ASI Sebelum dan Sesudah Pemberian Susu Kurma dan Susu Kedelai

Berdasarkan tabel 5.2 dan 5.3 hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa sebelum diberikan susu kurma dan susu kedelai Sebagian besar produksi ASI Tidak Lancar yaitu berjumlah 37 orang (93,3%) dan produksi ASI Sangat lancar yaitu 2 orang (6,7%). Dan diperoleh hasil bahwa sesudah diberikan susu kurma dan susu kedelai Sebagian besar produksi ASI Tidak Lancar yaitu berjumlah 13 orang (43,3%) dan produksi ASI Sangat lancar yaitu 17 orang (56,7%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Puspita (2018) diketahui bahwa sebelum diberikan intervensi susu kedelai sebagian besar responden produksi ASI-nya lancar yaitu 18 orang (45%), ASI sedikit lancar 14 orang (35%), dan ASI sangat lancar 8 orang (20%). Peningkatan produksi ASI sesudah diberikan susu kedelai sebanyak 35 orang (77,5%) dengan kategori ASI sangat lancar dan 5 orang ASI lancar (12,5%).

Karena Isoflavon yang terkandung pada susu kedelai merupakan asam amino yang memiliki vitamin dan gizi dalam kacang kedelai yang membentuk flavonoid. Flavonoid merupakan pigmen, seperti zat hijau daun yang biasanya berbau. Zat hijau daun memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Secara garis besar, manfaat dari isoflavon yang terkandung pada susu kedelai adalah meningkatkan metabolisme dalam tubuh, merupakan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh, mencegah sembelit, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menguatkan tulang dan gigi, mengendalikan tekanan darah, mengendalikan kadar kolesterol, mencegah resiko obesitas dan menghilangkan gejala penyakit maag. Isoflavon atau hormon phytoestrogen adalah hormon estrogen yang diproduksi secara alami oleh tubuh dan bisa membantu kelenjar susu ibu menyusui agar memproduksi ASI lebih banyak. Dengan pemanfaatan kedelai yang dapat meningkatkan produksi ASI, diharapkan mampu menunjang keberhasilan program pemerintah (Kementerian Kesehatan) dalam upaya pemberian ASI Eksklusif.[CITATION Pus \l 1033 ] .

Dan kandungan yang terdapat dalam buah kurma diantaranya adalah protein, zat besi, glukosa, serat, vitamin, niasin, biotin, asam folat, kalsium, kalium dan sodium. Kandungan protein pada buah kurma berkisar 3%, lemak 1% dan karbohidrat 96% yang memilki kalori total 23 kkal. Salah satu kandungan mineral dalam buah kurma ialah potassium. Pottasium berfungsi sebagai penghalang reseptor dari dopamin sehingga akan menstimulus pelepasan dari prolaktin. Kurma juga mengandung protein yang akan meningkatkan produksi dari ASI dengan proses metabolisme glukosa untuk kemudian sintesis laktosa [CITATION Ram22 \l 1033 ]

  1. Rata-rata Produksi ASI sebelum dan Sesudah Pemberian Susu Kurma dan Susu Kedelai Pada Ibu PostPartum di Puskesmas Kopo Tahun 2022

Berdasarkan tabel 5.4 diatas dapat diketahui bahwa produksi ASI sebelum diberikan susu kurma dan susu kedelai diperoleh nilai rata-rata sebesar 29,32 terjadinya peningkatan produksi ASI sesudah diberikan susu kurma dan susu kedelai dengan nilai rata-rata 34,13 sehingga didapatkan selisih nilai rata-rata peningkatan sebelum dan sesudah diberikan susu kurma dan susu kedelai sebesar 4,81.

Kurma memilki kandungan hormon yang mirip dengan hormone oksitosin, yaitu neurohypophysis yang akan mengahasilkan hormon. Hormon oksitosin berjalan melalui aliran darah menuju ke payudara, lalu hormon inilah yang akan membantu memacu dari kontraksi pembuluh darah vena yang berada disekitar payudara ibu, yang kemudian akan memacu kelenjar air susu ibu untuk bisa memproduksi ASI [CITATION Ram22 \l 1033 ]

Susu kedelai yang merupakan minuman olahan dari sari pati kacang kedelai memiliki banyak kandungan gizi dan manfaat. Potensinya dalam menstimulasi hormon oksitoksin dan prolaktin seperti alkaloid, polifenol, steroid, flavonoid dan substansi lainnya efektif dalam meningkatkan dan memperlancar produksi ASI. Reflek prolaktin secara hormonal untuk memproduksi ASI, waktu bayi menghisap puting payudara ibu, terjadi rangsangan neorohormonal pada puting susu dan areola ibu. Rangsangan ini diteruskan ke hipofisis melalui nervos vagus, kemudian ke lobus anterior. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon prolaktin, masuk ke peredaran darah dan sampai pada kelenjar-kelenjar pembuat ASI. Kelenjar ini akan terangsang untuk menghasilkan ASI.

Sejalan dengan hasil penelitian Puspita (2018) menunjukkan ada pengaruh pemberian susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI. Pengaruh susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI menunjukkan efek positif dimana seluruh responden mengalami peningkatan produksi ASI. Dari analisis univariat diketahui sebanyak 35 ibu (77,5%) masuk dalam kategori ASI sangat lancar. [ CITATION Pus \l 1033 ]

Menurut asumsi peneliti peningkatan kelancaran produksi ASI pada ibu postpartum harus ditingkatkan karena itu berpengaruh terhadap berat badan bayi dan pertumbuhan bayi. Pemberian susu kurma dan susu kedelai sangat tepat untuk mencegah terjadinya ASI Tidak Lancar.

  1. Pengaruh Pemberian Susu Kurma Dan Susu Kedelai Terhadap Kelancaran Produksi ASI Pada Ibu PostPartum Di Puskesmas Kopo Tahun 2022.

Berdasarkan Tabel 5 didapatkan hasil bahwa uji normalitas pada kelompok perlakuan baik pretest dan posttest masalah peningkatan produksi ASI pada ibu postpartum pada pemberian susu kurma dan susu kedelai pada uji Kolmogorov-Smirnova (p > 0.05) dan Shapiro-Wilk (p > 0.05). Dikatakan normal tidaknya dengan cara melihat angka sig, jika sig > 0,05 maka normal dan jika sig < 0,05 dapat dikatakan tidak normal. Oleh karena itu, berdasarkan hasil tersebut maka data diatas berdistribusi normal.

Dari hasil uji perubahan peningkatan kelancaran produksi ASI pada ibu postpartum dengan diberikan susu kurma dan susu kedelai menggunakan uji paired samples t-test didapatkan hasil yang memiliki nilai signifikan 0,000 (< 0,05). Hasil tersebut memiliki arti bahwa terdapat perubahan peningkatan kelancaran produksi ASI pada ibu postpartum sebelum dan sesudah diberikan susu kurma dan susu kedelai di puskesmas kopo tahun 2022

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Puspita E (2018) yang mengatakan bahwa Susu Kedelai berpengaruh terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu postpartum dengan nilai p value 0,000.[ CITATION Pus \l 1033 ] Dan sesuai dengan hasil penelitian Ramadhani (2022) terdapat pengaruh pemberian Sari Kurma terhadap kelancaran ASI pada ibu menyusui di Praktek dr. Aidil Akbar SPOG tahun 2021-2022 dengan p value 0,02 < 0,05 [CITATION Ram22 \l 1033 ]

Menurut asumsi peneliti, Kandungan yang terdapat pada kurma dan kedelai yang di olah menjadi susu sangat bermanfaat untuk kesehatan terutama untuk membantu kelancaran produksi ASI, penambahan berat badan bayi dan peningkatan kadar HB. sehingga produksi ASI dapat meningkat dan dapat mengurangi Anemia atau pun KEK pada bayi. Pada penelitian ini sebagian ibu postpartum mengalami ASI Tidak Lancar. hal ini menyebabkan ibu Stress karena ASI nya tidak keluar atau tidak Lancar. ASI tidak lancar menjadi salah satu pengahmbat pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan bayi mudah sakit.

Buah Kurma memiliki kandungan galactogoguess yang mampu dalamproses induksi laktasi dengan tekanan dari antagonis reseptor dari dopamin, sehingga terjadi peningkatan produksi prolaktin. Kandungan mineral yang ada dalam buah kurma terdiri dari kalium atau potassium yang berfungsi sebagai penghalang reseptor dari dopamin sehingga menstimulus pelepasan dari prolaktin. adalah salah satunya kalium atau potassium yang bisa menghalangi reseptor dari dopamin, dan kemudian merangsang pelepasan dari prolaktin. Selain itu, buah kurma juga memiliki kandungan protein yang mampu meningkatkan produksi ASI dengan cara meningkatkan metabolisme glukosa lalu menuju proses sistesis laktosa.[CITATION Ram22 \l 1033 ]

Kacang kedelai adalah salah satu dari berbagai macam sumber protein baik bagi tubuh kita. Salah satu kandungannya adalah phytoestrogen yang jika dikonsumsi secara rutin oleh ibu yang sedang menyusui maka akan membantu ibu dalam meningkatkan produksi ASI yang banyak dan berlimpah serta mendapatkan kualitas ASI yang baik.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah di lakukan terhadap pengaruh pemberian kombinasi susu kurma dan susu kedelai terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu postpartum di puskesmas kopo tahun 2022 di dapatkan:

  1. Diketahui berdasarkan umur dari 30 responden sebagian besar berumur 20-35 tahun sebanyak 29 orang (96,7%).
  2. Diketahui berdasarkan paritas dari 30 responden sebagian besar dengan paritas multipara sebanyak 20 orang (66,7%).
  3. Diketahui berdasarkan distribusi frekuensi produksi ASI sebelum pemberian susu kurma dan susu kedelai dengan ASI Tidak lancar pada ibu postpartum di puskesmas kopo kabupaten serang tahun 2022 sebanyak 28 Orang (93,3%)
  4. Diketahui berdasarkan distribusi frekuensi produksi ASI sesudah pemberian susu kurma dan susu kedelai dengan ASI Sangat lancar pada ibu postpartum di puskesmas kopo kabupaten serang tahun 2022 sebanyak 17 Orang (56,7 %)
  5. Rata-rata produksi ASI sebelum pemberian susu kurma dan susu kedelai pada ibu postpartum di puskesmas kopo kabupaten serang tahun 2022 sebesar 29,23
  6. Rata-rata produksi ASI sesudah pemberian susu kurma dan susu kedelai pada ibu postpartum di puskesmas kopo kabupaten serang tahun 2022 sebesar 34,13
  7. Ada pengaruh pemberian kombinasi susu kurma dan susu kedelai terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu postpartum di puskesmas kopo kabupaten serang tahun 2022 (P.value 0,000).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adyana, I. K., & Winarni, M. L. (2020). Pemberian Jus Kacang Kedelai Dan Melon Terhadap Peningkatan Produksi ASI dan Berat Badan Bayi di Puskesmas Tigaraksa. Jurnal Menara Medika https://jurnal.umsb.ac.id/index.php/menaramedika/index, 41.
  2. Afrianto, D. (2019). Tidak Bisa Menyusui ? Jakarta Selatan: PT Mizan Publika (Anggota IKAPI).
  3. Fatmawati, D., & dkk. (2020). Tingkat Kepuasan Konsumen Dalam Mengkonsumsi Produk Olahan Susu Kurma di Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur. Universitas Gunung Rinjani http://fk.uns.ac.id/static/file/Gizi.pdf , 13-17.
  4. Fitria, A., & dkk. (2022). PENGARUH PEMBERIAN KACANG KEDELAI (G LYCINE MAX) TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI PADA IBU POSTPARTUM DIKLINIK PRATAMA HANUM TANJUNG . Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.13 No.1 (2022), 78.
  5. Gemilang, S. d. (2020). HUBUNGAN USIA, PENDIDIKAN, DAN PEKERJAAN. Naskah Publikasi PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA http://eprints.ums.ac.id/87176/3/Naskah%20Publikasi%20%2834%29.pdf, 14-15.
  6. Kemenkes, R. I. (2021). Laporan kinerja Kementrian kesehatan tahun 2021. Jakarta: Kementrian Kesehatan.
  7. Munziah, D. H., & dkk. (2021). Asuhan Kebidanan Terintegritas Pada Kehamilan Trimester III, Persalinan, Nifas, Bayi Baru Lahir, dan Keluarga Berencana Untuk Meningkatkan Kadar Hemoglobin dengan Pemberian Buah Kurma di Puskesmas Cipamokolan. Universitas Bhakti Kencana Bandung http://repository.bku.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/3003/1.DEDOH%20HADROTUL%20MUNZIAH%20CK118011-1-132.pdf?sequence=1&isAllowed=y, 51-52.
  8. Notoadmodjo. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
  9. Puspita, E., & dkk. (2018). Pengaruh Pemberian Susu Kedelai Terhadap Peningkatan Produksi Asi Pada Ibu Nifas Di Rb Bina Sehat Bantul. Jurnal Kebidanan, 7 (1), 2018, 54-60 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/jur_bid/, 56-58.
  10. Puspitasari, D. Y., & dkk. (2020). Pengaruh Pemberian Susu Kedelai Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Postpartum : Systematic Literature Review. Politeknik Kesehatan Kalimantan Timur http://repository.poltekkeskaltim.ac.id/1025/2/skripsi%20deby%20yolanda.pdf, 3-4.
  11. Rahmawati D S, S. H. (2021). Hubungan Antara Status Gizi Dan Paritas Dengan Kelancaran Produksi Asi Pada Ibu Post Partum Di Wilayah Kerja Puskesmas Cipanas Kabupaten Garut. Stikes Dharmas Husada Bandung, Universitas Kadiri https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/akper/article/download/16326/2183/, 57-62.
  12. Ramadhani, N. U. (2022). EFEKTIVITAS SARI KURMA (Phoenix Dactylifera L.) TERHADAP PENGELUARAN AIR SUSU IBU (ASI) PADA IBU MENYUSUI. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA FAKULTAS KEDOKTERAN http://repository.umsu.ac.id/bitstream/handle/123456789/17504/ULFAH%20NUR%20RAMADHANI.pdf;jsessionid=DB59A55DD163CB513EBB39B1AD4B6919?sequence=1, 33.
  13. Rostita, & Prianti , A. d. (2020). Efektifitas Pemberian Sari Kurma Terhadap Kelancaran Produksi ASI Ibu Postpartum Di RSKDIA Siti Fatimah Makassar. Jurnal Antara Kebidanan https://ojs.abdinusantara.ac.id/index.php/antarakebidanan/article/view/131, 14-15.
  14. Saidah, H., & Sari, D. K. (2021). Perbedaan Efektifitas Pemberian Buah Kurma dan Pijat Oksitosin Terhadap Produksi ASI Ibu Menyusui 0-6 Bulan. Universitas Ilmu Kesehatan Kediri https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/akper/article/view/17439/2455 .
  15. Sasongko, R. B., & dkk. (2019). Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Ekstrak Buah Kurma Ajwa ( Phoenix dactilyfera) Terhadap gambaran Histologi Kelenjar Mammae Mencit (Mus Musculus) Bunting. Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya http://digilib.uinsby.ac.id/30419/1/Bagus%20Ridyan%20S_H71214015.pdf, 8-13.
  16. Serang, D. K. (2019). Profil Kesehatan Kabupaten Serang. Kabupaten Serang: Dinkes Kabupaten Serang.
  17. Simanungkalit, H. M. (2018). Status Pekerjaan Dan Pengetahuan Ibu Menyusui Terhadap Pemberian ASI Ekslusif. Jurnal Info Kesehatan https://doi.org/10.31965/infokes, 240.
  18. WHO. (2020). Pekan Menyusui Dunia : UNICEF dan WHO Menyerukan Pemerintah dan Pemangku Kepentingan Agar Mendukung Semua Ibu Menyusui di Indonesia Selama Covid-19. World Health Organization https://www.who.int/indonesia/news/detail/03-08-2020-pekan-menyusui-dunia-unicef-dan-who-menyerukan-pemerintah-dan-pemangku-kepentingan-agar-mendukung-semua-ibu-menyusui-di-indonesia-selama-covid-19.

image

2

Efektivitas Pijat Payudara terhadap Pengeluaran Asi pada Ibu Postpartum

17

Maelani and Rahayu Khairiah (Editor)

ABSTRAK

Didapatkan data pada Ibu postpartum yang melakukan pijat payudara terhadap pengeluaran ASI yang dilakukan di Puskesmas Jayanti tahun 2022 diperoleh data sebanyak 15 responden. Metode penelitian Desain ini merupakan penelitian eksperimental yang menilai pengaruh pijat payudara terhadap pengeluaran ASI pada Ibu postpartum dengan pendekatan atau rancangan penelitian dengan tipe one group pretest- postest design. Hasil penelitian menunjukan kategori pengeluaran ASI lancar sebelum dilakukan pemijatan terdapat 7 dari 15 responden (46.7%) sedangkan kategori pengeluaran ASI lancar terdapat peningkatan dibandingkan dengan sebelum pemijatan payudara menjadi 12 dari 15 responden (80%). Kategori pengeluaran ASI cukup lancar sebelum dilakukan pemijatan terdapat 5 dari 15 responden (33.3%) sedangkan kategori pengeluaran ASI cukup lancar terdapat penurunan dibandingkan dengan sebelum pemijatan payudara menjadi 3 dari 15 responden (20%). Pengeluaran ASI kurang lancar sebelum dilakukan pemijatan 3 dari 15 responden (20%) sedangkan pengeluaran ASI kurang lancar terdapat penurunan dibandingkan dengan sebelum pemijatan payudara menjadi 0 dari 15 responden (0%). Efektivitas pijat payudara terhadap pengeluaran ASI pada Ibu postpartum dengan P Value = 0,046 < 0,05. kesimpulan ada pengaruh sangat signifikan antara pijat payudara dengan peningkatan produksi ASI pada responden. Saran diharapkan pijat payudara adalah salah satu tindakan tenaga kesehatan khususnya bidan untuk membantu pengeluaran ASI pada Ibu postpartum.

Kata kunci : Pijat Payudara, Produksi ASI

PENGANTAR

Di Indonesia sekitar 4,0% ASI Eksklusif pada bayi 0 – 6 bulan pada tahun 2020 lebih tinggi dibandingkan pemberian ASI Eklusif pada tahun 2021, Bila bayi tidak diberi ASI eklusif memiliki dampak yang tidak baik bagi bayi. Adapun dampak memiliki resiko kematian diare 3,94 kali lebih besar dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI Eklusif (Kemenkes 2010). Bayi yang diberi ASI akan lebih sehat dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula. Produksi asi pada ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor diantaranya ialah kurangnya perawatan pijat payudara, kurang sering menyusui atau memerah payudara, kelainan endokrin ibu tetapi sangat jarang sekali terjadi dan yang terakhir adalah kurangnya gizi pada ibu.

Menyusui setiap dua – tiga jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi untuk wanita pada umumnya, oleh karena itu perlu adanya dilakukan pemijatan payudara dan, menyusui dan memerah ASI delapan kali dalam 24 jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi pada masa awal – awal menyusui. Istirahat pada ibu menyusui harus dijaga dan diperhatikan, terutama pada satu atau dua minggu setelah melahirkan. Ibu yang kurang istirahat pasca melahirkan dapat mengalami kelelahan yang menyebabkan dampak negatif pada produksi susu dan reflek let down. Menyusui hari pertama yang terpenting adalah bagi Ibu adalah memperkenalkan puting susu Ibu kepada bayi. Karena dalam 24 jam bayi tidak perlu cairan, yang terpenting dalam satu jam pertama bayi harus diberikan kepada

Salah satu tujuan pijat payudara bagi Ibu menyusui setelah melahirkan yakni agar dapat memberikan ASI secara maksimal pada buah hatinya. Salah satu hormon yang berperan dalam produksi ASI adalah hormone oksitosin. Saat terjadi stimulasi hormone oksitosin, sel-sel alveoli di kelenjar payudara berkonstraksi. Dengan adanya kontraksi ini menyebabkan air susu keluar lalu mengalir dalam saluran kecil payudara melalui putting lalu masuk ke mulut bayi. Proses keluarnya air susu ini di sebut dengan reflek let down (Saleha. 2010). Jika moms merasakan ASI yang keluar dari payudara tidak lancar sedangkan payudara telah membengkak, Moms bisa mengompres payudara dengan air hangat maksimal 10 menit. Basahi handuk hingga suhu mencapai 42 – 45° C, terlalu panas akan menjadi radang payudara (mooimom 2019). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nahdiah, 2019 sebanyak (86,7%) menunjukan adanya tanda pengeluaran ASI sedangkan (13,3%) menunjukan tidak adanya tanda pengeluaran ASI. Bayi yang mendapat ASI eksklusif pada tahun 2020 di Indonesia sebesar 45,55%. Kementrian Kesehatan (KemKes)sendiri telah menentapkan target cakupan pemberian ASI eksklusif ssebesar 80%. Kenyataannya baru 27,5% Ibu di Indonesia yang berhasil memberi ASI eksklusif. (BKKBN, 2014)

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang terbaik dan yang paling ideal untuk bayi, karena ASI menggunung semua zat giziyang diperlukan dalam jumlah dan pertimbangan yang tepat. Menurut World Health Organitation (selanjutnya disebut WHO), ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain baik susu formula, air putih, air jeruk atau makanan tambahan lain sebelum mencapai usia enam bulan. (Unicef, 2013)

Menurut wiji tahun 2013 ASI merupakan salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian bayi. ASI eksklusif dapat menurunkan resiko kematian akibat infeksi saluran nafas dan diare. Karena ASI terbukti memiliki bakteri yang menguntungkan dan zat-zat yang dibutuhkan oleh bayi untuk membentuk microflora usus yang penting untuk system daya tahan tubuh bayi. Berdasarkan Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 responden Ibu postpartum dipuskesmas Jayanti bulan maret 2022 didapatkan hasil ibu yang memberikan ASI lancar terdapat 5 dari 10 responden ( 50%) lalu yang memberikan ASI cukup lancar terdapat 3 dari 10 responden ( 30%) dan yang memberikan ASI kurang lancar terdapat 2 dari 10 responden (20%) oleh karena itu peneliti tertarik mengetahui “Apakah ada Efektifitas pijat payudara terhadap pengeluaran ASI pada Ibu postpartum diPuskesmas Jayanti tahun 2022”.

METODE

Desain ini merupakan penelitian eksperimental yang menilai pengaruh pijat payudara terhadap pengeluaran ASI pada Ibu postpartum dengan pendekatan atau rancangan penelitian dengan tipe one group pretest- postest design.

Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah Ibu postpartum dipuskesmas Jayanti tahun 2022. Sample dalam penelitian ini Ibu postpartum diPuskesmas Jayanti tahun 2022 yang sesuai dengan kriteria insklusi dan eksklusi. Kriteria insklusi : 1). Bersedia menjadi responden yang datang ke Puskesmas Jayanti 2). Tidak buta hurup, 3). Usia reproduksi sehat 20-35 tahun. Kriteria eksklusi : 1). Tidak ada kecemasan 2). Tidak ada gangguan mental 3). Tidak menggunakan alat kontrasepsi yang mengganggu produksi ASI 4). Pasien yang melakukan aktifitas berat dan kurang istirahat 5). Istirahat kurang dari 8 jam 6). Ada faktor kelainan pada isapan bayi.

Dalam penelitian menurut ari kunto (2010) apabila objektifnya kurang dari 100 lebih baik diambil semua atau total populasi, apabila lebih dari 100 diambil antara 10-15% atau 20-≥25% adapun sample dalam penelitian ini sebanyak 15 orang. menggunakan lembar observasi dan pedoman wawancara yang sudah disesuaikan tujuan peneliti. Pengumpulan data menggunakan data primer yang sudah disesuaikan tujuan penelitian. Tahap pelaksanaan pada tahap ini pengumpulan data primer sesuai dengan tujuan penelitian pada awal penelitian pretest untuk mengatahui kelancaran ASI pada Ibu postpartum tahap selanjutnya dilakukan intervensi pemijatan payudara. Lalu dilakukan penilaian ulang pengeluaran ASI postpatum setelah dilakukan intervensi pemijatan payudara.

HASIL PENELITIAN DAN DISKUSI

peneliti mengalami beberapa kendala di antaranya keterbatasan responden penelitian dikarenakan tidak semua responden bersedia dilakukan terapi pijat payudara, maka dari itu peneliti hanya memiliki 15 responden.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dilakukan pijat payudara sebagian besar responden yang pengeluaran ASI nya Lancar 7 dari 15 responden (46.7%) . sebelum dilakukannya pemijatan payudara Ibu yang pengeluaran ASI nya cukup lancar 5 dari 15 responden (33.3%) dan sebelum dilakukannya pemijatan payudara Ibu yang pengeluaran ASI nya kurang lancar 3 dari 15 responden (20.0%).

sesudah dilakukannya pemijatan payudara mayoritas Ibu yang pengeluaran ASI nya Lancar 12 dari 15 responden (80%) . sesudah dilakukannya pemijatan payudara Ibu yang pengeluaran ASI nya cukup lancar 3 dari 15 responden (20%) dan sesudah dilakukannya pemijatan payudara Ibu

yang pengeluaran ASI nya kurang lancar 0 dari 15 responden (0%).

pengeluaran ASI lancar sebelum dilakukan pemijatan terdapat 7 dari 15 responden (46.7%) sedangkan kategori pengeluaran ASI lancar terdapat peningkatan dibandingkan dengan sebelum pemijatan payudara menjadi 12 dari 15 responden (80%). Frekuensi sebelum dan sesudah pijatan payudara Kategori pengeluaran ASI cukup lancar sebelum dilakukan pemijatan terdapat 5 dari 15 responden (33.3%) sedangkan kategori pengeluaran ASI cukup lancar terdapat penurunan dibandingkan dengan sebelum pemijatan payudara menjadi 3 dari 15 responden (20%). Kategori pengeluaran ASI kurang lancar sebelum dilakukan pemijatan 3 dari 15 responden (20%) sedangkan pengeluaran ASI kurang lancar terdapat penurunan dibandingkan dengan sebelum pemijatan payudara menjadi 0 dari 15 responden (0%). Dari tabel diatas dapat dilihat terdapat efektivitas pijat payudara terhadap pengeluaran ASI pada Ibu postpartum .

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dengan judul “ Efektivitas Pijat Payudara Terhadap Pengeluaran ASI Pada Ibu Postpartum Di Puskesmas Jayanti Tahun 2022” maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

Dapat disimpukan terdapat peningkatan pengeluaran ASI sebelum dan sesudah pemijatan payudara 7 dari 15 responden (47.7%) menjadi 12 dari 15 responden (80%), kategori cukup lancar terdapat penurunan pengeluaran ASI sebelum dan sesudah pemijatan payudara 5 dari 15 responden (33.3%) menjadi 3 dari 15 responden (20%), kategori kurang lancar terdapat penurunan pengeluaran ASI sebelum dan sesudah pemijatan payudara 3 dari 15 responden (20%) menjadi 0 dari 15 responden (0%).

Dari tabel diatas dapat dilihat terdapat efektivitas pijat payudara terhadap pengeluaran ASI pada Ibu postpartum dengan P Value = 0,046 < 0,05

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anik Maryunani, 2012. Inisiasi Menyusui Dini, ASI Eksklusif dan Manajemen Lakstasi, Jakarta: TIM.
  2. Asih, Y. & Risneni.(2016). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifasdan Menyusui. Jakarta: Trans Info Media. Journals of community
  3. Astutik, R. Y. 2015. Buku Ajar Asuhan Kebidanan dan Menyusui. Jakarta: CV Trans Infomedia
  4. Budiman, Riyanto A. 2013. Kapita Selekta Kuisioner Pengetahuan dan Sikap Dalam Penelitian Kesehatan, Jakarta: Salemba Medika
  5. Bobak, dkk. 2005. Buku Ajjar Keperawatan Maternitis. Edisi 4. Jakarta: EGC. Jurnal Kesehatan Prima 2019
  6. Damai, dkk. 2016. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Refika Aditama
  7. Dinkes http://Promkes.kemenkes.go.id
  8. Hartiningtiyaswati, S., Nuraini i. & Setiawandari 2015. Efektivitas Kombinasi
  9. Hastono S. P. 2016. Analisa Data Pada Bidang Kesehatan, PT Raja Grafindo Perkasa Jakarta
  10. http://www.idai.or.id diakses pada tanggal 15 – 08 – 2021
  11. http://promkes.kemenkes.go.id. Cara melakukan Pijat Payudara Untuk Memperlancar ASI. Diakses pada tanggal 16 – 08 – 2021
  12. Kristiyanasari, W. (2009). ASI, Menyusui & SADARI. Yogyakarta: Nuhu Medika. Journal for Quality in Women’s Health 2019
  13. L. Rahmiati (2015). Asuhan kebidanan nifas dan menyusui. Jakarta : Erlangga
  14. Mansyur, N. & Dahlan, A.K. (2014).Buku Ajar Asuhan Kebidanan Masa Nifas.Malang: Selaksa Media.
  15. Meilirianta, dkk.(2014). Pengaruh Perawatan Payudara Terhadap Pengeluaran Air Susu Ibu (ASI) pada Ibu Post Partum
  16. Mooimon http://www.mooimon.id.2019 diaskses pada tanggal 26 – 07 – 2021
  17. Nursalam. 2016. Metode Peneliian Ilmu Keperawatan. Pendekatan Praktis. Edisi 4. Jakarta Salaemba Medika
  18. Reni, dkk. 2017. Hubungan Pengetahuan Ibu Postpartum 0-3 hari, Jakarta: TIM
  19. Roesli. 2013. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya
  20. Saleha. 2016. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika
  21. Setiowati, W. 2017. Hubungan Pijat Payudara dengan Kelancaran Produksi ASI pada Ibu Post Partum Fisiologis Hari ke 2-3, Jurnal Darul Azhar, Vol 3 No 1 diakses pada tanggal 26 Januari 2018, http://jurnal-kesehatan.id
  22. Setiaputri, Karinta Arini, 2020. http://hellosehat.com diakses pada tanggal 16 – 08 – 2021
  23. Sinaga, N. (2015). Perbandingan Pengaruh Breast Care Dan Pijat Oksitosin Terhadap Produksi Air Susu Ibu Post Sectio Caesarea Di Ruang Nifas Rsud Kota Bandung. Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran.
  24. Sulistiyawati. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan: Jakarta Salemba Medika
  25. Unicef. 2013. Early Intitation of Breastfeeding
  26. Varney, Helen., Kriebs, Jan M., Gegor C.L.2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan.Edisi 4 Volume 2. Jakarta: EGC JI-KES: Jurnal Ilmu Kesehatan
  27. Viviah, dkk. 2016. Asuhan Kepada Ibu Nifas. Salemba Medika
  28. WHO Baby Center diakses pada tanggal 20-08-2021. How Breast Feeding Benefit You And Your Baby
  29. Wijayanti. Titik. 2016. Efektivitas Brash Care Postpartum Terhadap Kelancaran Produksi ASI. Jurnal Kebidanan
  30. Wiji, Rizki Naha. 2015. ASI dan Panduan Ibu Menyusui: Yokyakarta: Naha Medika
  31. Widuri, H. 2013. Cara Pengolah ASI Eksklusif Bagi Ibu Bekerja. Yogyakarta: Gosyen Publising
  32. Heni Setiyowati dan Ana Rofika (2022). Hubungan Treatment Pijat Oksitosin Dengan Pengeluaran ASI pada Ibu Nifas Primpara. Jurnal Penelitian Perawat Profesional
  33. Lilis Fatmawati (2019). Pengaruh Perawatan Payudara Terhadap Pengeluaran ASI Ibu Postpartrum. Jurnal of Ners Community
  34. Eka Sri Wahyuni, Mutiara Dwi Yanti, Penny Ariani, Vitrillian Hutabarat, dan Tetty Junita Purba (2021). Pengaruh Pijat Woolwich Terhadap Produksi ASI pada Ibu Postpartum Di Klinik Sri Wahyuni. Jurnal Doppler
  35. https://promkes.kemkes.go.id/manfaat-asi-eksklusif-untuk-ibu-dan-bayi
  36. Novia Tri Tresnani Putri dan Sumiyati (2015). Mengatasi Masalah Pengeluaran ASI ibu Postpartum Dengan Pemijatan Oksitosin. Jurnal Of Nursing
  37. Diniyati, Llidwina Trielventa Lumuran Sihombing, Enny Susilawati.Efektivitas Perawatan Payudara dan PijatanOksitosin Terhadap Pengeluaran ASI Di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2019. Jurnal Ilmiah PANNMED

Pemberian Cokelat dan Relaksasi Nafas Dalam terhadap Penurunan Nyeri Haid

18

Fariya Azzuri Rahman and Nur Sitiyaroh (Editor)

ABSTRAK

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di SMP Negeri 12 Depok masih ditemukan 50% siswi yang mengalami dismenorea. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas pemberian coklat dan relaksasi nafas dalam terhadap penurunan nyeri haid pada remaja putri di SMP Negeri 12 Depok. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasi Eksperiment melalui pendekatan Pre-Post Test Design, di mana teknik pengambilan sampel menggunakan accidentaly sampling. Sampel penelitian berjumlah 15 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 7 orang diberikan metode pemberian coklat dan 8 orang diberikan metode relaksasi nafas dalam. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat (Paired T-test). Hasil Paired T-test memperolah nilai t pemberian coklat sebesar 5,196 dan relaksasi nafas dalam sebesar 6,780 dengan p-value 0,002 < α (0,05) < 0,001. Menunjukkan bahwa metode relaksasi nafas dalam lebih efektif dalam menurunkan nyeri haid dibandingkan dengan metode pemberian coklat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan dalam perubahan skala nyeri pada remaja di SMP Negeri 12 Depok dan diharapkan penelitian ini mampu memberikan informasi dan edukasi kepada remaja putri dalam menurunkan nyeri haid secara nonfarmakologis dengan menggunakan metode pemberian coklat dan relaksasi nafas dalam.

Kata Kunci : Pemberian Coklat, Relaksasi Nafas Dalam, Skala Nyeri, Dismenorea

PENDAHULUAN

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, bukan hanya dalam artian psikologis tetapi juga fisik (Sarwono, 2016). Pada saat anak – anak perempuan memasuki masa pubertas mereka akan mengalami perubahan pada perkembangan dan perubahan fisik, psikologis dan sosial. Di mana terdapat perubahan dan perkembangan fisik pada remaja putri di antaranya adalah menstruasi.

Menstruasi adalah keluarnya darah dan sel-sel tubuh secara periodik dari vagina yang berasal dari dinding rahim wanita yang dimulai saat pubertas (10-16 tahun) tergantung pada berbagai faktor, termasuk kesehatan wanita, status nutrisi, dan berat tubuh relatif terhadap tinggi tubuh (Shaleh, 2017).

Selama menstruasi sebagian wanita akan mengalami ketidaknyamanan fisik selama beberapa hari sebelum periode menstruasi datang. Inilah yang dinamakan dengan nyeri haid (dysmenorrhea).

Nyeri haid (dysmenorrhea) atau nyeri menstruasi adalah kondisi medis yang terjadi sewaktu haid/ menstruasi yang dapat mengganggu aktivitas dan memerlukan pengobatan yang ditandai dengan nyeri atau rasa sakit di daerah perut maupun panggul (Sari, 2019).

Berdasarkan studi epidemiologi terhadap populasi remaja (usia 12-17 tahun), nyeri haid (dysmenorrhea) memiliki prevalensi 59,7% yang terdiri atas 12% berat, 37% sedang, dan 49% ringan. Nyeri haid (dysmenorrhea) juga menyebabkan 14% pasien sering melewatkan sekolah.

Penanganan dysmenorrhea dapat dilakukan dengan tindakan farmakologi dan nonfarmakologi. Secara farmakologis dengan pemberian analgesik oral, terapi hormonal, dan terapi dengan obat OAINS (Obat anti-inflamasi nonsteroid). Namun, hal tersebut dapat menyebabkan efek buruk pada beberapa sistem tubuh, sehingga pada akhirnya akan membutuhkan alternatif terapi untuk jangka panjang (Wulandari dan Afriliana, 2017). Sedangkan secara nonfarmakologi dapat dilakukan dengan terapi alternatif yaitu dengan relaksasi nafas dalam dan mengkonsumsi coklat hitam (dark chocolate).

Coklat hitam (Dark Chocolate) memiliki kandungan biji kakao lebih banyak jika dibandingkan dengan jenis coklat lainnya, hal tersebut yang mengakibatkan coklat hitam kaya akan senyawa polifenol yang berkontribusi besar memberikan rasa pahit dan warna hitam pekat (Aulia, 2019). Dark Chocolate atau cokelat hitam kaya akan kalsium, kalium, natrium, magnesium serta vitamin A, B1, C, D, dan E. Magnesium berguna untuk merelaksasikan otot dan dapat memberikan rasa rileks yang dapat mengendalikan suasana hati yang murung. Magnesium berfungsi memperbesar pembuluh darah sehingga mencegah kejang otot dan dinding pembuluh darah. Magnesium berfungsi untuk meringankan dismenore atau rasa nyeri saat haid (Aulia, 2019). Berdasarkan hasil penelitian Andiama (2014) dalam Aulia (2019), Coklat mengandung tembaga yang digunakan di dalam tubuh untuk mensintesis kolagen dan neurotransmitter, yaitu endorphin. Hormon endorphin akan menjadi analgesik dan penenang alami sehingga mampu menurunkan intensitas nyeri seperti pada nyeri haid.

Menurut penelitian dari Hapsari dan Anasari (2015) teknik relaksasi nafas dalam efektif untuk menurunkan nyeri dysmenorrhea. Teknik ini dilakukan dengan cara menarik nafas dalam pada saat merasakan nyeri dengan menggunakan pernafasan dada melalui hidung yang akan mengalirkan oksigen ke darah, kemudian dialirkan ke seluruh tubuh sehingga dapat mengeluarkan hormone endorphin yang merupakan penghilang rasa sakit yang alami di dalam tubuh (Kusyati, dkk, 2012).

Intervensi pemberian coklat dan relaksasi nafas dalam belum banyak dilakukan dapat disebabkan karena perbedaan metode yang diambil dan intensitas nyeri haid yang di alami setiap responden berbeda – beda. Sampai saat ini, belum banyak intervensi penelitian di Indonesia untuk menurunkan intensitas nyeri haid pada remaja putri. Oleh karena itu, melalui penelitian ini diharapkan dapat membantu bidan dalam memberikan intervensi tambahan pemberian coklat dan relaksasi nafas dalam pada remaja putri.

Menurut dari data World Health Organization (WHO) tahun 2018 bahwa angka kejadian nyeri haid (dysmenorrhea) di dunia sangat besar. Rata-rata lebih dari 50% perempuan di setiap negara mengalami nyeri haid (dysmenorrhea), seperti di Amerika angka presentasinya sekitar 60%, di Swedia sekitar 72% dan di Inggris sebuah penelitian menyatakan bahwa 10% dari remaja sekolah lanjut tampak absen 1-3 hari setiap bulannya karena mengalami dysmenorrhea (Chayati, 2019 dalam Ariyanti, dkk, 2020). Dalam sebuah penelitian cross-sectional terhadap 311 mahasiswa wanita di Iran (berusia 18-27 tahun), prevalensi dysmenorrhea primer adalah 89,1% (Calis, 2017 dalam Silvia, dkk, 2018).

Sedangkan di Asia Tenggara mempunyai prevalensi yang berbeda, angka kejadian di Malaysia mencapai 69,4%, Thailand 84,2% (Sari, 2015 dalam Tsamara, 2020). Sedangkan di Singapura, dismenorea merupakan suatu masalah bagi remaja usia 12–19 tahun namun hanya 5,9% anak perempuan yang mencari pertolongan medis (Agarwal, 2009 dalam Wulandari, 2018).

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI (2017) angka kejadian dysmenorrhea di Indonesia sebesar 64.25% yang terdiri dari 54,89% dysmenorrhea primer dan 9,36% dysmenorrhea sekunder. Mengingat banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari nyeri haid (dysmenorrhea) ini maka diperlukan suatu penanganan yang tepat. Jawa Barat tidak ada angka pasti mengenai jumlah nyeri haid (dysmenorrhea). Namun diperkirakan 30%–70% perempuan mengalami masalah haid, termasuk di antaranya nyeri perut atau kram perut dan sekitar 10%–15% di antaranya terpaksa kehilangan kesempatan kerja, sekolah dan kehidupan keluarga (Kemenkes RI, 2017 dalam Rifiana dan Nita, 2018).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di SMP Negeri 12 Depok, dari 10 siswi yang mengalami menstruasi terdapat 5 siswi yang mengalami dismenorea sebanyak atau sebanyak 50% responden. Dari beberapa hal di atas peneliti tertarik melakukan penelitian tentang Pemberian Coklat dan Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan Nyeri Haid di SMP Negeri 12 Depok.

METODE

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperiment (Eksperimen Semu) melalui pendekatan Pre-Post test Design.

Instrumen yang digunakan adalah menggunakan lembaran observasi skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat yang mendeskripsikan setiap variable dan analisis bivariate yaitu menggunakan Paired T-test.

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian adalah seluruh remaja putri yang sudah mengalami menstruasi dan nyeri haid. Dalam pengambilan sampel peneliti menggunakan accidentaly sampling dan di dapatkan 15 siswi yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yaitu remaja putri yang sudah menstruasi tanpa memandang usia, tidak mengkonsumsi obat dan minuman untuk menurunkan nyeri haid, mengalami siklus haid teratur dan tidak alergi dengan coklat hitam. Siswi yang dijadikan sebagai sampel penelitian ini akan dibagi menjadi 2, yaitu 7 responden dengan intervensi pemberian coklat dan 8 responden dengan intervensi relaksasi nafas dalam.

Pengumpulan Data

Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan data primer. Sebelum mengambil data peneliti terlebih dahulu meminta izin dari Komite Etik STIKes Abdi Nusantara dan izin untuk melakukan penelitian dari Kepala Sekolah SMP Negeri 12 Depok. Setelah izin diperoleh peneliti melakukan pertemuan dan mendata responden yang sedang mengalami menstruasi hari ke 1 dan 2 dengan guru pembimbing di hari ke 1,2 dan 3. Setelah melakukan identifikasi responden berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian peneliti mengumpulkan responden di aula dan menjelaskan maksud, tujuan dan persetujuan penelitian kepada responden. Setelah responden menyatakan kesiapannya, peneliti menyiapkan lembar observasi, kemudian peneliti melakukan pemberian intervensi pemberian coklat dan relaksasi nafas dalam (Pre-test). Setelah intervensi selesai dilakukan, maka selanjutnya peneliti melakukan Post-test yaitu dengan mengukur kembali intensitas nyeri dengan menggunakan alat ukur Numeric Rating Scale (NRS) kepada masing-masing responden. Kemudian peneliti mengakhiri kontrak waktu dengan setiap responden dan setelah peneliti memperoleh semua data yang diperlukan maka peneliti.

Analisis Data

Data diolah dengan menggunakan analisis univariat, sedangkan untuk menguji efektivitas kedua metode sebelum dan sesudah intervensi menggunakan analisis bivariate dengan uji Paired T-test.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tingkat Nyeri Haid Remaja Putri di SMP Negeri 12 Depok Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pemberian Coklat

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas responden yang sebelum dan sesudah diberikan metode pemberian coklat memiliki hasil skala nyeri yang sama yaitu nyeri ringan sebanyak 4 responden (57,2%). Sedangkan untuk nilai rata – rata sebelum diberikan metode pemberian coklat adalah 3,86 dengan Std. Deviasi 1,574 menurun 3,00 menjadi 0,86 dengan Std. Deviasi 1,069 setelah diberikan metode yang sama. Dengan nilai skala nyeri sebelum diberikan metode memiliki nilai maksimal 6 dan minimal 2, kemudian skala nyeri turun dengan nilai maksimal 3 dan minimal 0.

Hasil penelitian tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Aulia (2019) terhadap 15 mahasiswi D-IV Kebidanan Transfer Universitas Ngudi Waluyo, bahwa sebelum diberikan metode pemberian dark chocolate mayoritas mahasiswi mengalami nyeri berat sebanyak 9 responden (60%) dan nyeri sedang sebanyak 6 responden (40%). Namun, setelah diberikan metode pemberian dark chocolate tingkat nyeri menjadi menurun dengan mayoritas mahasiswi mengalami nyeri ringan sebanyak 7 responden (46,7%), nyeri sedang sebanyak 4 mahasiswi (26,7%) dan nyeri berat sebanyak 4 responden (26,7%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh perbedaan skala nyeri haid sebelum dan sesudah diberikan metode pemberian dark chocolate dengan nilai t hitung sebesar 5,671 (p-value 0,000 < α (0,05)).

Penelitian tersebut juga selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari dan Afriliana (2017) terhadap 16 siswi di SMPN 5 Kediri, bahwa sebelum diberikan metode pemberian dark chocolate, 8 responden (50%) mengalami nyeri sedang dan setelah diberikan metode yang sama skala nyeri menurun menjadi nyeri ringan sebanyak 8 responden (50%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dalam mengkonsumsi dark chocolate terhadap penurunan skala nyeri remaja putri di SMAN 5 Kediri dengan p-value 0,001 < α (0,05).

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa coklat yang setidaknya mengandung 70% kakao yang sering dikategorikan sebagai dark chocolate (coklat hitam) akan memicu pengeluaran endorphin yang akan menghambat enzim siklo oksigenase sehingga tidak terbentuk PGG2, di mana PGG2 yang akan membentuk PGF2 α yang merupakan zat mediator nyeri (Kundaryanti, dkk, 2020). Kandungan antioksidan dari fenol dan flavonoid, kalsium, kalium, zat besi, omega tiga dan enam serta magnesium tinggi dalam coklat hitam dapat mengurangi nyeri menstruasi pada wanita (Nurazizah, dkk, 2015).

Tingkat Nyeri Haid Remaja Putri di SMP Negeri 12 Depok Sebelum dan Sesudah Dilakukan Relaksasi Nafas Dalam

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebelum diberikan metode relaksasi nafas dalam mayoritas responden mengalami nyeri sedang sebanyak 7 responden (87,5%) dan mayoritas skala nyeri responden berubah menjadi Nyeri ringan sebanyak 6 responden (75,0) setelah diberikan metode yang sama. Sedangkan untuk nilai rata – rata sebelum diberikan metode relaksasi nafas dalam adalah 4,63 dengan Std. Deviasi 1,188 menurun 3,38 menjadi 1,25 dengan Std. Deviasi 1,035 setelah diberikan metode yang sama. Dengan nilai skala nyeri sebelum diberikan metode memiliki nilai maksimal 6 dan minimal 2, kemudian skala nyeri turun dengan nilai maksimal 3 dan minimal 0.

Hasil penelitian tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Guswiyani (2019) terhadap 17 mahasiswi D-III Kebidanan Semester II Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, bahwa sebelum diberikan metode relaksasi nafas dalam mayoritas mahasiswi mengalami nyeri sedang sebanyak 12 responden (70,6%), nyeri berat sebanyak 4 responden (47,1%) dan nyeri ringan sebanyak 1 responden (5,9%). Namun setelah diberikan metode yang sama mayoritas mahasiswi mengalami penurunan nyeri haid sedang sebanyak 9 responden (52,9%), nyeri ringan sebanyak 8 responden (47,1%) dan tidak ada mahasiswi mengalami nyeri berat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh dalam pemberian relaksasi nafas dalam terhadap penurunan intensitas nyeri dismenorea dengan p-value 0,033 < α (0,05).

Penelitian tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Suaib (2019) terhadap 27 siswi di MAN Insan Cendekia Halmahera Barat, bahwa sebelum diberikan metode relaksasi nafas dalam mayoritas siswi mengalami nyeri sedang sebanyak 25 responden (92,59%). Namun setelah diberikan metode yang sama mayoritas responden mengalami penurunan skala nyeri menjadi nyeri ringan sebanyak 13 responden (48,14%) dan terdapat responden yang tidak nyeri sebanyak 8 responden (29,63%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dalam pemberian relaksasi nafas dalam terhadap penurunan skala nyeri dengan p-value 0,0001 < α (0,05).

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa relaksasi nafas dalam menunjukkan hasil yang efektif dalam mengurangi rasa nyeri haid pada remaja putri di mana metode tersebut dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan kadar oksigen dalam darah karena mampu merangsang tubuh untuk mengeluarkan opoid endogen sehingga membentuk sistem penekanan nyeri dan mengeluarkan homon endorphin yang dapat menyebabkan penurunan intensitas nyeri (Marni, 2015).

Efektivitas Pemberian Coklat dan Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan Nyeri Haid di SMP Negeri 12 Depok

Berdasarkan hasil penelitian diketahui nilai p-value metode pemberian coklat adalah 0,002 dan metode relaksasi nafas dalam adalah 0,000. Kedua teknik tersebut mempunyai efektifitas yang sama dalam menurunkan nyeri haid pada remaja putri di SMP Negeri 12 Depok. Sedangkan dari hasil uji paired t-test di dapatkan pula bahwa hasil nilai t pemberian metode relaksasi nafas dalam lebih besar yaitu 6,780 dibandingkan metode pemberian coklat 5,196 sehingga dapat disimpulkan bahwa metode relaksasi nafas dalam lebih efektif untuk menurunkan nyeri haid dibandingkan dengan metode pemberian cokelat.

Kedua metode tersebut mempunyai peran yang sama dan efektif dalam menurunkan nyeri haid pada remaja putri saat menstruasi di mana coklat memiliki salah satu komponen psikoaktif yaitu theobromine yang merupakan turunan kafein dan metabolit di mana komponen tersebut bersifat sangat larut dalam lemak, dengan puncak dalam plasma adalah 1-2 jam setelah konsumsi yang akan memicu pengeluaran endorphin yaitu zat penghantar eksitasi sistem analgesia otak dan magnesium tinggi yang akan memberi tekanan pada pembuluh darah dan akan membantu mengatur masuknya kalsium ke dalam sel otot polos di dalam tubuh sehingga dapat mempengaruhi terjadinya kontraksi, stres dan relaksasi pada otot polos rahim (Arfailasufandi, 2015). Sedangkan relaksasi nafas dalam dilakukan dengan cara menarik nafas dalam pada saat merasakan nyeri dengan menggunakan pernafasan dada melalui hidung yang mampu meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigen darah sehingga dapat mengeluarkan hormone endorphin yang merupakan penghilang rasa sakit alami (Azizah, 2015).

Hasil penelitian itu selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Hapsari dan Tri (2015) berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada remaja putri di SMK Swagaya 2 Purwokerto didapatkan bahwa rata – rata intensitas nyeri sebelum diberikan metode relaksasi nafas dalam adalah 4,87 lalu berkurang menjadi 2,47 setelah diberikan metode yang sama. Sedangkan nilai rata – rata intensitas nyeri sebelum diberikan metode pemberian coklat adalah 5,73 lalu menurun menjadi 4,00 setelah diberikan metode yang sama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan kedua metode (p-value 0,000) dengan metode relaksasi nafas dalam lebih efektif dalam menurunkan nyeri haid dibandingkan dengan metode pemberian coklat.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan, yaitu :

  1. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa nilai rata – rata nyeri haid pada remaja putri sebelum dilakukan metode pemberian coklat yaitu 3,86 dan menurun menjadi 0,86 setelah diberikan metode yang sama.
  2. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa nilai rata – rata nyeri haid pada remaja putri sebelum dilakukan metode relaksasi nafas dalam yaitu 4,63 dan menurun menjadi 1,25 setelah diberikan metode yang sama.
  3. Berdasarkan hasil uji paired t-test metode relaksasi nafas dalam lebih efektif dibandingkan metode pemberian coklat dengan p-value 0,002 < α (0,05) < 0,000 dan nilai t pada metode relaksasi nafas dalam 6,780 lebih besar dibandingkan dengan metode pemberian coklat yaitu 5,196.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ahmed, A.S & Latif, R. (2014). Effects of ChocolateIntake on Perceived Stress; a Controlled Clinical Study, Internasional Journal of Health Sciences : Qassim University, 8 (4), 393–401.
  2. Annisa, M.V. (2015). The Effect of Exercises on Primary Dysmenorrhea, Journal Majority : Faculty of Medicine lampung University, 4 (2), 60–65.
  3. Arfailasufandi, R. (2015). Pengaruh Pemberian Coklat Hitam Terhadap Penurunan Nyeri Haid Pada Dismenorhea Primer Mahasiswi PSIK Universitas Muhammadiyah Malang. Diakses 28 Oktober 2021 dari https://eprints.umm.ac.id/23343/.
  4. Ariyanti, V.D & Septika, Y.V & Feri, K. (2020). Pengaruh Pemberian Jus Wortel terhadap Penurunan Skala Nyeri Dismenore Primer Pada Remaja Putri. Wellness And Healthy Magazine, 2 (2), 277–282.
  5. Aulia, S.R. (2019). Pengaruh Pemberian Dark Chocolate Terhadap Dismenore Pada Mahasiswi DIV Kebidanan Transfer Di Universitas Ngudi Waluyo. Diakses 06 Oktober 2021 dari http://repository2.unw.ac.id/326/.
  6. Azizah, N & Ana, Z.N & FainaNurul, K.N. (2015). Teknik Relaksasi Nafas Dalam Dan Terapi Musik Sebagai Upaya Penurunan Intensitas Nyeri Haid (Dysmenorrhea). The 2nd University Research Coloquium 2015. Diakses 13 November 2021 dari https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn12012010/article/view/1572.
  7. Ernawati, dkk. 2017. Manajemen Kesehatan Menstruasi. Universitas Nasional, IWWASH, Global One : Jakarta
  8. Guswiyani, A. (2018). Pengaruh Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan Nyeri Dismenorea Pada Mahasiswa DIII Kebidanan Semester II Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Diakses 10 November 2021 dari http://digilib.unisayogya.ac.id/4128/.
  9. Hapsari, R.W & Tri, A. (2015). Efektivitas Teknik Relaksasi Nafas Dalam Dan Metode Pemberian Cokelat Terhadap Penurunan Intensitas Dismenore Pada Remaja Putri Di Smk Swagaya 2 Purwokerto. Jurnal Involusi Kebidanan, 3(5), 26–38.
  10. Kate, P.E & Deshmukh G.P & Datir, R.P & Jayraj, R.K. (2017). Good Mood Foods, Journal of Nutritional Health & Food Engineering, 7 (4), 345–351.
  11. Kundaryanti, R & Anni, S & Nurfaizah. (2020). Pengaruh Pemberian Dark Chocolate Terhadap Tingkat Dismenore Primer Pada Remaja Putri Di Kabupaten Tanggerang. Diakses 28 Oktober 2021 dari http://repository.unas.ac.id/2310/.
  12. Kusyati, E & Lestari, P.A & Diah, D.P. (2012). Efektivitas Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Tingkat Nyeri Persalinan Kala I Di Wilayah Kerja Puskesmas Tlogosari Wetan Semarang Tahun 2012, Jurnal Kebidanan, 4 (2), 93–100.
  13. Marni. (2015). Efektivitas Relaksasi Napas Dalam Terhadap Penurunan Nyeri Haid. Diakses 10 November 2021 dari http://journal.akpergshwng.ac.id/index.php/gsh/article/view/11.
  14. Ningsih. R & Setyowati & Hayuni, R. (2013). Efektivitas Paket Pereda Nyeri pada Remaja Dengan Dismenore, Jurnal Keperawatan Indonesia, 16 (2), 67–76.
  15. Novia, I & Nanik, P. (2008). Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Dismenore Primer, The Indonesian Journal of Public Health, 4 (2), 96–104.
  16. Nugroho. 2014. Masalah Kesehatan Reproduksi Wanita. Yogyakarta : Nuha Medika.
  17. Nurazizah, E & Fen, T & Winny, S. (2015). Black Chocolate Consumption Reduces Subjective Symptoms in 18–22 Years Old Females with Premenstrual Syndrome, Journal of Madicine and Health, 1 (1), 76–84.
  18. Rifiana, A.J & Nita, I.S. (2018). Efektifitas Terapi Yoga Terhadap Dismenorea Pada Siswi Kelas X SMA Negeri 1 Klari Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat Tahun 2018, Jurnal Ilmu dan Budaya, 41 (64), 7637–7646.
  19. Rinawati. (2013). Pengaruh Senam Dismenore Terhadap Perubahan Dismenore Primer Pada Siswi Kelas XI MA-MU Kedungpanji Magetan. Diakses 28 November 2021 dari http://eprints.umpo.ac.id/274/.
  20. Rosyida, Desta Ayu Cahya. 2020. Buku Ajar : Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. PT. Pustaka Baru : Yogyakarta
  21. Sari, E.J. (2019). Pengaruh Pemberian Air Rebusan Jahe Madu Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Haid (Dismenorea) Pada Remaja Putri Kelas IX SMPN 31 Bandar Lampung Tahun 2019. Diakses 10 November 2021 dari http://repository.poltekkes-tjk.ac.id/91/.
  22. Sarwono, Sarlito Wirawan. 2016. Psikologi Remaja : Edisi Revisi. Rajawali Pers : Depok
  23. Shaleh, Abdul Qodir. 2017. Buah Hati : Antara Perhiasan dan Ujian Keimanan. Diandra Kreatif : Yogyakarta
  24. Silvia, A. (2018). Penerapan Senam Dismenore Untuk Pemenuhan Kebutuhan Aman Nyaman pada Remaja yang Mengalami Dismenore di Wilayah Kerja Puskesmas Sewon II. Diakses 13 November 2021 dari http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/1415/.
  25. Suaib, N. (2019). Pengaruh Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Haid Pada Remaja Putri Di MAN Insan Cendekia Halmahera Barat, Medikes (Media Informasi Kesehatan), 6 (2), 193–202.
  26. Tsamara, G & Widi, R & Eka, A.P. (2020). Hubungan Gaya Hidup Dengan Kejadian Dismenore Primer Pada Mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, Jurnal Nasional Ilmu Kesehatan (JNIK), 2 (3), 130–140.
  27. Umaiyah, F. (2020). Penanganan Nyeri Haid (Dismenore) Pada Mahasiswi di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Diakses 13 November 2021 dari https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/28870.
  28. Wahyuni, L.T. (2018). Pengaruh Konsumsi Coklat Hitam Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Haid (Dismenore Primer) Pada Mahasiswi Ilmu Keperawatan STIKes Ranah Minang Padang, Menara Ilmu, 12 (2), 73–78.
  29. Wianti, A & Maulida, M.K. (2017). Perbedaan Efektivitas Teknik Relaksasi Nafas Dalam Dan Kompres Hangat Dalam Penurunan Nyeri Dysmenorhea, Jurnal Keperawatan Silampari, 2 (1), 315–329.
  30. Wirtz et al,. (2014). Dark Chocolate Intake Buffers Stress Reactivity In Humans. Diakses 28 November 2021 dari https://www.researchgate.net/publication/261220137_Dark_Chocolate_Intake_Buffers_Stress_Reactivity_in_Humans.
  31. Wulandari, A & Oswati, H & Rismadefi, W. (2018). Gambaran Kejadian Dan Manajemen Dismenore Pada Remaja Putri Di Kecamatan Lima Puluh Kota Pekanbaru, JOM FKp, 5(2), 468–476.
  32. Wulandari, S & Fitra, D.A. (2017). The Effect of Consumption Dark Chocolate against Primary Dismenore Pain for Girls Teenager at Kediri 5 High School, Indian Journal of Medical Research and Pharmaceutical Sciences, 4 (2), 17–24.

Musik Klasik dan Kecemasan Ibu Bersalin

19

Ani Agustina and Nur Sitiyaroh (Editor)

ABSTRAK

Latar belakang : Dari Studi penelitian yang dilakukan di Puskesmas Binuang didapatkan hasil berdasarkan klasifikasi cemas pada ibu bersalin sebagai berikut (20 %) menyatakan tidak cemas, (30%) cemas ringan, (40%) cemas sedang dan (10%) cemas berat. Tujuan: Penelitian ini Untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Musik Klasik Terhadap Kecemasan Pada Ibu Bersalin di Puskesmas Binuang Kabupaten Serang Tahun 2022. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Binuang Kabupaten Serang. Pada bulan Februari – Maret tahun 2022. Metode: penelitian quasy eksperimen dengan pendekatan pre test post test design. populasi dalam penelitian adalah seluruh ibu bersalin fisiologi. Teknik sampling menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner HARS dan menggunakan data sekunder dan data primer, analisis yang digunakan uji wilcoxon. Hasil: penelitian menunjukkan perbedaan rata-rata tingkat kecemasan responden pada pretest dan posttest. Tingkat kecemasan pretest memiliki nilai mean 2,93 kemudian mengalami penurunan setelah dilakukan intervensi berupa therapi musik klasik dengan nilai mean pada tingkat kecemasan postest adalah 2,03. Simpulan: terdapat pengaruh terapi musik klasik terhadap penurunan tingkat kecemasan, ibu bersalin sebelum dan sesudah dengan nilai signifikansi 0.000 (p<0,05).

Kata Kunci: Musik klasik. kecemasan.

PENDAHULUAN

Persalinan merupakan proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini di mulai dengan adanya kontraksi persalinan sejati, yang di tandai dengan perubahan serviks secara progresif dan diakhiri dengaan kelahiran plasenta (Sulistyawati & Nugraheny, 2010).

Salah satu penyebab dari persalinan lama selain karena kelainan his, janin, atau jalan lahir, penyebab dari kelainan tersebut adalah faktor emosi berupa rasa takut dan cemas, serta dampak dari pesalinan lama tersebut adalah infeksi pada intrapartum, rupture uteri, dan cedera otot-otot dasar panggul yang memungkinkan dapat menyumbang kematian ibu (Saifuddin, 2009).

Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya, keadaan emosi ini tidak memiliki obyek yang spesifik. Kondisi dialami secara subyektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Kecemasan berbeda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian intelektual terhadap suatu yang berbahaya (Stuart, 2012). Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya (Suliswati ,Sumijatun ,Tjie Anita ,Jeremia Maruhawa, 2013).

Menurut Wira (2014) yang pernah melakukan penelitian dengan judul pemberian terapi musik klasik terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi mengatakan bahwa ia melakukan penelitan dengan memberikan terapi musik dengan waktu 15 menit dapat menurunkan tingkat kecemasan, sedangkan didalam penelitian Anindika (2016) dengan judul yang sama namun pemberian terapi musik klasik diberikan selama 30 menit juga dapat menurunkan tingkat kecemasan.

Studi penelitian mengungkapkan bahwa terdapat 67% ibu hamil menyatakan agak cemas menjelang persalinannya, 12% sangat cemas dan sisanya 23% menyatakan tidak cemas (Husna et al., 2013). Cemas merupakan suasana hati yang ditandai dengan perasaan negatif dan tegang, dampak negatif dari kecemasan tingkat tinggi dapat menghalangai keadaan fisik ibu bersalin berfungsi secara efektif dapat meningkatkan detak jantung dan penegangan otot-otot tubuh sehingga sering terlihat sebagai suatu reaksi panik (Hawari, 2011)

Studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Binuang didapatkan hasil berdasarkan klasifikasi cemas pada ibu bersalin didapatkan 2 dari 10 (20 %) menyatakan tidak cemas, 3 dari 10 (30%) cemas ringan, 4 dari 10 (40%) cemas sedang dan 1 orang dari 10 (10%) cemas berat.

METODE

Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi Eksperimen dengan rancangan pre test post test design. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh Ibu bersalin fisiologis dibulan Februari-Maret 2022 yang ada di Puskesmas Binuang yang berjumlah 46 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan tehnik accidental sampling dimana pengambilan sampel berdasarkan kebetulan yaitu semua ibu bersalin fisiologis yang ada di Puskesmas Binuang dengan kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 46 ibu bersalin fisiologis. Dalam penelitian ini variabel dependen yaitu kecemasan ibu bersalin, dan variabel independen terapi musik klasik Pada awal penelitian, peneliti melakukan pretest dengan menilai kecemasan menggunakan kuesioner HARS kemudian peneliti melakukan intervensi terapi musik selama 15-30 menit, setelah dilakukan terapi musik responden dilakukan postest. Dalam menganalisis data secara bivariat, pengujian data dilakukan dengan menggunakan uji statistik Paired T Test bertujuan untuk membandingkan rata-rata dua grup yang saling berpasangan dan uji wilcoxon.

HASIL DAN DISKUSI

Berdasarkan hasil obervasi pretest dan postest menunjukkan bahwa tingkat kecemasan responden pretest mayoritas responden mengalami kecemasan sedang dengan jumlah 29 orang (72,5%), yang mengalami kecemasan ringan berjumlah 7 orang (17,5%), dan minoritas mengalami kecemasan berat 4 berjumlah orang (10,0%) sedangkan tingkat kecemasan responden postest mayoritas responden mengalami kecemasan ringan dengan jumlah 18 orang (45,0%), yang tidak mengalami cemas berjumlah 12 orang (30,0%), yang mengalami kecemasan sedang berjumlah 7 orang (17,5%) dan minoritas mengalami kecemasan berat 3 berjumlah orang (7,5%).

Sesuai teori yang menyatakan Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap perubahan yang terjadi dan akan membuat seseorang memiliki perasaan yang tidak nyaman. Hal ini disebabkan oleh adanya dugaan terhadap bahaya yang mengancam, membahayakan rasa aman, keseimbangan atau kehidupan seorang individu atau kelompok sosialnya. Sering kali kecemasan tersebut menyertai kehamilan dan mencapai puncaknya pada saat persalinan. Penyebabnya yaitu rasa nyeri pada waktu persalinan yang menjadi pembahasan utama dalam pembicaraan mengenai kehamilan dan persalinan (Detiana dalam Syukrini 2016). Sejalan dengan penelitian (Handayani, n.d.) faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pada ibu hamil didapatkan hasil bahwa ibu hamil mengalami berbagai tingkatan kecemasan yang dipegaruhi oleh beberapa faktor yaitu usia, pendidikan, dukungan suami dan dukungan keluarga

Hasil analisa uji statistik pada skor tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian terapi musik klasik pada responden menunjukkan terdapat perbedaan tingkat kecemasan bermakna antara sebelum dan sesudah diberikan terapi musik klasik dengan (nilai p=0,000) atau (p<0,05). Hal tersebut juga menunjukkan terdapat hasil uji statistik lebih rendah dari pada angka signifikansi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2010) yang menyatakan pemberian terapi musik klasik dapat menurunkan kecemasan pada ibu primigravida trimester III dengan nilai signifikansi yang didapat 0,015.

Sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan (Asmara et al., 2017) juga membahas efektifitas hipnoterapi dan terapi musik klasik terhadap kecemasan ibu. Hasil uji statistik penelitian yang dilakukan oleh Asmara, dkk menyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan setelah diberikan musik klasik (p=0,005).

Kecemasan merupakan respons terhadap situasi tertentu yang mengancam dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan dalam hidup. Saat menghadapi persalinan, munculnya kecemasan ini sangat wajar, karena merupakan suatu pengalaman baru dan merupakan masamasa yang sulit bagi seorang wanita (Stuart, 2012).

Terapi musik klasik dapat mengurangi kecemasan pada ibu karena terapi musik klasik merupakan teknik yang efektif untuk mengalihkan perhatian seseorang terhadap cemas berlebih. Musik klasik dapat membantu seseorang menjadi lebih rileks, mengurangi stress, menimbulkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa sedih, membuat jadi gembira, dan membantu serta melepaskan rasa sakit (Moekroni & Analia., 2016).

Pemberian intervensi terapi musik klasik membuat seseorang menjadi rileks, menimbulkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa gembira dan sedih, melepaskan rasa sakit dan menurunkan tingkat stres, sehingga dapat menyebabkan penurunan kecemasan (Musbikin, 2009). Hal tersebut terjadi karena adanya penurunan Ardenal Corticotropin Hormon (ACTH) yang merupakan hormon stress. Hormon ini terdapat pada hipotalamus yang berfungsi ganda dalam keadaan darurat yang aktif pada saraf simpatis dan sistem saraf otonom sebagai pengahantar implus saraf ke nukleus-nukleus dibatang otak yang ngendalikan saraf otonom bereaksi langsung pada otot polos dan organ internal untuk menghasilkan beberapa perubahan sistem tubuh seperti denyut jantung meningkat. Sistem saraf simpatis menstimulasi medula andrenal untuk pelepasan hormon epineprin (adrenalin) dan non epineprin yang berdampak meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah (Ulfa, 2017).

Peneliti menyimpulkan bahwa responden mengalami penurunan tingkat kecemasan setelah diberikan terapi musik klasik selama 15-30 menit. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikah terapi musik, di mana skor tingkat kecemasan pretest terbanyak adalah kategori kecemasan sedang, kemudian mengalami penurunan yang lebih baik setelah pemberian terapi musik dengan skor kecemasan terbanyak pada kategori kecemasan ringan. Hal ini disebabkan terapi musik klasik dapat mempengaruhi aktifitas fungsi kerja otak melalui sistem saraf dan dapat memulihkan kondisi psikis seperti emosi, perasaan, pikiran, dan keinginan, selain itu terapi musik klasik juga dapat memberikan efek relaksasi bagi saraf dan otot-otot yang tegang serta musik dengan irama yang lembut dapat membuat suasana hati pendengarnya menjadi lebih baik sehingga kecemasan yang dirasakannya akan menurun.

Penelitian ini memiliki banyak kelemahan diantaranya dikarenakan adanya keterbatasan pemahaman metode penelitian pada penulis sehingga proses penelitian berjalan cukup lama. Kelemahan penelitian ini dapat menjadi pembelajaran untuk lebih diperhatikan bagi peneliti-peneliti yang akan datang dalam lebih menyempurnakan penelitiannya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Tingkat kecemasan responden pretest mayoritas responden mengalami kecemasan sedang dengan jumlah 29 orang (72,5%), yang mengalami kecemasan ringan berjumlah 7 orang (17,5%), dan minoritas mengalami kecemasan berat 4 berjumlah orang (10,0%). Tingkat kecemasan responden postest mayoritas responden mengalami kecemasan ringan dengan jumlah 18 orang (45,0%), yang tidak mengalami cemas berjumlah 12 orang (30,0%), yang mengalami kecemasan sedang berjumlah 7 orang (17,5%) dan minoritas mengalami kecemasan berat 3 berjumlah orang (7,5%). Terdapat pengaruh terapi musik klasik terhadap penurunan tingkat kecemasan ibu bersalin sebelum dan sesudah dengan nilai signifikansi 0.000 (p<0,05).

SUMBER PUSTAKA

  1. Asmara, M. S., Rahayu, H. E., Wijayanti, K., Studi, P., Keperawatan, I., & Magelang, U. M. (2017). Efektifitas Hipnoterapi dan Terapi Musik Klasik Terhadap Kecemasan Ibu Hamil Resiko Tinggi di Puskesmas Magelang Selatan Tahun 2017. Urecol, 329–334. https://journal.unimma.ac.id/index.php/urecol/article/view/1389
  2. Handayani, R. (n.d.). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kecemasan Menjelang Persalinan pada Ibu Primigravida Trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang Tahun 2012. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, Vol. 11, N.
  3. Hawari, D. (2011). Manajemen stress, cemas dan depresi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  4. Husna, D. A., Studi, P., Bidan, P., Kedokteran, F., & Airlangga, U. (2013). Difference Level Of Anxiety About Facing Delivery Between Nulliparous And Multipar. 2010, 50–61.
  5. Moekroni, R., & Analia. (2016). Pengaruh Pemberian Terapi Musik Klasik dalam Menurunkan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Menjelang Persalinan. Jurnal Majority, 5, 1–11.
  6. Musbikin, I. (2009). Kehebatan musik untuk Mengasah Kecerdasan Anak. Power Books.
  7. Saifuddin, A. B. (2009). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal (Ed. 1, Cet). Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
  8. Stuart, G. W. (2012). Buku saku keperawatan jiwa (Edisi 5). EGC.
  9. Sulistyawati, A., & Nugraheny, E. (2010). Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Salemba Medika.
  10. Suliswati ,Sumijatun ,Tjie Anita ,Jeremia Maruhawa, Y. S. (2013). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa Original. Fitramaya.

Efektivitas Lama Pemberian Farmakologi Nifedipine Sebagai Tokolitik terhadap Konstraksi Uterus Ibu Hamil Preterm dalam Mencegah Kelahiran Prematur

20

Citra Paramudita and Nur Sitiyaroh (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang Persalinan prematur merupakan masalah global yang terjadi di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. World Health Organization (WHO) mengestimasikan terdapat 675.700 (15.5%) per 100 kelahiran hidup di Indonesia adalah kelahiran prematur, serta memposisikan Indonesia sebagai negara terbesar kelima di dunia dengan kasus persalinan prematur tertinggi. Kontraksi uterus merupakan tanda dan tanda utama persalinan prematur. Tokolitik dilakukan untuk memperlama kehamilan serta menunda persalinan. Di Indonesia, nifedipine merupakan obat yang paling banyak digunakan saat ini. Namun penelitian mengenai tingkat keberhasilan nifedipine sebagai tokolitik di Indonesia masih jarang dilakukan. Tujuan Penelitian mengetahui efektivitas lama pemberian farmakologi nifedipine sebagai tokolitik terhadap kontraksi uterus pada ibu hamil preterm dalam mencegah kelahiran prematur di RSIA PSH. Metode Penelitian Bersifat non eksperimen dengan menggunakan rancangan penelitian Cross Sectional dimana populasi dalam penelitian adalah seluruh responden dengan kehamilan preterm yang mengalami kontraksi uterus pada periode Januari – Maret 2022 di RSIA PSH dan sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi sejumlah 21 responden. Hasil Penelitian Terdapat efektivitas nifedipine sebagai tokolitik terhadap kontraksi uterus pada ibu hamil preterm dalam mencegah kelahiran prematur yaitu sebagian besar (90.5%) responden dinyatakan kontraksi uterus berhasil teratasi dengan lama pemberian nifedipine 24 – 48 jam (p value = 0.005 < 0.05). Saran Masyarakat diharapkan agar lebih rutin dalam melakukan pemeriksaan antenatal care untuk memantau kesejahteraan ibu dan janin, sehingga persalinan preterm dapat dicegah.

Kata Kunci : Nifedipine, Tokolitik, Kontraksi Uterus, Ibu Hamil Preterm, Kelahiran Prematur

PENGANTAR

Preterm Labor (persalinan prematur) merupakan masalah global yang terjadi di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Hal tersebut merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada neonatus serta penyebab kedua kematian setelah pneumonia pada anak di bawah usia lima tahun (Erez, 2013).

World Health Organization (WHO) mengestimasikan terdapat 15 juta (10-11%) dari jumlah kelahiran di dunia tiap tahunnya adalah kelahiran prematur. Sepuluh negara yang memiliki kasus persalinan prematur tertinggi antara lain, India, China, Nigeria, Pakistan, Indonesia, Amerika Serikat, Bangladesh, Filipina, Republik Kongo, dan Brazil (WHO, 2018).

WHO melaporkan prevalensi angka kelahiran prematur di Asia sebanyak 6.907 (9.1%) per 1000 kelahiran, di Asia Tenggara sebesar 1.271 (11.1%) kelahiran prematur per 1000 kelahiran, dan di Indonesia sebanyak 675.700 (15.5%) per 100 kelahiran hidup, serta memposisikan Indonesia sebagai negara terbesar kelima di dunia dengan kasus persalinan prematur (WHO, 2018).

Di Indonesia kejadian kelahiran prematur berada pada urutan kedua sebagai penyebab kematian bayi baru lahir usia 0-6 hari sebesar 32,4% dan urutan keempat sebagai penyebab kematian bayi usia 7-28 hari yaitu sebesar 12,8% (Trisa, 2019).

Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Provinsi Banten (2018), prevalensi AKB di Banten sebesar 1147 kasus, dengan urutan kasus tertinggi hingga terendah yaitu Kabupaten Lebak 326 kasus, Kabupaten Tangerang 247 kasus, Kabupaten Serang 205 kasus, Kabupaten Pandeglang 182 kasus, Kabupaten Cilegon 65 kasus, Kota Tangerang Selatan 60 kasus, Kota Tangerang 49 kasus, dan Kota Serang 13 kasus. Penyebab AKB tertinggi adalah BBLR yaitu sebanyak 356 kasus dengan diantaranya akibat kelahiran prematur.

Berbagai faktor yang mengakibatkan bayi lahir prematur antara lain yaitu usia ibu yang berisiko saat melahirkan (terlalu muda atau tua), sosial ekonomi, riwayat persalinan prematur, infeksi, hipertensi selama kehamilan, kehamilan ganda, konsumsi alkohol, merokok, stress dan penggunaan narkoba (Putri, 2017).

Bayi lahir prematur mempunyai risiko kematian lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang lahir cukup bulan. Hal ini disebabkan bayi lahir prematur mempunyai kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim akibat ketidakmatangan sistem organ tubuhnya. Kelahiran prematur memiliki risiko potensial, antara lain kematian bayi, kecacatan bayi, gagal nafas, perdarahan otak, infeksi/sepsis, dan gagal jantung. Jika tidak terjadi kematian neonatus, hampir separuh dari neonatus yang berhasil hidup, kemungkinan besar akan mengalami kecacatan neurologis kongenital termasuk serebral palsi dan akan mengidap penyakit kronis yang merupakan bagian dari komplikasi kelahiran prematur, seperti displasia bronkopulmoner, enterokolitis nekrotikan, retinopati prematuritas dan kerusakan organ akibat septicemia. Hal ini dapat mengakibatkan terciptanya kualitas sumber daya manusia yang rendah di masa yang akan datang (Manuaba, 2012; Cunningham, 2013).

Preterm Labor (persalinan prematur) didefinisikan sebagai persalinan yang berlangsung pada usia gestasi 20-37 minggu (WHO, 2018). Upaya preventif Preterm Labor dilaksanakan selama pasien masih didiagnosis Ancaman Persalinan Prematur (Partus Prematurus Imminens). Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan survival rate bayi baru lahir dengan menghindarinya dari komplikasi yang bisa terjadi. Manajemen yang mampu dilaksanakan meliputi tirah baring, hidrasi dan sedasi, intervensi farmakologis/pemberian tokolitik, serta kombinasi ketiganya. Kontraksi uterus merupakan tanda dan gejala utama Partus Prematurus Imminens, maka inhibisi kontraksi uterus dengan tokolitik dilakukan untuk memperlama kehamilan serta menunda persalinan. Prinsip pemberian tokolitik adalah untuk mensupresi kontraksi selama periode akut dan rumatan. Hal ini sudah dibuktikan secara meta analisis bahwa tokolitik dapat memperpanjang fase laten persalinan prematur antara 24–48 jam, yang dipergunakan untuk mempersiapkan pematangan paru janin serta memberikan kesempatan untuk melakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki ketersediaan fasilitas perawatan bagi bayi prematur. Tujuan akhir tokolitik adalah untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan neonatus akibat kelahiran prematur (Conde, 2011; POGI, 2011; Cuningham et all, 2013; Schleubner, 2013; Prawirohardjo, 2014; Haas, 2017).

Magnesium Sulfat (MgSO4) merupakan tokolitik pertama yang digunakan dalam mensupresi kontraksi uterus. Selain MgSO4, terdapat golongan obat tokolitik lainnya, seperti betamimetik, Calcium Channel Blocker, dan NSAID. Di Indonesia, nifedipine (Calcium Channel Blocker) merupakan obat yang paling banyak digunakan saat ini. Penelitian mengenai tingkat keberhasilan nifedipine sebagai tokolitik di Indonesia masih jarang dilakukan. Padahal pada kategori keamanan obat, nifedipine tergolong obat kategori C untuk kehamilan yang artinya potensi teratogeniknya belum jelas (Brown, 2014; Haas, 2014).

Nifedipine mempunyai efek pada uterus sebagai tokolitik. Penelitian in vitro menunjukkan bahwa nifedipine secara signifikan menghambat ion kalsium ke intrasel sehingga menghambat terjadinya ikatan aktin miosin yang mengakibatkan tidak terjadinya kontraksi (Gaspar dan Hajagos, 2013).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suhartina (2017), bahwa efektivitas nifedipine dalam menunda persalinan prematur dalam waktu 2×24 jam adalah sebanyak 33 responden (94.28%) dari 35 responden yang diteliti. Penelitian lainnya dibuktikan oleh Dhea (2020) bahwa pemberian nifedipine sebagai tokolik dapat menghilangkan kontraksi dalam waktu 2×24 jam adalah sebesar 100%. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Ibnu di Sumatera Barat dengan jumlah sampel 15 orang dengan efektivitas nifedipine yang diperoleh yaitu sebesar 80% (Ibnu, 2016).

Selama ini nifedipine telah digunakan sebagai agen tokolitik dalam prosedur tetap manajemen pasien Partus Prematurus Imminens di RSIA PSH. Data hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan di RSIA tersebut pada ibu hamil preterm dengan kontraksi uterus, didapatkan 4 dari 5 responden (80%), menyatakan bahwa kontraksi uterus berkurang setelah diberikan nifedipine 10mg dosis pertama. Sehubungan dengan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Efektivitas Lama Pemberian Farmakologi Nifedipine Sebagai Tokolitik Terhadap Kontraksi Uterus pada Ibu Hamil Preterm Dalam Mencegah Kelahiran Prematur di RSIA PSH.”

METODE

Penelitian ini bersifat non eksperimen dengan menggunakan rancangan penelitian Cross sectional karena untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor sebab akibat dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus untuk menganalisis efektivitas lama pemberian farmakologi nifedipine terhadap kontraksi uterus pada ibu hamil preterm dalam mencegah kelahiran prematur di RSIA PSH.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh responden dengan kehamilan preterm yang mengalami kontraksi uterus pada periode Januari – Maret 2022 di RSIA PSH. dikarenakan jumlah populasi kurang dari 100 responden, maka besarnya sampel adalah seluruh populasi yang kemudian disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah 21 responden. Penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling.

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen yaitu lama pemberian nifedipine dan variabel dependen yaitu kontraksi uterus. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat dimana uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square dengan batas kemaknaan 0,05.

Penelitian dilakukan dengan cara pengisian informed consent oleh pasien sebagai kesediaan pasien menjadi sampel penelitian. Kemudian dilakukan assessment kepada pasien/keluarga, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, intervensi dan observasi perawatan tokolitik. Data yang diperoleh akan dilakukan pengolahan data dan kemudian akan disajikan dalam bentuk tabel yang disertai dengan penjelasan.

HASIL DAN DISKUSI

Dalam melakukan penelitian, peneliti mengalami kendala yaitu terbatasnya responden yang akan diteliti, sehingga memerlukan waktu yang tidak singkat dalam melakukan penelitian demi tercapainya responden yang cukup untuk diteliti.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpretasi data dari 21 responden ibu hamil preterm dengan kontraksi uterus yang diteliti, sebagian besar yaitu 90.5% responden dinyatakan kontraksi uterus berhasil teratasi dengan lama pemberian nifedipine 24 – 48 jam dan termasuk dalam kategori baik. Berdasarkan hasil analisis bivariat tentang efektivitas lama pemberian farmakologi nifedipine sebagai tokolitik terhadap kontraksi uterus pada ibu hamil preterm dalam mencegah kelahiran prematur, didapatkan nilai  (α, df) yaitu 21.0 > 5.99. Kemudian pada uji statsitik Chi-square didapatkan p value sebesar 0.005 < 0.05. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya terdapat efektivitas lama pemberian farmakologi nifedipine sebagai tokolitik terhadap kontraksi uterus pada ibu hamil preterm dalam mencegah kelahiran prematur.

Persalinan preterm adalah persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan 20 – 37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (Prawirohardjo, 2016). Menurut Syarif (2017), faktor risiko terjadinya persalinan prematur ada dua, yaitu faktor janin dan plasenta serta faktor maternal (ibu).

Upaya preventif Preterm Labor dilaksanakan selama pasien masih didiagnosis Ancaman Persalinan Prematur (Partus Prematurus Imminens). Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan survival rate bayi baru lahir dengan menghindarinya dari komplikasi yang bisa terjadi. Manajemen yang mampu dilaksanakan meliputi tirah baring, hidrasi dan sedasi, serta intervensi farmakologis/pemberian tokolitik, atau kombinasi ketiganya. Prinsip penatalaksanaan kehamilan preterm dengan kontraksi adalah menunda persalinan dan mempersiapkan organ janin, terutama paru-paru janin. Sehingga janin dapat lahir pada usia kehamilan dengan mendekati cukup bulan sehingga morbiditas dan mortalitas janin dapat menurun (Prawirohardjo, 2016).

Kontraksi uterus merupakan tanda dan gejala utama Partus Prematurus Imminens, maka inhibisi kontraksi uterus dengan tokolitik dilakukan untuk memperlama kehamilan serta menunda persalinan. Tujuan pemberian tokolitik adalah untuk menghilangkan kontraksi uterus sehingga persalinan prematur dapat dihambat. Hal ini sudah dibuktikan secara meta analisis bahwa tokolitik dapat memperpanjang fase laten persalinan prematur antara 24–48 jam, yang dipergunakan untuk mempersiapkan pematangan paru janin serta memberikan kesempatan untuk melakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki ketersediaan fasilitas perawatan bagi bayi prematur. Tujuan akhir tokolitik adalah untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan neonatus akibat kelahiran prematur (Prawirohardjo, 2016).

Di Indonesia, nifedipine (Calcium Channel Blocker) merupakan obat yang paling banyak digunakan saat ini (Brown, 2014; Haas, 2014). Nifedipine memiliki efek pada uterus sebagai tokolitik (Gaspar dan Hajagos, 2013). Mekanisme kerja nifedipine sebagai tokolitik yaitu dengan cara menghambat masuknya calcium ke dalam membrane sel, mencegah lepasnya calcium dari reticulum sarkoplasma dan mengurangi efek enzim calcium intrasel terhadap interaksi aktin myosin sehingga menimbulkan relaksasi otot polos termasuk myometrium, serta vasodilatasi yang potensial (Schleubner, 2013). Jika dibandingkan dengan obat kalsium antagonis yang lain, nifedipine lebih spesifik efeknya pada kontraksi miometrium, lebih sedikit efek pada kontraksi jantung dan serum elektrolit (Simhan, 2017).

Pemberian tokolisis dimulai dengan dosis oral nifedipin 10 mg. Jika kontraksi tidak berkurang, dosis yang sama diulang 30 menit setelah dosis pertama diberikan, dosis maksimal pada satu jam pertama adalah 40 mg. Jika kontraksi berkurang setelah dosis pertama atau kedua diberikan, dosis pemeliharaan 20 mg oral setiap 3-6 jam diberikan mulai 6 jam setelah dosis terakhir dan berlanjut sampai 48 jam. Dosis maksimal Nifedipine selama 24 jam adalah 160 mg. Kriteria gagal adalah kontraksi uterus menetap setelah 60 menit pemberian dosis ulangan. Efektivitas farmakologi nifedipine sebagai tokolitik dinilai berhasil jika mampu menunda persalinan selama 2×24 jam. Jika tokolitik berhasil, maka pasien dirawat sampai 1 hari bebas kontraksi dan jika tokolitik gagal maka persalinan dilakukan dengan cara yang sesuai (Guideline, 2014).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suhartina (2017), bahwa efektivitas nifedipine dalam menunda persalinan prematur dalam waktu 2×24 jam adalah sebanyak 33 responden (94.28%) dari 35 responden yang diteliti. Penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Dhea (2020) bahwa pemberian nifedipine sebagai tokolik dapat menghilangkan kontraksi dalam waktu 2×24 jam adalah sebesar 100%. Hal ini sejalan dengan mekanisme kerja nifedipine sebagai tokolitik yang secara signifikan menghambat ion kalsium ke intrasel sehingga menghambat terjadinya ikatan aktin miosin yang mengakibatkan tidak terjadinya kontraksi (Gaspar dan Hajagos, 2013).

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian tentang hubungan lama pemakaian kontrasepsi dengan gangguan siklus menstruasi pada akseptor KB suntik 3 bulan, maka dapat diambil kesimpulan, antara lain:

  1. Distribusi kontraksi uterus pada ibu hamil preterm adalah sebagian besar responden (90.5%) dinyatakan kontraksi uterus berhasil teratasi dengan pemberian tokolitik nifedipine.
  2. Distribusi lama pemberian farmakologi nifedipine terhadap kontraksi uterus pada ibu hamil adalah sebagian besar responden (90.5%) dengan kategori baik dengan batas waktu pemberian tokolitik nifedipine yaitu 24 – 48 jam.
  3. Terdapat efektivitas lama farmakologi nifedipine sebagai tokolitik terhadap kontraksi uterus pada ibu hamil preterm dalam mencegah kelahiran prematur, dimana pada uji statistik didapatkan hasil Chi-square 21.0 > 6.99 dengan p value = 0.005 < 0.05.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Clinical Practice Guideline.2013.Tocolytic Treatment in Pregnancy. Institute Of Obstetricians and Gynaecologists Royal College of Physicians Ireland.
  2. Conde, A.A., Romero, R., Kusanovic, J.P. 2011. Nifedipin in the management of Preterm Labor: a systematic review and metaanalysis. Am J Obstet Gynecol. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articl es/ PMC3437772/. Diakses pada 30 September 2021.
  3. Cunningham F.G et al. 2013. Obstetri Williams. Jilid 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  4. Erez, O. 2013. Preterm birth, Published by InTech Janeza Trdine 9, 51000 Rijeka, Croatia.
  5. Gaspar Robert, Hajagos Judith. 2013. Calcium Channel Blockers as Tocolytics: Principles of TheirActions, Adverse Effects and Therapeutic Combinations. Pharmaceutical Hungary.
  6. Haas, D.M., Benjamin, T., Sawyer, R., Quinney, S.K. 2014. Short-term tocolytics for preterm delivery –current perspectives. International Journal of Women’s Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articl es/ PMC3971910/pdf/ijwh-6-343.pdf. Diakses pada 30 September 2021.
  7. image . 2012. Tocolytic therapy for preterm delivery: Systematic review and network meta-analysis. BMJ.
  8. Hamzah, Suhartina. 2017. Analisis dan Efektivitas Efek Samping Penggunaan Off-Label Rute Pemberian dari Nifedipine Sebagai Tokolitik pada Pasien Partum Preterm Imminens di Rumah Sakit Makassar. Makassar: Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin.
  9. Hidayati, L. 2016. Faktor Resiko Terjadinya Persalinan Prematur Mengancam RSUD dr. Soetomo Surabaya. Perpustakaan Universitas Airlangga.
  10. Ibnu, S. 2016. Perbedaan Efektifitas Nifedipin Dengan Isoksuprin Dalam Mencegah Persalinan Preterm. Padang: Universitas Andalas.
  11. Institute of Obstetricians and Gynaecologists, Royal College of Physicians of Ireland and Directorate of Strategy and Clinical Care Health Service Executive. Clinical Practice Guideline: 2013. Tocolytic Treatment in pregnancy. Ireland. https://rcpi-livecdn.s3.amazonaws.com/wp-content/ uploads/2016/05/17.-Tocolytic Treatment-in-Pregnancy.pdf. Diakses pada 30 September 2021.
  12. Karmelita, D.M. 2020. Efektivitas Nifedipin Sebagai Tokolitik Dalam Persalinan Prematur. Jurnal Kedokteran STM. 3 (2): 54 – 57.
  13. Manuaba. 2012. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta: EGC.
  14. Novitasari, R.W., Khoirunnisa, N., & Yudiyanta. 2015. Assessment Nyeri. Kalbemed.com. Prawirohardjo, S. 2014. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: PT Bina Pustaka.
  15. POGI. 2011. Manajemen Persalinan Preterm. Bandung. Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI.
  16. Putri, Ignatius, Dadan. 2017. Hubungan Usia Ibu Beresiko dengan Angka Kejadian Preterm di Wilayah Puskesmas Perkotaan. Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati.
  17. Schleubner, E. 2013. The Prevention, Diagnosis and Treatment of Premature Labor. Dtsch Arztebl Int. https://www. ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3627 164/pdf/Dtsch. Diakses pada 30 September 2021.
  18. Supradewi, Indra., et al. 2017. Buku Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan Bidan. Jakarta: Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia.
  19. Surya Raymond, Pudyastuti Sri. 2019. Persalinan Preterm, CDK Edisi Suplemen-1/ Vol. 46. Akreditasi PB IDI–3 SKP. Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI.
  20. Syarif A’bidah Baana. 2017. Hubungan Usia Ibu dengan Kejadian Persalinan Preterm di RSUD Wonosari Tahun 2016. Politeknik Kesehatan.
  21. Trisa Yusdela, et al. 2019. Prevalensi dan Faktor Risiko Persalinan Preterm di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
  22. Wiratma, D.K. 2015. Evaluasi Keberhasilan Nifedipin Sebagai Tokolisis Berdasarkan Skor Tokolisis Baumgarten pada Ancaman Persalinan Prematur. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
  23. World Health Organization. 2012. Born too soon. Born Too Soon, The Global Action Report on Preterm Birth. Eds CP Howson, MV Kinney, JE Lawn. Geneva: WHO.
  24. World Health Organization. 2017.On interventions to improve preterm birth outcomes. WHO.
  25. Yasa, P.E.K., Aman, G.M., Satriyasa, B.K. 2019.Tingkat Keberhasilan Nifedipin Sebagai Tokolitik pada Pasien Partus Prematurus Imminens di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar. Jurnal Medika. 8 (5): 2 – 7.

Perbedaan Pengetahuan Remaja Putri tentang Pernikahan Dini dan Kehamilan Usia Muda Pra dan Pasca Penyuluhan

21

Sintha Wijayanti and Dede Sri Mulyana (Editor)

ABSTRAK

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di MAN 4 Kab. Tangerang terdapat 3 orang yang berhenti sekolah dan memutuskan untuk menikah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pengetahuan remaja putri tentang pernikahan dini dan kehamilan di usia muda pra dan post penyuluhan di MAN 4 Kab. Tangerang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Quasi Eksperiment melalui pendekatan Pre-Post Test Design di mana sampel diambil menggunakan perhitungan sampel menurut Rumus Slovin, besar sampel dalam penelitian ini adalah 63 responden. Analisis data menggunakan uji Paired T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pre mendapat rerata 71,11 dan Post mendapat rerata 80,16, maka adanya perbedaan antara X1 (Pre) dan X2 (Post) dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga diharapkan penelitian ini mampu memberikan pengetahuan remaja putri tentang pernikahan dini dan kehamilan di usia muda dengan menggunakan metode penyuluhan.

Kata Kunci : Remaja, Pengetahuan, Pernikahan Dini, Kehamilan Usia Muda.

PENGANTAR

Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Remaja akan melalui suatu tahap perkembangan yang bertujuan untuk mencapai kematangan sehingga dapat menentukan perkembangan selanjutnya (Setiawan & Alizamar, 2019).

Menurut UU perkawinan bab 11 pasal 7 ayat 1 menyatakan bahwa: perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria dapat mencapai umur 19 tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 tahun. Jadi, jika masih dibawah umur tersebut, maka dinamakan pernikahan dini.

Menurut Aspiani (2017) kehamilan adalah masa atau waktu dari mulainya konsepsi sampai lahirnya janin, dimana lamanya kehamilan normal adalah 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu) dihitung dari hari pertama haid terakhir.

Kehamilan remaja merupakan kehamilan yang terjadi di usia yang relatif muda yaitu usia kurang dari 20 tahun (Siregar, Simbolon, & Sitompul, 2020).

Jumlah pernikahan anak di bawah umur pada awal 2018 diperkirakan mencapai 1.220.900, menempatkan Indonesia dalam 10 besar negara dengan angka pernikahan anak tertinggi di dunia (Hakiki, et al., 2020).

Perkawinan anak terkait dengan berbagai faktor, yang mungkin bersifat struktural atau akibat dari kapasitas masyarakat, keluarga atau individu. Hasil SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) menunjukkan bahwa remaja yang paling rentan terhadap perkawinan dini adalah anak perempuan, keluarga yang ekonomi rendah, tinggal di pedesaan, dan dengan tingkat pendidikan yang rendah (Hakiki, et al., 2020). (Pintu, 2019) menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan pendorong utama perkawinan anak pada perempuan di negara berkembang.

Menurut laporan UNFPA dalam buku Pencegahan Perkawinan Anak Percepatan Yang Tidak Bisa Ditunda, secara global setiap tahunnya diperkirakan 14 juta remaja usia 15-19 tahun melahirkan dan lebih dari 90% dari kelahiran yang terjadi di negara-negara berkembang. Penting untuk diketahui bahwa kehamilan <17 tahun meningkatkan berbagai risiko bagi ibu maupun bagi anak. Kehamilan pada usia yang sangat muda berkorelasi dengan mortalitas dan morbiditas ibu (Fadlyana & Larasaty, 2009).

Sebuah studi oleh (Candraningrum, 2016) di Kabupaten Sukabumi menemukan bahwa alasan pernikahan anak adalah pembahasan seksualitas yang masih dianggap tabu. Oleh karena itu, untuk menurunkan angka kehamilan dini dan pernikahan anak, perlu diperkenalkan pendidikan kesehatan reproduksi dan pendidikan seksual yang komprehensif bagi semua anak sejak dini.

Menurut informasi yang disampaikan oleh kemahasiswaan bahwa di MAN 4 Kab. Tangerang ada 3 orang yang berhenti sekolah dan memutuskan untuk menikah. Sebagai upaya dalam rangka meminimalisir maraknya pernikahan dini dan kehamilan di usia muda yang terjadi, peneliti mengadakan kegiatan tentang penyuluhan pendidikan sebagai upaya pencegahan pernikahan dini dan kehamilan usia muda.

METODE

Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperiment dengan pendekatan pre-post test pada remaja putri dengan memberikan pre-test sebelum perlakuan dan post-test sesudah perlakuan.

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswi yang kelas XII. Pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan perhitungan sampel menurut Rumus Slovin dengan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Non-Random Sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan kriteria inklusi yaitu remaja putri yang hadir saat penelitian, bersedia untuk dijadikan sampel penelitian, sehat jasmani dan rohani, serta kriteria eksklusi yaitu remaja putri yang tidak hadir saat penelitian, dikarenakan izin atau sakit. Sehingga didapatkan 63 siswi yang akan diberikan pre-post test.

Peneliti memberikan kuesioner pre test yang diberikan setelah siswi menyatakan setuju menjadi responden penelitian, selanjutnya peneliti memberikan penyuluhan tentang pernikahan dini dan kehamilan di usia muda, dan setelahnya peneliti melakukan post-test dengan memberikan lembar kuesioner yang sama pada saat pre-test. Kemudian data diolah dengan menggunakan analisis univariat, sedangkan untuk mengidentifikasi perbedaan pengetahuan responden sebelum dan setelah diberikan penyuluhan dengan menggunakan uji paired t-test (p-value < α (0,05)).

HASIL DAN DISKUSI

Dalam melakukan penelitian, peneliti mengalami beberapa kendala di antaranya keterbatasan responden penelitian dan ruang lingkup yang digunakan dalam penelitian hanya mencangkup pada satu kelas yaitu kelas XII saja dan dikarenakan MAN 4 Kab. Tangerang sedang memberlakukan PTM 50% berdasarkan arahan Menteri Pendidikan sehingga dari 50% dan sedang mempersiapkan ujian kenaikan kelas dan kelulusan, sehingga yang masuk sekolah di pagi hari selama waktu penelitian berlangsung dan untuk total siswi dalam 1 sekolah terdapat ±65 orang maka dari itu peneliti hanya mendapatkan 63 siswi yang yang hadir dalam penelitian.

Sebelumnya, 63 siswa ini mengikuti tes untuk mengetahui pengetahuan mereka tentang pernikahan anak dan kehamilan dini. Mereka kemudian diberikan perlakuan berupa konseling dan kemudian dilakukan tes kembali untuk mengetahui apakah ada perbedaan pengetahuan siswi tentang pernikahan anak dan kehamilan dini. Sejalan dengan penelitian (Amanah, 2007) bahwa penyuluhan merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk mendorong terjadinya perubahan perilaku pada individu, kelompok, komunitas, ataupun masyarakat agar mereka tahu, mau, dan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan dari 63 siswi sebelum dilakukan penyuluhan memiliki kriteria pengetahuan baik sebanyak 13 siwi (20,6%), cukup sebanyak 40 siswi (63,5%) dan kurang sebanyak 10 siswi (15,9%). Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Hindiarti & Rachmah, 2019) pengetahuan responden yang kurang disebabkan karena kurangnya informasi yang diterima. Dan sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2014) bahwa pengetahuan remaja yang rendah mempengaruhi kejadian pernikahan usia dini 2 kali dibandingkan dengan remaja yang berpengetahuan tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian, dari 63 siswi sesudah diberikan penyuluhan memiliki kriteria pengetahuan baik sebanyak 44 siswi (71,0%), cukup sebanyak 19 siswi (30,2%) dan kurang sebanyak 0 siswi (0%). Untuk memahami sesuatu diperlukan kemampuan untuk mengasosiasikan antara informasi yang didapat dengan hal-hal yang sudah dipelajari sebelumnya. Hal ini senada dengan (Widiasworo, 2017) bahwa pemahaman merupakan kemampuan untuk menghubungkan atau mengasosiasikan informasi-informasi yang dipelajari menjadi “satu gambar” yang utuh di otak kita”. Bisa juga dikatakan bahwa pemahaman merupakan kemampuan untuk menghubungkan atau mengasosiasikan informasi-informasi lain yang sudah tersimpan dalam data base di otak kita. Harapannya, pengetahuan dan pemahaman tersebut harus dimiliki oleh siswi sebagai responden dari penelitian ini.

Penyuluhan adalah salah satu bentuk promosi kesehatan yang sederhana dan dapat mencakup sasaran yang luas (Nurmala, et al., 2018). Penyuluhan ini berisi tentang materi-materi pernikahan dini dan kehamilan dini. Penyuluhan ini menjelaskan tentang pengertian remaja, pengertian pernikahan dini, faktor-faktor pernikahan dini, dampak pernikahan dini, pengertian kehamilan, faktor-faktor kehamilan usia muda dan dampak kehamilan usia muda. Sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh (Limbong & Deliviana, 2020) bahwa Pernikahan dini dapat terjadi karena kondisi masyarakat yang kurang paham mengenai dampak dari pernikahan dini. Hasil penelitian (Akbar & Mudzdaliffah, 2012) menunjukkan bahwa program pendidikan seks efektif dapat meningkatkan kemampuan proteksi diri dari eksploitasi seksual pada usia dini.

Selama proses penyuluhan peneliti melakukan sesi tanya-jawab dan pengulangan tentang materi yang telah diberikan hal ini bertujuan agar siswi mengingat kembali. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan (Mujiburrahman, Nuraeni, Astuti, Muzanni, & Muhlisin, 2021) penyuluhan sangat membantu siswa/siswi dalam memahami pentingnya pendidikan untuk meraih masa depan yang lebih baik dan dalam rangka menyiapkan diri untuk mengarungi kehidupan bersama pasangan keluarga yang akan dibina kedepannya, penyuluhan ini dapat memberikan pemahaman yang berdampak positif bagi siswa/siswi menuju pendidikan yang lebih tinggi sehingga mereka tidak terburu-buru untuk menikah dini.

Dari hasil analisis data diketahui bahwa nilai t-hitung adalah 7.100 yang berada dalam kisaran daerah Ho atau kisaran daerah Ha. Untuk nilai probabilitas atau Signifikansi 2 tailed adalah 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak. Dengan diterimanya hipotesis alternatif dan rata-rata akan meningkat dari 71,11 menjadi 80,16.

Metode penyuluhan menggunakan power point dan leaflet sebagai pendukung media penyuluhan, sehingga siswa dapat memiliki waktu yang cukup untuk memahami benar isi dari informasi yang diberikan. Berdasarkan hasil penelitian pengetahuan siswi sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan berupa penyuluhan, terbukti bahwa penyuluhan dengan media ppt dan leaflet memudahkan siswa untuk memahami materi. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Wijayanti, Isnani, & Kesuma, 2016) bahwa penyuluhan dengan menggunakan metode power point (ppt) dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat. Dan sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurjanah (2013) dalam (Levana, Aisyah, & Pakana, 2020) Media Penyuluhan seperti slide sangat efektif untuk membahas suatu topik tertentu dan audiens dapat mencermati setiap materi dengan cara seksama karena slide sifatnya dapat diulang-ulang dan membantu audients untuk mengerti, mengingat dengan baik dan membantu mengatasi kesulitan bahasa.

Selain itu penyuluhan memiliki kemenarikan sendiri untuk siswi karena adanya sesi tanya-jawab, sehingga siswi memiliki rasa antusias untuk bertanya. Sejalan dengan penelitian (Ependi, 2018) Tanya jawab dapat membantu tumbuhnya perhatian siswa pada pelajaran, serta mengembangkan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan pengalamannya, sehingga pengetahuannya menjadi fungsional.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Sumiyati, Mete, & Romadloni, 2020) berpendapat bahwa kepada tenaga kesehatan untuk terus melakukan tindakan promotif seperti penyuluhan dan memberikan pengetahuan bagi orang tua tentang pernikahan usia dini untuk mencegah pernikahan usia dini dan kehamilan di usia muda di kalangan remaja. Dapat disimpulkan penyuluhan tentang pernikahan dini dan kehamilan usia muda memberikan perbedaan pra dan post penyuluhan terhadap pengetahuan remaja putri di kelas XIII MAN 4 Tangerang.

KESIMPULAN

Penyuluhan yang dilakukan sangat membantu remaja siswi dalam memahami pentingnya pendidikan dan pengetahuan tentang pernikahan dini dan kehamilan di usia muda. Dalam penelitian ini dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pengetahuan siswi tentang pernikahan dini dan kehamilan di usia muda sebelum penyuluhan menunjukkan pengetahuan kurang kurang sebanyak 13 siswi (20,6%).
  2. Pengetahuan siswi tentang pernikahan dini dan kehamilan di usia muda sesudah penyuluhan menunjukkan pengetahuan baik sebanyak 44 siswi (71,0%).
  3. Berdasarkan analisis dengan menggunakan Sample Paired T-Test, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya hipotesis bahwa terdapat perbedaan hasil pengetahuan remaja putri sebelum dan sesudah penyuluhan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Akbar, Z., & Mudzdaliffah, F. (2012). PROGRAM PENDIDIKAN SEKS UNTUK MENINGKATKAN PROTEKSI DIRI DARI EKSPLOITASI SEKSUAL PADA ANAK USIA DINI. Perspektif Ilmu Pendidikan, 25 Th. XVI, 1-6.

  2. Amanah, S. (2007). Makna Penyuluhan dan Transformasi Perilaku Manusia. urnal Penyuluhan, 4(1), 63-67.
  3. Candraningrum, D. (2016). Pernikahan Anak: Status Anak Perempuan. Yayasan Jurnal Perempuan.
  4. Ependi, S. (2018). PENERAPAN METODE TANYA JAWAB UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VI SD NEGERI 012 PANGKALAN BARU KECAMATAN SIAK HULU. Primary : Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, 7, No.2, 256-264.
  5. Fadlyana, E., & Larasaty, S. (2009). Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya. Sari Pediatri, Vol. 11, No. 2, 136-140.
  6. Hakiki, G., Ulfah, A., Khoer, M. I., Supriyanto, S., Basorudin, M., Larasati, W., . . . Kusumaningrum, S. (2020). PEencegahan Perkawinan Anak Percepatan yang Tidak Bisa Ditunda. Jakarta: PUSKAPA.
  7. Handayani, E. Y. (2014). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pernikahan Usia Dini Pada Remaja Putri Di Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu. Jurnal Maternity and Neonatal, 1(5), 200-206.
  8. Hindiarti, Y. I., & Rachmah, N. F. (2019). PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG BAHAYA KEHAMILAN USIA MUDA DI SMA NEGERI 1 BAREGBEG KABUPATEN CIAMIS. Jurnal Kebidanan dan Kesehatan Masyarakat, 1, No.2, 1-5.
  9. Levana, S., Aisyah, M. W., & Pakana, N. (2020). Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan Remaja Tentang Pernikahan Dini Di SMA Negeri 1 Suwawa. Jurnal Ilmiah Media Publikasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 9(2), 77-85.
  10. Limbong, M., & Deliviana, E. (2020). Penyuluhan Dampak Pernikahan Dini bagi Perempuan. Jurnal Comunita Servizio, 2(1), 321-329.
  11. Mujiburrahman, Nuraeni, Astuti, F. H., Muzanni, A., & Muhlisin, M. (2021). PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI REMAJA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PERNIKAHAN DINI. COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1, 36-41.
  12. Nurmala, I., Rahman, F., Nugroho, A., Erlyana, N., Laily, N., & Anhar, V. Y. (2018). PROMOSI KESEHATAN. Surabaya: AIRLANGGA UNIVERSITY PRESS.
  13. Nuryadi, Astuti, T. D., Utami, E. S., & Budiantara, M. (2017). DASAR-DASAR STATISTIK PENELITIAN. Yogyakarta: SIBUKU MEDIA.
  14. Pintu, P. (2019). Effects of education adn poverty on the prevalence of girl child marriage in India: A district-level analysis. Children and Youth Services Review Elsevier, Vol 100(C), 16-21.
  15. Setiawan, A., & Alizamar, A. (2019). Relationship Between Self Control And Bullying Behavior Trends In Students Of SMP N 15 Padang. Jurnal Neo Konseling, 1, 1-7. doi:10.24036/00182kons2019
  16. Siregar, M., Simbolon, J. L., & Sitompul, E. S. (2020). PEMBERDAYAAN ANAK REMAJA DALAM PENCEGAHAN KEHAMILAN USIA DINI DI SMA SWASTA SANTA MARIA TARUTUNG. Jurnal Pengabdian Masyarakat (Kesehatan) Vol. 2 No. 2, 95-99.
  17. Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
  18. Sulistiyowati, W., & Astuti, C. C. (2017). STATISTIKA DASAR KONSEP DAN APLIKASINYA. Jawa Timur: USMIDA Press.
  19. Sumiyati, I., Mete, A. I., & Romadloni, A. (2020). Hubungan Tingkat Pendidikan Dan Pekerjaan Terhadap Pernikahan Usia Dini Pada Remaja Putri Di Desa Mekar Jaya Kabupaten Tangerang. Jurnal Obstretika Scientia, 9(2), 741-760.
  20. Wijayanti, T., Isnani, T., & Kesuma, A. P. (2016). Pengaruh Penyuluhan (Ceramah dengan Power Point) terhadap Pengetahuan tentang Leptospirosis di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang Jawa Tengah. BALABA Vol.12 No.1, 39-46.

Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi Pada Ibu Hamil

22

Lidia Stevani and Dede Sri Mulyana (Editor)

INTISARI

Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Ibu Hamil Di PMB Bd.Rahma Juita A,Md.Keb Kota Tangerang. Latar Belakang: Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi salah satu masalah kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah salah satunya Hipertensi. Berdasarkan penelitian sebelumnya ditemukan hubungan antara umur dan riwayat keturunan ibu hamil dengan kejadian hipertensi. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita A,Md. Kota Tangerang. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Data yang diambil adalah usia, riwayat keluarga, konsumsi garam dan lemak, konsumsi kopi, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, dan tekanan darah ibu hamil. Hasil Penelitian: Hasil uji chi square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan kejadian hipertensi (P=0,004), terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat keluarga dengan kejadian hipertensi (P=0,009), terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas dengan kejadian hipertensi (P=0,004), terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi garam dan lemak dengan kejadian hipertensi (P=0,003), terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi (P=0,022), tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi alkohol dengan kejadian hipertensi (P=1,000), terdapat hubungan yang signifikan antara aktiivtas fisik dengan kejadian hipertensi (P=0,022). Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita A,Md. Kota Tangerang adalah umur, riwayat penyakit, konsumsi garam dan lemak, konsumsi kopi, dan aktivitas fisik. Sedangkan faktor yang tidak berhubungan dengan kejadian hipertensi adalah konsumsi alkohol.

Kata kunci: Hipertensi, Ibu hamil, Faktor penyebab

PENDAHULUAN

Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi salah satu masalah kesehatan ibu dan anak di Indonesia.Tingginya AKI di Indonesia yakni mencapai 359 per 100.000 Kelahiran Hidup (KH), masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015 yaitu AKI sampai pada 102 per 100.000 KH (SDKI, 2012). Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator  derajat kesehatan.

Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah salah satunya Hipertensi.Hipertensi merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan tingginya tekanan darah seseorang yang dapat dikatakan hipertensi jika memiliki tekana darah sistolik ≥ 140mmHg dan tekakan diastolik ≥90mmHg dalam pemeriksaan berulang (Thomas, Stonebrook, & Kallash, 2020).

Penelitian Nelawati (2014), Hipertensi pada ibu hamil lebih banyak di temukan pada kelompok yang berumur < 20 tahun mengalami kejadian hipertensi kehamilan (30%), lebih banyak dibanding kelompok umur 20 – 30 tahun dan > 35 % tahun masing – masing (7,2%) dan (18,4%) ibu hamil.Dari hasil uji statistic dapat simpulkan bahwah terdapat hubungan antara umur ibu hamil dengan kejadian hipertensi.

Pada penelitian sebelumnya peneliti mendapatkan, Terjadinya hipertensi pada ibu hamil lebih banyak ditemukan pada ibu hamil yang berumur ≤ 20 tahun mengalahi hipertensi (15%), dan yang berumur 20 – 30 tahun (10%) dan yang berumur ≥ 35 tahun (15%) ibu hamil. Riwayat keturunan didapatkan (10%).

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA IBU HAMILDI PMB Bd.Rahma Juita A,Md.Keb KOTA TANGERANG”.

TINJAUAN PUSTAKA

Kehamilan

Menurut federasi Obsetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan kalender internasional. (Prawirohardjo, 2017).

Hipertensi Dalam Kehamilan

Hipertensi karena kehamilan adalah hipertensi yang terjadi karena atau pada saat kehamilan, dapat mempengaruhi kehamilan itu sendiri biasanya terjadi padausia kehamilan memasuki usia 20 minggu (Rukiyah, 2010). Hipertensi dalam kehamilan berarti tekanan darah meninggi saat hamil.Keadaan ini biasanya mualai pada semester ketiga atau tiga bulan terakhir kehamilan.Perempuan hamil penderita hipertensi yang dimulai sebelum hamil kemungkinan komplikasi pada kehamilannya besar dibandingkan dengan perempuan hamil yang menderita hipertensi ketika sudah hamil (Susilo,2011).

Faktor-faktor Hipertensi

  1. Usia

Semakin bertambahnya usia seseorang resiko terkena hipertensi pun akan semakin meningkat. Hal ini terjadi karena kondisi alamiah yang ada pada tubuh yang mempengaruhi jantung, permbuluh darah dan hormon. Fungsi dari organ juga semakin menurun dengan bertambahnya usia. Kenaikan tekanan darah seiring bertambahnya usia merupakan keadaan biasa. Namun apabila perubahan ini terlalu mencolok dan disertai faktor-faktor lain maka memicu terjadinya hipertensi dengan komplikasinya (Zielinska et al., 2020).

  1. Jenis Kelamin

Memiliki tekanan sistolik dan diastolik yang lebih tinggi dibandingkan wanita pada semua suku. Survey dari badan nasional dan penelitian nutrisi melaporkan bahwa hipertensi lebih mempengaruhi wanita dibandingkan pria. Menurut laporan sugiri di jawa tengah didapatkan angka prevalensi hipertensi 6% pada pria dan 11% pada wanita (Anto et al., 2020).

  1. Riwayat Keluarga

Jika ada riwayat keluarga dekat yang memiliki faktor keturunan hipertensi, akan mempertinggi risiko terkena hipertensi pada keturunannya. Keluarga dengan riwayat, hipertensi akan meningkatkan risiko hipertensi sebesar empat kali lipat (Thomas et al., 2020).

  1. Konsumsi Kopi

Kopi sering dikaitkan dengan sejumlah faktor risiko penyakit jantung coroner termasuk juga dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar kolesterol darah karena kopi mempunyai kandungan polifenol, kalium dan kafein. Kafein dapat dikatakan sebagai penyebab berbagai penyakit khususnya (Bistara & Kartini, 2018).

  1. Konsumsi Alkohol

Alkohol memiliki efek yang hampir sama dengan karbon monoksida, yaitu dapat meningkatkan keasaman darah. Darah menjadi lebih kental dan jantung dipaksa memompa darah lebih kuat lagi agar darah sampai ke jaringan mencukupi (Komaling, J.K., Suba, B., Wongkar, D., 2013). Maka dapat disimpulkan bahwa konsumsi alkohol dapat meningkatkan tekanan darah.

  1. Konsumsi Garam Berlebih

Garam dapur merupakan faktor yang sangat berperan dalam pathogenesis hipertensi. Garam dapur mengandung 40% natrium dan 60% klorida. Natrium diabsorpsi secara aktif, kemudian dibawa oleh aliran darah keginjal untuk disaring dan dikembalikan kealiran darah dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan taraf natrium dalam darah. Kelebihan natrium yang jumlahnya mencapai 90-99 % dari yang dikonsumsi, dikeluarkan melalui urin. Pengeluaran urin ini diatur oleh hormone aldosteron yang dikeluarkan kelenjar adrenal. Orang-orang peka natrium akan lebih mudah mengikat natrium sehingga menimbulkan retensi cairan dan peningkatan tekanan darah. Hal ini karena garam memiliki sifat menahan cairan, sehingga mengkonsumsi garam berlebih atau makan-makanan yang diasinkan dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah (Schroeder, DuBois, Sadowsky, & Hilgenkamp, 2020).

  1. Konsumsi Lemak

Kebiasaan mengkonsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi.Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah (Schroeder et al., 2020).

  1. Merokok

Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan hipertensi, sebab rokok mengandung nikotin. Menghisap rokok menyebabkan nikotin terserap oleh pembuluh darah kecil dalam paru-paru dan kemudian akan diedarkan hingga ke otak. Di otak, nikotin akan memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin atau adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan darah yang lebih tinggi (Farsalinos et al., 2020).

  1. Obesitas

Obesitas meningkatkan risiko terjadinya hipertensi karena makin besar massa tubuh, makin banyak pula suplai darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Hal ini mengakibatkan volume darah yang beredar melalui pembuluh darah akan meningkat, sehingga tekanan pada dinding arteri menjadi lebih besar. Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung dan kadar insulin dalam darah. Peningkatan kadar insulin menyebabkan tubuh menahan natrium dan air (Tiara, 2020).

  1. Kurangnya Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah.Pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi.Hal tersebut mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi.Makin keras usaha otot jantung dalam memompa darah, makin besar pula tekanan yang dibebankan pada dinding arteri sehingga meningkatkan tahanan perifer yang menyebabkan kenaikkan tekanan darah. Kurangnya aktifitas fisik juga dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan yang akan menyebabkan risiko hipertensi meningkat (Zielinska et al., 2020).

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian ini akan dilaksanakan diPMB Bd.Rahma Juita A,Md.Keb Kota Tangerang Bnaten. Dalam penelitian pengambilan sampel menggunakan teknik Accidental sampling. Data yang diambil pada penelitian ini adalah usia, riwayat keluarga, konsumsi garam dan lemak, konsumsi kopi, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, dan tekanan darah ibu hamil. Data yang telah diperoleh akan diuji menggunakan chi-square dengan bantuan SPSS.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Diperoleh nilai P value = 0,004 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita Kota Tangerang. Ibu hamil umur >35 tahun mempunyai peluang 0,080 kali untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan ibu hamil umur 20-35 tahun. Hasil tersebut serupa dengan penelitian Kaimmudin, Pangemanan, & Bidjuni (2018) yang menjelaskan terdapat hubungan usia ibu saat hamil dengan kejadian hipertensi di RSU GMIM Pancaran Kasih Manado. Usia ibu hamil yang sudah tua atau >35 tahun meningkatkan resio terkena hipertensi dibandingkan dengan usia rentang 25–29 tahun (Hinkosa, Tamene, & Gebeyehu, 2020).

Diperoleh nilai P value = 0,009 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat keluarga dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita Kota Tangerang. Ibu hamil dengan riwayat keluarga mempunyai peluang 9,600 kali untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak memiliki riwayat keluarga. Hasil tersebut serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Andriyani et al. (2021) yang menyebutkan riwaya keluarga memiliki hubungan dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil. Nurfatimah et al. (2020) juga menyebutkan apabila seorang dari orang tua kita memiliki hipertensi maka kemungkinan kita memiliki 25% risiko untuk mengalami hipertensi. Jika kedua orang tua mempunyai hipertensi, kemungkinan kita mendapatkan penyakit tersebut 60%. Keluarga yang memiliki hipertensi meningkatkan risiko hipertensi 2- 5 kali lipat.

Hasil menunjukkan nilai P value = 0,004 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita Kota Tangerang. Hasil tersebut didukung oleh penelitian Silaban & Rahmawati (2021) yaitu ada hubungan antara obesitas dengan kejaduan hipertensi pada ibu hamil. Ibu hamil yang obesitas berpeluang 14,991 kali lebih besar mengalami preeklampsia dibandingkan dengan ibu hamil tidak obesitas.

Diperoleh menunjukkan nilai P value = 0,003 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi garam dan lemak berlebih dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita Kota Tangerang. Hasil tersebut didukung oleh penelitian Widyartha et al. (2016) yang menyebutkan ada hubungan antara konsumsi garam dengan kejadian hipertensi. Sementara itu, Lutfiatunnisa et al. (2016) menyebutkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada kehamilan adalah konsumsi lemak.

Hasil menunjukkan nilai P value = 0,022 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita Kota Tangerang. Ibu hamil yang mengonsumsi kopi mempunyai peluang 12,100 kali untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mengonsumsi kopi. Hasil tersebut didukung oleh penelitian Hamima (2020) yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara mengkonsumsi kopi terhadap hipertensi pada ibu hamil di wilayah Puskesmas Martapura 1.

Hasil menunjukkan nilai P value = 1,000 > 0,05 yang artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita Kota Tangerang. Hasil tersebut tidak sejalan dengan penelitian Malonda, Dinarti, & Pangastuti (2012) yang menyebutkan bahwa ada hubungan antara konsumsi alkohol dengan kejadian hipertensi. Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah dibuktikan. Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas. Namun, diduga peningkatan kadar kortisol dan peningkatan volume sel darah merah serta kekentalan darah berperan dalam meningkatkan tekanan darah.

Hasil menunjukkan nilai P value = 0,022 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita Kota Tangerang. Hasil tersebut didukung oleh penelitian Sinambela & Sari (2018) yang menyebutkan aktivitas fisik berhubungan dengan hipertensi pada kehamilan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita A,Md.Keb Kota Tangerang diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Sebagian besar ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita Kota Tangerang berusia > 35 tahun (51,5 %), mengalami hipertensi (63,6 %), memilki riwayat penyakit keluarga (57,6 %), sering konsumsi garam dan lemak (54,5%), tidak pernah mengonsumsi kopi atau hanya mengonsumsi kurang dari dua gelas perhari atau kurang dari 200 mg
  2. perhari (63,6%), mengonsumsi alkohol <1 minuman atau kurang dari 5,45 mg perorang perhari (90,9%), dan jarang melakukan aktivitas fisik (48,5%).
  3. Terdapat hubungan yang signifikan antara umur, riwayat keluarga, obesitas, konsumsi garam dan lemak, konsumsi kopi, dan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita Kota Tangerang.
  4. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi alkohol dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil di PMB Bd.Rahma Juita Kota Tangerang.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Andriyani, A., Lusida, N., Fauziah, M., Chusnan, M., & Latifah, N. (2021). Determinan Kejadian Hipertensi pada Ibu Hamil di Kota Bekasi, Jawa Barat. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 17(2), 170-176.
  2. Hamima, N. S. (2020). Analisis Hubungan Pengetahuan Kenaikan Berat Badan Dan Mengkonsumsi Kopi Dengan Kejadian Hipertensi Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura 1 Tahun 2020 (Doctoral dissertation, Universitas Islam Kalimantan MAAB).
  3. Hinkosa, L., Tamene, A., & Gebeyehu, N. (2020). Risk factors associated with hypertensive disorders in pregnancy in Nekemte referral hospital, from July 2015 to June 2017, Ethiopia: case-control study. BMC Pregnancy and Childbirth, 20(1), 1-9.
  4. Kaimmudin, L., Pangemanan, D., & Bidjuni, H. (2018). Hubungan usia ibu saat hamil dengan kejadian hipertensi di RSU GMIM Pancaran Kasih Manado. Jurnal Keperawatan, 6(1).
  5. Lutfiatunnisa, A. A. Z., Nugrahaeni, A., Yuliawati, S., & Sutiningsih, D. (2016). Faktor Host, Konsumsi Lemak, Konsumsi Kalsium dan Kejadian Hipertensi Pada Kehamilan. VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 15(2).
  6. Malonda, N. S. H., Dinarti, L. K., & Pangastuti, R. (2012). Pola makan dan konsumsi alkohol sebagai faktor risiko hipertensi pada lansia. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 8(4), 202-212.
  7. Nurfatimah, N., Mohamad, M. S., Entoh, C., & Ramadhan, K. (2020). Gambaran Faktor Risiko Kejadian Hipertensi dalam Kehamilan pada Ibu Hamil Trimester III: Overview of Risk Factors for Hypertension in Pregnancy among Third-Trimester Pregnant Women. Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan, 14(1), 68-75.
  8. Silaban, T. D. S., & Rahmawati, E. (2021). Hubungan Riwayat Hipertensi, Riwayat Keturunan Dan Obesitas Dengan Kejadian Preeklamsia Pada Ibu Hamil. Journal of Midwifery Science, 1(1), 104-115.
  9. Sinambela, M., & Sari, N. M. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hipertensi Pada Kehamilan. JURNAL KEPERAWATAN DAN FISIOTERAPI (JKF), 1(1), 12-19.
  10. Widyartha, I. J., Putra, I. W. G. A. E., & Ani, L. S. (2016). Riwayat keluarga, stres, aktivitas fisik ringan, obesitas dan konsumsi makanan asin berlebihan sebagai faktor risiko hipertensi. Public Health and Preventive Medicine Archive, 4(2), 186-194.

Pengaruh Edukasi Pola Makan terhadap Status Anemia Ibu Hamil

23

Az Syifa Diaulhaq and Rahmadyanti (Editor)

ABSTRAK

Anemia selama kehamilan merupakan masalah yang sangat utama dengan berbagai penyebab termasuk asupan makanan yang tidak mencukupi. ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang rawan kekurangan gizi, karena terjadi peningkatan kebutuhan gizi untuk memenuhi kebutuhan ibu dan janin yang dikandung. Tujua penelitian ini untuk mengetahui Edukasi Pola Makan Terhadap Status Anemia Pada Ibu Hamil di TPMB Laswita Tahun 2022. Metode Penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasy Exsperiment dengan pendekatan total sampel. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil dengan Anemia Di TPMB Laswita bulan April 2022. Pada penelitian ini mengambil sampel 66 responden.. Analisa data dilakukan dengan mengunakan uji paired sampel T- test. Hasil univariat menunjukkan bahwa responden yang mengalami anemia 20 responden (30,2%) yang mengalami anemia dan 46 responden (69,7%) yang tidak mengalami anemia, Setelah dilakukan edukasi pola makan pada ibu hamil selama satu bulan masih ditemukan sebanyak 6 responden (9,1%) dengan anemia, 60 responden (90,9%) tidak anemia. Dan hasil Uji Pared T- test menunjukkan hasil P-value 0,001 yang berarti ada pengaruh edukasi pola makan dan kepatuhan konsumsi tablet Fe pada ibu hamil. Kesimpulan ada pengaruh antara sebelum dan sesudah dilakukan edukasi pola makan dan kepatuhan konsumsi tablet Fe pada ibu hamil di TPMB Laswita tahun 2022.

Kata Kunci : Pola Makan, Ibu Hamil, Anemia

PENDAHULUAN

Anemia merupakan salah satu penyebab tidak langsung terjadinya perdarahan terbanyak pada ibu bersalin (Sarwono, 2005). ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang rawan kekurangan gizi, karena terjadi peningkatan kebutuhan gizi untuk memenuhi kebutuhan ibu dan janin yang dikandung. Kebutuhan gizi meningkat selama kehamilan untuk pertumbuhan janin, plasenta, pertambahan volume darah, mamae yang membesar dan metabolisme yang meningkat (Fatimah, 2011).

Pengaruh anemia pada saat persalinan yaitu gangguan his, kekuatan mengejan, kala pertama dapat berlangsung lama, kala uro dapat diikuti retensio plasenta dan perdarahan post partum karena atonia uteri, kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri (Manuaba, 2004).

Kekurangan zat besi atau Anemia merupakan masalah yang umum karena dapat mencerminkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat serta pengaruhnya terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia berpotensi membahayakan kesehatan ibu dan anak, karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan (Manuaba,2008).

World Health Organization (WHO) tahun 2018 melaporkan bahwa secara global prevalensi anemia pada ibu hamil di seluruh dunia adalah sebesar 41,8%. Prevalensi anemia pada ibu hamil diperkirakan di Asia sebesar 48,2%, Afrika 57,1%, Amerika 24,1%, dan Eropa 25,1%. Angka Kematian Ibu (AKI) di Negara berkembang berkaitan dengan anemia pada kehamilan dan kebanyakan disebabkan oleh difisiensi besi (40%) (WHO, 2018).

Menurut World Health Organization (WHO) Tahun 2015. Kejadian anemia pada ibuhamil berkisar antara 20-89 % dengan menetapkan kadar Hb 11 gr% sebagai dasarnya. Dinegara ASEAN angka kejadian anemia bervariasi, di Indonesia berkisar 70%, di Filiphina berkisar 55%, Thailand 45%, Malaysia 30%, dan Singapura 7% yang menderita anemia. Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi zat besi dan pendarahan akut.

Kejadian anemia ibu hamil di dunia memiliki angka prevalensi yang cukup tinggi. Terbukti dari sejumlah penelitian yang dilakukan di beberapa negara. Salah satunya di Brazil menunjukan prevalensi anemia 50%. Di Amerika masih ditemukan anemia sebesar 24,1%, Eropa 25,1 %, Pasifik Barat 30,7%, Timur mediterania 44,2 %, Asia Tenggara 48,2%, dan Afrika 57,1%. Dua wilayah sub Sahara Afrika dan Asia selatan merupakan 88% kematian Ibu diseluruh dunia. Sahara Arika menderita rasio kematian ibu tertinggi 546 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup atau 201.000 kematian ibu setahun. Ini adalah dua pertiga (66%) dari semua kematian ibu pertahun di seluruh dunia. Asia selatan mengikuti dengan rasio kematian ibu 182 atau 66.000 kematian ibu setahun

Anemia menjadi masalah kesehatan utama pada negara berkembang dan berhubungan dengan meningkatnya angka kematian ibu dan bayi, persalinan premature, bayi dengan berat badan lahir rendah dan efek merugikan lainnya. Meskipun hanya 15 % dariibu hamil di Negara maju yang mengalami anemia, namun prevelensi anemia di negara berkembang relatif tinggi yaitu 33% sampai 75%. Penyebab anemia paling terbesar adalah anemia karena kekurangan zat besi.

Menurut RISKESDAS 2018 terjadi peningkatan kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia dari tahun 2013 sebesar 37,1% dan meningkat pada tahun 2018 menjadi 48,9%, dan anemia pada ibu hamiltertinggi yaitu 84,6% dialami oleh ibu hamil usia15-24 tahun (Riskesdas, 2018).

Indonesia angka anemia pada ibu hamil masih cukup tinggi. Angka anemia pada ibu hamil di perkotaan 36,4 % dan di pedesaan 37,8 %. Menurut data riskesdas kelompok ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang berisiko tinggi mengalami anemia, meskipun anemia yang dialami umumnya merupakan anemia relatif akibat perubahan fisiologis tubuh selama kehamilan. Anemia pada populasi ibu hamil menurut kriteria yang ditentukan. Kekurangan gizi pada ibu hamil juga dapat beresiko menghambat pertumbuhan janin dan dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam kandungan) lahir dengan berat badan lahir render (BBLR) (Kristiyanasari, 2010:66).

Upaya penanggulangan anemia gizi besi pada ibu hamil dilakukan melalui peningkatan cakupan suplementasi tablet besi. Upaya lain yang dapat dilakukan dengan memperhatikan pola konsumsi ibu hamil yang harus tetap mengacu pada pola makan sehat dan seimbang. Pengaturan makan pada ibu hamil bukan pada jumlah atau kuantitas melainkan pada kualitas atau komposisi zat-zat gizi, sebab faktor ini lebih efektif dan fungsional untuk kesehatan ibu dan janinnya. Misalnya untuk meningkatkan konsumsi bahan makanan tinggi besi seperti susu, daging, dan sayuran hijau (Haryanto, 2002).Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk mengetahui Pengaruh Edukasi Pola Makan terhadap Status Anemia pada Ibu Hamil Di TPMB Laswita Tahun 2022.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah Quasy Experiment, dengan menilai intensitas kadar Hemoglobin sebelum dan sesudah pemberian edukasi pola makan paa ibu hamil. Dengan bentuk rancangan one group pretest-posttest. Dalam penelitian ini observasi dilakukan 2 kali yaitu sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. populasi pada penelitian ini adalah ibu hamil trimester III yang berada di TPMB Laswita 66 responden besar sampel yaitu total populasi yaitu berjumlah 66 ibu hamil dengan kriteria inklusi bersedia menjadi responden, responden yang pemeriksaan di TPMB Laswita kriteria eksklusi yaitu responden yg sedang sakit saat penelitian.

HASIL DAN DISKUSI

Hasil penelitian yang dilakukan di TPMB Laswita Tahun 2022, berdasarkan data dapat diketahui bahwa dari total 66 responden yaitu 20 responden (30,2%) mengalami anemia yaitu responden yang diberikan edukasi, dan 46 responden (69,7%) tidak mengalami anemia tetap diberikan edukasi.

Status Anemia sebelum dilakukan edukasi pola makan/nutrisi pada ibu hamil melalui kuesioner di TPMB Laswita Tahun 2022. Berdasarkan data dapat diketahui dari total 66 responden yaitu 20 responden (30,2%) mengalami anemia yang diantaranya 6 responden mengalami anemia sedang dan 14 responden mengalami anemia ringan. Kemudian 46 responden tetap diberikan edukasi dan tidak mengalami anemia. Beberapa makanan atau pola makan yang di edukasi oleh peneliti adalah perbanyak konsumsi makanan kaya zat besi contohnya daging, ayam, ikan, biji-bijian. Zat besi dalam produk daging ini lebih mudah di serap. Selanjutnya megkonsumsi makanan tinggi asam folat seperti kacang-kacangan, sayuran berwarna hijau dan konsumsi makanan kaya vitmin c seperti jeruk, stroberi, dan kiwi. Frekuensi makan yang baik bagi ibu hamil ialah dengan konsumsi makanan utama 3 kali sehari ditambah 2 kali selingan / cemilan. Porsi makanannya pun harus lebih banyak

dari porsi makan sebelum hamil ( Nugroho, Merdekawati, & hekakaya, 2017 ). Rata-rata kebutuhan zat besi pada wanita hamil berkisar 800 – 1.040 mg. Kebutuhan tersebut diperkirakan sekitar 300mg yang diperlukan untuk janin, sekitar 50-75 mg untuk pembentukan plasenta, dan sekitar 500 mg lagi digunakan untuk mengingat massa hemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin, dan kulit. Dan paling penting minum Tablet Tambah Darah (TTD) minimal 90 tablet selama kehamilan.

Status Anemia sesudah dilakukan edukasi pola makan/nutrisi pada ibu hamil selama satu bulan di TPMB Laswita Tahun 2022. Berdasarkan data dapat diketahui dari total 66 responden yaitu 46 responden yang tetap tidak mengalami anemia. Sedangkan 20 (30,2%) responden yang mengalami anemia diantaranya 6 responden dengan anemia masih mengalami anemia dengan kategori sedang dengan pola makan kurang. Sedangkan 14 responden yang mengalami anemia setelah diberikan edukasi terjadi kenaikan kadar Hb dan sudah tidak mengalami anemia tetapi diantara nya 10 responden dengan kategori pola makan yang cukup dan kadar Hb yang sudah fisilogis/normal, sedangkan 4 responden dengan kategori pola makan yang kurang dan kadar Hb sudah tejadi peningkatan menjadi fisiologis/normal. Ibu hamil pun yang sudan rutinmengkonsumsi tablet Fe sebanyak 53 responden dan yang tidak rutin sebanyak 13 responden.

Uji paired sampel T-test dilakukan untuk mengetahui perbandingan selisih dua sampel yang berpasangan dengan asumsi data berdistribusi normal. Sampel berpasangan dari subjek yang sama, setiap variabel diambil dari situasi dan keadaan yang berbeda. Berdasarkan hasil Bivariat dengan paired T-test, perbandingan status anemia (kadar Hb) sebelum dan sesudah dilakukan pemberian edukasi pola makan pada ibu hami di TPMB Laswita Tahun 2022 dengan jumlah sampel 66 responden dan nilai mean (212) di dapatkan R table (0,05) dengan nilai P-Value 0,001, maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak, artinya ada pengaruh antara sebelum dan sesudah dilakukan edukasi pola makan pada ibu hamil di TPMB Laswita Tahun (2022)

Menurut pendapat peneliti ibu hamil dengan status anemia di TPMB Laswita Tahun 2022, sebelum diberikan edukasi tentang pola makan/nutrisi ibu hamil dengan status anemia dengan tingkat pengetahuan pola makan kategori kurang sebanyak 21 responden, sedangkan yang memiliki tingkat pengetahuan pola makan rata-rata dengan kategori cukup sebanyak 30 responden, dan ada beberapa ibu hamil yang memiliki tingkat pengetahuan pola makan kategori baik sebanyak 15 responden. Ibu hamil rata-rata yang tidak mengkonsumsi tablet Fe sebanyak 27 responden.

Responden yang tidak mengkonsumsi tablet Fe tidak mengetahui manfaat tablet Fe bagi dirinya maupun janinnya, dan selama kehamilan setiap tablet Fe yang diberikan jarang di konsumsi, karena ketidaktahuan responden akan manfaat, efek samping, cara dan waktu mengkonsumsi sehingga responden mengalami anemia. Responden berasumsi bahwa eFek samping dari mengkonsumsi tablet Fe seperti konstipasi dan mual sehingga ibu hamil tersebut cenderung menolak tablet Fe yang diberikan sedangkan responden yang mengkonsumsi tablet Fe mengalami anemia ini disebabkan ibu hamil tidak teratur dan bahkan tidak sama sekali dalam mengkonsumsi tablet Fe. Setelah diberikan edukasi tentang pola makan/nutrisi ibu hamil dengan status anemia melalui video animasi selama 1 bulan terdapat peningkatan status anemia/kadar Hb, 6 responden dengan anemia masih mengalami anemia dengan kategori sedang dengan pola makan kurang. Sedangkan 14 responden yang mengalami anemia setelah diberikan edukasi terjadi kenaikan kadar Hb dan sudah tidak mengalami anemia. Menurut peneliti, mayoritas responden mengkonsumsi tablet Fe, hal ini disebabkan karena responden ( ibu hamil ) sudah mengetahui tentang manfaat dari tablet besi buat dirinya dan buat janinnya sehingga responden rajin mengkonsumsi tablet Fe. Sementara minoritas responden yang tidak mengkonsumsi tablet Fe disebabkan karena responden beranggapan mengkonsumsi tablet Fe dapat menimbulkan efek samping yang mengganggu sehingga responden cenderung menolak tablet yang diberikan.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti selama penelitian, banyak ibu hamil yang kurang mengetahui tentang makanan apa saja yang dianjurkan untuk dimakan dan dihindari selama masa kehamilan. Pola makan yang kurang disebabkan oleh kebanyakan ibu hamil yang memilih-milih makanan, tidak menyukai makanan yang berbau amis seperti daging merah dan ikan, faktor lain yang menyebabkan pola makan kurang yaitu karena kurangnya pengetahuan ibu terhadap cara pengolahan bahan makanan, mengkonsumsi makanan yang kurang bervariasi, dan perilaku makan yang monoton. Kebutuhan ekonomi yang ada pada masyarakat tersebut berdampak padakemampuan membeli bahan makanan didalam keluarga karena mayoritas dengan alasan ekonomi banyak juga ibu hamil yang kurang mengetahui betapa pentingnya makan buah-buahan pada saat kehamilan. Pola makan pada ibu hamil juga disebkan faktor mual muntah. Mual muntah atau biasa disebut dengan morning sickness biasanya terjadi saat kehamilan awal atau pada trimester 1, pada fase ini ibu hamil mengalami penurunan nafsu makan. Banyak ibu hamil yang kurang mengetahui tentang menu pengganti makanan, pengetahuan ibu hamil hanya sebatas mengetahui makan nasi 3x/hari, nasi dapat diganti dengan menu yang berbeda dan dengan komponen yang sama misalkan dengan lontong, bubur, kentang, dll.

Pendapat peneliti tentu berdasarkan penelitian sebelumnnya yang telah dilakukan oleh Panca Radono, Falentin Ledys Tanggu, dan Anggrawati Wulandari (2021) dengan judul Kejadian Anemia Ditinjau Dari Pola Makan Dan Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Fe Pada Ibu Hamil Trimester III Di BPM Rosa Siskawati Plosoklaten Kabupaten Kediri. Berdasarkan hasil uji statistic yang telah dilakukan menggunakan uji Regresi logistik , diketahui bahwa nilai ρ-value Pola makan = 0,006 lebih kecil dari nilai α (0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Sedangkan nilai p value kepatuhan komsumsi = 0,048 lebih kecil dari α (0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Ada pengaruh yang sangat signifikan antra pola makan dengan kejadian anemia dan juga kepatuhan komsumsi Tablet Fe dengan kejadian. Dimana ketika pola makan ibu hamil baik dan juga patuh dalam mengkonsumsi Fe maka kondisi kadar hemoglobin ibu hamil tetap terjaga dan mtidak terjadi anemia pada ibu hamil tersebut.

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yeni Wahyuni (2019) dengan judul hubungan pola makan terhadap kejadian anemia pada ibu hamil di puskesmas kecamatan pulo gadung Jakarta Timur. Berdasarkan pengujian uji korelasi Spearmean Rank (Rho), menunjukkan nilai p-value = 0,000 lebih kecil dari 0,05 (0,000<0,05) yang artinya penelitian ini ada hubungan, dengan nilai korelasi Spearmean Rank (Rho), =0,842 yang artinya sangat kuat, menunjukan semakin memiliki pola makan yang baik, maka ibu hamil tidak mengalami anemia.Dari pembahasan diatas peneliti dapat berasumsi bahwa ada pengaruh yang sangat signifikan antara pola makan dengan kejadian anemia dan juga konsumsi tablet Fe, dimana ketika pola makan ibu hamil baik dan juga patuh dalam mengkonsumsi tablet Fe maka kondisi kadar Hb ibu hamil tetap terjaga dan tidak terjadi anemia pada ibu hamiltersebut, hasil penelitian ini didapatkan bahwa banyak ibu hamil yang mengalami kejadian anemi, hal ini dikarenakan banyak juga ibu hamil yang memiliki pola makan yang tidak baik dan juga kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet Fe, hal ini seharusnya lebih lagi diperhatikan oleh ibu hamil untuk mencegah kejadian anemia.

Berdasarkan data-data tersebut yang menguatkan maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa ada pengaruh pemberian edukasi pola makan dan konsumsi tablet Fe dapat menaikan kadar Hb pada ibu hamil di TPMB Laswita Tahun 2022.

KESIMPULAN

  1. Dari 66 responden, terdapat 20 responden yang berstatus anemia di TPMB Laswita Tahun 2022.
  2. Setelah dilakukan edukasi masih terdapat 6 responden berstatus anemia .
  3. Ada pengaruh antara sebelum dan sesudah dilakukan edukasi pola makan pada ibu hamil di TPMB Laswita Tahun 2022.

SARAN

  1. Bagi Peneliti

Setelah dilakukan penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan bagi TPMB Laswita untuk membuat setandar oprasional prosedur yang tepat dalam edukasi atau pendidikan kesehatan tentang nutrisi/pola makan.

  1. Bagi Ibu Hamil

Di harapkan penelitian ini bisa di jadikan sebagai masukan bagi ibu hamil dalam menambah pengetahuan ibu hamil tentang edukasi pola makan melalui terhadap status anemia. Dan bisa berguna untuk upaya pencegahan terjadinya Abortus, Pendarahan, Persalinaan Prematur, BBLR, bayi beresiko lahir meninggal saat persalinan.

  1. Bagi Peneliti

Diharapkan penliti ini dapat menjadikan pedoman untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai pola makan/nutrisi pada ibu hamil untuk mencegah terjadi nya anemia pada kehamilan serta dapat melanjutkan penelitian ini dengan variable yang belum pernah diteliti oleh peneliti sebelumnya.

  1. Bagi Pendidikan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai penelitian lebih lanjut lagi dan diharapkan agar dapat dijadikan daftar referensi di perpustakaan dan dapat menjadi pedoman dalam memberikan edukasi kepada mahasiswa tentang pengaruh edukasi pola makan terhadap status anemia pada ibu hamil.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Asrar, M. (2009). Pola Asuh, Pola Makan, Asupan Zat Gizi dan Hubungannya dengan Status Gizi Anak Balita Masyarakat Suku Nuaulu di Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 6, 84-94.
  2. Astawan, M. (2009). Panduan Karbohidrat Terlengkap. Jakarta: Dian Rakyat. Atmarita, & Fallah, T. S. (2000). Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 1-37.
  3. Besral, L. M., & Saliar, J. (2007). Pengaruh Minum Teh terhadap Kejadian Anemia pada Usila di Kota Bandung. Makara Kesehatan, 11(1), 38-43.
  4. Chaeril, A. R. (2017). Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil Trimester III di Puskesmas Jetis. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Bidan Pendidik Jenjang Diploma IV.
  5. Chiossi, G., Palomba, S., Costantine, M. M., Falbo, A. I., Saade, G. R., & La Sala, G. B. (2018). Reference intervals for hemoglobin and hematocrit in a low risk pregnancy cohort implications of racial differences. The Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine, 1-8.
  6. Dewi, S. R. (2013). Hubungan Antara Pengetahuan Gizi, Sikap Terhadap Gizi, dan Pola Konsumsi Siswa Kelas XII Program Keahlian Jasa Boga di SMKN 6 Yogyakarta. Jakarta: Universitas Yogyakarta.
  7. Dinkes Profile DKI Jakarta. (2017). Profil Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Ertiana, D., & Astutik, R. Y. (2016). Adanya Anemia pada Kehamilan Trimester II dapat Mengakibatkan Tidak Normalnya Berat Badan Bayi Baru Lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Bendo, Kabupaten Kediri. Jurnal Sain Med, 8(2), 124-129.
  8. Fathonah, S. (2016). Gizi & Kesehatan Untuk Ibu Hamil. Semarang: Erlangga. Fitri, L. (2016). Hubungan Pola Makan dengan Anemia pada Pekerja Wanita di PT. Indah Kiat Pulp and Paper (IKKP) Tbk. Perawang. JournalEndurance, 1(3), 152-157.
  9. FKM UI. (2007). Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  10. Gozali, W. (2018). Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Buleleng III. International Journal of Natural Sciences and Engineering, 2(3), 117-121.
  11. Grober, U. (2013). Mikro Nutrient: Penyelarasan Metabolik, Pencegahan dan Terapi. Jakarta: EGC.
  12. Hastono, S. P. (2011). Analisa Data dan Kesehatan. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
  13. Kemenkes RI. (2015). Rencana Strategis Kementerian Kesehatan
  14. Kemenkes RI. (2017). Profile Kesehatan Indonesia.
  15. Krisnawati, Yanti, D. M., & Sulistianingsih, A. (2015). Faktor-faktor Terjadinya Anemia pada Ibu Primigravida di Wilayah Kerja Puskesmas. STIKES Pringsewu Lampung
  16. Kristiyanasi, & Weni. (2010). Gizi Ibu Hamil. Yogyakarta: Nuha Medika.
  17. Lean, M. E., Nilamsari, & Fajriyah. (2013). Ilmu Pangan, Gizi, dan Kesehatan Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  18. Lone, F. W., & et.al. (2018). Maternal Anemia and Its Impact on Perinatal Outcome. Tropical Medicine and International Health, 486-490.
  19. Mangels, R., Messina, V., & Messina, M. (2011). The Dietitian’s Guide to Vegetarian Diets, Issue and Application (3 ed.). American: Jones and Bartlett Learning.
  20. Manoe, M. (2010). Anemia dalam Kehamilan, Residen Divisi Fetomaternal bagian Obstetri dan Ginekologi. Makasar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
  21. Manuaba, I. (2010). Ilmu Kesehatan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC.
  22. Mardalena, I. (2017). Dasar-dasar Ilmu Gizi Dalam Keperawatan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
  23. Mariana, D., Wulandari , D., & Padila. (2018). Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas. Jurnal Keperawatan Silampari (JKS), 1(2), 108-121.
  24. Marya, R. K. (2013). Patofisiologi Mekanisme Terjadinya Penyakit. Jakarta: Binarupa Aksara.
  25. Meihartati, T., Widia, L., & Lestari, D. A. (2017). Hubungan antara Status Gizi Ibu Hamil dengan Kejadian Anemia. J. Darul Azhar, 3, 64-70.
  26. Menteri Kesehatan RI. (2013). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 75 tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi yang di anjurkan bagi Bangsa Indonesia. Jakarta: Menteri Kesehatan RI.
  27. Nugroho, K. P., Merdekawati, W., & Hekakaya, J. M. (2017). Hubungnan Perilaku Makan dan Konsumsi Tablet Fe dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Kabupaten Fakfak Papua Barat. Journal of Health, 4(2), 92- 99.
  28. Nurhidayati, A., & Erlyn, H. (2014). Hubungan Asupan Nutrisi dengan Kadar Hb pada Ibu Hamil di BPS Suratini Suwarno Suarakrta. Jurnal KesMaDaSka, 21-27.
  29. Pertiwi, A. S. (2013). Hubungan antara Pola Makan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kerjo Kabupaten Karanganyar. Naskah Publikasi.
  30. Pratiwi, R., & Widari, D. (2018). Hubungan Konsumsi Sumber Pangan Enhancer dan Inhibitor Zat Besi dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil. Amerta Nutr, 283-291. doi:doi: 10.20473/amnt.v2.i3.2018.283-291
  31. Prawirohardjo, S. (2014). Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka. Proverawati, A. (2015). Anemia dan Anemia Kehamilan. Yogyakarta: Nuha Medika.
  32. Pundkar , R., Powar , J., Sonar, S., & Desai, M. (2017). Risk Factros for Anemia in Pregnancy: A Case Control Study. Walawalkar Int. Med. J, 4, 17-25.
  33. Riskesdas. (2013). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI Tahun 2013
  34. Riskesdas. (2018). Kementerian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
  35. Salman, Y., Ideris, & Siti, M. M. (2016). Hubungan Pola Konsumsi Zat Besi dan Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Fe dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Sambung Makmur Tahun 2015. Jurkessia, 6(2), 51-58.
  36. Sari, A., Pamungkasari, E. P., & Dewi, Y. (2017). Hubungan Asupan Fe dengan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri Anemia di SMK 2 Muhammadiyah Sukoharjo dan SMAN 1 Nguter. 6th Res. Colloq. Univ. Muhammadiyah Magelang, 385-388.
  37. Sizer, F., & Witney. (2013). Nutrition: Concepts and Controversies (13 ed.). Florida State University: Brooks Cole.
  38. Tanggu et al., (2021) Hubunga pola makan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas, Jurnal Keperawatan Silampari, vol.1, no.2, Juni 2018,3-ISSN: 2581-1975, p-ISSN: 2597.
  39. Webster-Gandy, J., Madden, A., & Holdsworth, M. (2016). Gizi dan Dietetika. Jakarta: EGC.
  40. WHO. (2013). Millennium Development Goals (MDGs)

Pengaruh Konsumsi Teh Chamomile terhadap Penurunan Skala Dismenore pada Remaja

24

Luthfi Assy Syiffa and Rahmadyanti (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : Mengkonsumsi teh chamomile menghasilkan kadar dua senyawa yang lebih tinggi dalam urin yaitu hippurate dan glycine. Hippurate merupakan senyawa anti-inflamasi yang membantu mengurangi peradangan di tubuh dan menghambat pembentukan prostaglandin sehingga dapat mengurangi kecemasan, sedangkan glycine adalah bahan kimia yang mengurangi kejang otot dan dapat bertindak sebagai pereda saraf. Tujuan Penelitian : Mengetahui Pengaruh Konsumsi Teh Chamomile Terhadap Penurunan Skala Dismenorea Pada Remaja Di SMK Kesehatan Patriot 3 Kota Bekasi Tahun 2022 Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan tipe one group pretest-post test design. Hasil Penelitian : Hasil Univariat mayoritas usia remaja yaitu 17 tahun (55%), usia haid pertama kali yaitu 13 tahun sebanyak 13 orang ( 32,5%) , frekuensi nyeri haid sebelum konsumsi teh Chamomile terdapat pada skala nyeri nilai 4 sebanyak 19 orang (47,5%) dan frekuensi nyeri haid ssudah konsumsi teh Chamomile terdapat pada skala 2 berjumlah 17 orang (42,5%). Data Bivariat output uji wilcoxon diketahui nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,050, maka sebagaimana dasar pengambilan keputusan dalam uji t test wilcoxon dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak Ha diterima. Dengan demikian dapat diartikan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata variabel skala nyeri sebelum dengan sesudah perlakuan. Saran : Bisa menjadi masukan bagi SMK Kesehatan Patriot 3 Kota Bekasi untuk melakukan edukasi secara mendalam terkait mengatasi gangguan nyeri dismenore yang tepat dan aman

Kata Kunci : persepsi pernikahan dini, pengetahuan, sikap

PENGANTAR

Dismenore umum terjadi di kalangan wanita usia produktif. menurut kata dalam Bahasa Yunani kuno, istilah dismenore tersebut berasal dari dys yang artinya nyeri; meno yang artinya bulan; lalu rrhea yang artinya arus atau aliran. Sehingga secara singkat dapat di definisikan sebagai aliran menstruasi yang mengalami nyeri.

Dismenore ditandai dengan nyeri di daerah perut atau pinggul nyeri haid yang bersifat kram dan berpusat pada perut bagian bawah, Nyeri kram yang terasa sebelum atau selama menstruasi bisa juga nyeri pada pantat. Rasa nyeri pada bagian dalam perut, mual, muntah, diare, pusing atau bahkan pingsan.

Tercatat lebih dari 50% perempuan di setiap negara merasakan dismenore primer, di Indonesia tercatat 54,89% kejadian dismenore primer dan sisanya mengalami dismenore sekunder.

Banyaknya faktor yang mempengaruhi dismenore primer seperti indeks massa tubuh, aktivitas keseharian, stress emosional, dan lain sebagainya. Dismenore primer didefinisikan sebagai sensasi nyeri yang bukan keadaan patologi dan tidak terkait dengan gangguan ginekologi seperti endometriosis atau fibroid, walau umumnya dismenore primer tidak berbahaya, namun sering kali menimbulkan ketidaknyamanan bagi wanita yang mengalaminya.

Menurut data dari WHO didapatkan kejadian sebesar 1.769.425 jiwa (90%) wanita mengalami dismenore dengan 10-15% mengalami dismenore berat. Lebih dari 50% wanita yang menstruasi mengalami dismenore disetiap negara.

Sebanyak 50 % wanita mengalami dismenore primer tanpa patologi pelvis, Menurut Dawood dalam Celik, et al (2009) & Reeder (2013) di United States sekitar 10% wanita yang mengalami dismenore tidak mampu melakukan pekerjaan dan aktifitas kesehariannya karena rasa nyeri dismenore yang dilami. Sedangkan 60-70% wanita di Indonesia merasakan dismenore, dengan dismenore tipe primer sekitar 54,89%, dan sisanya 45,11 % adalah tipe sekunder.

Seringkali dismenore masih diabaikan karena menganggap ini adalah hal yang biasa saja, Tidak menutup kemungkinan wanita akhirnya memilih jalur mudah dan cepat seperti dengan obat yang dijual bebas tanpa adanya resep dari dokter, tanpa mengetahui efek samping dari obat yang dikonsumsi. Menurut Klein dan Litt pada populasi remaja dengan rentan usia usia 12-17 tahun, mereka mengeluh 12% nyeri berat, 37% nyeri sedang, dan 49% nyeri ringan. Dan sebanyak 14% remaja yang mengalami dismenore memutuskan tidak masuk sekolah.

Intensitas nyeri dismenore tentu tidak sama untuk setiap wanita, ada yang mampu beraktifitas dan ada pula yang tidak karena rasa nyeri yang dirasakannya Dismenore primer pada umumnya terjadi setelah 2-3 tahun dari usia menarche, umur 15-20 tahun merupakan rentang usia terbanyak kejadian dismenore primer sehingga berdampak pada penurunan aktifitas dan konsentrasi dalam belajar.Untuk mengatasi dismenore dapat menggunakan tindakan farmakologi dan non farmakologi, tindakan farmakologi dengan menggunakan obat–obat golongan analgetik seperti aspirin, asam mefenamat, parasetamol, kofein, dan feminax, obat- obat merek dagang yang beredar di pasaran antara lain novalgin, ponstan. Ada juga yang menggunakan non farmakologi seperti obat tradisional air daun sirih, daun pepaya, rimpang kunyit dan lain-lain.

Namun secara umum efek samping dari obat analgetik tersebut adalah gangguan pada system saluran cerna, seperti mual, muntah, dyspepsia, diare, dan gejala iritasi lainnya terhadap mukosa lambung, Eritemia kulit dan nyeri pada kepala juga dapat dirasakan. (2) Melihat efek samping yang ditimbulkan dari obat analgetik, beberapa wanita memilih tindakan non farmakologi seperti mengkonsumsi bahan herbal yang telah disediakan oleh alam salah satunya teh chamomile. Chamomile berasal dari bunga aster dari keluarga tanaman Asteraceae. Sejak lama Chamomile dipercaya sebagai obat alami untuk beberapa kondisi kesehatan. Selain rasanya yang menyegarkan, Chamomile kaya akan Antioksidan yang berfungsi untuk mencegah dan memperbaiki kerusakan sel-sel di dalam tubuh, khususnya yang disebabkan oleh paparan radikal bebas.

Menurut Wang et al.. (2005) Mengkonsumsi teh chamomile menghasilkan kadar dua senyawa yang lebih tinggi dalam urin yaitu hippurate dan glycine. Hippurate merupakan senyawa anti-inflamasi yang membantu mengurangi peradangan di tubuh dan menghambat pembentukan prostaglandin sehingga dapat mengurangi kecemasan, sedangkan glycine adalah bahan kimia yang mengurangi kejang otot dan dapat bertindak sebagai pereda saraf. Sedangkan Menurut Kozier, dkk (2009) bahwa pemberian teh chamomile hangat akan melancarkan sirkulasi darah dan menurunkan ketegangan otot sehingga menurunkan kecemasan.

Panas dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah yang mengakibatkan peningkatan sirkulasi darah. Secara fisiologis respon tubuh terhadap panas yaitu menyebabkan pelebaran pembulu manfaat terutama dalam mengatasi nyeri dismenore karena dipercaya membantu meredakan kejang pada otot, menenangkan suasana hati, dan membuat rahim lebih rileks sehingga mengurangi kram pada bagian perut bawah.

Berdasarkan latar belakang, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Konsumsi Teh chamomile terhadap penurunan skala dismenore pada remaja di SMK Kesehatan Patriot 3 Kota Bekasi tahun 2022h darah, menurunkan kekentalan darah, menurunkan ketegangan otot, meningkatkan metabolisme jaringan dan meningkatkan permeabilitas kapiler. Teh chamomile memiliki segudang.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental. Penelitian eksperimental rancangan pra eksperimental dengan tipe one group pretest-post test design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi putri kelas XI dan XII di SMK Kesehatan Patriot 3 Bekasi yang berjumlah orang. besar sampel 80 orang, besar sampel di ambil total sampling yaitu remaja putri yang sedang mengalami haid saat dilakukan penelitian. teknik sampling secara accidental sampling.

Penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Konsumsi Teh Chamomile Terhadap Penurunan Skala Dismenorea Pada Remaja Di SMK Kesehatan Patriot 3 Kota Bekasi Tahun 2022 dengan cara peneliti mengambil responden yang berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. jumlah sampel 40 orang. setelah itu peneliti menilai skala nyeri sebelum di berikan perlakuan setalah itu peneliti berikan perlakuan selanjutnya menilai ulang hasil skala nyeri pada responden.penelitian ini memiliki 2 variabel yaitu variabel bebas yaitu konsumsi Teh Chamomile dan variabel terikat yaitu Skala Dismenorea.

HASIL PENELITIAN DAN DISKUSI

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka pada bab ini diuraikan tentang pembahasan mengenai Pengaruh konsumsi teh chamomile terhadap penurunan skala dismenore pada remaja di SMK Kesehatan Patriot 3 Kota Bekasi tahun 2022

Penelitian ini menggunakan rancangan pra eksperimental dengan tipe one group pre test-post test design. Penelitian ini dilakukan di SMK Kesehatan Patriot 3 Kota Bekasi dengan Populasi dalam penelitian ini adalah siswa perempuan kelas XI dan XII yang berjumlah 143 orang dengan sampel sejumlah 40 orang yang diambil secara non probability sampling.

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa Numeric Rating Scale (NRS) didasari pada skala angka 1-10 untuk menggambarkan kualitas nyeri yang dirasakan responden dan teh chamomile Herbal bags yang dalam 1 herbal bag memiliki berat 1.0g, setiap responden akan diberikan sebanyak 4 herbal bag yang nantinya diseduh dengan 200 ml air panas dan diminum saat merasakan nyeri dismenore baik itu sebelum haid atau saat haid.

Sebelum diberikan perlakuan 40 responden diminta mengisi kuesioner dan skala nyeri dismenore yang dialami, Setelah itu peneliti memberikan pemaparan materi dan membagikan teh chamomile ke setiap responden. Peneliti membuat grup whatsapp yang berisikan 40 responden untuk memudahkan monitoring dan evaluasi. Setelah melakukan monitoring selama kurang lebih satu bulan. Peneliti melakukan pengolahan data yang berupa pembuatan tabulasi data kuesioner yang tiap datanya sudah diberikan coding.

Dengan SPSS 25 peneliti melakukan Analisa univariat yang bertujuan untuk menganalisis tiap variabel satu persatu dan menilai nyeri yang dialami responden sebelum dan sesudah konsumsi teh chamomile dapat diketahui bahwa dari 40 responden yang belum meminum teh chamomile ditemukan responden mengalami skala nyeri 2 yaitu 6 responden (15,0%), skala nyeri 4 yaitu 19 responden (47,5%), skala nyeri 6 yaitu 8 responden (20,05), sedangkan skala nyeri 8 yaitu 6 responden (15,0%) dan skala nyeri 10 yaitu 1 responden (2,5%). Lalu dari 40 responden yang sudah meminum teh chamomile adalah ditemukan responden mengalami skala nyeri 1 yaitu 6 responden (12,5%), skala nyeri 2 yaitu 17 responden (42,5%), skala nyeri 3 yaitu 1 responden (2,5%), skala nyeri 4 yaitu 13 responden (32,5%), sedangkan skala nyeri 5 yaitu 1 responden (2,5%) dan skala nyeri 6 yaitu 3 responden (7,5%).

Setelah itu dilakukan Analisa bivariat Uji wilcoxon matched-paired signed test dengan tingkat kesalahan 0,05 atau 5% yang bertujuan untuk mengukur korelasi antara dua variabel Teknik uji statistic yang berdasarkan tujuan penelitian yaitu pengaruh teh chamomile terhadap berkurangnya skala nyeri haid pada remaja putri (dengan skala ordinal) dengan interprestasi bila 0,000 < 0,050 = Tolak H0 berarti ada pengaruh teh chamomile terhadap intensitas nyeri haid pada remaja putri. Dan bila 0,000 > 0.050 = H0 gagal di tolak, berarti tidak ada pengaruh teh chamomile terhadap intensitas nyeri haid pada remaja putri. Diketahui nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,050, dengan total rata rata tingkat nyeri dismenore sebelum perlakuan sebesar 4,85 (nyeri sedang) dan total rata-rata tingkat nyeri dismenore sesudah diberikan teh chamomile sebesar 2,93 (nyeri ringan). maka sebagaimana dasar pengambilan keputusan dalam uji t test wilcoxon dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak Ha diterima. Dengan demikian dapat diartikan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata variabel skala nyeri sebelum dengan sesudah perlakuan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh Teh Chamomile terhadap Penurunan Skala Nyeri Dismenore/Haid.

Pendapat peneliti tentu berdasarkan penelitian sebelumnya yang di lakukan oleh (32) dengan judul Perbandingan efek Chamomile dan Asam Mefenamat pada dismenore primer, 200 mahasiswi dengan dismenore primer dari universitas Arak secara acak dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok (A) mendapat asam mefenamat (250 mg) dan kelompok (B) menerima chamomile (5000 mg). Tingkat keparahan nyeri, dinilai menggunakan skala analog visual, Skala Verbal Andersch- Milsom dan Grafik Higham. Dalam dua bulan penurunan pada kedua kelompok tetapi tidak signifikan antar kelompok (p = 0,567). Tampaknya sachet chamomile dapat mengurangi keparahan rasa sakit dan pendarahan yang mirip dengan asam mefenamat dan bahkan lebih jauh mengurangi gejala yang terkait dengan dismenore.. Dalam Jurnal Ilmiah Farmasi dengan judul Review: tumbuhan berkhasiat untuk mengatasi dismenorea. Sumber data primer yang diperoleh berasal dari jurnal nasional, jurnal internasional. dan e-book. Data yang diperoleh mencakup 21 tumbuhan dengan dosis dan cara penggunaan dari berbagai macam tumbuhan berkhasiat untuk memberikan aktivitas dalam meredakan dismenorea. Dari 21 jenis tumbuhan yang telah ditelaah berdasarkan sumber review jurnal, dapat disimpulkan bahwa tumbuhan terbaik untuk meredakan gejala dismenorea adalah biji adas, daun hop, bunga chamomile, bunga lavender, daun lemon balm, daun mint, bunga mawar, daun pepaya, daun serai dan bunga zataria.Menurut peneilitian yang dilakukan oleh Intervensi double action: yoga dan minum chamomile terbukti lebih efektif dalam mengurangi dismenore dan kecemasan dibandingkan dengan melakukan relaksasi nafas. Hasil penelitian ini menggambarkan walaupun skor nyeri menstruasi dan kecemasan. sama-sama menurun, tetapi skor penurunan nyeri lebih banyak dengan melakukan yoga dan minum chamomile.

Berdasarkan data-data tersebut yang menguatkan maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa ada Pengaruh konsumsi teh chamomile terhadap penurunan skala dismenore pada remaja di SMK Kesehatan Patriot 3 Kota Bekasi tahun 2022.

KESIMPULAN

  1. Dari 143 responden, hanya 40 responden yang mengalami dismenore. Dismenore ringan 6 orang, dismenore sedang 27 orang, dan dismenore berat 7 orang.

  2. Dari 40 responden yang diobservasi sebelum dan sesudah yang diberikan teh chamomile. Sebelum dilakukan intervensi mayoritas responden mengalami nyeri sedang, setelah dilakukan intervensi mayoritas responden mengalami nyeri ringan.

  3. Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata variabel skala nyeri sebelum dengan sesudah diberikan teh chamomile.

SARAN

  1. Bagi Tempat Penelitian

Setelah dilakukan penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan bagi SMK Kesehatan Patriot 3 Kota Bekasi untuk melakukan edukasi secara mendalam terkait mengatasi gangguan nyeri dismenore yang tepat dan aman.

  1. Bagi Peneliti

Diharapkan penelitian ini dapat menjadikan pedoman untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai Pengaruh Konsumsi Teh chamomile terhadap penurunan skala dismenore serta dapat melanjutkan penelitian ini dengan variable yang belum pernah diteliti oleh peneliti sebelumnya.

  1. Bagi Pendidikan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut lagi dan diharapkan agar dapat dijadikan daftar referensi di perpustakaan dan dapat menjadi pedoman dalam memberikan edukasi kepada mahasiswa tentang Pengaruh Konsumsi Teh chamomile terhadap penurunan skala dismenore.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Haerani, Dillah U, Hidayah Bohari N, Ariani Nur N, Rupa A AM, Kamaruddin M. Deskripsi Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dismenore Di Kelurahan Benjala Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba. Med Alkhairaat J Penelit Kedokt dan Kesehat. 2020;2(2):81–90.

  2. Rustam E. Gambaran Pengetahuan Remaja Puteri Terhadap Nyeri Haid (Dismenore) dan Cara Penanggulangannya. J Kesehat Andalas. 2015;4(1):286–90.

  3. Angelia LM, Sitorus RJ, Etrawati F. Model prediksi kejadian dismenore primer pada siswi sma negeri di palembang. J Ilmu Kesehat Masy [Internet]. 2017;8(1):10–8. Available from: http://www.jikm.unsri.ac.id/index.php/jikm

  4. Yunitasari R. Seminar Nasional Pendidikan, Sains dan Teknologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Muhammadiyah Semarang. Semin Nas Pendidikan, Sains dan Teknol Fak Mat dan Ilmu Pengetah Alam Univ Muhammadiyah Semarang. 2017;398–405.

  5. Wang Y et al. A Metabonomic Strategy for the Detection of the Metabolic Effects of Chamomile. J Agric Food Chem. 2005;53:191–6.

  6. Herdianti KA, Wardana NG, Karmaya INM. Hubungan antara kebiasaan olahraga dengan dismenore primer pada mahasiswi pre-klinik Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana tahun ajaran 2017. Bali Anat J. 2019;2(1):25–9.

  7. Marlinda R. Pengaruh senam Disminore. J Keperawatan Matern. 2013;1(2):118– 23.

  8. Sari H, Hayati E. Gambaran Tingkat Nyeri Dismenorea Pada Remaja Putri. BEST J (Biology Educ Sains Technol. 2020;3(2):226–30.

  9. Nurfarianti Y, Sukamto AS, Studi P, Universitas I. SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSIS. :1–6.

Efektivitas Konseling Kontrasepsi dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan terhadap Pengetahuan dan Sikap Mengenali Metode Kontrasepsi Jangka Panjang pada Ibu Hamil Trimester III

25

Titin Darul Yatimah and Tuty Yanuarti (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang: KB Pasca Persalinan merupakan upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat dan obat kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari/ 6 minggu setelah melahirkan. Cakupan KB pasca persalinan baru mencapai 35,1% tahun 2019 dengan jenis kontrasepsi suntik yang terbanyak yaitu 62,3%. KB pasca persalinan tertinggi terdapat di Provinsi Lampung yaitu sebesar 76,8% dan yang terendah di Jawa Tengah sebesar 0,1%, Nusa Tenggara Timur 6,3 % dan Banten 6,8%. Tujuan: Untuk mengetahui Efektivitas konseling kontrasepsi dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) terhadap pengetahuan dan sikap mengenali metode kontrasepsi jangka panjang pada ibu hamil trimester III di Praktik Mandiri Bidan Titin Duratul Yatimah Kecamatan Kresek Tahun 2022. Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimen semu (Quasi Eksperimen) dengan rancangan One Group Pretest-Posttest non control. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh ibu hamul trimester III. Sampel menggunakan teknik total sampling, dengan instrument kuesioner dan analisis univariat dan bivariat uji wilcoxon. Hasil : Terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap secara bermakna antara sebelum dan sesudah diberikan Konseling Kontrasepsi Dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) dengan (nilai p=0,000) atau (p<0,05). Kesimpulan dan Saran: Konseling Kontrasepsi Dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) efektif terhadap pengetahuan dan sikap dalam mengenali alat kontrasepsi jangka panjang. Disarankan agar Praktik Mandiri Bidan dapat meningkatkan kualitas pelayanan khususnya dapat memberikan konseling melalui media Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK).

Kata Kunci : Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK), Pengetahuan, Sikap

PENDAHULUAN

Indonesia saat ini memiliki jumlah penduduk 265 juta jiwa. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia pada rangkin keempat setelah negara China, India dan Amerika Serikat sehingga dengan demikian perlunya kewaspadaan akan ledakan penduduk (BKKBN, 2018). Rencana Strategis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2015-2019 antara lain menurunkan kebutuhan ber-KB tidak terlayani dari jumlah pasangan usia subur sebanyak 10,6 % pada tahun 2015 menjadi 9,91 % ditahun 2019. Akan tetapi sampai dengan tahun 2017 pencapaian BKKBN masih sebesar 17,5 % (BKKBN, 2017). Upaya dan strtategi dibutuhkan untuk mencapai target tersebut antara lain berupa mendorong pemangku kebijakan untuk meningkatkan sosialisasi dan adukasi mengenai KB sebagai program prioritas (BKKBN, 2018).

Menurut BKKBN, KB aktif di antara PUS tahun 2019 sebesar 62,5%, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 63,27%. Sementara target RPJMN yang ingin dicapai tahun 2019 sebesar 66%. Hasil SDKI tahun 2017 juga menunjukan angka yang lebih tinggi pada KB aktif yaitu sebesar 63,6%. KB aktif tertinggi terdapat di Bengkulu yaitu sebesar 71,4%. Terdapat 11 (sebelas) provinsi dengan cakupan KB aktif mencapai target RPJMN 66% yaitu Provinsi Bengkulu, Kalimantan Selatan, Lampung, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Bali, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Sulawesi Utara dan Gorontalo. Sedang provinsi banten masih kurang dari target cakupan nasional hanya 64,6 %.

KB Pasca Persalinan merupakan upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat dan obat kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari/ 6 minggu setelah melahirkan. Cakupan KB pasca persalinan baru mencapai 35,1% tahun 2019 dengan jenis kontrasepsi suntik yang terbanyak yaitu 62,3%. KB pasca persalinan tertinggi terdapat di Provinsi Lampung yaitu sebesar 76,8% dan yang terendah di Jawa Tengah sebesar 0,1%, Nusa Tenggara Timur 6,3 % dan Banten 6,8%.

Metode Kontrasepsi Jangka Panjang adalah metode kontrasepsi yang memiliki efektivitas tinggi dalam mencegah kehamilan yang terdiri dari IUD, implan, dan kontrasepsi mantap (Kemenkes RI, 2020). Pengetahuan minim tentang berbagai alternatif metode kontrasepsi jangka panjang dipengaruhi oleh pemberian informasi dan konseling yang kurang optimal (Nurlisis dan Yunita, 2016).

Metode konseling kesehatan tidak lepas dari peran bidan dalam memberikan konseling. Bidan sebagai provider memiliki tugas pelayanan untuk memberikan informasi yang baik dan benar kepada valon akseptor. Provider memiliki peran penting untuk membantu perempuan dalam pemilihan alat kotrasepsi (Henderson, 2016).

Penelitian Rochmah, dkk (2014) menyebutkan bahwa penggunaan ABPK oleh bidan di puskesmas dalam pelayanan kontrasepsi belum berjalan dengan optimal dilihat dari penguasaan alur konten, kemampuan tenaga kesehatan dalam melaksanakan alur, dan dan ruangan tersendiri untuk konseling masih belum tersedia. Hal ini berdampak pada proses pelaksanaan pelayanan KB meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi menjadi kurang optimal.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, peneliti ingin mengetahui Efektivitas konseling kontrasepsi dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) terhadap pengetahuan dan sikap mengenali metode kontrasepsi jangka panjang pada ibu hamil trimester 3 di Praktik Mandiri Bidan Titin Duratul Yatimah Kecamatan Kresek Tahun 2022.

METODE

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode Quasi Eksperimental dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest Non Control. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2022, yang dilakukan di Praktik Mandiri Bidan Titin Duratul Yatimah Kecamatan Kresek. Sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 18 orang dengan teknik sampling menggunakan total sampling.

Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan pretest (tes awal) sebelum diberikan perlakuan dan memberikan posttest (tes akhir) setelah diberikan perlakuan serta tidak adanya kontrol dalam penelitian ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengetahuan Sebelum dan Sesudah

Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa pengetahuan responden sebelum konseling mayoritas responden memiliki pengetahuan kurang dengan jumlah 14 orang (77,8%), pengetahuan cukup dengan jumlah 4 orang (22,2%) dan pengetahuan baik 0 orang (0%) sedangkan pengetahuan responden sesudah diberikan konseling mayoritas pengetahuan baik dengan jumlah 16 orang (88,9%), pengetahuan cukup dengan jumlah 2 orang (11,1%) dan pengetahuan kurang 0 orang (0%).

Sejalan dengan penelitian Saraswati, Atika dan Purwanti (2018) bahwa responden yang mendapatkan konseling ABPK mengalami peningkatan. Responden berpengetahuan cukup dan kurang saat pretest menjadi baik setelah diberikan konseling dengan ABPK, yaitu masing-masing sebesar 92,3% dan 93,3%.

Menurut asumsi peneliti, faktor yang mempengaruhi responden tidak mengenali alat kontrasepsi jangka panjang dikarekan pengetahuan yang kurang sehingga membuat respondeng tidak memahami dan tidak mengetahi baik efektivitas, efek samping, keuntungan dan kerugian dalam penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang.

Sikap Sebelum dan Sesudah

Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa sikap responden sebelum konseling mayoritas responden memiliki sikap tertutup dengan jumlah 16 orang (88,9%) dan sikap terbuka dengan jumlah 2 orang (11,1%) sedangkan setelah konseling menunjukan bahwa mayoritas sikap terbuka dengan jumlah 15 orang (83,3%) sedangkan sikap tertutup dengan jumlah 3 orang (16,7%).

Sejalan dengan penelitian Aldilla, Murti dan Permana (2017) bahwa sikap ibu sebelum diberikan konseling responden yang memiliki sikap negatif sebanyak 24 orang (77,4%) dan setelah diberikan konseling sikap ibu menjadi positif sebanyak 22 orang (71%).

Menurut teori salah satu faktor yang mempengaruhi sikap adalah pengalaman pribadi, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalan dan lebih lama membekas (Henry, 2009).

Menurut asumsi peneliti, bahwa dalam penelitian ini terdapat kenaikan pada jumlah sikap yang semula tertutuo menjadi terbuka disebabkan karena informasi yang telah didapat melalui konseling ABPK dapat dirasakan dampak positifnya.

Efektifitas Konseling Kontrasepsi Dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK)

Hasil analisa uji statistik pada pengetahuan dan sikap mengenali alat kontrasepsi jangka panjang sebelum dan sesudah pemberian Konseling Kontrasepsi Dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) pada responden menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap bermakna antara sebelum dan sesudah diberikan Konseling Kontrasepsi Dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) dengan (nilai p=0,000) atau (p<0,05). Hal tersebut juga menunjukkan terdapat hasil uji statistik lebih rendah dari pada angka signifikansi sehingga dapat disimpulkan bahwa Konseling Kontrasepsi Dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) efektif terhadap pengetahuan dan sikap dalam mengenali alat kontrasepsi jangka panjang.

Sejalan dengan penelitian Saraswati, Atika dan Purwanti (2018) bahwa Hasil Wilcoxon Signed Rank Test di kelompok perlakuan dan kontrol didapatkan nilai signifikansi (p<0,05), disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada pengetahuan tentang MKJP antara pretest dan posttest pada kelompok perlakuan dan kontrol. Selanjutnya dilakukan uji Mann-Whitney pada data posttest kelompok perlakuan dan kontrol, diperoleh signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Ada beda yang bermakna antara hasil posttest pengetahuan kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

Sejalan juga dengan penelitian Aldilla, Murti dan Permana (2017) bahwa hasil analisis bivariat yang menunjukan pengetahuan ibu memiliki nilai wilcoxon sebesar 4,873 > z tabel 1,96 dan nilai p value = 0,000 < 0,05 maka ada pengaruh pemberian konseling terhadap pengetahuan ibu dalam pemilihan kontrasepsi. Selanjutnya hasil analisis bivariat yang menunjukan sikap ibu memiliki nilai wilcoxon sebesar 4,706 > z tabel 1,96 dan nilai p value = 0,000 < 0,05 maka ada pengaruh pemberian konseling terhadap sikap ibu dalam pemilihan kontrasepsi.

Sikap merupakan respons tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Sikap tidak dapat dilihat langsung tetapi dapat ditafsirkan dari perilaku yang tertutup. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, melainkan predisposisi tindakan suatu perilaku. Merupakan kesiapan untuk berinteraksi terhadap objek di lingkungan sebagi suatu penhayatan objek (Notoatmodjo, 2018).

Metode konseling kesehatan tidak lepas dari peran bidan dalam memberikan konseling. Bidan sebagai provider memiliki tugas pelayanan untuk memberikan informasi yang baik dan benar kepada valon akseptor. Provider memiliki peran penting untuk membantu perempuan dalam pemilihan alat kotrasepsi (Henderson, 2016).

Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) merupakan media dalam membantu proses pengambilan keputusan kontrasepsi (Suwarno, 2013). Pemberian informasi akan diolah oleh otak dan diproses menghasilkan suatu pengetahuan (Maulana, 2009). Panca indera merupakan salah satu bentuk media penyampaian informasi, misal mulut untuk menyampaikan informasi berupa kata-kata, dan tangan menyampaikan informasi berupa isyarat (Daryanto dan Rahardjo, 2016). Penggunaan media tambahan dalam penyampaian informasi dapat lebih meningkatkan pengetahuan terkait dengan retensi individu terhadap media yang lebih lama (Haynes, 2016).

Menurut asumsi peneliti konseling dilakukan dengan tujuan agar menambah keterbukaan sikap dan pengetahuan bagi para calon akseptor KB atau Ibu hamil agar berminat dan mampu menentukan pilihan kontrasepsi apa yang sebaiknya digunakan. Sehingga dengan bertambahnya pengetahuan responden tentunya responden dapat mengetahui tentang efek samping yang kemungkinan dapat terjadi dalam setiap penggunaan alat kontrasepsi.

KESIMPULAN

Terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap bermakna antara sebelum dan sesudah diberikan Konseling Kontrasepsi Dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) dengan (nilai p=0,000) atau (p<0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Konseling Kontrasepsi Dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) efektif terhadap pengetahuan dan sikap dalam mengenali alat kontrasepsi jangka panjang.

SARAN

Disarankan agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan khususnya kepada para calon akseptor KB, ibu hamil dan pasangan usia subur dengan selalu memberikan konseling melalui media Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aldilla, Raisya P. Murti, Nyi Nyoman. Permana, Lies. (2017). Pengaruh pemberian konseling dengan media alat bantu pengambilan keputusan (ABPK) terhadap pengetahuan dan sikap ibu dalam pemilihan alat kontrasepsi dalam rahim pada calon akseptor KB di Puskesmas Trauma Center Tahun 2017. Manuskrip. Jurusan Kebidanan Prodi D-UV Kebidanan Samarinda, Poiteknik Kesehatan Kalimantan Timur, Indonesia

  2. BKKBN. (2017). Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 24 Tahun 2017 tentang Pelayanan Keluarga Berencana Pasca Persalinan dan Pasca Keguguran. Jakarta : Direktorat Kesehatan Reproduksi.

  3. BKKBN. (2018). Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi Per- Provinsi. Jakarta: BKKBN.

  4. Dewi, et al. 2019. Efektivitas Konseling Kontrasepsi Dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (Abpk) Terhadap Pengetahuan Mengenai Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Diakses dari: https://www.researchgate.ne t/publication/353552407 (diakses pada tanggal 31 Mei 2022)

  5. Gobel, Fendriyanti. 2016. Pengaruh Pemberian Konseling Dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan Terhadap Pemilihat Alat Kontrasepsi Pada Ibu Pasca Salin Di Rstn Boalemo. Diakses dari: https://www.researchgate.net/publication/334379551 (diakses pada tanggal 31 Mei 2022)

  6. Kostania, dkk. 2013. Pengaruh Konseling Menggunakan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) ber-KB terhadap Penggunaan Kontrasepsi Intra Uterin Device (IUD). Diakses dari: https://id.123dok.com/document/ (diakses pada tanggal 31 Mei 2021)

  7. Saraswati, Daranindra Dewi, Atika, Purwanti, Dwi. Efektivitas Konseling Kontrasepsi Dengan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) Terhadap Pengetahuan Mengenai Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal, 2019, 3 (3) e-ISSN 2656-7806

  8. Hadi, Sri Sulistiyaningsih. 2017. Efektivitas Konseling Kb Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Pus Dalam Pemilihan Kontrasepsi Intra Uterine Device (Iud). Diakses dari: stikesmhk.ac.id (diakses pada tanggal 31 Mei 2022)

  9. Hartanto, Hanafi. (2010). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Sinar Harapan.

  10. Henderson C. Jones K. (2016). Buku ajar konsep kebidanan. Jakarta. EGC

  11. Hidayat, A. (2011). Metode penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.

  12. Kemenkes, RI. (2013). Situasi Keluarga Berencana di Indonesia. Jakarta : Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan.

  13. Kemenkes, RI. (2014). Situasi dan Analisis Keluarga Berencana. Jakarta : Pusat data dan Informasi.

  14. Kemenkes, RI. (2020). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

  15. Lucky, Taufika, Yuhedi, Titik K. (2018). Kependudukan dan Pelayanan KB. Jakarta: EGC.

  16. Mega, Hidayat W. (2017). Asuhan Kebidanan Kebidanan Keluarga Berencana. Jakarta: Trans Info Media.

  17. Notoatmodjo, S. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. (Cetakan II). Jakarta: PT Rineka Cipta.

  18. Polit & Beck . (2012). Resource Manual for Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing Practice. Ninth Edition. USA : Lippincott.

  19. Rahayu S. (2017). Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC.

  20. Riwidikdo. (2013). Statistik Kesehatan (Dengan Aplikasi SPSS dalam prosedur Penelitian). Cetakan Pertama. Yogyakarta : Rohima Pers.

  21. Rochmah, J., Widjanarko, B., & Purnami, CT. (2014) Evaluasi Penggunaan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) dalam Pelayanan Keluarga Berencana oleh Bidan Puskesmas di Kota Cirebon. Administration Review, 73 (6), 122-125. Semarang : Universitas Diponegoro.

  22. Rumini. (2017). Pelayanan KB dan Kesehatan Reprodukasi Berbasis Evidance Based. Jakarta: CV. Trans Info Medika.

  23. Sastroasmoro S dan Ismail. (2008). Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Edisi 3. Jakarta: Sagung Seto.

  24. Silalahi, U. (2012). Metodologi Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama.

  25. Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.

  26. Suwarno (2013) Pelatihan Konseling Dengan ABPK Lebih Efektif Diperuntukkan bagi Bidan. Jateng.bkkbn.go.id. (on-line) (29 November 2021) dari jateng.bkkbn.go.id/infoprogram/Documents/kencana%20web.docx.

  27. Syamsudin, AR dan Damayanti. (2011). Metode penelitian pendidikan bahasa. Bandung: remaja rosdakarya.

  28. Wawan & Dewi M. (2011). Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Cetakan II. Yogyakarta : Nuha Medika.

Efektivitas Pemberian Jus Alpukat terhadap Penurunan Dismenore pada Siswi Madrasah Aliyah

26

Erria Sukmasari Putri and Nur Sitiyaroh (Editor)

ABSTRAK

Sebagian besar remaja putri yang mengalami dismenore dapat menyebabkan aktivitas belajar menjadi terganggu, dengan pemberian jus alpukat yang mengandung tinggi kalsium dan magnesium dapat mengurangi dismenore. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan pengaruh jus alpukat terhadap perubahan skala nyeri dismenore pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada siswi MA Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Metode penelitian menggunakan Quasi eksperimental dengan jenis penelitian pretest posttest Two Group. Sampel penelitian berjumlah 32 responden yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu terdiri dari 16 orang diberikan jus alpukat dan 16 orang yang tidak diberikan. Analisis data menggunakan Wilcoxon Signed dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jus alpukat nilai p = 0,000 dan yang tidak diberikan jus alpukat 0,008 < dari α = 0,05 berarti H0 ditolak dan Ha diterima yang artinya ada perbedaan pengaruh yang diberikan jus alpukat dan yang tidak diberikan. Sehingga diharapkan kepada siswi untuk meminum jus alpukat karena dapat menurunkan skala dismenore.

Kata Kunci : Dismenore, Jus Alpukat , Remaja Putri

PENDAHULUAN

Dismenore atau dalam bahasa kedokteran dikenal dengan Dysmenorrhea, merupakan salah satu gangguan yang dialami wanita ketika menstruasi. Dysmenorrhea merupakan keadaan nyeri yang hebat dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Dysmenorrhea merupakan suatu fenomena simptomatik meliputi nyeri abdomen, kram, dan sakit punggung (Kusmiran, 2016). Pendapat lain menurut (Shanbhag, 2012) menyebutkan bahwa Dysmenorrhea didefinisikan sebagai kram atau nyeri pada saat menstruasi yang menyakitkan berasal dari rahim. Ini adalah kondisi ginekologis umum yang dapat mempengaruhi sebanyak 50% perempuan. Beberapa definisi atas dapat disimpulkan bahwa dismenore merupakan kondisi ginekologis barupa nyeri pada saat menstruasi meliputi nyeri abdomen, kram, dan sakit punggung yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Menurut World Health Organization (WHO) dalam penelitian Sulistyorini (2017), Angka kejadian dismenore cukup tinggi diseluruh dunia. Rata-rata insidensi terjadinya dismenore pada wanita muda antara 16,8 –81%. Rata-rata di negara-negara Eropa dismenore terjadi pada 45-97% wanita. Dengan prevalensi terendah di Bulgaria (8,8%) dan tertinggi mencapai 94% di negara Finlandia. Prevalensi dismenore tertinggi sering ditemui pada remaja wanita, yang diperkirakan antara 20-90%. Sekitar 15% remaja dilaporkan mengalami dismenore berat. Di Amerika Serikat, dismenore diakui sebagai penyebab paling sering ketidakhadiran di sekolah yang dialami remaja putri. Selain itu, juga dilakukan survey pada 113 wanita Amerika Serikat dan dinyatakan prevalensi sebanyak 29-44%, paling banyak pada usia 18-45 tahun (Sulistyorinin, 2017).

Di Malaysia prevalensi dismenore pada remaja sebanyak 62,3% (Ningsih, 2016) sedangkan menurut Savitri (2015) di Indonesia angka kejadian dismenorea terdiri dari 54,89% dismenorea primer dan 9,36% dismenorea sekunder. Sedangkan di Yogyakarta merupakan salah satu kota dengan jumlah remaja putri tertinggi yakni sebanyak 60.449 (35,9%) jiwa dari 168.261 jiwa (Dinkes DIY, 2017).

Peningkatan pemahaman dan kesadaran remaja mengenai kesehatan reproduksi dan penyiapan kehidupan berkeluarga sangat penting dalam upaya mengendalikan jumlah ke-lahiran dan menurunkan resiko kematian Ibu melahirkan. Beberapa permasalahan kesehatan reproduksi remaja seperti terdapat kesenjangan dalam pembinaan pemahaman remaja ten-tang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang tergambar pada tingkat kelahiran remaja (angka kelahiran remaja kelompok usia 15-19 tahun), tingginya perilaku seks pra nikahdi se-bagian kalangan remaja, berakibat pada kehamilan yang tidak diinginkan masih tinggi, pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku beresiko masih rendah, ser-ta cakupan dan peran Pusat Informasi dan Konseling Remaja/ Mahasiswa (PIK R/M) belum optimal (BKKBN, 2015).

Secara umum penanganan disminore di bagi ada dua kategori yaitu pendekatan farmakologis dan non farmakologis. Secara non farmakologis antara lain olahraga secara teratur, minum jus alpukat, kompres hangat, istirahat dan relaksasi (Kumalasari and Iwan Andhyantoro, 2013). Seperti alpukat karena memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, salah satunya adalah untuk mengurangi rasa sakit. Kalsium dalam alpukat dapat memberikan efek berkurangnya rasa sakit pada tubuh. Kalsium berperan sebagai zat yang diperlukan sebagai zat yang diperlukan untuk kontraksi otot, yaitu aktin dan miosin pada saat otot berkontraksi. Kekurangan kalsium menyebabkan otot tidak dapat mengendur setelah kontraksi, yang dapat menyebabkan otot kram (Tompunuh et al., 2021).

METODE

Penelitian ini menggunakan Quasi eksperimental dengan jenis penelitian pretest posttest Two Group pada kelompok perlakuan diberikan intervensi berupa jus alpukat sedangkan kelompok control tidak mendapatkan jus alpukat.

Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas X A,B,C,D dengan total siswi sebanyak 57 orang. Untuk menentukan besar sampel peneliti menggunakan rumus Fredere dan dilakukannya penelitian yaitu pada tanggal 10 – 26 maret 2022 dengan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yaitu remaja wanita yang mengalami dismenore pada hari pertama menstruasi dalam tiga bulan terakhir, siklus menstruasi teratur, tidak sedang mengkonsumsi antioksidan tiga hari terakhir, berusia 17-18 tahun, dan belum pernah menikah. Sehingga didapatkan 32 siswi yang akan di bagi menjadi 2 kelompok yaitu 16 orang diberikan jus alpukat dan 16 orang tidak diberikan jus alpukat.

Peneliti memberikan jus alpukat 1 gelas kepada responden setiap pagi sebelum sarapan selama 3 hari yang telah setuju untuk menjadi sampel penelitian, lalu memberi lembar observasi pengukuran menggunakan NRS (Numeric Rate Scale) sebelum dan sesudah minum jus alpukat, sedangkan untuk kelompok control tidak diberikan jus alpukat dan hanya dilakukan pengukuran skala nyeri. Data skala nyeri dan metode pemberian diolah dengan menggunakan analisis univariat dan untuk menguji kemaknaan perbedaan mean variable sebelum dan sesudah intervensi menggunakan analisis bivariate dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk membandingkan antara pre dan post intervensi sedangkan untuk mengidentifikasi kesetaraan karakteristik responden, intensitas nyeri haid yang dialami sebelum dan setelah diberikan metode menggunakan uji Mann Whitney (p-value < α (0,05)).

HASIL DAN DISKUSI

Dalam melakukan penelitian, peneliti mengalami beberapa kendala di antaranya keterbatasan responden penelitian dikarenakan banyak responden yang masih malu jika membahas terkait haid ataupun disminore sehingga peneliti melakukan pendekatan diri, mengedukasi tujuan dan manfaat nya lalu semua responden menganggap nyerinya biasa dan tidak membutuhkan tindakan apapun dan saat di anjurkan untuk diberikan intervensi sebagian meminta untuk menjadi kelompok kontrol dan sebagian responden yang menjadi kelompok perlakuan mengeluh sulit untuk tidak makan pagi terlebih dahulu sebelum minum jus alpukat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 responden sebelum diberikan jus alpukat, yang mengalami tingkat dismenorhea sedang semua siswi sebanyak 16 orang (100%), dan sesudah diberikan jus alpukat, yang mengalami tingkat dismenorhea tidak nyeri sebanyak 5 orang (31,2%) dan ringan sebanyak 11 orang (68,7%). Serta, dari 16 responden yang tidak diberikan jus alpukat yang sebelum mengalami tingkat dismenorhea sedang sebanyak 16 orang (100%) dan sesudah yang mengalami tingkat dismenorhea ringan sebanyak 6 orang (37,5%) dan sedang sebanyak 10 orang (62,5%).

Hasil penelitian tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Arimina Hartati Pontoh (2015) terhadap 16 responden kelas XI di SMA Kartika Surabaya 2015 bahwa sebelum pemberian jus alpukat tingkat nyeri yang dirasakan yaitu 9 (56,2%) responden yang mengalami nyeri sedang, 6 (37,2%) responden mengalami nyeri ringan dan 1 (6,2%) responden mengalami nyeri berat. Setelah diberikan jus alpukat tingkat nyeri menjadi turun tidak ada yang mengalami nyeri berat, 3 (18,8%) responden mengalami nyeri sedang, dan 6 (37,5%) responden tidak merasa nyeri lagi sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh perbedaan skala nyeri haid sebelum dan sesudah minum jus alpukat sesuai dengan nilai yang diperoleh p value 0,001< 0,05.

Penelitian tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Een Kunaesih dan Fatimah Afrianty Gobel (2021) dengan 20 responden di SMK Negeri 1 Kesimbar sebelum diberikan jus alpukat, yang mengalami tingkat dismenorhea ringan sebanyak 4 orang (20,0%), sedang sebanyak 10 orang (50,0%) dan berat sebanyak 6 orang (30,0%) dengan menggunakan uji normalitas data dengan Shapiro-Wilk maka diperoleh nilai signifikan untuk siswi yang diberikan jus alpukat yaitu 0,069. Hal ini menunjukkan bahwa data terdistribusi secara normal. Dengan menggunakan uji paired sampel t test bahwa sebelum diberikan jus alpukat, nilai rata-rata tingkat dismenorhea 7,05 (berat). Sedangkan setelah diberikan jus alpukat, nilai rata-rata tingkat dismenorhea 3,75 (ringan) dengan hasil uji statistic diperoleh nilai p = 0,000 < 0,05.

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa buah alpukat memiliki banyak manfaat bagi kesehatan yang salah satunya adalah mengurangi nyeri. Kalsium memilikiperan sebagai zat yang diperlukan sebagai zat yang diperlukan untuk kontraksi otot, yaitu aktin dan myosin saat otot berkontraksi. Kalsium dan magnesiuum mempunyai fungsi penting dalam menurunkan sedikt tekanan otot tubuh. Otot- otot yang terdiri yaitu otot organ uterus sangat memerlukan kalsium untuk bisa melakukan perannya seperti biasa, jika badan ku-rang dalam konsumsi kalsium maka keraam pada otot-otot bisa cepat dirasakan (Tompunuh et al., 2021).

Pada pengaruh perubahan skala nyeri menunjukkan bahwa sebelum diberikan jus alpukat, nilai rata-rata tingkat dismenorhea 4,94. Sedangkan setelah diberikan jus alpukat, nilai rata-rata tingkat dismenorhea 1,75 jadi untuk selisih nya adalah 3,19. Hasil uji statistic diperoleh nilai p = 0,000 maka terdapat pengaruh pemberian jus alpukat dengan tingkat dismenorhea di MA Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Serta kelompok kontrol yang tidak diberikan jus alpukat sebelum yaitu nilai rata-rata tingkat dismenorhea 5,25. Sedangkan setelah nilai rata-rata tingkat dismenorhea 3,75 untuk selisih nya adalah 1,5. Hasil uji statistic diperoleh nilai p = 0,000 maka terdapat pengaruh walaupun hanya selisih sedikit.

Pada kedua kelompok mengalami perubahan skala nyeri walaupun lebih besar kelompok perlakuan daripada kelompok kontrol dikarenakan pada kelompok perlakuan diberikan tindakan yaitu dengan memberikan jus alpukat. Pada jus alpukat terdapat kalsium yang memberikan efek berkurangnya nyeri seperti disminore. Kalsium memiliki peran sebagai zat yang diperlukan sebagai zat yang diperlukan untuk kontraksi otot, yaitu aktin dan miosin saat otot berkontraksi., sehingga nyeri yang dirasakan pada saat menstruasi dapat berkurang dengan mengkonsumsi jus alpukat secara rutin.Sedangkan pada kelompok kontrol mengalami nyeri dikarenakan prostaglandin men-galami penurunan pada hari ketiga yang menyebabkan skala nyeri mengalami penurunan. Hal ini sejalan dengan (Wulandari et al., 2018) dijelaskan bahwa disminore terjadi pada hari pertama dan kedua menstruasi rasa nyeri akan berkurang setelah darah keluar yang cukupbanyak dan dari faktor endokrin yaitu peningkatan hormone prostaglandin yang meningkat pada hari sebelum menstruasi dan saat menstruasi terjadi prostaglandin menurun.

Berdasarkan hasil uji mann whitney, uji mann whitney, pada kelompok yang diberikan jus alpukat mempunyai nilai p-value 0,000 sedangkan pada kelompok yang tidak diberikan jus alpukat mempunyai nilai p-value 0,008 (< α (0,05)). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pengaruh yang diberikan jus alpukat dan yang tidak diberikan jus alpukat pada kelompok kontrol terhadap perubahan skala nyeri haid pada remaja putri. Manfaat alpukat bagi yang mengalami dismenorhea adalah kandungan Fe berguna dalam pencegahan dan pengobatan anemia serta kekurangan zat besi karena zat besi dapat merangsang pembentukan sel darah merah. Kandungan zat dapat menstimulasi produksi hemoglobin dalam darah. Potassium dapat mengendalikan kekuatan arteri yang dapat merefleksikan kontraksi pada uterus. Vitamin E yang terkandung dapat mengurangi nyeri haid, melalui hambatan terhadap biosintesis prostaglandin dimana vitamin E akan menekan aktivitas enzim fosfolipase A dan siklooksigenase melalui penghambatan aktivitas post tranlasi sikloksigenase sehingga menghambat produksi prostaglandin. Sebaliknya vitamin E juga meningkatkan produksi prostaksiklin yang berfungsi sebagai vasodilator yang bisa merelaksasi otot polos uterus. Alpukat juga mengandung kalsium yang dapat memberikan efek berkurangnya nyeri dalam tubuh. Kalsium memiliki peran sebagai zat yang diperlukan untuk kontraksi otot (Andi,2013).

Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan Wulan (2013) menunjukan sebagian besar responden mengalami nyeri sedang sebeum pemberian jus alpukat (56,3%), dan mengalami perubahan tingkat nyeri setelah pemberian jus alpukat yaitu hampir dari setengah respnden mengalami nyeri ringan (43,8%). berdasarkan uji hasil analisa uji mann whitney diketahui bahwa nilai ties 4 dan besarnya nilai value 0,001 lebih kecil dari nilai = 0,05 (0,001 < 0,005) sehingga H0 ditlak dan H1 diterima artinya ada pengaruh pemberian jus alpukat terhadap tingkat penurunannya nyeri pada remaja.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan yang diuraikan sebelumnya penelitian yang dilakukan pada siswi kelas X di MA Muallimaat Muhammadiyah Yogyakarta, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Ada perubahan skala nyeri pada kelompok perlakuan sebelum diberikan jus alpukat dengan rata-rata 4,94 dan sesudah diberikan dengan rata-rata 1,75.

  2. Ada perubahan skala nyeri pada kelompok kontrol sebelum tanpa diberikan dengan rata-rata 5,25 dan sesudah dengan rata-rata 3,75.

  3. Berdasarkan hasil uji mann whitney, pada kelompok yang diberikan jus alpukat mempunyai nilai p-value 0,000 sedangkan pada kelompok yang tidak diberikan jus alpukat mempunyai nilai p-value 0,008 (< α (0,05)). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pengaruh yang diberikan jus alpukat dan yang tidak diberikan jus alpukat pada kelompok kontrol terhadap perubahan skala nyeri haid pada remaja putri.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adipati, J., & Purwokerto, M. (2015). Pengaruh Teknik Relaksasi Front Effleurage terhadap Nyeri Dismenore Hartati Walin Esti Dwi Widayanti Jurusan Keperawatan Purwokerto Poltekkes Kemenkes Semarang. No Date : [Cited 2018 February 15] https://media.neliti.com/…/131278-ID-pengaruh-teknik-relaksasi-front-effleura.pdf

  2. Adzkia, Mar’atul, Imelda, Rahmayunia Kartika & Feni, B. (2020). Hipnoterapi Untuk Menurunkan Nyeri Disminore. Real in Nursing Journal, 3(2), 115–122.

  3. Aprilyadi, N., Feri, H. J., & Ridawati, I. D. (2018). Efektifitas Hypnotherapi Terhadap Penurunan Nyeri Dismenorea Pada Siswi Sma. Jurnal Perawat Indonesia, 2 (1), 10. https://doi.org/10.32584/jpi.v2i1.39

  4. Badrziad, A. 2012. Endokrinologi Dan Girekologi, Edisi Kedua. Jakarta : Media Aesculapius

  5. Berkley, K, J. (2013). Primary Dysmenorhea: An Urgent Mandate. Journal Of International Association For The Study Of Pain, 2(3).

  6. Brunner, & Suddarth. (2012). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

  7. Damayanti, D. F., Aprilia, S., & Yulianti, E. (2020). Effect of Carrot Juice To Decrease The Primary Dysmenorrhea Pain on Adolescent Girls in Dorm Poltekkes Kemenkes Pontianak. Jurnal Kebidanan, 10(1),25–29. https://doi.org/10.31983/jkb.v10i1.5552

  8. Dianawati, A. (2013). Pendidikan Seks Untuk Remaja. Jakarta: Kawan Pustaka.

  9. Dinas Kesehatan DIY. 2017. Jumlah Remaja Putri di Yogyakarta. Yogyakarta:

  10. Dinkes DIY. Diakses pada tanggal 31 Desember 2018. http://dinkesdiy.go.id

  11. Eny, K (2012). Kesehatan Reproduksi Remaja Dan Wanita. Jakarta : Salemba Medika

  12. Fatmawati, M., Riyanti, E., & Widjanarko, B. (2017). Perilaku Remaja dalam Mengatasi Dismenore. Fakultas Kesehatan Masyarakat,4 (PERILAKU REMAJA PUTERI DALAM MENGATASI DISMENORE), 1036–1043. https://media.neliti.com/media/publications/137832-ID-perilaku-remaja-puteri-dalam-mengatasi-d.pdf

  13. Hayati, S., Agustin, S., & Maidartati. (2020). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Dismenore Pada Remaja Di SMA Pemuda Banjaran Bandung. Jurnal Keperawatan BSI, VIII(1), 132–142. http://ejurnal.ars.ac.id/index.php/keperawatan

  14. Hembing, W. (2017). Penyembuhan Dengan Wortel. Jakarta: Pustaka Populer Obor.

  15. Hurlock, E. B.2017. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.Jakarta : Erlangga

  16. Jones, D. L. (2011). Dasar-dasar Obsetri dan Ginekologi. Jakarta: Hipokrates.

  17. Judha, M., Sudarti, & Afroh, F. (2012). Teori Pengukuran Nyeri Dan Nyeri Persalinan. Yogyakarta: Nuha Medika.

  18. Juwita, F. I., & Jatnika, Y. (2021). Persepsi Pemilihan Jamu Kunyit Asam Sebagai Alternatif Sediaan Halal Untuk Memperlancar Haid. Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, 4(2), 59–65. https://doi.org/10.29313/jiff.v4i2.8120

  19. Kasdu, D. (2015). Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarta: Puspa Swara.

  20. Kastono, K. 2016. Psikologi Wanita Mengenal Gadis Remaja Dan Wanita Dewasa Jilid 1. Bandung : Mandar Maju

  21. Kelly, T. (2017). 50 Rahasia Alami Meringankan Sindrom Menstruasi. Jakarta: Erlangga.

  22. Kowalak, J.P. 2013. Buku Ajar Patofisiologis. Jakarta: EGC.

  23. Mizam, A. K. (2021). Pengaruh Hipnoterapi Terhadap Penurunan Skala Nyeri Dismenore. Media Husada Journal Of Nursing Science, 1(1), 69–72. https://doi.org/10.33475/mhjns.v1i1.7

  24. Nida, R. M., & Sari, D. S. (2016). Pengaruh Pemberian Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Dismenore Pada Siswi Kelas XI SMK Muhammadiyah Watukelir Sukoharjo (The Influence Of Warm Compress Decrease In Dismenorhea Eleventh Grade Students Of SMK Muhammadiyah Watukelir Sukoharjo). Jurnal Kebidanan Dan Kesehatan Tradisional, 1(2), 103–109. https://doi.org/10.37341/jkkt.v1i2.84

  25. Notoadmodjo, S. (2013). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

  26. Nugroho T, & Utama B. I. (2014). Masalah Kesehatan Reproduksi Wanita. Yogyakarta : Nuha Medika

  27. Nursalam. (2016). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

  28. Potter, & Perry. (2015). Buku Ajar Keperawatan: Konsep, Proses Dan Praktik. Jakarta: EGC

  29. Prawirohardjo, S. (2006). Ilmu Kndungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

  30. Rustam, E. (2015). Gambaran Pengetahuan Remaja Puteri Terhadap Nyeri Haid (Dismenore) dan Cara Penanggulangannya. Jurnal Kesehatan Andalas, 4(1), 286–290. https://doi.org/10.25077/jka.v4i1.236

  31. Salamah, U. (2019). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri terhadap Perilaku Penanganan Dismenore. Jurnal Ilmiah Kebidanan Indonesia, 9(03), 123–127. https://doi.org/10.33221/jiki.v9i03.382

  32. Sarwono, Sarlito Wirawan, 2007. Psikologi Remaja. Jakarta : PT . Raja Grafindo Persada

  33. Seingo, F., Sudiwati, N. L. P. E., & Dewi, N. (2018). Pengaruh Kompres Dingin Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Wanita Yang Mengalami Dismenore Di Rayon Ikabe Tlogomas. Nursing News, 3(1), 153–163.

  34. Sulastri, 2006. Tesis :Perilaku Pencarian Pengobatan Keluhan Dysmenorhea Pada Remaja Di Kabupaten Purworejo Propinsi Jawa Tengah. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

  35. Sweet, L. P., Glover, P., & McPhee, T. (2013). The midwifery miniCEX – A valuable clinical assessment tool for midwifery education. Nurse Education in Practice, 13(2), 147–153. https://doi.org/10.1016/j.nepr.2012.08.015

  36. Tamsuri, A. 2007. Konsep Dan Penatalaksanaan Nyeri. Jarakarta : EGC

  37. Taruna, 2003. Hipoterapi. Website: Http//Www.Medikaholistik.Com/. Diakses Tanggal 17 Juni 2011

  38. Varney, H. (2006). Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC.

  39. Vilda Ana Veria Setyawati & Eko Hartini. 2018. Buku Ajar Dasar Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat.Yogyakarta : CV Budi Utama.

  40. WHO. (2013). Global Atlas On Cardiovascular Disease Prevention And Control. Surya. Geneva.

  41. Wiknjosastro, Hanifa 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

  42. Wita, H. 2010. Efektifitas Jus Wortel (Daucus Carota) Terhadap Penurunan Derajat DismenorePada Remaja Putri Di Asrama Putri Mahasiswi Stikes Aisyiyah. Yogyakarta. Yogyakarta

Pengaruh Pemberian Jus Buah Bit terhadap Tekanan Darah pada Wanita Menopause dengan Hipertensi

27

Aprilia Prabandari and Lia Idealistiana (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : Data WHO tahun 2015 menunjukkan sekitar 1,13 Miliar orang di dunia menyandang hipertensi. Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 Miliar orang yang terkena hipertensi, dan diperkirakan setiap tahunnya 10,44 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasi. Insiden hipertensi meningkat seiring dengan bertambahnya usia, dan wanita memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi seiring penurunan hormon dalam tubuhnya. Salah satu bentuk pengobatan non-farmakologis yang tidak menimbulkan efek samping bagi kesehatan wanita menopause adalah dengan mengkonsumsi sayuran atau buah-buahan yang dapat mempengaruhi tekanan darah. Tujuan Penelitian : Diketahui pengaruh pemberian jus buah bit terhadap tekanan darah pada wanita menopause dengan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Binuang. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan metode quasi-eksperimental. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh wanita menopause dengan hipertensi sebanyak 36 orang dengan teknik pemgambilan total sampling. Data dianalisis menggunakan uji statistik shapiro-wilk dan wilcoxon signed rank. Hasil Penelitian : Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa hasil data pada kelompok kontrol tidak terdistribusi normal sehingga peneliti melakukan analisis uji statistik dengan wilcoxon signed rank. Berdasarkan output test statistik diketahui bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,005 < 0,05 dan 0,001< 0,05. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada pengaruh pemberian jus buah bit terhadap tekanan darah pada wanita menopause dengan hipertensi. Kesimpulan dan Saran : Konsumsi jus buah bit berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada wanita menopause dengan hipertensi.

Kata Kunci : Jus Buah Bit, Tekanan Darah, Wanita Menopause Dengan Hipertensi

PENDAHULUAN

Wanita Menopause merupakan sebuah kata yang memiliki banyak arti atau makna yang terdiri dari kata menos dan pausos yang berasal dari bahasa yunani, yang digunakan untuk menjelaskan gambaran berhentinya haid atau menstruasi. Hal ini merupakan akhir proses biologis dari siklus menstruasi, yang dikarenakan terjadinya perubahan hormon yaitu penurunan produk hormon estrogen yang dihasilkan oleh ovarium (Mulyani, 2017).

Bersamaan dengan bertambahnya umur, hipertensi merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan meningkatnya morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler pada wanita yang sudah mengalami menopause. Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan meningkatnya morbiditas dan mortalitas kardiovaskular pada wanita yang mengalami menopause (Mulyani, 2017).

Hipertensi adalah kondisi tekanan darah seseorang yang berada diatas batas-batas tekanan darah normal. Tekanan darah normal didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 120 mmHg dan tekanan darah diastolik 80 mmHg (WHO, 2013). Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang paling umum terjadi hampir semua golongan masyarakat diseluruh dunia, baik lelaki maupun perempuan pada umur 45-59 tahun (Fitrina, 2013).

WHO pada tahun 2016 melaporkan kasus hipertensi sejumlah 839 juta, diperkirakan akan meningkat menjadi 1,5 Miliyar pada tahun 2025 atau sekitar 29% dari total penduduk dunia, dimana penderitanya lebih banyak pada wanita (30%) dibanding pria (29%) (Kemenkes RI, 2019).

Prevalensi penduduk yang memiliki tekanan darah tinggi menurut hasil Riskesdas tahun 2018 sebesar 34,11%. Dari total tersebut 36,85% penderita berjenis kelamin perempuan, sedangkan laki-laki sebesar 31,34% (Kemenkes RI, 2018).

Faktor risiko hipertensi antara lain adalah faktor genetik, umur, jenis kelamin, etnis, stress, obesitas, asupan garam, dan kebiasaan merokok. Hipertensi bersifat diturunkan atau bersifat genetik. Individu dengan riwayat keluarga hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Obesitas dapat meningkatkan kejadian hipertensi. Hal ini disebabkan lemak dapat menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah sehingga dapat meningkatkan tekanan darah. Asupan garam yang tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan meningkatkan tekanan darah. Kebiasaan merokok berpengaruh dalam meningkatkan risiko hipertensi walaupun mekanisme timbulnya hipertensi belum diketahui secara pasti. Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan bertambahnya usia, dan wanita memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi seiring penurunan hormon dalam tubuhnya. (Muhammadu, 2017).

Pengobatan untuk terapi hipertensi terbagi menjadi 2 yaitu farmakologis dan non-farmakologis. Menurut WHO, pengobatan non-farmakologis merupakan segala jenis tumbuh-tumbuhan alami yang digunakan sebagai obat untuk mengobati suatu penyakit tertentu (Kia dkk, 2018).

Salah satu bentuk pengobatan non-farmakologis yang tidak menimbulkan efek samping bagi kesehatan wanita menopause adalah dengan mengkonsumsi sayuran atau buah-buahan yang dapat mempengaruhi tekanan darah. Wanita menopause dengan hipertensi bisa melakukan terapi nutrisi dengan manajemen diet hipertensi. Contohnya dengan pembatasan konsumsi garam, mempertahankan asupan kalium, kalsium, dan magnesium serta membatasi asupan kalori jika berat badan meningkat (Cerry,dkk, 2015).

Buah bit merupakan jenis tanaman yang tumbuhnya seperti akar, sehingga seringkali disebut sebagai akar bit yang menyerupai umbi-umbian. Karakteristik buah bit adalah bentuknya yang bulat dan memiliki warna merah keunguan yang sering digunakan sebagai pewarna alami (Sari dkk, 2016). Manfaat buah bit sebagai antioksidan, anti inflamasi, antiapoptosis, hepato proteksitf, renal protektif, anti hipertensi, dan sebagainya (Gunardi dan Sandra, 2016).

Betalain merupakan pewarna alami yang banyak digunakan dalam produk pangan. Pigmen ini banyak dimanfaatkan karena kegunaannya selain sebagai pewarna juga sebagai antioksidan dan sebagai perlindungan terhadap ganguan akibat stress oksidatif. Sumber betalain yang paling banyak adalah akar bit (Beta vulgaris) (Mareno, et.al., 2008).

Penelitian mengenai pemanfaatan buah bit dalam penurunan tekanan darah pernah dilakukan, salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Devillya Puspita Dewi dan Kuntari Astriana bahwa terdapat pengaruh pemberian jus buah bit dalam penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada lansia (Dewi dan Astriana, 2019). Penurunan tekanan darah juga dibuktikan pada penelitian menggunakan hewan coba yang diberi buah bit untuk melihat aktivitas anti hipertensi (Patel dkk, 2017).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di UPT Puskesmas Binuang pada kegiatan pos pembinaan terpadu (Posbindu) PTM, di dapatkan data pada tahun 2021, 123 orang (10,1%) yang melakukan pengobatan, sedangkan target penanganan hipertensi 15%. Terjadi selisih kesenggangan dari target sebesar 4,9%. Berdasarkan hasil informasi dari petugas kesehatan di UPT Puskemas Binuang, dari 71 wanita yang mengalami hipertensi, 36 orang diantaranya memasuki masa menopause dan 80% diantaranya menggunakan obat-obatan seperti amlodipine, captopril, nifedipine, sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter atau tenaga kesehatan Puskesmas Binuang. Oleh karenanya, hal ini menarik bagi peneliti untuk melakukan penelitian.

Dari latar belakang diatas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Jus Buah Bit Terhadap Tekanan Darah Pada Wanita Menopause Dengan Hipertensi di wilayah kerja UPT Puskesmas Binuang Kabupaten Serang Tahun 2022.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen (eksperimental) menggunakan desain penelitian quasi-eksperimental dengan rancangan Pretest-Posttest Control Group Design. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan data primer yang didapat dari hasil observasi kemudian dicatat dalam lembar observasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita menopause yang mengalami hipertensi yang berada di wilayah kerja puskesmas binuang dengan pengambilan sampel secara total sampling sebanyak 36 orang dan dibagi dua kelompok yaitu 18 kelompok kontrol (tidak diberi jus buah bit sebagai pembanding) dan 18 kelompok intervensi (yang diberikan jus buah bit). Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 5 April 2022 sampai dengan 15 April 2022. Pada penelitian ini menggunakan uji normalitas dengan metode Shapiro-Wilk dan tidak berdistribusi normal maka selanjutnya uji menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Rata-Rata Tekananan Darah Wanita Menopause Sebelum Dan Sesudah Pada Kelompok Kontrol

Berdasarkan hasil penelitian pada kelompok kontrol bahwa rata-rata tekanan darah sistolik pada penderita hipertensi sebelum mengkonsumsi jus buah bit adalah 160,00 mmHg dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 138,33 mmHg, serta diketahui rata-rata penurunan tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 21,67 mmHg. Sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik pada penderita hipertensi sebelum mengkonsumsi jus buah bit adalah 84,44 mmHg dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 78,33 mmHg, serta diketahui rata-rata penurunan tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 6,11 mmHg.

Hasil penelitian menunjukan penurunan tekanan darah pada kelompok kontrol. Hal tersebut dikarenakan wanita menopause pada kelompok kontrol tetap mengkonsumsi obat hipertensi Amlodipin 10 mg 1×1 (Malam) tetapi penurunan tekanan darah tidak sesignifikan dengan wanita menopause yang mengkonsumsi jus buah bit.

Rata-Rata Tekananan Darah Wanita Menopause Sebelum Dan Sesudah Pada Kelompok Intervensi

Berdasarkan hasil penelitian pada kelompok intervensi bahwa rata-rata tekanan darah sistolik pada penderita hipertensi sebelum mengkonsumsi jus buah bit adalah 164,44 mmHg dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 125,00 mmHg. Dan diketahui rata-rata penurunan darah sistolik sebelum dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 39,44 mmHg, Sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik pada penderita hipertensi sebelum mengkonsumsi jus buah bit adalah 92,78 mmHg dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 83,33 mmHg. Serta diketahui rata-rata penurunan tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 9,45 mmHg.

Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Devillya Puspita Dewi dan Kuntari Astriana bahwa terdapat pengaruh pemberian jus buah bit dalam terhadap kejadian hipertensi pada lansia (Devillya dan Kuntari, 2019).

Berdasarkan analisa peneliti diketahui bahwa Buah Bit mampu membantu menurunkan tekanan darah karena mengandung nitrat yang akan direduksi menjadi nitrit oleh flora normal yang terdapat pada rongga mulut, yang berkhasiat sebagai penurun tekanan darah. Setelah mencapai lambung, suasana asam akan merubah sebagian kecil nitrit menjadi nitrogen monoksida. Akan tetapi, lambung dan duodenum akan mengabsorbsi sebagian besar nitrat dan nitrit ke dalam pembuluh darah. Peningkatan kadar nitrat dan nitrit di dalam tubuh akan memicu pembentukan nitrogen monoksida oleh proses enzimatis maupun non-enzimatis. Nitrogen monoksida dapat berdifusi ke dalam sel otot polos pembuluh darah dan berkaitan dengan guanill siklase, sehingga terjadi aktivasi alosterik dan membentuk cGMP. Cyclic guanosine monophosphate (cGMP) akan mengaktivasi PKG yang mengatur relaksasi dari otot polos (Bonilla et. Al, 2018). Kandungan lainnya yang berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah adalah kalium. Kalium di dalam buah bit berperan dalam meningkatkan konsentrasi cairan intraseluler, sehingga menyebabkan cairan ekstraseluler akan berpindah ke dalam sel. Kalium menghambat pelepasan renin sehingga proses sekresi natrium dan air meningkat. Hal ini menyebabkan turunnya curah jantung, volume plasma, tekanan perifer dan tekanan darah (Ramadhian dan Hasibuan, 2016).

Pengaruh Pemberian Jus Buah Bit Terhadap Tekanan Darah Pada Wanita Menopause Dengan Hipertensi

Berdasarkan hasil penelitian pada kelompok intervensi bahwa penurunan tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 39,44 mmHg dan penurunan tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 9,44 mmHg. Sedangkan pada kelompok kontrol penurunan tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 21,67 mmHg dan penurunan tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah mengkonsumsi jus buah bit adalah 6,11 mmHg.

Hasil penelitian diatas menggambarkan bahwa penurunan tekanan darah pada wanita menopause yang mengkonsumsi jus buah bit lebih efektif dibandingkan dengan yang tidak mengkonsumsi jus buah bit.

Penurunan tekanan darah terjadi karena mengandung nitrat yang berkhasiat menurunkan tekanan darah. Nitrat akan direduksi menjadi nitrit oleh flora normal yang terdapat pada rongga mulut, yang berkhasiat sebagai penurun tekanan darah. Setelah mencapai lambung, suasana asam akan merubah sebagian kecil nitrit menjadi nitrogen monoksida. Akan tetapi, lambung dan duodenum akan mengabsorbsi sebagian besar nitrat dan nitrit ke dalam pembuluh darah. Peningkatan kadar nitrat dan nitrit di dalam tubuh akan memicu pembentukan nitrogen monoksida oleh proses enzimatis maupun non-enzimatis. Nitrogen monoksida dapat berdifusi ke dalam sel otot polos pembuluh darah dan berkaitan dengan guanill siklase, sehingga terjadi aktivasi alosterik dan membentuk cGMP. Cyclic guanosine monophosphate (cGMP) akan mengaktivasi PKG yang mengatur relaksasi dari otot polos (Bonilla et. Al, 2018).

Buah bit juga mempunyai kandungan kalium menyebabkan penghambatan pada Renin Angiotensin System juga menyebabkan terjadinya penurunan sekresi aldosteron, sehingga terjadi penurunan reabsorpsi natrium dan air di tubulus ginjal. Akibat dari mekanisme tersebut, maka terjadi peningkatan diuresis yang menyebabkan berkurangnya volume darah, sehingga tekanan darah pun menjadi turun. Selain itu, kalium juga akan menyebabkan terjadinya vasodilatasi pembuluh darah perifer, akibatnya terjadi penurunan resistensi perifer, dan tekanan darah juga menjadi turun. Mineral yang kaya dalam buah bit memang mampu mengikat garam dan dikeluarkan melalui urin (Kholis, 2011).

Konsumsi kalium dalam jumlah yang tinggi dapat melindungi individu dari hipertensi. Fungsi dari kalium adalah bersama natrium, kalium memegang peranan dalam pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta keseimbangan asam basa. Bersama kalsium, kalium berperan dalam transmisi saraf dan relaksasi otot. Di dalam sel, kalium berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologik, terutama dalam metabolisme energi dan sintesis glikogen dan protein. Kalium berperan dalam pertumbuhan sel. Taraf kalium dalam otot berhubungan dengan masa otot dan simpangan glikogen, oleh karena itu bila otot berada dalam pembentukan dibutuhkan kalium dalam jumlah cukup. Tekanan darah normal memerlukan perbandingan antara natrium dan kalium yang sesuai di dalam tubuh. Perkiraan kebutuhan kalium di dalam tubuh, karena merupakan bagian esensial semua sel hidup, kalium banyak terdapat dalam bahan makanan, salah satunya adalah buah bit. Kebutuhan minimum akan kalium sebanyak 2000 mg sehari. Pemenuhan kalium kurang dari minimum maka jantung akan berdebar-debar detaknya dan menurunkan kemampuan untuk memompa darah. Asupan kalium yang meningkat akan menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik.

KESIMPULAN

Berdasarkan uji statistik yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa konsumsi jus buah bit berpengaruh terhadap tekanan darah pada wanita menopause dengan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Binuang tahun 2022 yaitu terjadi penurunan tekananan darah baik sistol maupun diastol.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alizar, G.U.A. (2020). Daya Guna Buah Bit (Beta vulgaris L) Sebagai Terapi Antihipertensi, Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 9 (2), 817-823
  2. Hartono, (2018). Hipertensi The Silent Killer. Perhimpunan Hipertensi Indonesia. Jakarta.
  3. Hidayat, A (2013). Uji Normalitas Dan Metode Perhitungan (Penjelasan Lengkap), Retreived from https://www.statistikian.com/2013/01/uji-normalitas.html
  4. Kemenkes RI. (2013). Pedoman Teknis Penemuan Dan Tatalaksana Hipertensi. Revisi 201. Jakarta.
  5. Kemenkes RI. (2017). Pengendalian Hipertensi (FAQ)-Direktorat P2PTM. Retrieved from http://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/subdit-penyakit-jantung-dan-pembuluh-darah/pengendalian-hipertensi-faq
  6. Kemenkes RI. (2018). Manfaat aktivitas fisik-Direktorat P2PTM. Retrieved from http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/hipertensi/manfaat-aktivitas-fisik
  7. Kurniawati, K., & Hariyanto, A. (2019). Pengaruh Pemberian Buah Naga Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Desa Bedahlawak Tembelang Jombang. Jurnal Keperawatan, 8 (1), 20-29.
  8. Mulyani, N. (2017). Menopause Akhir Siklus Menstruasi pada Wanita di Usia Pertengahan. Kedua. Yogyakarta ; Nuha Medika.
  9. Nandani, A.D., & Sofyaningsih, M. (2019). Pengaruh Pemberian Jus Bit Terhadap Tekanan darah Penderita Hipertensi, Jurnal Uhamka, 4 (1), 1-10.
  10. Puspita, D.D., & Astriana, A. (2019). Efektifitas Pemberian Jus Buah Bit (Beta Vulgaris.L) Sebagai Minuman Fungsional Penurun Tekanan Darah pada Lansia, Yogyakarta. Jurnal Riset Sains dan Teknologi, 3 (1), 35-40.
  11. Putri, S.M.NP. (2016). Skripsi: Identifikasi dan Uji Antioksidan Senyawa Betasianin dari Ekstrak Buah Bit Merah (Beta vulgaris L). Semarang ; UNNES, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Pengetahuan tentang Upright Position terhadap Pengurangan Frekuensi Gumoh pada Bayi Usia 0-3 Bulan

28

Nur Asiah Yulli and Nur Sitiyaroh (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : ASI merupakan satu-satunya jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi baru lahir. Regurgitasi atau gumoh adalah keadaan fisiologis bayi kurang dari 6 bulan, Regurgitasi juga sering ditemukan pada bayi yang mengalami Refluks Gestroesofagus (RGE) yang diartikan sebagai kembalinya isi lambung ke dalam esofagus secara involunter tanpa adanya usaha dari bayi, dengan demikian bayi akan jarang mengalami gumoh saat disusui dengan posisi yang lebih tegak, sehingga ASI tidak mudah keluar kembali. Pengetahuan ibu untuk mencegah regurgitasi pada bayi juga berperan besar dalam keberhasilan teknik upright position. Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan pengetahuan tentang Upright Position terhadap pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan. Metode Penelitian : Desain penelitian ini menggunakan Survei analitik (Explanatory Research) dan dilakukan di PMB Nur Asiah Yully. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi 0-3 bulan dengan keluhan anak gumoh yang berjumlah 20 orang. Teknik pengambilan sampel penelitian ini yaitu Acidental Sampling. Analisis menggunakan Chi-Square. Hasil Penelitian : Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,012 < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan pengurangan frekuensi gumoh bayi 0-3 bulan. Diharapkan bidan memberikan penyuluhan upright position untuk mengurangi gumoh.

Kata Kunci : Pengetahuan upright position, pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan.

PENDAHULUAN

ASI merupakan satu-satunya jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi baru lahir baik fisik, psikologi, sosial, maupun spiritual salah satunya adalah sistem pencernaan bayi. Sistem pencernaan bayi baru lahir sudah sepenuhnya terbentuk namun belum sempurna. Hubungan antara esofagus dan lambung bayi baru lahir yang belum sempurna dapat mengakibatkan terjadinya gumoh. (Marni, 2015).

Gumoh atau regurgitasi adalah keluarnya susu yang telah ditelan ketika atau setelah menyusui dalam jumlah yang sedikit (Deslidel, 2012). Regurgitasi atau gumoh adalah keadaan fisiologis bayi kurang dari 6 bulan, tetapi seiring dengan bertambahnya usia regurgitasi akan hilang secara sendirinya. Regurgitasi juga sering ditemukan pada bayi yang mengalami Refluks Gestroesofagus (RGE) yang diartikan sebagai kembalinya isi lambung ke dalam esofagus secara involunter tanpa adanya usaha dari bayi (Ninik, 2014). Berdasarkan adaptasi dari 13 penelitian di dunia, regurgitasi terjadi pada 3%-87% bayi baru lahir, dan seluruh ahli menyetujui bahwa rata-rata regurgitasi pada bayi berusia kurang dari 1 tahun adalah sebesar 30% (Nutricia Early Life Nutrition, 2019). Regurgitasi yang terjadi di Asia Tenggara sekitar 3-5% terkecuali Jepang dan Taiwan yaitu 13-15% (Syam et al, 2013). Sedangkan, di Indonesia 75% bayi berusia 0-3 bulan mengalami regurgitasi paling tidak sekali dalam sehari, sehingga disimpulkan bahwa 1 dari 3 ibu di seluruh dunia perlu mewaspadai dampak regurgitasi yang terjadi pada anaknya (Rahayu, 2012). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hegar, dkk (2013), Gumoh banyak terjadi pada usia bayi 0-3 bulan, frekuensinya kadang-kadang 1 sampai 4 kali dalam sehari. 25% bayi mengalami gumoh lebih dari 4 kali dalam sehari selama 3 bulan pertama. Gumoh akan terjadi gejala patologis apabila frekuensinya lebih dari 2 kali sehari selama lebih dari 2 hari/minggu (Mohan, 2012).

Menurut penelitian para ahli, 50% bayi mengalami gumoh atau regurgitasi dalam 3 bulan pertama setelah kelahirannya (Putra,2012). Bayi yang mengalami gumoh lebih dari 4 kali dalam sehari akan mengalami kenaikan berat badan yang lebih rendah pada usia 4 bulan dan hal ini lebih sering terjadi pada bayi laki-laki. Kejadian gumoh ini menyebabkan terjadinya malnutrisi, penurunan berat badan dan juga kematian. Pada bayi, gangguan ini akan hilang secara spontan akan tetapi pada kasus berat gangguan ini dapat terjadi secara terus menerus (Hudayatul, 2012). Tingkat pengetahuan ibu terhadap gumoh dan cara penanganannya sangatlah minim, kebanyakan orang tua sering tidak terlalu menganggap serius pada bayi yang sering mengalami gumoh (Bernandus, 2012).

Gumoh atau regurgitasi dikatakan normal apabila terjadi setelah makan dan minum yang tidak diikuti gejala lain seperti berat badan bayi menurun, rewel, regurgitas bercampur darah, susah makan dan minum. Jika gumoh atau regurgitasi secara berlebihan, frekuensi sering dan terjadi dalam waktu yang lama akan menyebabkan masalah yang bisa mengakibatkan gangguan pada bayi. (Rukiyah, 2013). Selain itu, gumoh yang berlebihan juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang akan mengganggu dan menghambat pertumbuhan bayi (Bernandus, 2012).

Sehubungan dengan penyebab gumoh diatas, posisi menyusui merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung keberhasilan ibu dalam memberikan ASI, sehingga kebutuhan nutrisi bayi dapat tercukupi serta menunjang tumbuh kembangnya. Teknik menyusui yang tidak tepat menyebabkan gumoh seperti perlekatan yang salah, posisi terlentang saat disusui akan mengakibatkan ASI yang diminum keluar Kembali (Dwienda, 2014 dalam Welan Sari, 2018).

Bayi akan jarang mengalami gumoh saat disusui dengan posisi yang lebih tegak, sehingga ASI tidak mudah keluar kembali. Menyendawakan saat setelah menyusui, memberikan ASI secara sedikit demi sedikit akan mampu membantu mengatasi gumoh (Widyastuti, 2012). Cara mengurangi frekuensi gumoh pada bayi, ibu dapat memposisikan bayinya pada upright position selama atau setelah menyusi agar susu yang masuk ke lambung bayi tidak Kembali keluar akibat dipengaruhi oleh adanya gaya gravitasi (Bramby, 1998 dalam Nurul 2014).

Sikap dan pengetahuan ibu untuk mencegah regurgitasi pada bayi juga berperan besar dalam keberhasilan teknik tersebut. Apabila sikap ibu tentang regurgitasi memiliki sikap yang positif, maka keinginan ibu untuk menghindari regurgitasi pada bayinya sangat tinggi yaitu dengan memperbaiki teknik menyusui, namun sebaliknya bila ibu memiliki sikap negatif terhadap regurgitasi maka ibu akan membiarkan bayinya mengalami regurgitasi. (Samsuri, 2016). Kurangnya tingkat pengetahuan ibu juga sangat berpengaruh pada sikap dan perilaku tentang cara mencegah regurgitasi dengan teknik upright position yang berdampak terhadap terjadinya regurgitasi pada bayi.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian Pengetahuan tentang Upright Position Terhadap Pengurangan Frekuensi Gumoh Pada Bayi Usia 0-3 Bulan Di PMB Nur Asiah Jagakarsa Jakarta Selatan.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian menggunakan ini menggunakan survei analitik (Explanatory Research). Pengambilan data dilakukan yang digunakan peliti yaitu lembar kuesioner. ). Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi 0-3 bulan dengan keluhan anak gumuh pada bulan Desember 2021 sampai Februari 2022 yang berjumlah 20 orang dan berkunjung ke PMB Nur Asiah Yully Jagakarsa Jakarta Selatan pada bulan Metode analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan Analisis Chi-Square.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini adalah pengambilan data dilakukan saat Pandemi Covd-19 harus lebih hati-hati dengan peraturan protokol kesehatan yang ketat, karena penelitian dilakukan dengan turun langsung dalam penyebaran kuesioner dan melakukan penelitian secara berkala. Faktor lain mungkin masih ada namun tidak diteliti karena terbatasnya waktu penelitian.

Karakteristik Responden

Dari hasil penelitian ini didapatkan 20 responden, dengan karakteristik responden pada hasil penelitian ini adalah usia, pendidikan terakhir dan pekerjaan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, bahwa usia responden adalah 18-40 tahun dan pendidikan terakhir responden terdapat 7 responden dengan pendidikan terakhir SMP, 7 responden dengan pendidikan SMA, 5 responden dengan pendidikan terakhir SD, dan 1 responden dengan pendidikan terakhir D3. Kemudian untuk pekerjaan terdapat 13 responden sebagai IRT dan 7 responden bekerja sebagai karyawan swasta. Menurut Notoadmojo (2012), usia merupakan daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperoleh juga akan semakin membaik dan bertambah. Pendidikan merupakan aktivitas proses belajar mengajar yang memberikan tambahan pengetahuan, keterampilan, serta dapat mempengaruhi proses berfikir secara sistematis. Usia 18-40 tahun tergolong usia dewasa dimana mereka sudah mempunyai kemampuan memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya. Motivasi yang tinggi ditambah dengan perkembangan mental yang lebih matang membuat responden bisa menyerap informasi dengan cukup baik sehingga juga mempengaruhi pengetahuan mereka.

Pendidikan yang dimiliki Oleh ibu berhubungan dengan pengetahuan yang dimilikinya, maka ibu akan berusaha untuk lebih mengetahui tentang pengurangan frekuensi gumoh pada bayi 0-3 bulan. Menurut Depkes RI (2001) pekerjaan merupakan sesuatu yang dikerjakan untuk mendapatkan nafkah atau pencaharian. Masyarakat yang sibuk dengan kegiatan atau pekerjaan sehari-hari akan memiliki waktu yang lebih untuk memperoleh informasi. Menurut Lestari (2003) ibu yang bekerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ibu dalam mendapatkan informasi dari lingkungan luar.

Hubungan pengetahuan terhadap upright position tentang pengurangan frekuensi gumoh pada bayi 0 – 3 bulan.

Pada penelitian ini menggunakan uji statistik Chi-Square, hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pengurangan frekuensi gumoh bayi 0-3 bulan dengan tingkat pengetahuan baik sebesar 55% kemudian persentase pengurangan frekuensi gumoh bayi 0-3 bulan dengan tingkat

pengetahuan kurang sebesar 10 %, dan persentase terjadinya frekuensi gumoh bayi 0-3 bulan dengan tingkat pengetahuan kurang sebesar 25%. Dari hasil penelitian tersebut, didapatkan bahwa persentase tingkat pengetahuan baik lebih besar dari persentase tingkat pengetahuan kurang, sehingga disimpulkan bahwa semakin baik pengetahuan ibu maka ibu akan mendapatkan informasi tentang pengurangan frekuensi gumoh bayi 0-3 bulan di PMB Nur Asiah Yully Jagakarsa Jakarta Selatan.

Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,012 maka disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan pengurangan frekuensi gumoh bayi 0-3 bulan . Menurut Notoadmojo (2012) dalam teori Lawrence Green yang menyebutkan bahwa salah satu yang mempengaruhi perilaku seseorang adalah pengetahuan, dimana pengetahuan ini adalah faktor predisposisi seseorang untuk bertindak, dalam hal ini adalah pengetahuan tentang upright position terhadap pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan.

Walaupun pada hasil penelitian ini rata-rata tingkat pengetahuan responden baik, tingkat pengetahuan ibu mengenai upright position terhadap pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan. dapat dipengaruhi oleh beberapa hal menurut Lestari (2013) yaitu sebagian besar ibu tidak mengetahui mengenai tentang upright position terhadap pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan. Menurut Widyastuti, 2012, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi frekuensi gumoh pada bayi yaitu tidak sering disendawakan disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu tentang cara yang tepat dan manfaat dalam hal menyendawakan bayi serta bayi sering menangis, posisi saat menyusui bayi tidak baik dan bayi selalu memakai gurita.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Nurul Arwita (2014) bahwa terdapat pengaruh pemberian upright position terhadap pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan. Dimana dapat mencegah dan mengurangi frekunesi gumoh pada bayi 0-3 bulan, karena upright position terjadi peningkatan oksigenasi, karena pada posisi ini adanya peningkatan volum paru-paru (Richard & Lefebvre, 2011). Kemudian sejalan juga dengan hasil penelitian Lidya (2009) bahwa ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan baik dapat mengetahui cara penanganan gumoh pada neonates 0-7 hari.

Meskipun demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang upright position terhadap pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan, data menunjukkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan yang baik

cenderung memberikan upright position terhadap pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat pengetahuan kurang.

KESIMPULAN

Karakteristik responden berdasarkan usia berkisar 18-40 tahun sebanyak 20 dari 20 responden (100%), mayoritas pendidikan responden SMP sebanyak 7 orang dari 20 responden (35%) dan pendidikan SMA sebanyak 7 dari 20 responden (35%), mayoritas pekerjaan IRT sebanyak 14 dari 20 responden (70%), mayoritas usia bayi usia 2

bulan sebanyak 10 dari 20 responden (50%), mayoritas pengetahuan upright position berpengetahuan baik sebanyak 13 dari 20 responden (65%), dan mayoritas pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan dengan kategori yang tidak terjadi gumoh sebanyak 13 dari 20 responden (65%).

Pengetahuan ibu tentang memiliki pengetahuan baik tentang upright position terhadap pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan memiliki hubungan yang signifikan dimana diperoleh nilai p value 0,012.

SARAN

  1. Bagi petugas Kesehatan PMB Nur Asiah Yully untuk tetap memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama ibu mengenai pentingnya tentang upright position terhadap pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan dengan koordinasi dengan Puskesmas terkait dengan melibatkan kader- kader Posyandu.

  2. Bagi pelayanan kesehatan terutama Puskesmas terkait dapat membina dan melatih kader – kader Posyandu sehingga dapat membantu program Puskesmas.

  3. Bagi penelitian selanjutnya dengan melakukan penelitian dengan menggunakan variabel yang berbeda misalnya perilaku, sikap dan gaya hidup ibu terhadap terhadap pengurangan frekuensi gumoh pada bayi usia 0-3 bulan. Sehingga penelitian ini dapat dijadikan acuan maupun referensi dalam melakukan penelitian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aizar E. Ibrahim. 2012. Adaptasi Sistem Gastrointestinal Bayi Baru Lahir dan Feeding Setelah Kalahiran.Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Vol.1. Mei.
  2. Azizah, Ninik. (2014). Pola asuh orang tua dengan status gizi balita usia 1-2 tahun. Jurnal Edu Health, 4(1).
  3. Aziz Alimun. (2013). Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisis Data Edisi Revisi. Jakarta: Salemba Medika.
  4. Astuti Sri, dkk. (2017). Asuhan Ibu dalam Masa Kehamilan – Buku Ajar Kebidanan Antenatal Care (ANC). Jakarta: Erlangga.
  5. Bernandus, K, Loisa., dan Lestari, K, Dwi. 2012. Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Tentang Cara Menyendawakan Bayi Usia 0-6 Bulan Dengan Kejadian Gumoh Sesudah Menyusui Di Puskesmas Manukan Kulon. Journal Kebidanan. Vol.1. No.1. April. Hal 2-16.
  6. Bramby, Laura. 1998. Breastfeeding The Baby With Gastroeshophegeal Reflux. In Damascus, Maryland, USA. New Baginnings. Vol.15. No.6. NovemberDesember. PP.175-76.
  7. Deslidel, dkk, (2012), Asuhan Neonatus Bayi Dan Balita, Jakarta : EGC
  8. Evrida Samsuri, Aulia and , Irdawati, S.kep.,Ns.,M.Si.Med, (2016) Hubungan Menyendawakan Setelah Menyusui Dengan Kejadian Regurgitasi Pada Bayi Usia 0 – 6 Bulan Di Kelurahan Noborejo Kota Salatiga. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  9. Hegar, Badriul., & Vandenplas, Yvan. 2013. Gastroesophageal Reflux: Natural Evolution, Diagnostic and Treatment. The Turkish Journal of Pediatric: 55: 1-7.
  10. Jung, W, Jing., Yang, H, Jong., Min, T, Ki., Jeon, Y, Hoon., Lee, H, Won., Lee, J, Sung., and pyung, B, Yang. 2011. The Efficacy of The Upright Position on Gastro-Esophageal Reflux and Reflux-Related Respiratory Symptoms in Infant With Chrinic Respiratory Symptoms. Allergy Asthma Immunol Res. Januari; 4 (1): 17-23.
  11. Muslihatun,Wafi Nur. 2010. Asuhan Neonatal Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitramaya.
  12. Mohan, Neelam., & Soni, Arun. 2002. Gastro- esophageal Reflux in Neonatus.Journal of Neonatology. Vol.16. No.3. Juli-sept. New Delhi. Hal 257-266
  13. Mohan K, Mishra PC, Singh DK. Clinical Profile of Birth Asphyxia in Newborn. International journal of science and technology 2013; 3: 10-9.
  14. Mohan, Neelam., & Soni, Arun. 2002. Gastro- esophageal Reflux in Neonatus. Journal of Neonatology. Vol.16. No.3. Juli-sept. New Delhi. Hal 257-266.
  15. Ni, Made Lidya, dkk. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Tumbuh Kembang bayi usia 3-6 bulan di puskesmas Karang Anyar 2012.
  16. Notoatmodjo, S., 2014, Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
  17. Nursalam. (2017). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis. Jakarta
  18. Omari, T., Rommel, N., Staunton, E., Lontis, R., Goodchild, L., Haslam, R., Dent, J., & Davidson, G., 2004. Paradoxical impact of body positioning on gastroesophageal reflux and gastric emptying in the premature nenonate. The journal of pediatrics.
  19. Rukiyah, A.Y., & Yulianti, L(2013). Asuhan Neonatus Bayi Dan Anak Balita (3th ed). Jakarta: TIM.
  20. Ricard, JCM,. and Lefebvre, JC. 2011. Positioning of Patients With Acute Respiratory Distress Syndrome: Combining Prone and Upright Makes Sesnse. Critical Care. 15:1019.
  21. Susilaningrum, Nursalam dan Sri Utami.2013. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta : Salemba Medika. Syaukani, A. 2015.
  22. Sulisdiana. (2011). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Ibu Tentang Regurgitasi Pada Bayi Usia 0-6 Bulan di BPS Muji Winarnik Mojokerto. Hospital Majapahit, Vol. 3, No.1
  23. Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
  24. Widyawati, M. N., Hadisaputro, S., Anies, A & Soejoenoes, A. (2016). Effect of Massage and Aromatherapy on Stress and Prolactin Level among Primiparous Puerperal Mothers In Semarang, Central Java, Indonesia. Belitung Nursing Journal, 2(4).
  25. Wulandari, F. T., Aminin, F & Dewi, U. (2016). Pengaruh pijat oksitosin terhadap pengeluaran kolostrum pada ibu postpartum di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Kepulauan Riau. Jurnal Kesehatan, 5(2). http://ejurnal.poltekkes- tjk.ac.id/index.php/JK/article/view/53.

Efektivitas Aromaterapi Lavender dan Jasmine terhadap Penurunan Nyeri Haid pada Remaja Putri

29

Fauziah and Nofa Anggraini (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : Menurut WHO angka kejadian dismenore di dunia sangat besar, rata-rata antara 16,8 –81%. Menurut data ASEAN pada tahun 2018, presentase nyeri haid di Singapura sekitar 10-15%, Malaysia 35-40% dan Thailand 65%. Di Indonesia angka kejadian nyeri haid tahun 2018 sebanyak 107.673 jiwa (64,24%), yang terdiri dari 59.671 jiwa (54,89%) mengalami nyeri haid primer dan 9.496 jiwa (9,36%) mengalami nyeri haid sekunder. Di Jawa Barat tahun 2018, dilaporkan jumlah remaja putri yang mengalami nyeri haid dan datang kebagian kebidanan sebanyak 11.565 jiwa (1,31%). Cara untuk mengurangi kejadian nyeri haid yaitu dengan cara farmakologi dan non farmakologi. Secara non farmakologi dengan menggunakan aromaterapi lavender dab jasmine. Tujuan Penelitian : Diketahui efektivitas aromaterapi lavender dan jasmine terhadap penurunan nyeri haid pada remaja putri. Metode Penelitian : Quasy Eksperiment one group pretest-posttest design. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri yang sedang haid dan mengalami nyeri haid di Pondok Aren Tanggerang Selatan pada bulan Mei 2022 sebanyak 30 orang, teknik pemgambilan sampel yaitu total sampling. Hasil Penelitian : Ditribusi frekuensi Intensitas nyeri haid sebelum diberikan aromaterapi lavender dan jasmine sebagian besar mengalami nyeri sedang (53,3%) dan sesudahnya sebagian besar mengalami nyeri ringan (60%). aromaterapi lavender dan jasmine efektif terhadap penurunan nyeri haid pada remaja putri. Kesimpulan dan Saran : Ada efektifitas pemberian aromaterapi lavender dan jasmine terhadap penurunan nyeri haid pada remaja putri (p.value 0,000). Diharapkan remaja putri dapat menggunakan aromaterapi lavender dan jasmine untuk mengatasi nyeri haid.

Kata Kunci : Nyeri haid, Lavender dan Jasmine

PENDAHULUAN

Kesehatan merupakan keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Kesehatan bagi wanita yang perlu mendapatkan perhatian bersama salah satunya kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi bagian penting untuk menyiapkan dan menciptakan sumber daya manusia yang handal serta generasi yang sehat dalam rangka mewujudkan keluarga berkualitas di masa yang akan datang (Kemenkes RI, 2019).

Salah satu masalah kesehatan yang menjadi perhatian wanita khususnya remaja adalah masalah menstruasi. Menstruasi merupakan sebuah peristiwa yang fisiologis dan normal bagi setiap wanita. Namun, tidak semua wanita mengalami menstruasi dengan normal dan banyak wanita yang mengalami gangguan saat menstruasi atau sewaktu haid yaitu nyeri haid atau dysmenorrhea (Hidayah & Palila, 2018).

Menurut World Health Organization (WHO) angka kejadian dismenore di dunia sangat besar, rata-rata terjadinya nyeri menstruasi pada wanita muda antara 16,8 –81%. Rata-rata di negara-negara Eropa nyeri menstruasi terjadi pada 45-97% wanita. Dengan prevalensi terendah di Bulgaria (8,8%) dan tertinggi mencapai 94% di negara Finlandia (Setyowati, 2019). Menurut data Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) pada tahun 2018, presentase nyeri haid di negara Singapura sekitar 10-15%, negara Malaysia 35-40% dan Thailand 65%. Di Indonesia angka kejadian nyeri haid tahun 2018 sebanyak 107.673 jiwa (64,24%), yang terdiri dari 59.671 jiwa (54,89%) mengalami nyeri haid primer dan 9.496 jiwa (9,36%) mengalami nyeri haid sekunder. Di Jawa Barat tahun 2018, dilaporkan jumlah remaja putri yang reproduktif yaitu yang berusia 10-24 tahun sebanyak 56.598 jiwa. Sedangkan yang mengalami nyeri haid dan datang kebagian kebidanan sebanyak 11.565 jiwa (1,31%) (KemenkesRI, 2020).

Nyeri haid merupakan sejumlah ketidaknyamanan selama hari pertama atau hari kedua menstruasi yang sangat umum terjadi. Nyeri haid adalah nyeri (kram) pada daerah perut yang mulai terjadi pada 24 jam sebelum terjadinya perdarahan haid dan dapat bertahan selama 24-36 jam, meskipun pada umumnya berlangsung 24 jam pertama saat terjadi perdarahan haid (Prastiwi & Rohmansyah, 2019).

Nyeri haid dibagi menjadi dua macam yaitu nyeri haid primer dan nyeri haid sekunder. Nyeri haid primer yaitu nyeri menstruasi yang timbul tanpa ada sebab yang dapat diketahui. Nyeri haid primer terjadi sejak usia pertama kali datangnya menstruasi disebabkan oleh faktor intrisik uterus dan berhubungan erat dengan ketidakseimbangan hormon steroid seks ovarium, yaitu karena produksi hormon prostaglandin yang berlebih pada fase sekresi yang menyebabkan perangsangan pada otot-otot polos endometrium. Sedangkan nyeri haid sekunder adalah nyeri yang disebabkan oleh simptom penyakit ginekologi seperti endometriosis atau fibroid (Idaningsih & Oktarini, 2020).

Nyeri haid dapat menimbulkan dampak bagi kegiatan atau aktivitas para wanita khususnya remaja. Nyeri haid membuat wanita tidak bisa beraktivitas secara normal dan memerlukan resep obat. Keadaan tersebut menyebabkan menurunnya kualitas hidup wanita, sebagai contoh siswi yang mengalami nyeri haid primer tidak dapat dapat berkonsentrasi dalam belajar dan motivasi belajar menurun karena nyeri yang dirasakan (Prastiwi & Rohmansyah, 2019).

Cara untuk mengurangi kejadian nyeri haid yaitu dengan cara farmakologi dan non farmakologi. Secara farmakologi menurut, penanganan secara farmakologis yang dapat digunakan pada nyeri haid antara lain adalah pemberian analgetik, terapi hormonal dan terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin. Sedangkan penanganan non-farmakologis dengan cara olah raga, kompres hangat, minum air putih, istirahat, masage, pemberian nutrisi, terapi dan relaksasi (Idaningsih & Oktarini, 2020).

Terapi merupakan salah satu penanganan non farmakologis untuk mengatasi nyeri. Banyak terapi yang bisa dilakukan salah satunya dengan pemberian aromaterapi. Terapi komplementer dengan aromaterapi dapat digunakan sebagai alternatif untuk menurunkan tingkat nyeri. Ketika minyak esensial terhirup, sel-sel reseptor penciuman dirangsang dan impuls ditransmisikan ke pusat emosional otak, atau sistem limbik. Aromaterapi ini dapat memberikan efek santai, dan menenangkan, selain itu meningkatkan sirkulasi arah disamping itu juga termasuk terapi yang murah dan aman serta dapat digunakan untuk mengatasi nyeri haid. Aromaterapi ialah istilah generik bagi salah satu jenis pengobatan alternatif yang menggunakan bahan cairan tanaman yang mudah menguap, dikenal sebagai minyak esensial, dan senyawa aromatik lainnya dari tumbuhan yang bertujuan untuk memengaruhi suasana hati atau kesehatan seseorang. Aromaterapi adalah suatu pengobatan alternatif yang menggunakan bau-bauan atau wangi-wangian yang berasal dari senyawa-senyawa aromatik. Respon bau yang dihasilkan dari aromaterapi akan merangsang kerja sel neurokimia otak. Oleh karena itu, bau yang menyenangkan akan menstimulasi thalamus untuk mengeluarkan enfekalin yang berfungsi sebagai penghilang rasa sakit alami dan menghasilkan perasaan tenang (Marika et al., 2018).

Aromaterapi merupakan suatu bentuk pengobatan alternatif menggunakan bahan tanaman volatil, banyak dikenal dalam bentuk minyak esensial dan berbagai macam bentuk lain yang bertujuan untuk mengatur fungsi kognitif, mood, dan kesehatan. Aromaterapi dari dari jenis ekstrak tanaman seperti bunga, daun, kayu, akar tanaman, kulit kayu, dan bagian-bagian lain dari tanaman dengan cara pembuatan yang berbeda-beda dengan cara penggunaan dan fungsinya masing-masing. Ada banyak jenis aromaterapi, seperti rosemary, sandalwood, jasmine, orange, basil, ginger, lemon, tea tree, ylang-ylang dan lavender (Mokoginta et al., 2021).

Lavender merupakan bunga berwarna ungu kebiruan yang memiliki aroma khas dan lembut sehingga menjadikan rileks saat menghirup aroma jenis ini. Aromaterapi terfavorit adalah bau bunga lavender, bukan hanya disukai tetapi juga karena mempunyai banyak manfaat ketika menghirupnya. Aromaterapi dengan lavender memiliki kelebihan yaitu sederhana, mudah digunakan, dapat disimpan dan dapat digunakan kembali jika mengalami nyeri haid. Pada aromaterapi lavender terdapat kandungan utamanya yaitu linalyl asetat dan linalool, dimana linalyl asetat berfungsi untuk mengendorkan dan melemaskan sistem kerja saraf dan otot yang mengalami ketegangan sedangkan linalool berperan sebagai relaksasi dan sedatif sehingga dapat menurunkan nyeri haid. Selain bunga lavender bunga jasmine (melati) yang terkenal dengan aroma romatisnya mampu menciptakan suasana romantis sehingga memberikan relaksasi sehingga dapat menurunkan nyeri (Marika et al., 2018).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Karang Taruna Pondok Aren Tangerang Selatan terhadap 10 remaja putri didapatkan sebanyak 3 orang (30%) mengatakan saat haid merasakan nyeri ringan dan masih bisa diatasi serta tidak mengganggu aktivitas sehari-hari dan 7 orang (70%) mengatakan saat haid sedang sehingga terkadang mengganggu aktivitasnya. Dari 10 remaja putri hanya 2 orang (20%) yang mengatakan bahwa ketika haid datang diobati dengan meminum obat paracetamol untuk mengatasi nyeri dan 8 orang (80%) lainnya hanya istirahat jika terasa nyeri, dan dari 10 remaja putri tersebut belum ada yang pernah terapi komplementer dengan aromaterapi. Penelitian mengenai aromaterapi lavender dan jasmine ini belum pernah dilakukan pada remaja putri di Karang Taruna Pondok Aren Tangerang Selatan, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Efektivitas aromaterapi lavender dan jasmine terhadap penurunan nyeri haid pada remaja putri di Pondok Aren Tanggerang Selatan tahun 2022”.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian menggunakan Quasi eksperimental dengan rancangan one group pretest-posttest design. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil observasi. Instrumen pengambilan data yang digunakan adalah lembar observasi pada remaja putri. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri yang mengalami nyeri haid sebanyak 30 orang, teknik pemgambilan sampel yaitu total sampling. Metode analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji ipaired simple t test.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Intensitas Nyeri Haid Sebelum diberikan Aromaterapi Lavender dan Jasmine

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 30 responden sebelum diberikan aromaterapi lavender dan jasmine sebagian besar mengalami nyeri sedang sebanyak 16 orang (53,3%), nyeri ringan sebanyak 9 orang (30,0%), dan nyeri berat sebanyak 5 orang (16,7%).

Disminore dibagi menjadi 2 macam yaitu disminore primer dan sekunder. Disminore primer adalah nyeri mestruasi tanpa kelainan organ reproduksi. Primer murni karena proses kontraksi rahim tanpa penyakit dasar sebagai penyebab. Disminore sekunder adalah nyeri mestruasi yang terjadi karena kelainan ginekologi (Proverawati (2017). Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan. Sifatnya sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hannya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan bagaimana atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya. Nyeri perenium yang dirasakan diakibatkan oleh robekan yang terjadi pada perenium, vagina, serviks, atau uterus dapat terjadi secara sepontan atau akibat tindakan manipulatif pada pertolongan persalinan Nyeri perineum sebagai manifestasi dari luka bekas penjahitan yang dirasakan pasien akibat ruptur perineum pada kala pengeluaran (Prawirohardjo, 2018).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rina Nuraeni (2021) yang mengatakan bahwa hasil nilai pre test sebagian besar mengalami nyeri sedang sebanyak 60%.. Sedangkan hasil penelitian Yesi Septina Wati (2021) mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian sebelum diberikan aromaterapi lavender 52% mengalami nyeri berat (skor 7-9) dan 48% nyeri sedang (skor 4-6).

Menurut asumsi peneliti skala nyeri yang dirasakan oleh setiap remaja putri berbeda-beda karena banyak faktor yang dapat mempengeruhi nyeri yaitu seperti faktor lingkungan, umur, keadaan umum, endorfin, faktor situasional, pangalaman masa lalu, status emosional, kepribadian, budaya, sosial, kepercayaan individu dan sebagainya. Pengalaman seseorang terhadap rasa nyeri yang dialaminya sebelumnya menentukan intensitas nyeri yang dirasakannya sekarang. Jika seseorang pernah mengalami nyeri yang sama maka intensitas nyeri orang tersebut cenderung lebih rendah dibandingkan intensitas nyeri yang dirasakan pertama kali. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penelitian sebelum diberikan aromaterapi lavender dan jasmine, nyeri yang dirasakan dari 30 remaja putri dalam rentang skor yang berbeda-beda yaitu yang paling banyak nyeri sedang 16 orang (53,3%).

Intensitas Nyeri Haid Sesudah diberikan Aromaterapi Lavender dan Jasmine

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa rata-rata intensitas nyeri haid sebelum diberikan aromaterapi lavender dan jasmine diperoleh nilai sebesar 4,930 dan rata-rata intensitas nyeri haid sesudah diberikan aromaterapi lavender dan jasmine diperoleh nilai sebesar 2,67 sehingga didapatkan selisih nilai rata-rata intensitas nyeri haid sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi lavender dan jasmine sebesar 2,23.

Aroma terapi merupakan salah satu bentuk terapi relaksasi. Mekanisme aroma terapi adalah dimulai dari aroma yang dihirup memasuki hidung dan berhubungan dengan silia, penerima di dalam silia dihubungkan dengan alat penghirup yang berada di ujung saluran bau. Bau-bauan diubah oleh silia menjadi impuls listrik yang dipancarkan ke otak melalui sistem penghirup. Semua impulsi mencapai sistem limbik di hipotalamus selanjutnya akan meningkatkan gelombang alfa di dalam otak dan akan membantu kita untuk merasa rileks (Sari and Leonard 2018).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rina Nuraeni (2021) yang mengatakan bahwa hasil nilai post test sebagian besar mengalami nyeri ringan sebanyak 60%.. Sedangkan hasil penelitian Yesi Septina Wati (2021) mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian setelah diberikan aromaterapi lavender didapatkan skala nyeri sedang yaitu sebanyak 56% dan nyeri ringan 44%.

Menurut asumsi peneliti dengan pemberian aromaterapi lavender dan jasmine dapat menurunkan skala nyeri haid yang dirasakan oleh remaja putri. Hal ini disebabkan oleh kandungan dari aromaterapi lavender dan jasmine tersebut, sehingga rasa nyeri yang dirasakan remaja putri berkurang. Selain dari faktor diatas ada faktor lain yang dapat mempengaruhi responden mengalami penurunan nyeri yang sedikit yaitu tingkat fokus seseorang dalam perhatianya pada saat diberikan aromaterapi lavender dan jasmine, sehingga terjadi perbedaan tingkat penurunan skala nyeri setelah diberikan aromaterapi lavender dan jasmine. Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa adanya selisih intensitas nyeri haid sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi lavender dan jasmine.

Efektifitas Pemberian Aromaterapi Lavender dan Jasmine Terhadap Nyeri Haid pada Remaja Putri

Dari hasil penelitian memperlihatkan selisih rata-rata intensitas nyeri haid sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi lavender dan jasmine adalah 2,23 dengan standar deviasi 0,181. Hasil analisa intensitas nyeri haid sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi lavender dan jasmine diperoleh p value (0,000) < α (0,05) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan intensitas nyeri haid sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi lavender dan jasmine. Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa aromaterapi lavender dan jasmine efektif dapat menurunkan nyeri haid atau dengan kata lain ada efektifitas aromaterapi lavender dan jasmine terhadap penurunan intensitas nyeri haid pada remaja putri di Pondok Aren Tanggerang Selatan tahun 2022.

Pemberian inhalasi aroma terapi jasmine ini bertujuan untuk mengurangi nyeri desminore saat haid. Minyak melati dikenal sebagai queen of oils yang multifungsi. Senyawa benzil asetat dan benzil benzoat yang terkandung didalamnya merupakan antidepresan yang dapat menenangkan dan melegakan perasaan. Minyak esensial ini berperan dalam mereleksasi otot-otot saraf yang mampu menghilangkan ketegangan dan kegelisahan. Sebaliknya, aroma terapi melati ini mampu menciptakan perasaan optimis, bahagia dan senang. Minyak lavender adalah salah satu aromaterapi yang terkenal memiliki efek sedatif, hypnotic dan anti-neurodepresive baik pada hewan maupun pada manusia. Karena minyak lavender dapat memberi rasa tenang, sehingga dapat digunakan sebagai manajemen stres. Kandungan utama dalam minyak lavender adalah linalool asetat yang mampu mengendorkan dan melemaskan sistem kerja urat-urat syaraf dan otot-otot yang tegang. Dikatakan juga linalool menunjukkan efek hypnotic dan anticonvulsive sehingga bunga lavender sangat baik digunakan sebagai aromaterapi. Selain itu, beberapa tetes minyak lavender dapat membantu menanggulangi insomnia, memperbaiki mood seseorang, menurunkan tingkat kecemasan, meningkatkan tingkat kewaspadaan, dan tentunya dapat memberikan efek relaksasi untuk mengurangi nyeri (Idaningsih & Oktarini, 2020).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rina Nuraeni (2021) yang mengatakan bahwa selisih nyeri sebelum dan sesudah yaitu 2,44. Dari hasil uji paired sampel t-test dengan tingkat kemaknaan α= 0,05 didapatkan nilai signifikan sebesar 0,000 yang berarti p value < α sehingga pemberian aromaterapi lavender efektif untuk penurunan nyeri menstruasi. Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian Rahayu Syafitri (2019) dengan hasil uji normalitas Uji Wilcoxon mengalami nyeri sedang (78,4%) sebanyak 29 responden, nyeri ringan (18,9%) sebanyak 7 responden dan nyeri berat (2,7%) sebanyak 1 responden. Terdapat pengaruh inhalasi aromaterapi jasmine terhadap skala penurunan nyeri desminore pada remaja dengan hasil uji hipotesis menggunakan Uji wilcoxon diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar p = 0,000 dengan signifikan 5%.

Menurut asumsi peneliti hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat penurunan intensitas nyeri haid sebelum dan sesudah diberikan taromaterapi lavender dan jasmine. Adanya penurunan skala nyeri dan nilai rata-rata intensitas nyeri haid sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi lavender dan jasmine disebabkan karena perpaduan aromaterapi lavender dan jasmine memiliki fungsi yang saling mendukung dan memperkuat untuk menurunkan intensitas nyeri karena keduanya memiliki kandungan memberikan rileksasi untuk mengurangi rasa nyeri. Dari hasil penelitian didapatkan skala nyeri sebelum diberikan aromaterapi lavender dan jasmine yaitu pada skala 1-8, sesudah diberikan aromaterapi lavender dan jasmine berubah menjadi skala 0-6, sedangkan selisih rata-rata intensitas nyeri sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi lavender dan jasmine sebesar 2,23. Hasil uji paired simple t test menunjukkan nilai p value 0,000 yang berarti aromaterapi lavender dan jasmine efektif dapat menurunkan nyeri haid pada remaja putri, karena sesudah diberikan aromaterapi lavender dan jasmine responden merasakan rasa rileks yang mengurangi nyeri dan keram. Hal tersebut disebabkan karena apabila individu mempersepsikan sentuhan sebagai stimulus untuk rileks, kemudian akan muncul perasaan tenang dan nyaman. Setiap remaja putri mempunyai persepsi nyeri dan toleransi nyeri yang berbeda-beda.Perbedaan skala nyeri menstruasi yang dirasakan oleh masing-masing responden tersebut, menandakan bahwa respon tubuh terhadap nyeri yang dirasakan oleh responden tergantung pada berat ringannya gangguan yang dialami. Dari uraian diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa perpaduan aromaterapi lavender dan jasmine efektif dapat menurunkan nyeri haid pada remaja putri.

KESIMPULAN

Ditribusi frekuensi Intensitas nyeri haid sebelum diberikan aromaterapi lavender dan jasmine sebagian besar mengalami nyeri sedang (53,3%).Ditribusi frekuensi Intensitas nyeri haid sesudah diberikan aromaterapi lavender dan jasmine sebagian besar mengalami nyeri ringan (60%). Ada efektifitas pemberian aromaterapi lavender dan jasmine terhadap penurunan nyeri haid pada remaja putri (p.value 0,000).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Hidayah, N., & Palila, S. (2018). Kesiapan Menghadapi Menarche pada Remaja Putri Prapubertas Ditinjau dari Kelekatan Aman Anak dan Ibu. Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi, 5(1), 107-114. https://doi.org/10.15575/psy.v5i1.202
  2. Idaningsih, A., & Oktarini, F. (2020). Pengaruh Efektivitas Senam Dismenore terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Dismenore pada Remaja Putri di SMK YPIB Majalengka Kabupaten Majalengka Tahun 2019. Syntax Literate ; Jurnal Ilmiah Indonesia, 5(2), 55. https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v5i2.923
  3. Kementerian Kesehatan RI. (2019). Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
  4. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
  5. Marika, A., Mu, N., & Widyawati, M. N. (2018). Pengaruh Pemberian Aromaterapi Lavender terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Haid pada Remaja Putri di SMA Negeri 5 Semarang. Poltekkes Kemenkes Semarang. http://repository.poltekkessmg.ac.id/index.php?p=show_detail&id=13713&keywords=
  6. Mokoginta, F. F., Jama, F., & Padhila, N. I. (2020). Lilin Aromaterapi Lavender Dapat Menurunkan Tingkat Dismenore Primer. Window of Nursing Journal, 1(2), 113-122.DOI: 10.33096/won.v1i2.309
  7. Prawirohardjo, Sarwono. 2018. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
  8. Prastiwi, B. K., & Rohmansyah, N. A. (2019). Pengaruh Latihan Imagery untuk Mengurangi Nyeri Haid pada Pembelajaran Penjasorkes. Seminar Nasional Keindonesiaan FPIPSKR, 201-210. http://conference.upgris.ac.id/index.php/snk/article/view/580
  9. Proverawati, A., & Misaroh, S. (2017). Menarche menstruasi pertama penuh makna. yogyakarta: Nuha Medika.
  10. Rina Nuraeni, (2021). Aromaterapi Lavender Terhadap Intensitas Nyeri Haid (Dysmenorrhea) Pada Mahasiswi Tingkat II. Jurnal Keperawatan Silampari Volume 5, Nomor 1, Desember 2021 e-ISSN: 2581-1975 p-ISSN: 2597-7482 DOI: https://doi.org/10.31539/jks.v5i1.2834
  11. Setyowati, H. (2019). Akupresur Untuk Kesehatan Wanita Berbasis Hasil Penelitian (K. Wijayanti (Ed.); 1st ed.). Unimma Press.
  12. Sari, D., & Leonard, D. (2018). Pengaruh Aroma Terapi Lavender Terhadap Kualitas Tidur Lansia Di Wisma Cinta Kasih. Jurnal Endurance. https://doi.org/10.22216/jen.v3i1.2433
  13. Yesi Septia Wati (2021). Efektivitas Perbedaan Aromaterapi Lavender Dan Massage Effleurage Terhadap Penurunan Nyeri Menstruasi Remaja Putri SMAN 10. JOMIS (Journal of Midwifery Science) P-ISSN : 2549-2543 Vol 5. No.1, Januari 2021 E-ISSN : 2579-7077

Pengaruh Pengetahuan Gizi pada Wanita Pranikah terhadap Kekurangan Energi Kronik

30

Delis Yulistiani and Nur Sitiyaroh (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : Pengetahuan terhadap gizi dan permasalahannya sangat berpengaruh terhadap status gizi keluarga yang akan dibentuk. Ibu hamil yang memiliki pengetahuan gizi yang baik akan mampu memilih jenis makanan yang tepat untuk dirinya dan janinnya baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Tujuan Penelitian : Mengetahui Pengaruh Pengetahuan Gizi Pada wanita Pranikah Terhadap Kekurangan Energi Kronik ( KEK ) di Kelurahan Babakan Kecamatan Legok Tangerang Metode Penelitian : Jenis penelitian yang bersifat analitik observasional secara cross sectional dengan pendekatan kuantitatif . Besar sampel yaitu total sampling, jumlah sampel 30 orang pada wanita pranikah. Teknik sampling yang di gunakan dengan non probability sampling dengan metode purposive sampling. Hasil Penelitian : Hasil Univariat mayoritas wanita pranikah berumur kisaran 21-25 tahun, pendidikan S1, wanita pranikah tidak bekerja, pengetahuan cukup, status gizi normal, Hasil Bivariat terdapat pengaruh yaitu pada pengetahuan dan status gizi terhadap kejadian KEK dengan P-value < 0,05. Kesimpulan dan Saran : pihak kesehatan khususnya bidan untuk memberikan informasi tentang gizi pada wanita usia subur dalam hal pemberian pengetahuan terhadap wanita pranikah dengan tujuan mendapatkan keluarga yang sehat pada saat program kehamilan.

Kata Kunci : Kejadian KEK, pengetahuan gizi

PENGANTAR

Kekurangan Energi Kronis ( KEK ) merupakan suatu keadaan di mana status gizi seseorang buruk yang disebabkan karena kurangnya konsumsi pangan sumber energi yang mengandung zat gizi makro. Di Indonesia banyak terjadi kasus KEK terutama yang kemungkinan disebabkan karena adanya ketidakseimbangan asupan gizi, sehingga zat gizi yang dibutuhkan tubuh tidak tercukupi. Hal tersebut mengakibatkan pertumbuhan tubuh baik fisik ataupun mental tidak sempurna seperti yang seharusnya. Banyak anak yang bertubuh sangat kurus akibat kekurangan gizi atau sering disebut gizi buruk. Jika sudah terlalu lama maka akan terjadi (KEK). Hal tersebut sangat memprihatinkan, mengingat Indonesia adalah negara yang kaya akan SDA (Sumber Daya Alam).

Masa pranikah dapat dikaitkan dengan masa prakonsepsi, karena setelah menikah wanita akan segera menjalani proses konsepsi. Masa prakonsepsi merupakan masa sebelum kehamilan. Periode prakonsepsi adalah rentang waktu dari tiga bulan hingga satu tahun sebelum konsepsi dan idealnya harus mencakup waktu saat ovum dan sperma matur, yaitu sekitar 100 hari sebelum konsepsi. Status gizi WUS atau wanita pranikah selama tiga sampai enam bulan pada masa prakonsepsi akan menentukan kondisi bayi yang dilahirkan. Prasayarat gizi sempurna pada masa prakonsepsi merupakan kunci kelahiran bayi normal dan sehat (Susilowati dkk. 2016).

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani KEK antara lain adalah peningkatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang diarahkan pada pemberdayaan keluarga untuk ketahanan pangan tingkat rumah tangga dengan melalui Instruksi Presiden No. 8 tahun 1999 melalui Gerakan Nasional Penanggulangan Masalah Pangan dan Gizi (Almatsier, 2014).

Adapun pentingnya menjaga kecukupan gizi bagi wanita pranikah sebelum kehamilan disebabkan karena gizi yang baik akan menunjang fungsi optimal alat-alat reproduksi seperti lancarnya proses pematangan telur, produksi sel telur dengan kualitas baik, dan proses pembuahan yang sempurna. Gizi yang baik juga dapat berperan penting dalam penyediaan cadangan gizi untuk tumbuh-kembang janin. Bagi calon ibu, gizi yang cukup dan seimbang akan memengaruhi kondisi kesehatan secara menyeluruh pada masa konsepsi dan kehamilan serta akan dapat memutuskan mata rantai masalah kekurangan gizi pada masa kehamilan (Susilowati dkk. 2016).

Pengetahuan terhadap gizi dan permasalahannya sangat berpengaruh terhadap status gizi keluarga yang akan dibentuk. Ibu hamil yang memiliki pengetahuan gizi yang baik akan mampu memilih jenis makanan yang tepat untuk dirinya dan janinnya baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Selain pengetahuan gizi, pengetahuan kesehatan kehamilan juga perlu bagi ibu hamil. Dengan demikian, pengetahuan gizi dan kesehatan merupakan salah satu faktor protektif dalam mempertahankan kualitas kehamilan. Pengetahuan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap sikap, perilaku dan gaya hidup, pola makan serta peningkatan pendapatan sehingga mempengaruhi dalam pemilihan jenis, dan jumlah makanan yang dikomsumsi (Suhardjo, 2016)

Mengingat betapa pentingnya pengetahuan gizi, Supariasa (2012) menyatakan bahwa salah satu penyebab munculnya gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kurangnya pengetahuan tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian Fitrianingtyas dkk (2018) yang dilakukan pada ibu hamil di Puskesmas Warung Jambu Kota Bogor, diperoleh hasil bahwa pada Ibu hamil ditemukan adanya hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian KEK.

Pengetahuan bisa diperoleh melalui layanan konseling. Layanan Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan sesuai regulasi yang ada dilaksanakan oleh seluruh Puskesmas kecamatan di Propinsi Banten. Data yang ada pada tahun 2018 dari 117.232 Orang (58.616 pasangan) yang melakukan pencatatan pernikahan di KUA di 6 wilayah Kabupaten / Kota Propinsi Banten serta data pendahuluan yang didapat dari pengelola program di Dinas Kesehatan Propinsi Banten pada laporan program tahun 2018, Data tersebut menjelaskan bahwa hanya sekitar 35.934 Orang (30.6 %) yang sudah dilakukan Konseling dan pemeriksaan kesehatan Pranikah di Puskesmas. Serta masih ada 81.864 Orang (69 %) yang belum terperiksa (Dinkes Provinsi Banten Tahun 2018). Data ini memperlihatkan belum semua calon pengantin melakukan konseling dan Pemeriksaan sebelum menikah di Puskesmas.

Berdasarkan data studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Legok didperoleh data tahun 2017 angka kejadian KEK sebanyak 277 orang (14,6%) dari 1895 orang ibu hamil, mengalami peningkatan di tahun 2018 menjadi 299 orang (15,7%) dari 1907 orang ibu hamil, dan di tahun 2019 sebanyak 291 orang (15,3%) dari 1907 orang ibu hamil. Data ibu hamil periode Januari – Mei 2020 sebanyak 243 orang dan diantaranya yang mengalami KEK sebanyak 67 orang (27,5%).

Berdasarkan alasan itulah penulis melakukan penelitian tentang “Pengaruh Pengetahuan Gizi Pada wanita Pranikah Terhadap Kekurangan Energi Kronik ( KEK ) di Kelurahan Babakan Kecamatan Legok Tangerang Tahun 2022

METODE

Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang bersifat analitik observasional rancangan cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah semua wanita pranikah berjumlah 30 orang di Kelurahan Babakan Kecamatan Legok Tangerang.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu dengan Teknik sampling yang di gunakan dengan non probability sampling dengan metode purposive sampling penetapan sampel dengan cara memilih sampel di antara populasi sesuai dengan yang di kehendaki peneliti sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya berdasarkan dengan kriteria inklusi yaitu bersedia menjadi responden, tidak buta huruf. kriteria eksklusi yaitu sedang sakit saat penelitian, sebelumnya pernah menikah, sebelumnya pernah memiliki anak. penelitian dilaksanakan pada Mei – Juni

Peneliti menggunakan kuesioner sebagai variabel dependen untuk mengetahui pengetahuan tentang gizi oleh responden, lalu penelitian ini menggunakan instrument penelitian yaitu berbentuk kuesioner dengan 14 pertanyaan tentang pengetahuan gizi. Pada instrument penelitian ini peneliti uji statistik dengan cara uji validitas dan reliabilitas di dapatkan instrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan uji validitas dan reliabilitas maka hasil uji validitas R hitung > R tabel Pada signifikan 5% pada distribusi nilai R tabel dengan total responden 30, Df = N-2, 30 -2 = 28, pada Df 28 maka dari itu R tabel pada penelitian ini adalah 0.361. Hasil output uji validitas di dapatkan R hitung > 0,361 yang di simpulkan uji validitas yaitu valid dan uji reliabilitas di katakan valid jika nilai alpha > 0,60 karena hasil uji reliabilitas 0,750 > 0,60 maka data butir soal valid.

Peneliti menggunakan analisa data univariat untuk mengetahu gambaran distribusi frekuensi dari karakteristik responden, data bivariat untuk mengetahui pengaruh karakteritik responden terhadap kejadian KEK dengan menggunakan uji chy- square, serta analisa data multivariat untuk melihat efektifitas konseling gizi tehadap kejadian KEK dengan menggunakan uji regresi ordinal.

HASIL DAN DISKUSI

Keterbatasan penelitian ini adalah pada saat pengambilan data masih dalam keadaan pandemi covid-19 sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini masih terbatas. Pada penelitian ini masih terdapat beberapa kekurangan yaitu belum bisa mengungkapkan faktor luar secara mendetail karena terbatasnya waktu penelitian.

Pada hasil penelitian analisa univariat di dapatkan hasil mayoritas umur wanita pranikah 21-25 tahun, pendidikan S1, tidak bekerja, status gizi normal, pengetahuan cukup. Hasil penelitian tersebut berdasarkan umur sesuai teori BKKBN, 2017 memberikan batasan usia pernikahan 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun untuk pria. Selain itu, umur ideal yang matang secara biologis dan psikologis adalah 20– 25 tahun bagi wanita dan umur 25 – 30 tahun bagi pria. Menurut asusmi peneliti dengan hasil penelitian pengetahuan cukup di sebabkan mayoritas wanita pranikah pendidikan S1 sehingga untuk pengetahuan tidak mengalami kurang, hal ini di sebabkan oleh teori (Rahayu dkk., 2014). Pengetahuan merupakan salah satu faktor internal yang mempengaruhi perilaku kesehatan dan pengetahuan berkaitan erat dengan pendidikan seseorang.

Pada hasil analisa bivariat dengan menggunakan uji chi – square di dapatkan hasil terdapatnya pengaruh secara signifikan yaitu pada variabel pengetahuan dan status gizi. pengetahuan dengan nilai p- value = 0,000 dan status gizi dengan nilai p- value = 0,012. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Lusyana Gloria Doloksaribu, Abdul Malik (2019) yang berjudul Pengaruh Konseling Gizi terhadap pengetahuan dan sikap wanita pranikah di kecamatan Batang Kuis dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan (p=0,001) dan sikap (p=0,001) sebelum dan sesudah intervensi. Penelitian ini juga sejalan dengan teori Menurut Achmadi (2013), pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu:

  1. Faktor internal: faktor yang berasal dari dalam diri sendiri, misalnya intelektual, motivasi, dan minat.

  2. Faktor eksternal: faktor yang berasal dari luar diri seseorang, misalnya keluarga, lingkungan masyarakat, adat dan budaya. dengan demikian sesuai teori tersebut maka peneliti dapat menyimpulkan agar pengetahuan wanita pranikah menjadi lebih baik alangkah lebih baik di berikan pengetahuan sebelum adanya pernikahan serta bimbingan agar dalam pernikahan menjadi lebih baik tentunya pada kesehatan ibu dan anak.

Pada hasil penelitian status gizi memiliki pengaruh dengan kejadian KEK sejalan dengan teori (Indriani dkk. 2013) yang menyatakan Gizi yang optimal pada masa prakonsepsi berperan sangat penting dalam proses pembuahan dan kehamilan. Keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil sesungguhnya ditentukan jauh sebelumnya, yaitu pada masa dewasa dan masa sebelum hamil (prakonsepsi) atau selama menjadi wanita usia subur (WUS). Status gizi sangat erat hubungan denga konsumsi makanan yang di asup oleh wanita pranikah dalam persiapan program kehamilan. Hal ini sesuai dengan teori menurut Lubis (2016) menyebutkan bahwa kurang energi kronis (KEK) merupakan keadaan dimana ibu menderita kekurangan makanan yang berlangsung pada wanita usia subur (WUS) dan pada ibu hamil. Wanita prakonsepsi diasumsikan sebagai wanita dewasa atau wanita usia subur (WUS) yang sudah siap menjadi seorang ibu. Pada masa prakonsepsi kebutuhan gizi pada WUS tentunya berbeda dengan kelompok remaja, anak-anak maupun lansia. Prasyarat gizi sempurna pada masa prakonsepsi merupakan kunci kelahiran bayi normal dan sehat (Susilowati, dkk 2016).

Menurut hasil penelitian Rahayu & Sagita (2019) terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan dengan kejadian kekurangan energi kronik pada ibu hamil atau wanita usia subur pranikah, diperoleh nilai p value = 0,001 dengan α < 0,05. Pola makan yang tidak seimbang dan tidak sesuai dengan kebutuhan gizi individu menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan asupan zat gizi yang masuk kedalam tubuh sehingga kekurangan gizi dapat terjadi pada wanita usia subur dimasa kehamilannya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya dalam langkah- langkah yang lebih efektif dalam penyuluhan dan promosi kesehatan lainnya sehingga nantinya dapat meningkatkan pengetahuan wanita usia subur mengenai makanan seimbang, pemilihan makanan, frekuensi makan, porsi makan dan dampak KEK serta dengan meningkatnya pengetahuan diharapkan perilaku WUS menjadi lebih baik dalam menentukan pola makan dan frekuensi makan (Stephanie & Kartika,2016).

Pada penelitian ini pengetahuan tentang gizi sangat berkaitan erat dengan status gizi wanita usia subur. Maka dari itu peneliti memiliki asumsi terhadap penelitian ini yaitu dengan pengetahuan yang diberikan pada wanita pranikah tentang pengetahuan gizi agar mendapatkan kesehatan yang maksimal terhadap wanita pranikah atau bisa juga di sebut prakonsepsi. Hal ini sejalan dengan Pemberian pengetahuan terhadap wanita pranikah sudah terdapat pada Undang-undang Perkawinan, dengan memanfaatkan “waktu senggang 10 hari” sebelum akad nikah, kursus semacam ini ternyata sangat menolong pasangan- pasangan pengantin baru untuk memelihara kerukunan diantara pasangan tersebut serta menambah pengetahuan mereka untuk mengendalikan rumah tangganya. ). Adapun tujuan Asuhan Pranikah menurut Kemenkes (2014), penyelenggaraan pelayanan kesehatan masasebelum hamil (prakonsepsi) atau pranikah bertujuan untuk :

  1. Menjamin kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas;

  2. Mengurangi angka kesakitan dan angka kematian ibu dan bayi baru lahir;

  3. Menjamin tercapainya kualitas hidup dan pemenuhan hak-hak reproduksi; dan mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang bermutu, aman, dan bermanfaat sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan, yaitu :

  1. Mayoritas wanita pranikah berumur kisaran 21-25 tahun, pendidikan S1, wanita pranikah tidak bekerja, pengetahuan cukup, status gizi normal.

  2. Tidak terdapatnya pengaruh antara umur, pendidikan, pekerjaan terhadap kejadian KEK pada wanita pranikah

  3. Terdapatnya pengaruh pengetahuan dan status gizi terhadap kejadian KEK pada wanita pranikah

Saran

  1. Bagi pelayanan kesehatan atau pihak kesehatan khususnya bidan untuk memberikan informasi tentang gizi pada wanita usia subur dalam hal pemberian pengetahuan dengan tujuan mendapatkan keluarga yang sehat pada saat program kehamilan.

  2. Bagi wanita pranikah, agar memperluas pengetahuan dan ikut program pemerintah dalam hal tentang gizi untuk mengurangi resiko terjadinya KEK pada wanita pranikah dalam program kehamilan.

  3. Bagi peneliti selanjutnya, untuk melakukan penelitian dengan kejadian KEK pada ibu hamil dengan judul penelitian yang lebih maksimal dalam variabel yang di teliti yang berkaitan dengan kejadian KEK pada wanita pranikah.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Almatseir ( 2016). prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta. Gramedia pustaka umum

  2. Arikunto, S. (2019). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka cipta

  3. Cakrawati dan Mustika NH, Dewi. 2012. Bahan Pangan, Gizi ,Dan Kesehatan. Bandung: Alfabeta.

  4. Ellya, E.S. 2010. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Trans Info Media

  5. Irawan, M. Anwari. 2007. Karbohidrat. Pulton sports science & performance lab, Jakarta.

  6. Kementrian Kesehatan RI. 2016. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu. Kemenkes RI. Jakarta

  7. Notoatmodjo, (2010). Metodologi penelitian kesehatan . Jakarta: PT Rineka

  8. Nursalam. 2016. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan Praktis Edisi.4. Jakarta : Salemba Medika.

  9. Prawirohardjo, S. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka

  10. Setiawati, A., Dermawan.(2008). Media Pembelajaran Pendidikan Kesehatan. Gala Ilmu Semesta.Yogyakarta

  11. Sujiantini, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan pada Ibu Hamil. Yogyakarta: Rohima Press

  12. Wiknjosastro, Hanafi. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

  13. Yuniastuti, A. 2008. Gizi dan Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.Lampiran 1. Form Persetujuan Responden (Informed Consent)

  14. Umisah, Igna Nur’Arofah, and Dyah Intan Puspitasari. 2017. “Perbedaan Pengetahuan Gizi Prakonsepsi Dan Tingkat Konsumsi Energi Protein Pada Wanita Usia Subur (WUS) Usia 15-19 Tahun Kurang Energi Kronis (KEK) Dan Tidak KEK Di SMA Negeri 1 Pasawahan.” Jurnal Kesehatan. doi: 10.23917/jurkes.v10i2.5527.

  15. Hani, Umu, and Luluk Rosida. 2018. “Gambaran Umur Dan Paritas Pada Kejadian KEK.” JHeS (Journal of Health Studies)doi: 10.31101/jhes.438.

  16. Fitriani, Asnidar, and Suhartini Suardi. 2019. “The Effect Of Health Education About Balanced Nutrition On The Level Of Pregnant Women Knowledge Who Suffers Chronic Energy Lacks.” Jurnal Life Birth.

  17. Widyawati, Widyawati, and Sholaikhah Sulistyoningtyas. 2020. “Karakteristik Ibu Hamil Kekurangan Eenergi Kronik (KEK) Di Puskesmas Pajangan Bantul.” Jurnal JKFT. doi: 10.31000/jkft.v5i2.3925

Efektivitas Promosi Kesehatan melalui Media Leaflet dan Video terhadap Pengetahuan Ibu Hamil tentang Tanda Bahaya Kehamilan

31

Ida Oktiana and Rahmadyanti (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : Survey penelitian awal dilakukan pemberian promosi kesehatan pada ibu hamil di TPMB Fitri Jakarta Timur sebanyak 20 orang melalui media leaflet dan video di dapatkan hasil pernyataan ibu hamil secara wawancara yaitu mayoritas seluruh ibu hamil lebih paham dalam pemberian promosi kesehatan melalui video di banding dengan media leaflet. Tujuan Penelitian : Mengetahui Efketifitas Promosi Kesehatan Melalui Media Leaflet dan Video Terhadap Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda Bahaya Kehamilan di TPMB Fitri Jakarta Timur Tahun 2022. Metode Penelitian : Jenis penelitian yang bersifat quasy eksperimen pre test dan post test dengan pendekatan kuantitatif . Besar sampel yaitu total sampling, jumlah sampel 100 orang pada ibu hamil. Teknik sampling yang di gunakan dengan non probability sampling dengan metode purposive sampling. Hasil Penelitian : Hasil Univariat Mayoritas ibu hamil pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan cukup sebelum dilakukan promosi kesehatan sebanyak 76 orang (76%) Pada penilaian pengetahuan setelah promosi kesehatan menggunakan media leaflet rata-rata nilai pengetahuan nilai minimal 65 dan nilai maksimal 78. Pada penilaian pengetahuan setelah promosi kesehatan menggunakan media video rata-rata nilai pengetahuan minimal 75 dan nilai maksimal 85 Hasil Bivariat dengan uji Mann- Whitney di dapatkan hasil nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu 0,075 nilai signifikan 0,075 > 0,05 Tidak ada perbedaan siginifikan antara promosi kesehatan melalui media leaflet dengan media video terhadap pengetahuan tentang tanda bahaya . Terdapatnya Efektifitas promosi kesehatan melalui media leaflet dan media video terhadap pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan di dapatkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu 0,000. Kesimpulan dan Saran : pihak kesehatan khususnya bidan untuk memberikan promosi kesehatan baik media secara leaflet ataupun media video agar target untuk kehamilan sehat tercapai.

Kata Kunci : pengetahuan ibu hamil , promosi kesehatan media leaflet dan media video

PENGANTAR

Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran diri oleh dan untuk masyarakat agar dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Kemenkes, 2011). Visi umum promosi kesehatan tidak terlepas dari Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 maupun misi WHO yakni meningkatnya kemampuan masyarakat di dalam promosi kesehatan merupakan sebuah harapan ataupun cita-cita terhadap suatu program yang akan dijalankan agar memiliki tujuan dan arah yang jelas dalam pelaksanaannya.

Tanda bahaya kehamilan adalah tanda-tanda yang mengindikasikan adanya bahaya yang dapat terjadi selama masa kehamilan, yang apabila tidak dilaporkan atau terdeteksi dini bisa menyebabkan kematian pada ibu dan janin. Tanda bahaya kehamilan harus segera ditangani dan dideteksi sejak dini karena setiap tanda 13 bahaya kehamilan bisa mengakibatkan komplikasi pada masa kehamilan (Sumarni, Rahma, & Ikhsan, 2014).

Tingginya Angka Kematian ibu di Indonesia masih merupakan masalah yang menjadi prioritas dalam bidang kesehatan. Penyebab kematian langsung dapat bersifat medik maupun non medik. Faktor non medik diantaranya yaitu keadaan kesejahteraan ekonomi keluarga, Pendidikan ibu, lingkungan hidup dan perilaku. Faktor non medik diantaranya yaitu keadaan kesejahteraan ekonomi keluarga, Pendidikan ibu, lingkungan hidup dan perilaku. Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi dari status kesehatan ibu, dimana status kesehatan ibu merupakan salah satu faktor penting penyebab kematian ibu. (Sarwono Prawiraharja, 2018; 204).

Menurut Notoatmodjo (2010) terdapat beberapa cara memperoleh pengetahuan, ada 2 cara yaitu dengan cara kuno dan cara modern dengan cara coba yang salah, pengalaman pribadi dan melalui jalan pikiran. kemudian cara modern dengan cara induktif dan deduktif. Pengetahuan yang dilakukan dengan menggunakan metode promosi kesehatan yang mana metode untuk membuka jalan fikiran masyarakat tentang pengetahuan yang akan di berikan oleh pemberi materi pada promosi kesehatan. Penemuan metode dengan buka jalan pikiran bertujuan Untuk memeperoleh pengetahuan serta kebenarannya manusia harus menggunakan jalan fikirannya serta penalarannya.

Menurut Susilowati, 2016 yang menyatakan pada tingkatan kegiatan membaca (10 %), mendengar (20%), dan melihat gambar maupun video (30%), Menurut Edgar Dale, dalam dunia pendidikan, penggunaan media /bahan/sarana belajar seringkali menggunakan prinsip Kerucut Pengalaman yang membutuhkan media belajar seperti buku teks, bahan belajar yang dibuat oleh pengajar dan “audio-visual”. Media dalam promosi kesehatan merupakan salah satu upaya untuk mendukung keberhasilan proses pembelajaran sehingga lebih menarik perhatian dan materi yang disampaikan akan lebih mudah dipahami oleh peserta. Melalui promosi kesehatan menggunakan metode ceramah dan media situasi pembelajaran lebih menyenangkan, kreatif dan tidak membosankan (Haryani dkk, 2015)

Survey penelitian awal dilakukan pemberian promosi kesehatan pada ibu hamil di TPMB Fitri Jakarta Timur sebanyak 20 orang melalui media leaflet dan video di dapatkan hasil pernyataan ibu hamil secara wawancara yaitu mayoritas seluruh ibu hamil lebih paham dalam pemberian promosi kesehatan melalui video di banding dengan media leaflet. Selain itu, ibu hamil pengetahuan tentang tanda – tanda bahaya pada kehamilan masih di dapatkan pengetahuan yang kurang berdasarkan kuesioner yang sudah di sediakan oleh peneliti, setau peneliti ibu hamil sudah di berikan buku KIA dan pengetahuan tanda bahaya kehamilan yang mana kita ketahui bahwa materi tanda bahaya kehamilan sudah ada pada buku KIA. Berdasarkan hasil survey awal tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Efketifitas Promosi Kesehatan Melalui Media Leaflet dan Video Terhadap Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda Bahaya Kehamilan di TPMB Fitri Jakarta Timur Tahun 2022.

METODE

Penelitian secara eksperimen dengan desain quasy eksperimen dengan pendekatan kuantitatif yaitu desain yang terdapat pre- test sebelum diberi perlakuan dan post-test setelah diberi perlakuan. Pada penelitian ini di bagi dua kelompok yaitu kelompok promosi kesehatan melalui media leaflet dan kelompok promosi kesehatan melalui media video. variabel independen yaitu promosi kesehatan melalui leaflet dan video dan variabel dependen yaitu pengetahuan ibu hamil. populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang datang berkunjung ke TPMB Fitri Jakarta Timur Tahun 2022 yang berjumlah 100 orang.

Teknik yang digunakan dalam pengabilan sampel adalah total sampling, karena populasi dan sample sama maka jumlah sampel dalam penelitian ini 100 responden. berdasarkan dengan kriteria inklusi yaitu bersedia menjadi responden, tidak buta huruf. kriteria eksklusi yaitu sedang sakit saat penelitian, sebelumnya penelitian dilaksanakan pada Mei – Juni.

Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya dengan menggunakan data primer untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dan mengunakan kuesioner yg sudah di sesuaikan tujuan penilitian untuk mengetahui varibel dependen , independen di bagikan kepada responden yang sesuai dengan kriteria inklusi.penelitian ini menggunakan instrument penelitian yaitu berbentuk kuesioner dengan 15 pertanyaan tentang tanda bahaya kehamilan. Pada instrument penelitian ini peneliti uji statistik dengan cara uji validitas dan reliabilitas di dapatkan instrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan uji validitas dan reliabilitas maka hasil uji validitas R hitung > R tabel Pada signifikan 5% pada distribusi nilai R tabel dengan total responden 100, Df = N-2, 100 -2 = 98, pada Df 98 maka dari itu R tabel pada penelitian ini adalah 0.205. Hasil output uji validitas di dapatkan R hitung > 0,205 yang di simpulkan uji validitas yaitu valid dan uji reliabilitas di katakan valid jika nilai alpha > 0,60 karena hasil uji reliabilitas 0,70 > 0,60 maka data butir soal valid.

Peneliti menggunakan Dasar pengambilan keputusan uji normalitas yaitu : jika nilai sig > 0.05 maka data berdistribusi normal dan jika nilai sig < 0.05 maka data berdistribusi tidak normal. Apabila di dapatkan tidak normal maka uji normalitas di gunakan statistik non parametik ( Uji Mann Whitney).

Uji beda atau uji z untuk mengetahui pengaruh perbedaan terapi musik klasik dengan kombinasi terapi musik klasik dan senam yoga terhadap penurunan rasa nyeri haid. Uji beda secara independen sample T-test ( uji sampel tidak berpasangan).Pada uji statistik menggunakan SPSS. Dasar pengambilan keputusan dalam uji independen sample T-Test yaitu :

  1. Jika nilai siginifikansi ( 2 – tailed) < 0,05, maka Ho di tolak dan Ha di terima

  2. Jika nilai siginifikansi ( 2 – tailed) > 0,05, maka Ho di terima dan Ha di tolak hasil uji P-value < α ( P Value

HASIL DAN DISKUSI

Keterbatasan penelitian ini adalah pada saat pengambilan data masih dalam keadaan pandemi covid-19 sehingga pada saat penyebaran kuesioner dengan cara menggunakan google form agar mempermudah dalam penyebaran dalam keadaan pandemi. Pada saat penelitian responen masih banyak yang tidak paham pada pengisian form maka butuh waktu dalam menjelaskan kepada responden. Pada saat memberikan promosi kesehatan dengan cara membentuk kelompok pada group WhatsApp pada kelompok promosi kesehatan melalui leaflet dan pada group kelompok promosi kesehatan melalui video. Sehingga terkendala responden yang tidak dapat membuka video di karenakan paket data yang habis, maka waktunya sedikit lama dalam menunggu jawaban dari responden.

Hasil pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan ibu hamil sebelum di lakukan promosi kesehatan di dapat mayoritas pengetahuan cukup sebanyak 76 orang (76%) dan masih terdapatnya pengetahuan kurang sebanyak 15 orang (15%) Menurut peneliti pengetahuan cukup dikarenakan ibu hamil memiliki buku KIA, berdasarkan teori menurut (Kementerian Kesehatan, 2016) yang menyatakan bahwa Buku Kesehatan Ibu Anak (KIA) merupakan media KIE yang utama dan pertama yang digunakan untuk meningkatkan pemahaman ibu, suami dan keluarga/pengasuh anak di panti/lembaga kesejahteraan sosial anak akan perawatan kesehatan ibu hamil sampai anak usia 6 tahun. Buku KIA berisi informasi kesehatan ibu dan anak yang sangat lengkap termasuk imunisasi, pemenuhan kebutuhan gizi, stimulasi pertumbuhan dan perkembangan, serta upaya promotive dan preventif termasuk deteksi dini masalah kesehatan ibu dan anak dan pencegahan kekerasan terhadap anak.

Hasil pada penilaian pengetahuan setelah promosi kesehatan menggunakan media leaflet rata-rata nilai pengetahuan 73,62 dan Standar Deviation yaitu 5,591, nilai minimal 65 dan nilai maksimal 78. Hasil pada penilaian pengetahuan setelah promosi kesehatan menggunakan media video rata-rata nilai pengetahuan 78,24 dan Standar Deviation yaitu 4,028, nilai minimal 75 dan nilai maksimal 85. Artinya adalah pada promosi melalui media video mendapatkan nilai yang rata – rata lebih tinggi di bandingkan dengan rata – rata pada pengetahuan melalui media leaflet. Menurut asumsi peneliti promosi kesehatan melalui video lebih mudah di pahami di bandingkan dengan leaflet karena pada video terdapat audio visual yang mana selain suara dalam menjelaskan di sertai dengan adanya gambar akan lebih mudah di pahami oleh para responden. Media audio visual merupakan jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang dapat dilihat, seperti rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara dan lain sebagainya. Kemampuan media audio visual ini dianggap lebih baik dan lebih menarik, sebab mengandung kedua unsur, yaitu didengar dan dilihat. Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Alini dan Indrawati , 2018 dengan judul “ Efektifitas promosi kesehatan melalui audio visual dan leaflet tentang pemeriksaan payudara sendiri terhadap peningkatan pengetahuan remaja putri yang di dapatkan hasil perbandingan efektifitas media audio visual dan leaflet terhadap pengetahuan remaja putri mengenai SADARI di SMAN 1 Kampar tahun 2018 didapatkan nilai p value0,003 dengan audio visual dan 0,004 dengan leaflet (≤ 0,05) yang artinya bahwa promosi kesehatan melalui audio visual lebih efektif dari pada menggunakan leaflet. Media leaflet memiliki beberapa kekurangan jika dibandingkan dengan media video, salah satunya adalah media leaflet hanya memuat gambar sedangkan pada video memuat gambar bergerak Media video merupakan media yang efektif dalam perubahan sikap menurut Sadiman et.al (2012) media video memiliki beberapa kelebihan diantaranya yaitu pesan yang disampaikan kepada masyarakat cepat dan mudah diingat, mengembangkan imajinasi si penerima pesan atau informasi, memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan penjelasan yang lebih realistis atau nyata

Uji perbedaan antara hasil promosi kesehatan melalui leaflet dengan promosi kesehatan melalui video di dapatkan hasil nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu 0,075 nilai signifikan 0,075 > 0,05 yang artinya tidak ada perbedaan antara promosi kesehatan melalui leaflet dengan promosi kesehatan melalui video terhadap pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan pada ibu hamil di TPMB Fitri Jakarta Timur Tahun 2022. Menurut asumsi peneliti bahwa tidak ada perbedaan siginifikan pengetahuan promosi kesehatan melalui leaflet dan video karena nilai nya tidak terlalu jauh antara nilai melalui media leaflet dengan media video. Artinya promosi kesehatan melalui leaflet dan video sama – sama efektif dalam kegiatan promosi kesehatan yang di dapatkan hasil uji z ( Independen sampel Test) dengan dapatkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu 0,000 < 0,05, Jika nilai siginifikansi ( 2 – tailed) < 0,05, maka Ho di tolak dan Ha di terima artinya Ada terdapat Efektifitas Promosi Kesehatan Melalui Media Leaflet dan Video Terhadap Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda Bahaya Kehamilan di TPMB Fitri Jakarta Timur Tahun 2022.

Menurut asumsi peneliti bahwa promosi kesehatan melalui leaflet dan video sama – sama efektifitas dalam penegtahuan seseorang sebab dalam media tersebut di buat secara sederhana yang dapat di pahami. Hanya saja perbedaannya adalah leaflet hanya berbentuk gambar dan penjelasan sedangkan video dalam bentuk gambar dan suara dalam penjelasan materi tersebut. Menurut Alini dan Indrawati , 2018 Media video lebih fleksibel dalam memberikan penjelasan mengenai konsep materi dan detail keterampilan tertentu karena video biasanya langsung menggambarkan informasi melalui ilustrasi. Selain itu media video juga bisa menghadirkan narasumber yang memang mengerti tentang materi dan keterampilan tertentu sehingga penjelasan dari narasumber bisa langsung dipahami oleh audiens. Selain itu menurut Susilana & Riyana (2011:9) Media promosi melalui video merupakan cara pemberian informasi yang sangat baik karena media video mampu diakses lebih dari satu indera manusia, khususnya pendengaran dan penglihatan. Karena semakin banyak indera yang berperan dalam proses penerimaan pesan, maka penerimaan pesan semakin cepat dan mudah ditangkap.

Kelebihan Leaflet menurut Notoatmodjo (2010) adalah: tahan lama, mencakup orang banyak, biaya tidak tinggi, tidak perlu listrik, dapat dibawa kemanamana, dapat mengungkit rasa keindahan, mempermudah pemahaman dan, meningkatkan gairah belajar. Kelemahan adalah: media ini tidak dapat menstimulir efek suara dan efek gerak, mudah terlipat.

Penelitian dari Tofa Hariyanto (2012) juga diperoleh hasil berdasarkan hasil analisis uji t diperoleh nilai p=0,006 < α=0,05, hal ini berarti ada pengaruh penerapan dengan metode leaflet terhadap peningkatan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi pada siswa di MA YAPIM Ngeluk Penawangan Grobogan. Artinya dalam penggunaan leaflet juga dapat meningkatkan pengetahuan seseorang. Leaflet merupakan salah satu alat peraga yang disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan manusia diterima atau ditangkap melalui panca indra. Leaflet yang baik adalah menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti oleh pembacanya, judul yang digunakan menarik untuk dibaca serta dikombinasikan antara tulisan dan gambar, serta materinya sesuai dengan target yang dituju.Leaflet dapat tersebar luas dan merupakan salah satu cara yang berguna untuk menyampaikan informasi kepada para wanita dan keluarganya atau mendukung informasi yang mereka terima ( Yulianti D, 2011).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan, yaitu :

  1. Mayoritas ibu hamil pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan cukup sebelum dilakukan promosi kesehatan sebanyak 76 orang (76%)

  2. Pada penilaian pengetahuan setelah promosi kesehatan menggunakan media leaflet rata-rata nilai pengetahuan 73,62 dan Standar Deviation yaitu 5,591, nilai minimal 65 dan nilai maksimal 78.

  3. Pada penilaian pengetahuan setelah promosi kesehatan menggunakan media video rata-rata nilai pengetahuan 78,24 dan Standar Deviation yaitu 4,028, nilai minimal 75 dan nilai maksimal 85.

  4. Tidak ada perbedaan siginifikan antara promosi kesehatan melalui media leaflet dengan media video terhadap pengetahuan pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan dengan uji Mann- Whitney di dapatkan hasil nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu 0,075 nilai signifikan 0,075 > 0,05

  5. Terdapatnya Efektifitas promosi kesehatan melalui media leaflet dan media video terhadap pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan di dapatkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yaitu 0,000 < 0,05,

Saran

  1. Bagi pelayanan kesehatan atau pihak kesehatan khususnya bidan untuk promosi kesehatan lebih di tingkatkan agar pencapaian target ibu hamil yang sehat. promosi kesehatan melalui media leaflet ataupun video sama2 memiliki nilai efektifitas dalam peningkatan pengetahuan

  2. Bagi ibu hamil, agar memperluas pengetahuan dan selalu ikut dalam kegiatan promosi kesehatan sehingga dapat mewujudkan kehamilan yang sehat.

  3. Bagi peneliti selanjutnya, untuk melakukan penelitian dengan promosi kesehatan yang lebih rinci dan dapat meningkatkan jumllah sampel dan variabel agar penelitian selanjutnya menjadi lebih maksimal sehingga dapat di jadikan sumber pedoman bagi tenaga kesehatan atau pun tenaga pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Agustini S. 2012. Pengetahuan ibu hamil tentang tanda-tanda bahaya kehamilan di wilayah kerja upt puskesmas cimandala kecamatan sukaraja kabupaten bogor tahun 2012. FKM UI.
  2. Astuti Puji, H . 2011. Hubungan Karakteristik Ibu Hamil Dengan Tingkat Pengetahuan Tentang Tanda Bahaya Kehamilan Di Puskesmas SidoharjoKabupaten Sragen
  3. Bobak, Lowdermilk, & Jensen. (2005). Buku ajar keperawatan maternitas (Maria A.Wijayarini, et.al. Terj). Jakarta: EGC.
  4. Budiart, Rismaina Putri1 , Coryna Rizky Amelia ( 2018) Hubungan Karakteristik Ibu dan Dukungan Suami dengan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tanda Bahaya Kehamilan Journal of Issues in Midwifery, April – Juli 2018, Vol. 2 No. 1, 1-18
  5. Dewi Pertiwi, Isnawati,. (2017) Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Tentang Tanda Bahaya Kehamilan Di Puskesmas Caringin Kabupaten Bogor ,. HEARTY Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol.5 No.1 2017 (ISSN. 2338-7475)
  6. Departemen Kesehatan RI. 2005. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. Jakarta; Pusat Promosi Kesehatan. Departemen Kesehatan RI. 2006. Panduan Integrasi Promosi Kesehatan dalam Program Kesehatan di Kabupaten/Kota. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan.
  7. Departemen Kesehatan RI. 2006. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan. Departemen Kesehatan RI. 2008. Promosi Kesehatan di Sekolah. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan.
  8. Fitriani, Sinta. 2011. Promosi Kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu
  9. Kemenkes RI. (2014) Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan, Pedoman Bagi Tenaga Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia;
  10. Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013 dalam Angka. Jakarta; 2014
  11. Kementrian Kesehatan RI. 2010. Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun 2010 – 2025. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  12. Kementrian Kesehatan RI. 2011. Promosi Kesehatan di Daerah Bermasalah Kesehatan ( Panduan bagi Petugas Kesehatan di Puskesmas). Jakarta; Pusat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
  13. Kementrian Kesehatan RI. 2012. Pedoman Promosi Kesehatan di Puskesmas.
  14. Jakarta; Pusat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
  15. Maulana, Heri, 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta; EGC. Mubarak, Iqbal, Wahid. 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi, Jakarta: Salemba Medika. Mubarok, Cahayatin. 2007. Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar Proses Belajar Mengajar Dalam Pendidikan. Yogyakarta; Graha Ilmu .
  16. Notoatmodjo, Soekidjo.2010. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
  17. Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT Rineka Cipta Sadirman, A., Rhardjo, Haryono,A., Rharjito. 2006. Media Pendidikan. Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada.
  18. Prawiroharjo, S. (2009). Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
  19. Robson dan Waugh (ed) .2012. Patologi Pada Kehamilan Manajemen Dan Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC. 2016.Ovary Midwifery Journal Vol.1 No.1 Agustus 2019.
  20. Sumarni, Rahma, Ikhsan M. (2014). Hubungan pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil tentang Tanda Bahaya Kehamilan, Persalinan dan Nifas terhadap Perilaku ANC Puskesmas Latambaga Kabupaten Kolaka.
  21. Sukesih, Usman, Setia B., Dian Nur A.S.(2020) Pengetahuan Dan Sikap Mahasiswa Kesehatan Tentang Pencegahan Covid-19 Di Indonesia., Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol.11 No.2 (2020) 258-264
  22. Siregar, Putra Apriadi. 2020. Promosi Kesehatan Lanjutan. PT. Pernada Kencana.Jakarta:
  23. Taufik, M. 2007. Prinsip-Prinsip Promosi Kesehatan dalam Bidang Keperawatan.akarta: Infomedika.
  24. Vicky Elsa. dkk (2012). Hubungan Paritas Ibu Hamil Trimester I Dengan Kejadian Emesis Gravidarum Di Puskesmas Teras. Jurnal Kebidanan.
  25. WHO. (2018) Maternal Mortality.
  26. WHO (World Health Organization). 2018. Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. World Bank, 2018
  27. Cepi Riyana, Rudi Susilana. Media Pembelajaran, Bandung: CV Wacanan Prima,2011.
  28. Alini & Indrawati. 2018. Efektifitas Promosi Kesehatan melalui Audio Visual dan Leaflet tentang Sadari (Pemeriksaan Payudara Sendiri) Terhadap Peningkatan Pengetahuan Remaja Putri Tentang Sadari Di Sman 1 Kampar Tahun 2018. Jurnal Ners Universitas Pahlawan. 20(2). 1-9

Perbandingan Perawatan Tali Pusat Menggunakan Kasa Kering dan Perawatan Terbuka terhadap Lamanya Waktu Pelepasan Tali Pusat pada Bayi Baru Lahir

32

Siti Khodijah and Sukarni Setya Yuningsih (Editor)

ABSTRAK

WHO melaporkan salah satu penyebab kematian bayi adalah infeksi, salah satunya disebabkan oleh infeksi tali pusat. Perawatan tali pusat yang dianjurkan yaitu dengan cara terbuka, akan tetapi ada juga dengan menggunakan kasa kering untuk mencegah infeksi dan komplikasi lanjutan. Tujuan penulisaan mengetahui perbandingan perawatan tali pusat menggunakan kasa kering dan perawatan terbuka terhadap lamanya waktu pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir di wilayah UPTD Puskesmas Rawat Inap Maja Lebak Banten Tahun 2022. Metode penelitian ini merupakan penelitian quasy experiment dengan metode post test with control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang melahirkan di wilayah UPTD Puskesmas Rawat Inap Maja Lebak Banten sebanyak 34 responden dengan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan uji Mann Whitney. Hasil analisis univariat diketahui bahwa minat lamanya waktu pelepasan tali pusat menggunakan kasa kering seluruhnya berada pada kategori normal yaitu sebanyak 100% dan lamanya waktu pelepasan tali pusat dengan perawatan terbuka sebagian besar dengan kategori normal yaitu 52,9%, ada perbedaan perawatan tali pusat menggunakan kasa kering dan perawatan terbuka terhadap lamanya waktu pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir dengan p=0,001.Kesimpulan dan saran ada perbedaan perawatan tali pusat menggunakan kasa kering dan perawatan terbuka terhadap lamanya waktu pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir. Ibu nifas diharapkan dalam melakukan perawatan tali pusat memperhatikan kebersihan dan melakukannya dengan cara yang benar, disamping itu bidan dalam menggunakan metode terbuka sesuai dengan yang dianjurkan dalam asuhan persalinan normal.

Kata kunci : Perawatan tali pusat, menggunakan kasa kering, perawatan terbuka, lamanya waktu pelepasan tali pusat.

PENDAHULUAN

Periode segera setelah bayi baru lahir merupakan awal yang tidak menyenangkan bagi bayi tersebut. Hal ini disebabkan oleh lingkungan kehidupan sebelumnya (intrauterin) dengan lingkungan kehidupan sekarang (ekstrauterin) yang sangat berbeda, dalam uterus janin hidup dan tumbuh dengan segala kenyamanan karena ia tumbuh dan hidup bergantung penuh pada ibunya, sedangkan pada waktu kelahiran setiap bayi baru lahir akan mengalami adaptasi atau proses penyesuaian fungsi-fungsi vital dari kehidupan di dalam uterus ke kehidupan di luar uterus (Muslihatun, 2019).

Pertumbuhan dan perkembangan bayi, periode neonatal merupakan periode yang paling kritis. Menurut Profil Kesehatan Indonesia tahun 2020 dari 28.158 kematian balita, 72,0% (20.266 kematian) diantaranya terjadi pada masa neonatus usia 0-28 hari, sementara 19,1% (5.386 kematian) terjadi pada usia 29 hari – 11 bulan dan 9,9% (2.506 kematian) terjadi pada usia 12 – 59 bulan. Salah satu penyebab kematian neonatal diantaranya yaitu karena infeksi sebanyak 3,4% (Kemenkes RI, 2021).

Jumlah kematian neonatal di Provinsi Banten tahun 2019 sebesar 1.154 per 1.000 kelahiran hidup Lebih tinggi di banding data tahun 2018 sebesar 822 per 1000 kelahiran hidup. Kabupaten/kota dengan Jumlah Kematian Neonatal tertinggi adalah Kabupaten Lebak yaitu 413 per 1.000 kelahiran hidup. Kondisi yang sama terjadi pada tahun 2018 dimana Kabupaten dengan Jumlah Kematian Neonatal tertinggi 2018 adalah Kabupaten Lebak yaitu 351 per 1.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian salah satunya karena sepsis (Dinkes Provinsi Banten, 2021).

WHO (World Health Organization) (2018) melaporkan bahwa penyebab langsung kematian neonatorum adalah infeksi (32%), asfiksia 29%, komplikasi prematuritas 24%, kelainan bawaan 10% dan lain lain 5%. Salah satu penyebab infeksi yang terjadi pada bayi ialah tetanus neonatorum. Menurut WHO kematian neonatal yang diakibatkan oleh tetanus neonatorun menunjukkan ada 13.502 kasus. Inggris kasus tetanus yang ditemukan pada 2017 berjumlah 5 kasus, Amerika Serikat sebanyak 29 kasus, negara bagian Asia Tenggara sebanyak 581 kasus (Evani, 2020).

Indonesia menurut Profil Kesehatan Indonesia dilaporkan dari 48 kasus tetanus neonatorum 4 diantaranya meninggal. Adapun penyebabnya terjadinya tetanus salah satunya karena perawatan tali pusat sebanyak 10 kasus yaitu karena perawatan tradisional sebanyak 7 kasus, lain-lain sebanyak 2 kasus dan tidak diketahui sebanyak 1 kasus. Provinsi dengan kasus tertinggi yaitu Kalimantan Tengah sebanyak 3 kasus, sementara Provinsi Banten tidak ditemukan (Kemenkes RI, 2018). Sama halnya dengan Kabupaten Lebak tidak ditemukan kasus kematian bayi akibat tetanus neonatorum, akan tetapi ditemukan 5 kasus diantaranya disebabkan oleh karena sepsis yang salah satunya disebabkan oleh infeksi tali pusat.

Saifuddin (2016) menyatakan bahwa infeksi pada tali pusat yang dikenal dengan omphalitis adalah peradangan pada tali pusat yang disebabkan oleh stafilokokus, streptokokus atau bakteri gram negatif. Kondisi ini muncul jika kurang benar dalam merawat tali pusat seperti kurang bersih dan kurang kering. Tanda terjadinya infeksi menurut Retniati (2015) antara lain keluarnya pus pada tali pusat, tali pusat lengket dan menimbulkan bau yang tidak sedap, kulit dan daerah sekitar tali pusat berwarna kemerahan dan suhu bayi meningkat melebihi 380C.

Hidayat (2019), menjelaskan bahwa dampak positif dari perawatan tali pusat adalah bayi akan sehat dengan kondisi tali pusat bersih dan tidak terjadi infeksi serta tali pusat pupus lebih cepat yaitu antara hari ke 5-7 tanpa ada komplikasi, adapun dampak negatif perawatan tali pusat adalah apabila tali pusat tidak dirawat dengan baik, kuman-kuman bisa masuk sehingga terjadi infeksi yang mengakibatkan penyakit tetanus neonatorum. Adapun faktor yang mempengaruhi lepasnya tali pusat menurut Ratri (2019), diantaranya karena cara perawatan tali pusat, kelembaban tali pusat, kondisi sanitasi lingkungan dan timbulnya infeksi pada tali pusat.

Perawatan kasa kering yakni perawatan tali pusat yang menggunakan pembungkus berupa kasa kering (bersih atau steril), tali pusat tetap dijaga agar bersih dan kering sehingga tidak terjadi infeksi (Varney, 2019). Kasa terbuat dari tenunan longgar, bermata besar dan dapat menyerap cairan dengan baik. Proses pelepasan tali pusat perlu difasilitasi oleh udara terbuka. Tali pusat tidak boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab. Selain memperlambat puputnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi (Azizah et al., 2015). Tali pusat juga harus dibersihkan sedikitnya dua kali dalam sehari atau ketika tali pusat terkena urin maupun feses (Saifuddin, 2016). Untuk menjaga kondisi tersebut dianjurkan untuk tidak memberikan bahan atau ramuan apapun pada tali pusat, cukup dengan membersihkan dan membalut dengan kasa kering steril (Mardjono dan Sidharta, 2017).

Perawatan tali pusat terbuka ialah perawatan tali pusat yang tidak diberikan perlakuan apapun. Tali pusat dibiarkan terbuka, tidak diberikan kasa kering maupun antiseptik lainnya. Pelepasan tali pusat dengan bantuan udara (Dewi & Vivian, 2017). Perawatan terbuka akan membantu pengeringan tali pusat lebih cepat karena pada tali pusat terdapat Jeli Wharton yang banyak mengandung air yang jika terkena udara akan berubah strukturnya dan secara fisiologis berubah fungsi menjadi padat dan mengeklem tali pusat secara otomatis sehingga menyebabkan aliran darah pada pembuluh darah didalam sisa tali pusat terhambat atau bahkan tidak mengalir lagi yang membuat tali pusat kering dan layu yang kemudian sisa tali pusat akan terlepas (Aprilia, 2014).

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui perbandingan perawatan tali pusat menggunakan kasa kering dan perawatan terbuka terhadap lamanya waktu pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir di Wilayah UPTD Puskesmas Rawat Inap Maja Lebak – Banten tahun 2022.

BAHAN DAN METODE

Penulis dalam penelitian ini menggunakan penelitian quasy experiment post test with control group design. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah perawatan tali pusat menggunakan kasa kering dan perawatan terbuka, sedangkan varibel terikat dalam penelitian ini adalah lamanya waktu pelepasan tali pusat. Tempat penelitian di wilayah UPTD Puskesmas Rawat Inap Maja Lebak Banten pada bulan Mei 2022. Data dianalisis dengan menggunakan uji Mann Whitney Populasinya adalah seluruh ibu yang melahirkan di wilayah UPTD Puskesmas Rawat Inap Maja Lebak Banten bulan Mei Tahun 2022 sebanyak 34 responden dan jumlah sampel sebanyak 34 responden dengan teknik total sampling. Pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan lembar observasi dan SOP perawatan tali pusat menggunakan kasa kering dan terbuka.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Distribusi Frekuensi Lamanya Waktu Pelepasan Tali Pusat Menggunakan Kasa Kering pada Bayi Baru Lahir di wilayah UPTD Puskesmas Rawat Inap Maja Lebak Banten Tahun 2022

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa lamanya waktu pelepasan tali pusat menggunakan kasa kering seluruhnya berada pada kategori normal yaitu sebanyak 17 responden (100%), sedangkan dalam kategori cepat dan lambat tidak ditemukan dimana lamanya waktu pelepasan tali pusat menggunakan kasa kering diperoleh nilai rata-rata 5,76 hari dengan waktu tercepat 5 hari dan waktu terlama 7 hari. Adapun waktu terbanyak selama 6 hari mencapai 9 bayi, kedua dengan lama 5 hari mencapai 6 bayi terakhir dengan waktu 7 hari mencapai 2 bayi.

Saifuddin (2016) mengatakan bahwa tujuan perawatan tali pusat mencegah terjadinya penyakit tetanus pada bayi baru lahir, agar tali pusat tetap bersih, kuman-kuman tidak masuk sehingga tidak terjadi infeksi pada tali pusat bayi. Paisal (2018) mejelaskan bahwa jika pelepasannya 5-7 hari dikatakan normal.

Azizah et al. (2015) menyatakan bahwa kasa terbuat dari tenunan longgar, bermata besar dan dapat menyerap cairan dengan baik. Proses pelepasan tali pusat perlu difasilitasi oleh udara terbuka. Tali pusat tidak boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab. Selain memperlambat puputnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi. Mardjono dan Sidharta (2017) menegaskan bahwa untuk menjaga tali pusat dalam keadaan kering dianjurkan untuk tidak memberikan bahan atau ramuan apapun pada tali pusat, cukup dengan membersihkan dan membalut dengan kasa kering steril. Sementara itu Ratri (2019) menyatakan bahwa apabila tali pusat ditutup rapat dapat membuat tali pusat menjadi lembab sehingga memperlambat putusnya tali pusat dan menimbulkan resiko infeksi.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa pelepasan tali pusat dalam keadaan normal, hal ini dapat dilihat dari hasil ditemukan lama pelepasan tali pusat antara 5 sampai 7 hari dan tidak ditemukannya bayi yang pelepasan tali pusatnya > 7 hari. Sebelumnya peneliti menganjurkan kepada responden tentang bagaimana melakukan perawatan tali pusat yang menggunakan kasa kering dimana proses penutupannya dilakukan secara longgar. Hal ini dilakukan agar tidak terkontaminasi dan tali pusat cepat mengering, dari hasil trersebut dapat diketahui bahwa ibu mematuhi anjuran dalam melakukan perawatan tali pusat dengan baik, karena berdasarkan hasil observasi tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti tali pusat mengeluarkan nanah, berbau, warna kulit sekitar tali pusat ber warna merah dan bayi tidak mengalami demam.

Menurut peneliti, berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa perawatan tali pusat dengan cara ditutup kain kasa, jika dilakukan dengan baik dengan prinsip tetap bersih dan kering serta cara penutupannya dilakukan secara longgar menjadikan lama pelepasannya juga baik. Berbedanya lama pelepasan tali pusat dengan menggunakan kasa kering yang lama pelepasannya 5 hari ditemukan bahwa proses penutupan kain kasanya dilakukan secara longgar, posisi tali pusat berada di atas popok dengan arah menghadap ke atas. Sementara pada bayi dengan lama pelepasan mencapai 6 hari ditemukan terkadang tali pusat berada di bawah popok dan posisi tali pusat tekadang menghadap ke bawah dan terkadang ke atas, sedangkan pada lama pelepasan tali pusat dengan lama 7 hari ditemukan pada anak laki-laki, jadi meskipun posisi tali pusat berada di atas popok, karena seringnya kena basah akibat kena air kencing bayi dan dilap terus oleh ibunya mempengaruhi lama pelepasan tersebut.

Distribusi Frekuensi Lamanya Waktu Pelepasan Tali Pusat dengan Perawatan Terbuka pada Bayi Baru Lahir di Wilayah UPTD Puskesmas Rawat Inap Maja Lebak Banten Tahun 2022

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa lamanya waktu pelepasan tali pusat dengan perawatan terbuka sebagian besar dengan kategori normal yaitu sebanyak 9 responden (52,9%) dan sebagian kecil dengan kategori cepat yaitu sebanyak 8 responden (47,1%), sedangkan dengan kategori lambat tidak ditemukan. Lamanya waktu pelepasan tali pusat dengan perawatan terbuka diperoleh nilai rata-rata 4,59 hari dengan waktu tercepat 4 hari dan waktu terlama 6 hari. Masing-masing lama waktu pelepasan antara 4 hari dan 5 hari mencapai 8 responden, sedangkan dengan lama waktu 6 hari hanya 1 responden.

Menurut Dewi & Vivian (2017) perawatan tali pusat terbuka ialah perawatan tali pusat yang tidak diberikan perlakuan apapun dimana pelepasannya dengan bantuan udara. Paisal (2018) menegaskan bahwa membiarkan tali pusat terkena udara agar cepat kering dan lepas bahkan pelepasannya bisa kurang dari lima hari. Menurut Aprilia (2014) perawatan terbuka akan membantu pengeringan tali pusat lebih cepat karena pada tali pusat terdapat Jeli Wharton yang banyak mengandung air yang jika terkena udara akan berubah strukturnya dan secara fisiologis berubah fungsi menjadi padat dan mengeklem tali pusat secara otomatis sehingga menyebabkan aliran darah pada pembuluh darah didalam sisa tali pusat terhambat atau bahkan tidak mengalir lagi yang membuat tali pusat kering dan layu yang kemudian sisa tali pusat akan terlepas.

Sodikin (2019) menegaskan bahwa tali pusat pada perawatan terbuka dianjurkan untuk tetap bersih dan kering. Selama tali pusat belum lepas, sebaiknya bayi tidak dimandikan dengan cara dimasukkan ke dalam bak mandi, cukup dilap saja untuk mencegah agar tali pusat tidak basah dan lembab. Menurut Ratri (2019), waktu lepasnya tali pusat pada bayi baru lahir dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu cara perawatan talipusat dan kondisi sanitasi lingkungan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa lama pelepasan tali pusat ditemukan dalam keadaan normal, meskipun demikian ada juga lama pelepasannya dengan cepat yaitu dengan lama pelepasan sekitar 4 hari. Hal ini disebabkan oleh adanya proses penguapan yang cepat dari Jeli Wharton yang banyak mengandung air. Berawal dari adanya pengikatan dan pemotongan tali pusat, maka sisa tali pusat tersebut tidak mendapatkan supplai darah. Ditunjang dengan proses perawatannya dengan cara terbuka, menjadikan Jeli Wharton yang ada dalam tali pusar dimana tempat tersebut mengandung banyak air mengalami penguapan dari udara sekitar, hal inilah yang menjadikan tali pusat menjadi kering, layu dan cepat lepat.

Menurut informasi yang didapat, responden pada saat melakukan perawatan tali pusat sebenarnya merasa takut karena melihat secara langsung proses pengeringan dan pelepasan tali pusat bayinya, akan tetapi adanya support dari bidan bahwa itu tidak apa-apa menjadikan responden percaya bahwa tindakan yang dilakukan dalam keadaan benar.

Perbedaan lama pelepasan pada perawatan tali pusat dengan terbuka, ternyata pada perawatan yang lepasnya hanya 4 hari, ibu tidak memandikan bayinya, hanya di lap dan posisi tali pusat berada di atas popok dan mengarah ke atas sehingga pada saat bayi BAK tidak menjadi basah. Sementara perawatan tali pusat dengan lama waktu 5 hari meskipun posisinya di atas popok, ibu terkadang sering memutupnya dengan kain atau celana bayi. Sementara ditemukan juga yang lepasnya sampai 6 hari, bayi tiap hari dimandikan dan setiap BAK tali pusat suka dibersihkan dengan air dengan alasan takut kena air kencing. Hal inilah yang menjadikan waktu pelepasan tali pusatnya lebih lama, meskipun demikian karena proses perawatannya dengan cara terbuka, menjadikan waktu pelepasannya dalam keadaan normal tidak lebih dari 7 hari.

Perbandingan Perawatan Tali Pusat Menggunakan Kasa Kering dan Perawatan Terbuka Terhadap Lamanya Waktu Pelepasan Tali Pusat pada Bayi Baru Lahir di Wilayah UPTD Puskesmas Rawat Inap Maja Lebak Banten Tahun 2022

Lamanya waktu pelepasan tali pusat dengan menggunakan kasa kering dengan nilai rata-rata 5,76 dan perawatan terbuka dengan nilai rata-rata 4,59 sehingga ditemukan selisih nilai mean (rata-rata) pada lamanya waktu pelepasan tali pusat sebesar 1,17. Hasil uji Mann Whitney diketahui nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,05, maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan perawatan tali pusat menggunakan kasa kering dan perawatan terbuka terhadap lamanya waktu pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir di wilayah UPTD Puskesmas Rawat Inap Maja Lebak Banten Tahun 2022.

Saifuddin (2016) menjelaskan bahwa tali pusat juga tidak boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab. Selain memperlambat puputnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi. Kalaupun terpaksa ditutup, tutup atau ikat dengan longgar pada bagian atas tali pusat dengan kain kasa steril. Cunningham (2017) mengatakan bahwa paparan udara menyebabkan penguapan pada kandungan air dalam Jeli Wharton dan pembuluh darah, sehingga kandungan air berkurang bahkan menghilang. Tali pusat mengalami mumifikasi kemudian mengering dan mengalami perubahan morfologi yang membuatnya cepat terlepas dari umbilikus bayi.

Retniati (2015), menjelaskan apabila perawatan talipusat tidak bersih akan menimbulkan infeksi seperti bernanah, tali pusat lengket dan berbau, kulit dan daerah sekitar tali pusat berwarna kemerahan, dan bayi mengalami demam. Menurut Ratri (2019), waktu lepasnya tali pusat pada bayi baru lahir dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu cara perawatan talipusat, kelembaban dan kondisi sanitasi lingkungan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa lama waktu pelepasan tali pusat antara perawatan terbuka dengan perawatan tertutup atau dengan menggunakan kasa kering lebih cepat dengan perawatan terbuka. Hal ini disebabkan oleh adanya percepatan proses penguapan dari jely wharton melalui udara terbuka sehingga talipusat mudah mengering dan membuatnya cepat terlepas dari umbilikus bayi.

Tali pusat membutuhkan waktu beberapa lama untuk mengering dan kemudian lepas dengan sendirinya. Selama belum kering, kemungkinan untuk terkontaminasi oleh kuman penyakit masih sangat besar. Semakin cepat proses pengeringan tali pusat akan semakin baik, sebab itu, berarti memperkecil kemungkinan untuk terserang infeksi. Dilihat dari hasil penelitian, maka perawatan tali pusat dengan cara terbuka dan tidak ditutup dengan apapun merupakan cara terbaik, akan tetapi perlu memperhatikan kebersihan, proses penyimpanan tali pusat berada di atas popok dan satu lagi posisi tali pusat menghadap ke atas dengan harapan agar tidak terkontaminasi oleh air kencing khususnya bayi laki-laki dimana pada saat BAK suka memancar ke atas.

KESIMPULAN DAN SARAN

Distribusi frekuensi lamanya waktu pelepasan tali pusat menggunakan kasa kering seluruhnya berada pada kategori normal yaitu sebanyak 100%. Distribusi frekuensi lamanya waktu pelepasan tali pusat dengan perawatan terbuka sebagian besar dengan kategori normal yaitu 52,9%. Ada perbedaan perawatan tali pusat menggunakan kasa kering dan perawatan terbuka terhadap lamanya waktu pelepasan tali pusat pada bayi baru lahir di wilayah UPTD Puskesmas Rawat Inap Maja Lebak Banten dengan tingkat signifikansi 0,001.

Diharapkan ibu nifas pada saat melakukan perawatan tali pusat memperhatikan kebersihan, proses penyimpanan tali pusat berada di atas popok dan posisi tali pusat menghadap ke atas dengan harapan agar tidak terkontaminasi oleh air kencing khususnya bayi laki-laki dimana pada saat BAK suka memancar ke atas.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aprilia. (2014). Wharton Jelly Si Jelly Ajaib dalam Tali Pusat. Anigerah.
  2. Azizah, R. A., Nirmasari, C., & Andayani, A. (2015). Perbedaan Waktu Lepasnya Tali Pusat yang dibungkus dengan Kasa Steril dan Perawatan Terbuka pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa Kabupaten Semarang. STIKes Satria Bhakti Nganjuk.
  3. Cunningham, F. G. (2017). Obstetri Williams. EGC.
  4. Dewi, & Vivian, N. L. (2017). Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Salemba Medika.
  5. Evani, S. (2020). Epidemiologi Tetanus, Alomedika Khusus untuk Dokter. In www.alomedika.com. https://www.alomedika.com/penyakit/neurologi/tetanus/epidemiologi
  6. Hidayat, A. A. (2019). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. EGC.
  7. Paisal. (2018). Perawatan Bayi Baru Lahir. EGC.Ratri, W. (2019). Tali Pusat dan Plasenta Bayi. Dunia Sehat.
  8. Retniati, T. R. (2015). Perbedaan Lama Pelepasan Tli Pusat pada BBL yang dirawat Menggunakan Kassa Steril Dibandingkan dengan Kassa Alkohol 70%. Unimus.
  9. Saifuddin, A. B. (2016). Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
  10. Sodikin. (2019). Perawatan Tali Pusat. Jakarta.
  11. Varney, H. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan. EGC.

Pengaruh Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif

33

Yola Yolanda Rahma; Nur Sitiyaroh (Editor); and Nasrawati (Editor)

ABSTRAK

Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan di Klinik Yapida terdapat 80% ibu inpartu yang belum pernah mendengar tentang terapi musik klasik mozart dapat mengurangi rasa nyeri persalinan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi musik klasik mozart terhadap penurunan tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif di Klinik Yapida periode 2022. Metode pada penelitian ini menggunakan Quasy Eksperiment dengan desain penelitian One Group Pretest- Posttest. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin kala I fase aktif di Klinik Yapida pada tanggal 26 Februari 2022 – 09 April 2022 sebanyak 32 orang, teknik pengambilan sampel yaitu Total Sampling. Analisis data menggunakan Uji Paired T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata – rata skala nyeri sebelum diberikan terapi musik klasik mozart adalah 7,16. Rata – rata skala nyeri setelah diberikan terapi musik klasik mozart adalah 3,97. Ada pengaruh pemberian terapi musik klasik mozart terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif (p value 0,000 < 0,05). Sehingga diharapkan penelitian ini mampu memberikan informasi dan edukasi dalam menurunkan tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif dengan menggunakan metode pemberian terapi musik klasik mozart.

Kata Kunci : Terapi Musik Klasik Mozart, Nyeri Persalinan, Ibu Bersalin

PENGANTAR

Semua wanita yang pernah melahirkan tidak akan pernah menyangkal bahwa proses persalinan normal suatu perjuangan antara rasa sakit dan rasa bahagia. Bahkan, mungkin tidak ada wanita yang mengatakan bahwa proses kelahiran sama sekali tidak merasakan sakit. Walaupun demikian, sebenarnya ambang rasa sakit setiap orang bisa berbeda-beda.

Nyeri yang dirasakan ketika ibu pada saat proses persalinan masih tergolong fisiologis tetapi dapat menimbulkan rasa yang sangat tidak nyaman dalam proses menuju persalinan terutama pada ibu primigravida dan multigravida. Secara fisiologis nyeri persalinan dimulai dari kala satu fase laten menuju kala satu fase aktif persalinan yang disebabkan oleh kontraksi uterus yang terjadi terus menerus dan menyebabkan dilatasi serviks atau terjadinya pembukaan pada mulut rahim seorang wanita (Nurhayati, 2019).

Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), Angka Kematian Ibu (AKI) di tahun 2015 erbanyak 216 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup (KH). Saat dijumlahkan menjadi 303.000 kematian ibu berdasarkan angka tersebut, AKB di tahun 2015 adalah 32 per seribu kelahiran hidup (KH). Saat dijumlahkan sesuai angka tersebut maka terdapat 4.450 kematian bayi (WHO, 2017).

AKI di negara – negara ASEAN rata-rata sebesar 40-60 per 100.000 kelahiran hidup. Bahkan, AKI di Singapura sebesar 2-3 per 100.000 kelahiran hidup. Dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SGDs), target AKI adalah 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Terlebih jika dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN, AKI di Indonesia relatif masih sangat tinggi 80/100.000 kelahiran hidup. Jumlah dari 14.640 total kematian ibu yang dilaporkan hanya 4.999, berarti ada 9.461 yang tidak dilaporkan ke pusat. Akibat gangguan hipertensi sebanyak 33,07%, perdarahan obstetrik 27,03%, komplikasi non obstetrik 15,7%, komplikasi obstetrik lainnya 12,04%, infeksi pada kehamilan 6,06% dan penyebab lainnya 4,81% (Kemenkes RI, 2020).

Hingga tahun 2019 AKI di Indonesia masih tetap tinggi yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup perbandingan skala nyeri persalinan dari 78% primipara ditemukan 37% nyeri hebat, 35% nyeri sangat hebat dan 28% nyeri sedang, dengan demikian pengalaman nyeri memberikan rasa yang tidak nyaman bagi klien. Angka Kematian Ibu (AKI) 75% disebabkan oleh komplikasi selama setelah kehamilan dan persalinan (WHO, 2019).

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 angka kematian ibu Nasional sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih dibawah target pemerintah yakni menurunkan AKI hingga 102 per kelahiran hidup. Angka kematian ibu Provinsi Jawa Barat tahun 2014 sebesar 73 per-100.000 Kelahiran hidup. Di bawah ini jumlah kematian ibu berdasarkan kecamatan di Kota Bandung tahun 2015 – 2017 (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2017).

Angka Kematian Ibu (AKI) yang didapatkan baik di dunia, ASEAN, Indonesia dan Provinsi Jawa Barat bisa dikarenakan partus lama. Penyebab partus lama salah satunya karena nyeri persalinan yang dapat menyebabkan aktivitas uterus tidak terkoordinasi yang akhirnya dapat mengancam kehidupan ibu dan janin, serta menyebabkan meningkatnya tekanan darah sistolik sehingga berpotensi terhadap adanya syok kardiogenik (Mander, 2012).

Kondisi nyeri yang hebat pada kala I persalinan memungkinkan para ibu cenderung memilih cara yang paling gampang dan cepat untuk menghilangkan rasa nyeri yang dirasakan. Semakin banyaknya wanita yang ingin melahirkan dengan proses persalinan yang berlangsung tanpa menyebabkan rasa nyeri menyebabkan berbagai cara dilakukan untuk menurunkan rasa nyeri pada persalinan normal. Metode penatalaksanaan nyeri mencakup pendekatan farmakologis dan non farmakologis (Suhati, 2017).

Nyeri menyebabkan berkurangnya motilitas usus serta vesika urinaria. Keadaan ini akan merangsang adanya peningkatan katekolamin yang dapat menyebabkan gangguan pada kekuatan kontraksi uterus sehingga terjadi inersia uteri yang dapat berakibat kematian ibu saat melahirkan. Selain itu inersia uteri menyebabkan ibu sangat kesakitan dan terjadi fetal distress dan meningkatkan kematian bayi kemungkinan infeksi bertambah, kehabisan tenaga serta dehidrasi. Inersia uteri juga menyebabkan kala I lebih panjang dari normal.

Metode pereda nyeri non farmakologis biasanya dipilih karena memiliki resiko yang sangat rendah. Metode pengendalian nyeri non farmakologis mencakup teknik relaksasi, teknik distraksi, masase dan kompres hangat. Salah satu distraksi yang sangat efektif adalah musik, yang dapat menurunkan nyeri fisiologis, stress, serta kecemasan dengan mengalihkan perhatian seseorang dari nyeri. Musik terbukti menunjukkan efek terhadap penurunan tekanan darah dan mengubah persepsi waktu (Suhati, 2017).

Hendro, dkk, tahun 2015 pada kutipannya Journal of the America Association for Music Therapist mengatakan bahwa musik dan nyeri mempunyai persamaan yang sangat penting yaitu keduanya bisa digolongkan sebagai input dan output sensor. Sensori input berarti dapat diartikan bahwa ketika musik terdengar, sinyal dikirim ke otak saat rasa sakit dirasakan manusia. Jika getaran musik dapat dibawa ke dalam resonansi dekat dengan getaran rasa sakit, maka persepsi psikologis rasa sakit dapat diubah dan dihilangkan dengan mudah.

Musik klasik mozart merupakan salah satu jenis musik yang memiliki magnitude yang luar biasa dalam perkembangan ilmu Kesehatan, diantaranya memiliki nada yang lembut, nadanya memberikan stimulasi gelombang alfa, ketenangan, dan membuat pendegarnya lebih rileks karena bertempo 60 ketukan per menit. Bila dibandingkan musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada musik klasik mozart mampu merangsang dan memberdayakan kreatifitas dan motivative diotak. Beberapa peneliti tersebut merekomendasikan musik klasik mozart yang diciptakan oleh Wolfgang Amadeus Mozart, karena aplikasi medis musik mozart yang telah membuktikan hasil yang menakjubkan bagi perkembangan ilmu Kesehatan (Dofi, 2010, Sari & Adilatri, 2012).

Persalinan normal umumnya ditandai dengan adanya kontraksi uterus yangmenyebabkan penipisan mulut rahim, dilatasi serviks, dan mendorong janin keluar melalui jalan lahir sehingga menimbulkan sensasi nyeri yang dirasakan oleh ibu. Menurut Calis (2017) di Amerika Serikat, diperkirakan hampir 90% ibu bersalin mengalami nyeri pada saat persalinan berlangsung.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada masyarakat primitif, persalinannya lebih lama serta dirasakan nyeri, sedangkan masyarakat yang telah maju 7-14% bersalin tanpa rasa nyeri dan sebagian besar (90%) persalinan disertai rasa nyeri. Tingginya presepsi nyeri yang dirasakan oleh ibu bersalin sehingga kebanyakan dari mereka tidak memfokuskan ke kelahiran bayinya, tetapi justru mereka lebih memfokuskan pada nyeri persalinan yang akan dirasakan dan akan dijalaninya (Handayani et al, 2018).

Dari pengalaman ibu inpartu, ibu mengatakan merasakan nyeri pada saat kontraksi berlangsung dan tindakan yang dilakukan ibu untuk mengatasi nyeri dengan mengatur pernafasan saat terjadi kontraksi. Berdasarkan survey pendahuluan dengan metode wawancara yang dilakukan peneliti tanggal 25 Februrari 2022 di Klinik Yapida pada ibu inpartu terdapat 8 dari 10 responden (80%) yang mengatakan belum pernah mendengar tentang terapi musik klasik mozart dapat mengurangi rasa nyeri persalinan. Dari latar belakang diatas peneliti tertarik melakukan penelitian tentang “Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif di Klinik Yapida Periode 2022”.

METODE

Metode pada penelitian ini menggunakan quasy eksperiment dengan desain penelitian one group pretest- posttest pada kelompok yang diberikan metode pmeberian terapi musik klasik mozart.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu inpartu kala I fase aktif yang ada di Klinik Yapida pada tanggal 26 Februari 2022 – 09 April 2022 sebanyak 32 responden. Sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu semua ibu bersalin kala 1 fase aktif yang ada di Klinik Yapida. Lalu disertai kriteria inklusi yaitu ibu inpartu yang mengalami nyeri pada proses persalinan kala I fase aktif tanpa pengaruh analgesik atau obat anti nyeri, ibu inpartu dengan presentasi kepala, dan ibu inpartu yang tidak memiliki gangguan pendengaran. Sedangkan kriteria eksklusi yaitu ibu inpartu yang mempunyai penyakit penyerta seperti hipertensi, DM, jantung dan gangguan pendengaran, ibu inpartu dengan penyulit kehamilan seperti gemelli, sungsang, dan CPD.

Penelitian ini menggunakan skala verbal dan numerik untuk mengetahui tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif, Pengisian lembar observasi oleh peneliti dilakukan sebanyak dua kali, yaitu sebelum dan sesudah dilakukan terapi musik klasik mozart. Lalu peneliti menggunakan metode pengumpulan data dengan mewawancarai responden setelah mendapatkan persetujuan dari responden untuk menjadi responden penelitian Setelah mendapatkan hasil responden pada pengisian lembar observasi peneliti melakukan pengolahan data dan analisa data.

Data frekuensi dan rata-rata tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif sebelum dan sesudah diberikan terapi musik klasik mozart diolah menggunakan analisis univariat, sedangkan untuk menguji sebaran data pre-test dan post-test tersebut berdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan Uji Normalitas. Apabila data tersebut berdistribusi normal p value > 0,05 maka peneliti menggunakan uji Paired T- Test untuk melakukan analisis bivariat.

HASIL DAN DISKUSI

Dalam melakukan penelitian, peneliti mengalami beberapa kendala di antaranya keterbatasan responden penelitian dikarenakan tidak semua responden bersedia dilakukan terapi musik klasik mozart mengingat penelitian ini diambil di masa pandemi Covid-19, maka dari itu peneliti hanya memiliki 32 responden.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dilakukan intervensi sebagian besar responden berada pada kategori nyeri berat berjumlah 15 oroang (46,9%). Namun nilai rata – rata skala nyeri persalinan sebelum diberikan terapi musik klasik mozart adalah 7,16 dengan St. Deviasi 1,298 dengan skala nyeri tertinggi 9 dan terendah 5.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh KH. Endah, dkk (2016) tentang pemberian terapi musik instrumental terhadap penurunan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif di 3 bidan praktek mandiri Ngemplak Boyolali dengan nilai rata-rata sebelum intervensi mencapai nyeri berat sebanyak 22 orang (68,8%) dan nyeri sedang sebanyak 10 orang (31,2%). Intensitas nyeri numerik setelah dilakukan terapi musik intrumentalia diketahui responden dengan nyeri berat sebanyak 3 orang (9,4%), nyeri sedang sebanyak 25 orang (78,1%) dan nyeri ringan sebanyak 4 orang (12,5%). Hasil uji statistik dengan paired sample t-test menunjukkan p value 0,000 < 0,05 sehingga ada pengaruh terapi musik instrumentalia terhadap penurunan intensitas nyeri pada persalinan kala I fase aktif di 3 bidan praktek mandiri Ngemplak Boyolali.

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa nyeri persalinan merupakan proses fisiologis dengan intensitas yang berbeda pada masing-masing individu. Nyeri persalinan merupakan kondisi fisiologis yang secara umum dialami oleh hampir semua ibu bersalin (Suhati, 2017). Rasa nyeri persalinan ini menjalar dari pinggang bagian belakang ke perut, dan terasa mulas seperti orang sakit perut. Waktu yang dibutuhkan pada proses pembukaan serviks berbeda-beda pada tiap individu. Biasanya pada pembukaan timbul rasa nyeri (Suhati, 2017). Intervensi non farmakologi yang dapat diberikan pada ibu menjelang persalinan dengan membuat ibu siap secara fisik dan mental dalam menghadapi persalinan, seperti diantaranya dengan terapi musik. Terapi musik pada managemen persalinan suatu bentuk kegiatan yang mempergunakan musik dan lagu/nyanyian secara terpadu dan terarah didalam membimbing ibu selama menghadapi persalinan untuk mencapai tujuan relaksasi bagi ibu saat nyeri kontraksi yang dirasakan.

Sedangkan hasil penelitian sesudah dilakukan intervensi sebagian besar responden berada pada kategori nyeri sedang berjumlah 21 orang (65,6%). Hasil analisis data univariat setelah dilakukan terapi musik klasik mozart diperoleh hasil rata – rata skala nyeri persalinan 3,97 dengan St. Deviasi 1,356 dengan skala nyeri tertinggi 6 dan terendah 2.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fetrisia (2011) menyatakan bahwa intensitas nyeri responden sebelum dilakukan intervensi rata-ratanya adalah 2,59 dengan standar deviasi 0,49. Sedangkan rata-rata intensitas nyeri responden setelah dilakukan intervensi adalah 1,97 dengan standar deviasi 0,59. Dari uji statistik dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara intensitas nyeri sebelum dilakukan intervensi dan setelah dilakukan intervensi (nilai P < 0,05). Terapi musik adalah pemanfaatan kemampuan musik dan elemen musik untuk meningkatkan rasa nyaman, memperbaiki mental, emosional, dan kesehatan spiritual klien. Terapi musik yang dapat diberikan pada ibu dalam menghadapi persalinan diharapkan dapat mengurangi kecemasan dan nyeri akibat persalinan.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2009) di RSUP DR Soeradji Tirtonegoro yang menyatakan bahwa terapi musik mempunyai pengaruh terhadap tingkat nyeri persalinan, dimana sebelum diberikan terapi musik 20 pasien mengalami nyeri ringan yaitu 64,5%, dan 11 orang (36,5%) mengalami nyeri sedang, setelah diberikan terapi musik 19 orang tidak mengalami nyeri yaitu 61 % dan 12 orang (39%) mengalami nyeri ringan.

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa metode terapi non- farmakologi dalam menurunkan rasa nyeri pada pasien saat persalinan dapat beragam, terapi non-farmakologi diduga juga dapat mendorong komponen psikoemosional dan spiritual sehingga dapat meningkatkan kesiapan pasien dalam bersalin. Beberapa metode terapi non-farmakologi yang dapat dipilih diataranya adalah massase dan sentuhan, pergerakan dan posisi, teknik bernafas dengan relaksasi, aplikasi panas / dingin, dan terapi musik. (Suhati,2017).

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji statistik dengan uji paired t-test diperoleh nilai sig. (paired samples correlations) sebesar 0,008 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara skala nyeri sebelum dan sesudah intervensi karena nilai p value 0,008 (0,008 < 0,05). Sedangkan nilai sig. (2-tailed) 0,000. Mean pada kelompok sebelum intervensi sebesar 7,16 dengan standar devisiasi 1,298 dan mean pada kelompok sesudah intervensi sebesar 3,97 dengan standar devisiasi 1,356. Dan didapatkan selisih mean adalah 3,19. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh skala nyeri dengan diberikannya terapi musik klasik mozart. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, terapi musik klasik mozart efektif dilakukan untuk mengurangi nyeri persalinan karena adanya perbedaan yang signifikan terbukti dengan sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05.

Dalam penelitian ini, terapi musik difokuskan pada tujuan relaksasi sehingga pengurangan nyeri dapat dicapai. Saat musik khusus terapi diperdengarkan, otak tengah akan merangsang peningkatan endorphin hormone dan Gama Amino Butyric Acid (GABA) yang akan berfungsi sebagai neuorotransmitter inhibitor, hal ini mengakibatkan impuls nyeri pada pusat persepsi menurun (Guyton dan Hall, 2014). Dari beberapa penelitian tentang pengaruh berbagai jenis musik klasik, akhirnya banyak dari peneliti tersebut menganjurkan musik klasik mozart yang diciptakan oleh Wolfgang Amadeus Mozart karena aplikasi medis musik mozart telah membuktikan hasil yang menakjubkan bagi perkembangan ilmu kesehatan (Novita, 2012).

Durasi musik klasik mozart yang diterapkan pada penelitian ini adalah selama 30 menit. Hal ini mengacu pada penelitian- penelitian sebelumnya mengenai durasi musik klasik mozart dalam penelitian ini juga sesuai dengan American Holistic Nurses Association yang menyatakan bahwa dari hasil penelitian didapatkan bahwa pasien kanker yang menerima terapi musik selama 30 menit secara signifikan dapat menurunkan nyeri dibandingkan dengan kelompok kontrol (Helming, et al, 2014). Jafari, et al (2012), dalam penelitiannya mengenai pengaruh mendengarkan musik terhadap intensitas nyeri post operasi jantung juga menunjukkan hasil bahwa setelah diberikan musik selama 30 menit dapat mengurangi nyeri pada pasien post operasi jantung. Durasi terapi musik biasanya diantara 25-49 menit dimana waktu tersebut merupakan durasi pasien mempertahankan kondisi emosionalnya. Penelitian ini menunjukan bahwa terapi musik klasik mozart dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri persalinan. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sari dan Adilatri, 2012 dengan musik klasik mozart yang memiliki tempo antara 60 sampai 80 ketukan per menit mampu membuat seseorang yang mendengarkannya menjadi rileks.

Hasil penelitian itu sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Inah (2017) dengan judul ”Pengaruh Terapi Musik Terhadap Intensitas Nyeri Pada Ibu Primigravida Salah Satu Fase Aktif Persalinan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara sebelum intervensi dan sesudah intervensi. musik terhadap tingkat nyeri kala I fase aktif persalinana normal ibu primipara.

Menurut asumsi peneliti berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa terapi musik klasik mozart efektif dilakukan untuk mengurangi nyeri persalinan sehingga ibu menjadi lebih rileks dan nyaman. Selain itu terapi musik klasik mozart dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan ear phone dengan hanya menyetel musik klasik mozart by youtube.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dengan judul “Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif di Klinik Yapida Peiode 2022” maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Sebelum dilakukan terapi musik klasik mozart menunjukkan bahwa dari 32 responden, sebagian besar responden berada pada kategori nyeri berat berjumlah 15 orang (46,9%). Dan rata – rata skala nyeri persalinan sebelum diberikan terapi musik klasik mozart adalah 7,16 dengan St. Deviasi 1,298 dengan skala nyeri tertinggi 9 dan terendah 5.

  2. Setelah dilakukan terapi musik klasik mozart menunjukkan bahwa dari 32 responden, sebagian besar responden berada pada kategori nyeri sedang berjumlah 21 orang (65,6%). Dan rata – rata skala nyeri persalinan setelah diberikan terapi musik klasik mozart adalah 3,97 dengan St. Deviasi 1,356 dengan skala nyeri tertinggi 6 dan terendah 2.

  3. Terdapat penurunan yang signifikan intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif setelah pemberian terapi musik klasik mozart dengan selisih mean 3,19. Hasil uji statistik diperoleh ada pengaruh yang signifikan antara skala nyeri persalinan sebelum dan setelah diberikannya terapi musik klasik mozart karena p value 0,000 (0,000<0,05).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aizid, R. (2011). Sehat Dan Cerdas Dengan Terapi Musik (hal. 103). Yogyakarta: Laksana.
  2. Andreana (2006). Melahirkan Tanpa Rasa Sakit. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.
  3. Arikunto, S. (2012). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
  4. Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
  5. Calis, K.A., (2017). Dysmenorrhea. E- medicine Obstetrics and Gynecology. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2021 dari https://emedicine.medscape.com/article/253812-overview.
  6. Campbell, D. (2012). Efek mozart, memanfaatkan kekuatan musik untuk mempertajam pikiran, meningkatkan kreativitas, dan menyehatkan tubuh. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  7. Chiang, L. (2012). The Effect of Musik and Nature Sounds on Cancer Pain and Anxiety in Hospice Cancer Patients. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2021 dari https://etd.ohiolink.edu/ap:10:0:NO:10: P10:_ETD_SUBID:52706.
  8. Dewi, Y.P. (2007). “Perbedaan Pemberian Teknik Relaksasi Nafas Dalam dan Terapi Mudik Terhadap Tingkat Nyeri Pasien Post Opeerasu dengan Anastesi Umum di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto” Skripsi, Program Studi Diploma IV Keperawatan Klinik Medikal Bedah. Politeknik Kesehatan Semarang.
  9. Diana, Sulis. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Surakarta : CV Oase Group.
  10. Dinas Kesehatan Jawa Barat. (2017). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2021 dari http://diskes.jabarprov.go.id/dmdocum ents/01b3018430a412a520e2 b4a4b9d98647.pdf.
  11. Djohan. (2006). Terapi Musik “ Teori dan Aplikasi. Galang Press: Yogyakarta.
  12. Dofi, Bellavia A. (2010). Psikologi Musik Terapi Kesehatan. Jakarta: Golden Terayon Press.
  13. Donsu, J. D. T. (2016). Metodologi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
  14. Eka, E. (2016). Mengenal Terapi Musik, Pusat Riset Terapi Musik : Holistic Solution Center. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2021dari https://m.terapimusik.com/tera pi_musik.htm.
  15. Eva Nur Azizah dan Sukma Amperiana. (2018). Jurnal Health Care Media.
  16. Diakses pada tanggal 13 Okyober 2021 dari https://stikeswchmalang.ejournal.id/He alth/article/view/80.
  17. Fetrisia, W. (2011). Efek Terapi Musik Klasik terhadap Nyeri Persalinan di Klinik Bersalin Ananda, Medan: Program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Diakses pada tanggal 10 April 2022 dari https://repository.usu.ac.id/handle/1234 56789/27173.
  18. Guyton, A. C., Hall, J. E. (2014). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 12. Jakarta : EGC.
  19. Handayani, R. S., et al. (2018). “Perbandingan Pengaruh Aromaterapi Mawar Dan Massage Effleurage Terhadap Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif”. Jurnal Bidan4 (2). Diakses pada tanggal 13 Oktober 2021 dari http://jurnal.ibijabar.org/wpcontent/uploaps/2018/08/Perbandingan-Pengaruh-Aromaterapi-Mawar-Dan-Massage-Effleurage-Terhadap-Nyeri-Persalinan-Kala-I-Fase-Aktif.Pdf.
  20. Helming, M., Cynhia C.B., Karen A & Deborah S. (2014). Core Curriculum For Holistic Nursing Second Edition. USA : American Holistic Association.
  21. Hendro, dkk. (2015). Pengaruh Pemberian Musik Terhadap Skala Nyeri Akibat Perawatan Luka Bedah Pada Pasien Pasca Operasi. Universitas Sam Ratulangi Manado Fakultas kedokteran.
  22. Inah, Safri. (2017). Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forum Ilmiah Kesehatan (Forikes). Diakses pada tanggal 13 Oktober 2021 dari https://forikesejournal.com/index.php/S F/article/view/128.
  23. Jafari, Zeydi, Khani, Esmaeli & Soleimanii. (2012). The effects of listening to preffered music on pain intensity after open heart surgery. PubMed. Jan;17(1):1-6.
  24. JNPK-KR. (2014). Buku Asuhan Persalinan Normal. Departemen Kesehatan : Jakarta. 4-6.
  25. JNPK-KR. (2017). Buku Asuhan Persalinan Normal. Departemen Kesehatan : Jakarta. 4-6.
  26. Joanna Briggs Institute. (2009). Music as an Intervention in Hospitals. Diakses tanggal 1 Oktober 2021 dari http://connect.jbiconnectplus.org/View SourceFile.aspx?0=493.
  27. Judha. (2012). Teori pengukuran nyeri dan nyeri persalinan. Yogjakarta : NuhaMedika.
  28. Kemenkes R.I. (2020). Angka Kematian Ibu. Kementrian Kesehatan RepublikIndonesia. Jakarta.
  29. KH. Endah Widhi Astuti, RD Rahayi, Noris Hadi Sri Mulyani. (2016). Jurnal Kebidanan Dan Kesehatan Tradisional. Diakses pada tanggal 13 Oktober 2021 dari http://jurnal.poltekkessolo.ac.id./indez. php/JKK/article/view/246.
  30. Kusuma, R. T. (2009). Pengaruh Musik Klasik Mozart Andante Piano Concerto no 21 IN C Major KV 467 Terhadap Konsentrasi Pada Pria Dewasa Normal. Skripsi. Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha.
  31. Maharani, Anjar. (2013). Durasi Pemberian Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Anak. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Jurusan Keperawatn Universitas Jendral Soedirman : Jurnal Psikologi.
  32. Mander, R. (2012). Nyeri Persalinan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  33. Manuaba, I. B. G. (2010). Gadar Obstettri dan Ginekologi Social Untuk Profesi Bidan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  34. Maryunani, A & Sukaryati Y. (2011). Senam Hamil, Senam Nifas dan Terapi Musik. Jakarta: CV. Trans Invo Media.
  35. Mucci & Mucci. (2002). The Healing Sound Of Music: Manfaat Musik Untuk Kesembuhan, Kesehatan Dan Kebahagiaan Anda. Jakarta : Gramedia Pustaka Umum.
  36. Natalia, Dian. (2013). Terapi Musik Bidang Keperawatan. Jakarta : Mitra Wacana Media.
  37. Nilsson, U. (2009). Caring Music : Music Intervention For Improved Health. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2021 dari www.orebroll.se/uso/page_2436.aspx.
  38. Notoatmodjo, S. (2010). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
  39. Notoatmodjo, S. (2018). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
  40. Novita, Dian. (2012). Pengaruh Terapi Musik Terhadap Tingkat Nyeri pada pasien pasca operasi Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Tesis tidak diterbitkan. 2012. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2021 dari http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20 328120-T30673persen20 persen20Pengaruhpersen20terapi.pdf.
  41. Nurhayati, Eka. (2019). Patologi dan Fisiologi Persalinan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
  42. Potter, P.A., Perry, A.G., Stockert, P.A., Hall, A.M. (2013). Fundamentals of nursing. 8th ed.St. Louis, Missouri: Elsevier Mosby.
  43. Pratiwi, NM. (2009). Pengaruh Terapi Musik Klasik terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi di RSUP DR. Soeradji Tirtonegoro Klaten, Yogyakarta: Thesis, Fakultas Psikologi Universitas Veteran Yokyakarta. Diakses pada tanggal 10 April 2022 dari https://skripsistikes.wordpress.com/200 9/05/03/ikpiii116/.
  44. Prawiroharjo, S. (2014). Ilmu kebidanan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
  45. Sari, P. dan Adilatri, S.A. (2012). Perbedaan Terapi Musik Klasik Mozart dengan Terapi Musik Kesukaan Terhadap Intensitas Nyeri Haid Pada Remaja Putri Di SMA Negeri 5 Denpasar Tahun 2012.
  46. Schou, K. (2007). Music therapy for post operative cardiac patients, a randomized controlled trial evaluating guided relaxation with music and music istening on anxiety, pain, and mood. Dissertation Thesis. Department of Communication: Aalborg University. Diakses pada tanggal 3 Oktober 2021 dari http://www.mtphd.aau.dk/digitalAssret s/6/6484_karin_schou_thesis.pdf.
  47. Schou, K. (2008). Music therapy for post operative cardiac patients, a randomized controlled trial evaluating guided relaxation with music and music istening on anxiety, pain, and mood. Dissertation Thesis. Department of Communication: Aalborg University. Diakses pada tanggal 3 Oktober 2021 dari http://www.mtphd.aau.dk/digitalAssret s/6/6484_karin_schou_thesis.pdf.
  48. Solehati, T. & Kosasih. (2015). Konsep dan Aplikasi Relaksasi dalam Keperawatan Maternitas. Bandung : PT Refika Aditama.
  49. Suhati. (2017). Persalinan Tanpa Nyeri Berlebihan. Yogyakarta : Ar-Ruz Media.
  50. World Health Organization (WHO). (2017) World Health Statistic 2017: Monitoring Health For The SDGs. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2021 dari https://apps.who.int/iris/bitstream/handl e/10665/255336/9789241565486eng.p df;jsessionid=C69DE92C71DAA92B6 F5EF66BD41FEA40?sequence=1
  51. World Health Organization (WHO). (2019). Adolescent health ; Available from: Diakses pada tanggal 1 Oktober 2021 dari https://www.who.int/news- room/spotlight/coming-of-age- adolescent-health.
  52. Wilgram, A. (2002). Thee Effects Of Vibroacustic Therapy on Clinical and Non- clinical Population. St. George’s Hospital Medical School London University.

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Menyusui tentang Teknik Menyusui dengan Kejadian Bendungan ASI pada Ibu Post Partum

34

Febriana Yosia Eva and Lia Idealistiana (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : Menurut data WHO tahun 2017 di Amerika serikat ibu menyusui yang mengalami bendungan ASI rata-rata sebanyak 87,05%, tahun 2018 sebanyak 66,87% dan pada tahun 2019 sebanyak 66,34%. Menurut data ASEAN, presentase cakupan bendungan ASI pada ibu nifas dengan angka tertinggi terjadi di Indonesia (37,12%). Dampak yang akan ditimbulkan jika bendungan ASI tidak teratasi yaitu akan terjadi mastitis dan abses payudara. Salah satu faktor yang mempengaruhi bendungan ASI adalah teknik menyusui yang kurang benar. Kurangnya pengetahuan tentang teknik menyusui dapat mempengaruhi keberhasilan menyusui. Tujuan Penelitian : Diketahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu menyusui tentang teknik menyusui dengan kejadian bendungan ASI. Metode Penelitian : Analitik dengan menggunakan merode cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu postpartum di BPM Maesaroh pada bulan April 2022 sebanyak 35 orang, teknik pemgambilan sampel yaitu total sampling. Hasil Penelitian : Distribusi frekuensi bendungan ASI sebanyak 28,6%, sebagian besar responden berpengetahuan cukup 45,7% dan sikap positif 71,4%. Adanya hubungan pengetahuan dan sikap ibu menyusui tentang teknik menyusui dengan kejadian bendungan ASI pada ibu postpartum dengan nilai p value < 0,05. Kesimpulan dan Saran : Ada hubungan pengetahuan dan sikap ibu menyusui tentang teknik menyusui dengan kejadian bendungan ASI pada ibu postpartum.

Kata Kunci : Bendungan ASI, Pengetahuan, Sikap

PENDAHULUAN

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), kematian ibu didefinisikan sebagai kematian yang terjadi saat masa kehamilan atau dalam kurun waktu 42 hari setelah persalinan. World Health Organization (WHO) tahun 2020, menyebutkan sebanyak 295.000 wanita di seluruh dunia kehilangan nyawa mereka selama dan setelah kehamilan dan melahirkan. Penyebab langsung kematian ibu sebesar 90% adalah komplikasi yang terjadi pada saat persalinan dan setelah bersalin. Penyebab tersebut dikenal dengan “Trias Klasik” yaitu perdarahan (30,0%), hipertensi (27,1%), infeksi (7,3%), partus lama (1,8%), abortus (1,6%) dan lain-lain (40,8%,). Infeksi pada masa nifas juga dapat disebabkan karena adanya masalah laktasi. Masalah laktasi yang dapat terjadi yaitu Bendungan ASI (WHO, 2020).

Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2017 di Amerika serikat presentase perempuan menyusui yang mengalami bendungan ASI rata-rata sebanyak 8.242 (87,05%) dari 12,765 ibu nifas, pada tahun 2018 ibu yang mengalami bendungan ASI sebanyak 7.198 (66,87%) dari 10,764 ibu nifas dan pada tahun 2019 terdapat ibu yang mengalami bendungan ASI sebanyak 6.543 (66,34%) dari 9,862 ibu nifas (WHO, 2020).

Menurut data Association of southeast Asian Nations (ASEAN) tahun 2017 presentase cakupan bendungan ASI pada ibu nifas di 10 negara yaitu, Indonesia, Thailand, Laos, Myanmar dan kamboja tercatat 107,654 ibu nifas, pada tahun 2018 ibu nifas yang mengalami bendungan ASI sebanyak 95,698 (66,87%) ibu nifas, serta pada tahun 2019 ibu yang mengalami bendungan ASI 76,543 (71,10%) dengan angka tertinggi terjadi di Indonesia (37,12%). Di Indonesia angka kejadian bendungan ASI pada ibu nifas berkisar antara 10%-20% dari populasi ibu nifas. Ini berarti setiap tahun jumlah penderita bendungan ASI di Indonesia berkisar 2,3 juta dari total ibu nifas (Depkes RI, 2020).

Dampak yang akan ditimbulkan jika bendungan ASI tidak teratasi yaitu akan terjadi mastitis dan abses payudara. Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah, bengkak kadang kala di ikuti rasa nyeri panas dan suhu tubuh meningkat. Didalam terasa ada massa pada (lump) dan diluar kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Sedangkan Abses payudara merupakan komplikasi lanjutan setelah terjadinya mastitis dimana terjadi penimbunan nanah didalam payudara (Walyani, 2017).

Beberapa faktor yang mempengaruhi bendungan ASI adalah teknik menyusui yang kurang benar, pengosongan mamae yang tidak sempurna, hisapan bayi yang tidak efektif, puting susu terbenam dan puting yang panjang, pengetahuan, pengalaman dan peran tenaga kesehatan yang paling dominan dalam memberi penyuluhan cara perawatan payudara (Saleha, 2017).

Salah satu upaya untuk mencegah bendungan ASI yaitu dengan perawatan payudara atau breast care. Perawatan payudara bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran produksi ASI sehingga memperlancar pengeluaran ASI. Rangsangan taktil saat perawatan payudara dapat menstimulasi hormon prolaktin dan oksitosin yang membantu bayi mendapatkan ASI (Gustirini, 2021). Teknik menyusui merupakan faktor penting yang dapat meningkatkan terjadinya bendungan ASI. Posisi dan perlekatan bayi pada payudara ibu secara tepat dalam teknik menyusui akan mengurangi kemungkinan terjadi masalah dalam proses menyusui seperti lecet pada putting dan bendungan ASI (Sulistyawati, 2018).

Kurangnya pengetahuan tentang teknik menyusui dapat mempengaruhi keberhasilan menyusui. Teknik menyusui yang benar harus diperhatikan ketika ibu sedang melakukan pemberian ASI. Pada wanita yang sedang menyusui, apabila teknik menyusuinya tidak benar akan menyebabkan puting susu lecet, pengeluaran ASI yang tidak lancar dan rasa nyeri yang timbul apabila ibu menghentikan menyusui dengan kurang hati-hati. Pengeluaran ASI yang tidak lancar dan tidak adekuat bila didukung dengan waktu menyusu terbatas maka dapat menyebabkan bendungan ASI (Kumorojati dan Windayani, 2017).

Berdasarkan survey awal pada bulan Maret 2022 terdapat 35 ibu menyusui di BPM Maesaroh Tahun 2022 yang dilakukan secara langsung melalui kunjungan dengan memberi pertanyaan atau kuesioner pada 35 ibu menyusui, ternyata dari 10 ibu menyusui yang telah didata terdapat masalah yaitu 10 ibu menyusui yang mengalami bendungan ASI pada hari ke 3 sampai hari ke 5 post partum dan 25 ibu menyusui yang tidak mengalami bendungan ASI. Dari 10 ibu menyusui yang mengalami bendungan ASI tersebut didapati penyebab terjadinya bendungan ASI yaitu ibu yang pengetahuan kurang dalam menyusui dan faktor atau penyebab dari kurang tersebut karena teknik menyusui salah dan sikap ibu dalam menyusui. Dari uraian dan permasalahan diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu menyusui tentang teknik menyusui dengan kejadian bendungan ASI di BPM Maesaroh Kabupaten Tangerang tahun 2022”.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian menggunakan analitik dengan metode cross sectional. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner.Instrumen pengambilan data yang digunakan adalah kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu postpartumdi Klinik Mayheru pada bulan April 2022 sebanyak 35 orang, teknik pemgambilan sampel yaitu total sampling. Metode analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji chi square.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kejadian Bendungan ASI pada Ibu Postpartum

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 35 responden sebagian besar tidak mengalami bendungan ASI sebanyak 25 orang (71,4%) dan yang mengalami bensungan ASI sebanyak 10 orang (28,6%).

Bendungan ASI adalah terjadinya pembengkakan pada payudara karena peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan (Prawihardjo, 2018). Bendungan Air Susu Ibu adalah terjadinya pembengkakan pada payudara karena peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri di sertai kenaikan suhu badan (Maryunani, 2017).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Joharmi (2021) yang mengatakan bahwa didapatkan 46,0% ibu postpartum mengalami bendungan ASI. Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian Dessiya Rahayu (2020) yang mengatakan bahwa didapatkan ibu postpartum yang mengalami bendungan ASI sebanyak 35,0%.

Menurut asumsi peneliti dari hasil penelitian ibu postpartum yang mengalami bendungan ASI adalah ibu primipara yang belum mempunyai pengalaman dalam menyusui. Terjadinya bendungan ASI pada ibu postpartum disebabkan oleh banyak faktor antara lain kurangnya perawatan payudara selama hamil dan menyusui, teknik menyusui yang salah, kurangnya pengetahuan ibu dan masih banyak lagi. Bendungan ASI yang terjadi sejak hari ketiga sampai hari ke enam persalinan, ketika ASI secara normal dihasilkan, payudara menjadi sangat penuh. Payudara yang terbendung membesar, membengkak, dan sangat nyeri. Payudara dapat terlihat mengkilat dan edema dengan daerah eritema difus. Putting susu teregang menjadi rata, ASI tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI.

Hubungan Pengetahuan Tentang Teknik Menyusui dengan Kejadian Bendungan ASI pada Ibu Postpartum

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 7 responden yang berpengetahuan baik semuanya tidak mengalami kejadian bendungan ASI sebanyak 7 orang (100,0%), dari 16 responden yang berpengetahuan cukup sebagian besar tidak mengalami kejadian bendungan ASI sebanyak 14 orang (87,5%), dan dari 12 responden yang berpengetahuan kurang sebagian besar mengalami kejadian bendungan ASI sebanyak 8 orang (66,7%). Hasil penelitian menunjukkan uji statistic Chi-Square diperoleh nilai p. 0,001 (p.value < 0,05) yang berarti ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang teknik menyusui dengan kejadian bendungan ASI pada ibu postpartum.

Menurut Notoatmodjo (2018), pengetahuan dapat diperoleh dari pendidikan formal maupun pendidikan informal seperti pelatihan, penyuluhan, pengalaman atau informasi lainnya. Pengetahuan memegang peranan penting dalam menentukan sikap yang utuh. Pengetahuan akan membentuk kepercayaan yang selanjutnya akan memberikan perspektif pada manusia dalam mempersiapkan kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan membentuk sikap terhadap suatu obyek tertentu. Dalam penelitian ini, tingkat pengetahuan yang dimiliki ibu tentang bendungan ASI terdapat 7 responden yang memiliki pengetahuan dengan baik.

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori dalam proses laktasi kadang terjadi keganjalan yang sering disebabkan karena berbagai masalah, baik masalah ibu maupun bayi, beberapa faktor yang mempengaruhi Bendungan ASI adalah teknik menyusui yang kurang benar, pengosongan mamae yang tidak sempurna, hisapan bayi yang tidak efektif, putting susu terbenam dan putting yang panjang, pengetahuan pengalaman dan peran tenaga kesehatan yang paling dominan dalam memberi penyuluhan perawatan payudara (Manuaba IBG, 2018).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Joharmi (2021) yang mengatakan bahwa hasil uji Chi Square test diperoleh p value = 0,028 < α (0,05), berarti Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa ada Pengaruh yang signifikan antara pengetahuan Ibu Terhadap Terjadinya Bendungan ASI pada Ibu Post Partum.

Menurut Asumsi peneliti dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpengetahuan cukup dan tidak terjadi bendungan ASI, hal ini dikarenakan ibu yang berpengetahuan cukup dan mendapatkan konseling dari tenaga kesehatan menjadikan pengetahuan ibu lebih baik dan mengetahui cara mencegah biar tidak bendungan ASI. Bagi responden yang berpengetahuan kurang sebagian besar mengalami bendungan ASI, hal ini dikarenakan ibu yang berpengetahuan kurang sulit untuk memahami dan tidak mengetahui bagaimana cara mencegah supaya tidak terjadi bensungan ASI. Pengetahuan merupakan hal yang penting, pengetahuan bisa didapatkan karena pengalaman terdahulu atau informasi yang didapatkan dari orang lain. Jika pengetahuan yang dimiliki tidak mencukupi maka akan berakibat tidak baik untuk kesehatan. Hasil pengetahuan yang kurang baik dan terjadinya bendungan ASI dikarenakan ibu yang tinggal di daerah tersebut mayoritas berpendidikan menengah dan tidak bekerja hal ini berpengaruh terhadap pengetahuan ibu karena dengan pendidikan tinggi dan rutinitas kerja dapat mendorong kemauan ibu untuk mencari sumber informasi tentang terjadinya bendungan ASI.

Hubungan Sikap Ibu Menyusui dengan Kejadian Bendungan ASI pada Ibu Postpartum

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 25 responden yang bersikap positif sebagian besar tidak mengalami kejadian bendungan ASI sebanyak 22 orang (88,0%), dan dari 10 responden yang bersikap negatif sebagian besar mengalami kejadian bendungan ASI sebanyak 7 orang (70,0%). Hasil penelitian menunjukkan uji statistic Chi-Square diperoleh nilai p. 0,002 (p.value < 0,05) yang berarti ada hubungan yang bermakna antara sikap ibu menyusui dengan kejadian bendungan ASI pada ibu postpartum.

Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang – tidak senang, setuju-tidak setuju, baik – tidak baik, dan sebagainya). Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Dalam kata lain, fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan faktor predisposisi perilaku (reaksi tertutup) (Notoatmodjo, 2018).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Penti Dora Yanti (2018) yang mengatakan bahwa hasil uji statistik menunjukkan p value = 0,003 < α 0,05 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang perawatan payudara dengan kejadian bendungan ASI dan untuk variabel sikap p value = 0,001 < α 0,05 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara sikap tentang perawatan payudara dengan kejadian bendungan ASI.

Menurut asumsi peneliti, dari hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden bersikap positif dan tidak terjadi bendungan ASI, hal ini dikarenakan responden sudah memiliki pengetahuan yang baik tentang menyusui sehingga dengan pengetahuan yang baik maka timbulnya sikap yang positif. Bagi responden yang bersikap negatif sebagian besar terjadi bendungan ASI, hal ini dikarenakan sikap negatif yang dimiliki responden disebabkan kurangnya pengetahuan dan pemahaman dalam menyusui. Selain itu hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan kejadian bendungan ASI, hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu tentang perawatan payudara, sehingga ibu tidak benar dalam melakukan tindakan perawatan payudara dan menyebabkan ibu mengalami puting susu tenggelam, bayi susah menyusu, ASI tidak keluar, yang berakhir pada terjadinya bendungan ASI. Sikap dapat mempengaruhi ibu dalam menyusui dan merawat payudara, sikap yang negatif ditimbulkan karena pemikiran bahwa menyusui membuat bentuk payudara menjadi tidak bagus dan ibu tidak pernah mengikuti acara-acara penyuluhan teknik menyusui yang baik dan benar. Responden yang memiliki sikap positif sebagian besar adalah ibu multipara, hal ini dikarenakan responden sudah memiliki pengalaman dalam menyusui supaya tidak terjadi bendunga ASI, sedangkan responden yang memiliki sikap negatif sebagian besar adalah ibu primipara yang belum memiliki pengetahuan tetang teknik menyusui yang benar dan masih takut karena masih pemula.

KESIMPULAN

Distribusi frekuensi bendungan ASI sebanyak 28,6% dan yang tidak terjadi bendungan ASI sebanyak 71,4%. Distribusi frekuensi pengetahuan tentang teknik menyusui sebagian besar berpengetahuan cukup 45,7% dan sikap ibu menyusui sebagian besar bersikap positif 71,4%. Adanya hubungan pengetahuan tentang teknik menyusui dengan kejadian bendungan ASI pada ibu postpartum dengan nilai p value 0,001. Adanya hubungan sikap ibu menyusui dengan kejadian bendungan ASI pada ibu postpartum dengan nilai p value 0,002.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Depkes RI. (2020). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI.
  2. Dessiya Rahayu, (2020). Hubungan Teknik Menyusui Dengan Kejadian Bendungan ASI Pada Ibu Nifas Di Puskesmas Kecamatan Langsa Timur. Jurnal Edukes, Vol.3, No.1, Maret 2020| 33
  3. Gustirini Ria, (2021). Perawatan Payudara Untuk Mencegah Bendungan ASI Pada Ibu Post Partum. Midwifery Care Journal. Vol, 2. No, 1
  4. Joharmi, (2021). Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Bendungan ASI Pada Ibu Post Partum di Klinik Sulastri. JOURNAL OF EXCELLENT OF HEALTH Vol. 1, No. 2, Augustus 2021, page 102 – 112 ISSN 2775-6610 (online)
  5. Kumorojati, R., dan Windayani. 2017. Gambaran Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Teknik Menyusui yang Benar di Puskesmas Pakualaman Yogyakarta. Media Ilmu Kesehatan 6(1):76-82
  6. Manuaba, Ida Bagus. (2018). Ilmu Kebidanan Penyakit dan Kandungan dan Kb untuk Pendidikan Bidan. Jakatra : EGC
  7. Maryunani, Anik. (2017). Manajemen Kebidanan Terlengkap. Jakarta: CV Trans Info Media
  8. Notoatmodjo, S. (2018) Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
  9. Penti Dora Yanti, (2018). Hubungan Pengetahuan, Sikap Ibu Dengan Bendungan ASI di Puskesmas Sidomulyo Pekanbaru. Journal Endurance 2(1).
  10. Saleha, S. (2017). Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika
  11. Sulistyawati, Ari. (2018). Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika
  12. Walyani, dkk. (2017) Asuhan Kebidanan Masa Nifas & Menyusui. Pustaka Baru Press. Yogyakarta
  13. WHO (World Health Statistics), (2020). Angka Kejadian bendungan ASI. World Bank
  14. WHO (World Health Statistics). (2020). Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. World Bank

Perbedaan Pengetahuan Ibu Prakonsepsi tentang Konsumsi Tablet Fe-Asam Folat terhadap Persiapan Kehamilan

35

Andrea Dewi Anggia Putri and Nur Sitiyaroh (Editor)

ABSTRAK

Latar Belakang : Wanita usia reproduksi Di Indonesia sebesar 30,1% menderita anemia. Program pemerintah untuk mengurangi jumlah anemia dengan pemberian tablet Fe-Asam Folat untuk ibu prakonsepsi tidak selalu berjalan lancar, karena pengetahuan yang kurang tentang Tablet Fe-Asam Folat. Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ibu prakonsepsi tentang konsumsi tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan pra dan post penyuluhan di Puskesmas Mustika Jaya Kota Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode pre-eksperimental dengan pendekatan pre-post  test design. Teknik pengambilan sampel penelitian ini adalah accidental sampling, dengan jumlah sampel 57 responden. Variabel independen adalah penyuluhan. Variabel dependen adalah pengetahuan ibu prakonsepsi tentang konsumsi tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner, analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil: didapatkan sebelum penyuluhan responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 34 responden (59,7%) sedangkan setelah penyuluhan jumlah responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 55 responden (96,5%) dengan hasil nilai Z hitung sebesar -6,578 dengan nilai signifikasi σ sebesar 0,000 (σ ≤ 0,05). Ada perbedaan pengetahuan ibu prakonsepsi tentang konsumsi tablet Fe-Asam folat terhadap persiapan kehamilan pra dan post penyuluhan

Kata Kunci : Pengetahuan, Ibu Prakonsepsi, Tablet Fe-Asam Folat, Penyuluhan, Kehamilan

PENGANTAR

Kehidupan di masa yang akan datang sangatlah ditentukan dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) (Darwanty & Antini, 2011). Menurut Bappenas, Salah satu faktor untuk mendapatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas adalah peningkatan derajat kesehatan dengan mempersiapkan calon ibu yang sehat sehingga mampu melahirkan bayi yang sehat pula. Bayi yang sehat ialah bayi tercukupi gizi dan nutrisinya sehingga bayi akan bertumbuh dan berkembang dengan baik (Kawareng, et al. 2014).

Sehubungan dengan hal tersebut, Menurut Denny & Stanner (2008), Masa yang paling penting pada Wanita adalah masa prakonsepsi, karena erat kaitannya dengan kehamilan serta Kesehatan janin yang dikandungnya nanti. Menurut hipotesis teori LCT (Life Course Theory) yang menyatakan bahwa output kelahiran dipengaruhi oleh interaksi jangka panjang dari biologis, perilaku, dan lingkungan (healthty food) dari wanita sebelum kehamilan mempengaruhi output kelahiran (Khaira A, dkk. 2019). Namun untuk mewujudkan hal tersebut banyak sekali tantangan yang harus dilalui, khususnya dalam dunia kesehatan, dan salah satu masalah yang menjadi tantangan serius di dunia Kesehatan adalah anemia.

Prevalensi anemia di dunia semakin bertambah setiap tahunnya. Menurut Hasyim, dkk (2014), Terdapat sekitar 2 miliar orang, yang jumlahnya lebih dari sepertiga dari penduduk di dunia menderita anemia. Menurut WHO (2019) dalam Prevalence of anaemia in pregnant women (aged 15-49) menyatakan bahwa sebanyak 30,1% dari populasi wanita usia reproduktif dan 44,2% dari populasi wanita hamil di Indonesia menderita anemia. Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, prevalensi anemia pada ibu hamil di Jawa Barat sebanyak 57,7% (Alfiyah dan Vimala, 2020). Menurut Marry (2015), Prevalensi anemia di Bekasi tahun 2016 sebanyak 10% dari 768.324 ibu hamil (Awalamaroh, et al. 2018).

Menurut penelitian Yusmardi (2010), menyatakan bahwa pada  ibu  yang mendapatkan suplementasi besi-asam folat yang cukup akan menghasilkan peningkatan berat badan, dan skor apparience, pulse, graps, activity, respiration (APGAR Score) . Selain itu akan menurunkan insiden retardasi mental dan infeksi maternal. Namun, bagi mereka, kesehatan bukanlah hal utama yang harus menjadi perhatian. Masih merasa muda sehingga tidak harus menjaga kesehatan (Hasdianah et al, 2014).

Berdasarkan permasalahan mengenai rendahnya kesadaran konsumsi tablet Fe-Asam Folat oleh ibu prakonsepsi, target global mm nutrisi tahun 22 2025 \ adalah menurunkan angka anemia pada wanita usia subur (WUS) hingga mencapai 50 persen (WHO, 2014). Sedangkan target Indonesia tahun 2025 berdasarkan data Riskesdas 2013 setidaknya harus menurunkan prosentasi ibu hamil dengan anemia hingga mencapai 19 persen (WHO, 2014 dalam Fuada, et al. 2019).

Berdasarkan penelitian terdahulu yang telah dilakukan Doloksaribu (2014), terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar Hb sebelum suplementasi besi-folat dengan kadar Hb sesudah suplementasi pada kelompok yang diberi perlakuan, dan menurunkan prevalensi anemia menjadi tidak anemia sebesar 95,8% yang mampu meningkatkan kadar Hb sebesar kurang lebih 1,85 gr/dl. Namun dalam proses pemberian suplementasi ditemukan banyak rintangan. Pada remaja putri, dari 76,2 % capaian pemberian tablet fe-asam folat, terdapat 1,4% yang tidak mengkonsumsi tablet Fe-asam folat, sedangkan dari 73,2% ibu hamil yang mendapatkan tablet Fe-asam folat, hanya sekitar lebih dari 38,1% tidak mengkonsumsi Tablet Fe-asam folat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan ibu pada masa prakonsepsi tentang konsumsi tablet Fe-asam folat yang sangat memengaruhi tingkat kepatuhan minum tablet Fe-asam folat.

Sehubungan dengan pentingnya pengetahuan tentang cara mencegah anemia, Menurut Soediaoetama (2014), diperlukan adanya sosialisasi dan penyampaian yang tepat karena penyuluhan mengenai konsumsi tablet Fe-asam folat secara dini masih belum banyak dikenal di kalangan masyarakat luas khususnya ibu prakonsepsi. Penyuluhan kesehatan merupakan salah satu metode yang baik untuk menyampaikan informasi dan pesan yang diberikan dengan tujuan dapat diterima dan dipahami dengan baik sehingga diharapkan adanya perubahan ke arah yang positif (Muliani, 2018).

Menurut studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 31 April 2022 di Puskesmas Mustika Jaya menunjukkan bahwa dari hasil wawancara yang dilakukan pada 4 orang ibu prakonsepsi mengatakan tidak mengetahui konsumsi tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan, dan 1 orang mengatakan sudah mengetahui konsumsi tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pengetahuan ibu prakonsepsi tentang konsumsi tablet fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan masih rendah.

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang judul perbedaan pengetahuan ibu prakonsepsi tentang konsumsi tablet fe-asam folat terhadap persiapan kehamilan pra dan post penyuluhan di puskesmas mustika jaya.

METODE

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode Preeksperimental dengan pendekatan Pre-Posttest Design. Waktu penelitian ini adalah tanggal 25-28 April 2022. Penelitian dilakukan di Puskesmas Mustika Jaya Kota Bekasi.

Populasi pada penelitian penelitian ini adalah semua ibu prakonsepsi di Puskesmas Mustika Jaya Kota Bekasi. Sampel pada penelitianaini adalah semua ibu prakonsepsi yang datang ke puskesmas mustika jaya pada tanggal 25-28 April 2022 yaitu sebanyak 57 responden, sesuai dengan kriteria inklusi, antara lain wanita pada masa prakonsepsi yang sehat jasmanni dan rohani, dan bersedia menjadi responden penelitian. Dan kriteria eksklusinya antara lain wanita atau ibu prakonsepsi yang tidak hadir pada saat penelitian dan tidak bersedia menjadi responden penelitian. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan accidental sampling.

Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk instrumen penelitian, yang mengkaji tentang pengetahuan ibu prakonsepsi pra dan post penyuluhan. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan satu kali pengukuran di depan ( pretest ) sebelum adanya penyuluhan (treatment ) setelah itu dilakukan pengukuran lagi (posttest). Data yang sudah diperoleh diolah menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test ( p-value < σ (0,05)).

HASIL DAN  DISKUSI

Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti menemukan keterbatasan antara lain, waktu penelitian yang terbatas dan situasi kondisi yang kurang dikarenakan pada saat yang bersamaan, responden juga sedang memeriksakan kesehatannya dan sedang menunggu antrian panggilan dari petugas puskesmas.

Pengetahuan Ibu Prakonsepsi tentang Konsumsi Tablet Fe-Asam Folat terhadap Persiapan Kehamilan Pra Penyuluhan di Puskesmas Mustika Jaya Kota Bekasi

Berdasarkan hasil penelitian, dari 57 respoden dapat diketahui bahwa 4 responden (7%) memiliki pengetahuan baik, 19 responden (33,3%) memiliki pengetahuan cukup, dan 34 responden (59,7%) memiliki pengetahuan kurang.

Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai (Bakhtiar, 2017: 85). Berdasarkan data tersebut, sebagian besar respoden memiliki pengetahuan kurang dikarenakan seseorang mendapatkan pengetahuan dari hasil kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai, akan tetapi setiap individu memiliki tingkat kenal dan tingkat kesadaran serta daya pemahaman yang berbeda-beda. Namun terdapat kemungkinan lain yaitu kurangnya pemahaman ibu prakonsepsi tentang konsumsi tablet fe-asam folat terhadap persiapan kehamilan.

Adanya pemahaman tentang faktor dan resiko yang harus diketahui terhadap objek tertentu akan memengaruhi pengetahuan seseorang. Namun terdapatnya kemungkinan lain yang menyebabkan kurangnya pengetahuan ibu prakonsepsi tentang konsumsi tablet Fe-Asam  folat terhadap persiapan kehamilan, yaitu mereka beranggapan bahwa tablet Fe-Asam Folat hanya diminum pada saat hamil saja dan anemia pada kehamilan bukanlah suatu penyakit yang serius dan berbahaya yang harus dikhawatirkan karena dampaknya tidak langsung terlihat selama kehamilan, serta adanya anggapan bahwa diri mereka masih sehat sehingga kesadaran untuk meminum tablet Fe-Asam Folat masih rendah. Oleh karena itu, sebagian besar ibu prakonsepsi tidak mengkonsumsi tablet Fe-Asam Folat sebagai upaya persiapan kehamilan.

Kecanggihan media massa pada masa ini seharusnya dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan dengan baik dan sesuai fungsinya. Dengan adanya media massa baik di rumah, sekolah, maupun di tempat-tempat umum diharapkan responden dapat lebih memanfaatkan fasilitas yang ada untuk menambah pengetahuan, khususnya tentang konsumsi tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan.

Pengetahuan Ibu Prakonsepsi tentang Konsumsi Tablet Fe-Asam Folat terhadap Persiapan Kehamilan Post Penyuluhan di Puskesmas Mustika Jaya Kota Bekasi

Berdasarkan hasil penelitian pada, menunjukkan bahwa dari 57 responden, yaitu sebanyak 55 responden (96,5%) responden memiliki kriteria pengetauan baik dan 2 respoden (3,5%) memiliki kriteria pengetahuan cukup. Dari hasil tersebut sebagian besar ibu prakonsepsi di Puskesmas Mustika Jaya Kota Bekasi memiliki kriteria pengetahuan baik.

Penyuluhan merupakan terjemahan dari konseling yang merupakan bagian terpadu dari bimbingan serta merupakan jantung usaha bimbingan secara keseluruhan (Maulana, 2013:135). Setelah dilakukan penyuluhan terjadi peningkatan kriteria pengetahuan responden menunjukkan bahwa responden mampu mengingat, mengerti dan memahami materi yang telah disampaikan peneliti sebelumnya, yang artinya responden menerima rangsangan atau seluruh materi yang telah diberikan sebelumnya.

Dari penjelasan diatas, peningkatan pengetahuan responden memiliki kriteria pengetahuan baik setelah diberikan penyuluhan ditunjukkan dengan kemampuan responden menjawab hampir seluruh item kuesioner yang berisi benar salah seputar konsumsi Tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan dan responden memiliki daya untuk memahami suatu materi yang telah diberikan sebelumnya. Selain itu, peningkatan pengetahuan ibu prakonsepsi setelah dilakukan penyuluhan juga dikarenakan responden memerhatikan seluruh penjelasan dan materi yang diberikan peneliti selama kegiatan penyuluhan.

Pengalaman pribadi menjadi salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. Dimana pengetahuan didapatkan dengan mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Namun, masih banyak sekali pengalaman pribadi yang tanpa diikuti oleh pengetahuan yang baik dan cukup menimbulkan seseorang salah dalam mengambil keputusan dan memecahkan masalah tertentu, sehingga hal tersebut berulang dan menjadi sebuah kebiasaan sebelum orang tersebut menyadari akan kekeliruannya serta mendapatkan pengetahuan yang lebih tepat.

Perbedaan Pengetahuan Ibu Prakonsepsi tentang Konsumsi Tablet Fe-Asam Folat terhadap Persiapan Kehamilan Pra dan Post Penyuluhan di Puskesmas Mustika Jaya Kota Bekasi

Sebelum mengalami anemia dalam kehamilan, diharapkan ibu prakonsepsi mau dan mampu melakukan pencegahan dan persiapan sebelum kehamilan dengan mencukupi kebutuhan nutri dari sebelum kehamilan dengan diawali dengan mengetahui tentang konsumsi tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan dengan memahami definisi, fungsi, indikasi, efeksamping dari tablet Fe-Asam Folat.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan penyuluhan responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 34 responden (59,7%) dan responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 19 responden (33,3%). Sedangkan sesudah dilakukan penyuluhan menunjukkan hampir seluruh responden sebanyak 55 responden (96,5%) dari total responden sebanyak 57 responden (100%) memiliki pengetahuan yang baik tentang konsumsi tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan.

Hasil Uji Statistik dengan menggunakan IBM SPSS verse 25 Statistic for windows dan dengan rumus Wilcoxon Signed Ranks Test pada 57 responden, yang hitiung dengan komputer menunjukkan hasil Z sebesar -6,578 dengan nilai signifikasi σ sebesar 0,000. Hal ini berarti nilai signifikasi perbedaan pengetahuan ibu prakonsepsi sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dengan tingkat kesalahan sebesar 0,000 (σ ≤ 0,05). Dari hasil analisis, menunjukkan bahwa pengetahuan responden sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dibandingkan setelah penyuluhan terjadi peningkatan sebanyak 51 responden (89,47%), maka H1 diterima yang artinya ada perbedaan pengetahuan ibu prakonsepsi tentang konsumsi tablet fe-asam folat terhadap kehamilan pra dan post penyuluhan di Puskesmas Mustika Jaya Kota Bekasi.

Pengetahuan adalah keadaan tahu, dan pengetahuan adalah semua yang diketahui. Dalam hal ini manusia ingin tahu, lantas ia mencari dan memperoleh pengetahuan. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan menggunakan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas. (Burhanuddin, 2018: 71).

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa pengetahuan adalah semua yang diketahui dari proses pencarian pengetahuan dan terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi, dimana pengetahuan didapatkan dari pendidikan sejak lahir baik formal maupun nonformal yang akan sangat menentukan terbentuknya sikap dan perilaku seseorang dalam menghadapi permasalahan dan lingkungan.

Metode penyuluhan yang digunakan peneliti adalah ceramah dan tanya jawab. Dimana metode penyuluhan ini sangat cocok untuk responden baik dengan pendidikan tinggi ataupun rendah. Metode ini juga memberikan kesempatan pada setiap responden untuk lebih kontak intensif dengan peneliti serta menguji ketelitian responden terhadap materi yang diberikan, sehingga materi yang diberikan mampu tersampaikan dengan baik kepada responden. Isi dari penyuluhan harus diutarakan dalam bahasa yang mudah dipahami, dilaksanakan dan terjangkau sehingga meningkatkan keberhasilan dalam penyuluhan. Dalam penyampaian materi penyuluhan menggunakan bahasa yang sopan dan mudah di pahami serta memberikan selingan humor saat penyuluhan guna menghidupkan suasana agar responden tidak mudah merasa bosan atas materi yang disampaikan peneliti.

Media atau alat bantu penyuluhan yang lengkap dan menarik juga dapat memengaruhi ketertarikan responden untuk mendalami suatu materi. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan media leaflet untuk pendukung atau alat bantu penyuluhan. Dimana alat tersebut mempermudah peneliti dalam menyampaikan penyuluhan dan mempermudah responden untuk menerima pesan yang disampaikan peneliti.

Tetapi ternyata pengetahuan yang cukup dan informasi yang memadai tentang konsumsi tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan tidaklah menjadi jaminan bahwa setaip responden akan mengimplementasikan dari apa saja yang diketahui. Hal ini dikarenakan masih banyaknya ibu prakonsepsi yang menganggap bahwa mengkonsumsi tablet Fe-Asam Folat tidaklah begitu penting, karena merasa tablet Fe-Asam Folat hanya untuk ibu hamil dan yang menderita anemia saja. Untuk itu sangat diperlukan kerja sama antar tenaga kesehatan, baik dokter, kesehatan masyarakat, bidan dan lainnya serta sumber informasi yang memadai, baik dan akurat untuk disebarluaskan secara nyata dan merata kepada masyarakat. Serta terdapat kebijakan khusus yang mengatur tentang konsumsi tablet Fe-Asam Folat. Sehingga kesehatan ibu prakonsepsi yang dipersiapkan untuk kehamilan yang akan melahirkan calon penerus bangsa Indonesia dapat ditingkatkan.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian pada 57 responden dengan judul “Perbedaan Pengetahuan Ibu Prakonsepsi tentang Konsumsi Tablet Fe-Asam Folat terhadap Persiapan Kehamilan Pra dan Post Penyuluhan di Puskesmas Mustika Jaya Kota Bekasi” pada tanggal 25-27 April 2022 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pengetahuan ibu prakonsepsi tentang konsumsi tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan pra penyuluhan menunjukkan pengetahuan kurang yaitu sebanyak 34 responden (59,7%).
  2. Pengetahuan Ibu Prakonsepsi tentang konsumsi tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan post penyuluhan menunjukkan pengetahuan baik yaitu sebanyak 55 responden (96,5%).
  3. Berdasarkan analisis dengan menggunakan Wilcoxon s Signed r Ranks Test , diperoleh hasil signifikasi σ sebesar 0,000 (σ ≤ 0,05) maka H1 diterima artinya ada perbedaan pengetahuan ibu prakonsepsi tentang konsumsi tablet Fe-Asam Folat terhadap persiapan kehamilan pra dan post penyuluhan di Puskesmas Mustika Jaya Kota Bekasi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alfiyah, dan Vimala. 2020. Pengaruh Suplementasi Fe Terhadap Kejadian Anemia Di Puskesmas Sitopeng. ejurnal.poltekkestasikmalaya.ac.id/index.php/jikg/article/view/596/346 (diakses pada tanggal 03 Oktober 2021)
  2. Awalamaroh, et al. 2018. Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Fe Berhubungan dengan Status Anemia pada Ibu Hamil. nursingjurnal.respati.ac.id/index.php/JKRY/article/download/287/17 6 (diakses pada tanggal 03 Oktober 2021)
  3. Bakhtiar, Amsal. 2017. Filsafat Ilmu . Depok : PT. Rajagrafindo Persada
  4. Burhanuddin, Nunu. 2018. Filsafat Ilmu . Jakarta : Prenadamedia Group
  5. Darwanty, dan Antini, 2011. Kontribusi Asam Folat dan Kadar Haemoglobin pada ibu hamil terhadap pertumbuhan otak janin di kabupaten karawang tahun 2011. https://media.neliti.com/media /publications/107125-ID-kontribusi-asam-folat-dan-kadarhaemoglo.pdf (diakses pada tanggal 03 Oktober 2021)
  6. Doloksaribu, Lusyana. 2014. Pengaruh Suplementasi Fe, Asam Folat, dan Vitamin B12 terhadap Peningkatan Kadar Haemoglobin (Hb) Pekerja Wanita di PTPN Kebun Aek Nauli Kabupaten Simalungun 2012. https://penelitian.uisu.ac.id/wp-content /uploads/2017/05/Lusyana.pdf (diakses pada tanggal 06 Oktober 2021)
  7. Fuada, et al. 2019. Hubungan Pengetahuan Makanan Sumber Zat Besi dengan Status Anemia pada Ibu Hamil. https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/mgmi/article/down load /2324/1276 (diakses pada tanggal 03 Oktober 2021)
  8. Kawareng, et al. 2014. Pengetahuan Dan Harapan Wanita Prakonsepsi Terhadap Pelayanan Prakonsepsi Sebelum Dan Sesudah Edukasi Di Kecamatan Ujung Tanah Kota Makassar . https://core.ac.uk/download /pdf/25496718.pdf [diakses pada tanggal 03 Oktober 2021]
  9. Khaira, Annisa. dkk. 2019. Asupan Zat Gizi Dan Kadar Hemoglobin Wanita Prakonsepsi Di Kabupaten Semarang . https://ijhn.ub.ac.id/index.php/ijhn /article/view/324 [diakses pada tanggal 03 Oktober 2021]
  10. Maulana, Heri. 2013. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC
  11. Proverawati, Atikah. 2011. Anemia dan Anemia dalam Kehamilan . Yogyakarta: Nuha medika.
  12. Muliani, S. 2018. Pengetahuan Remaja Putri tentang manfaat Fe. http://repository.poltekkes-kdi.ac.id [diakses tanggal 18 Maret 2018]
  13. WHO, 2014. Global nutrition targets 2025: policy brief series. Https://www.who.int/publications/i/item/WHO-NMH-NHD-14.2 (Diakses tanggal 03 Oktober 2021)
  14. Yusmardi. 2010. Perbandingan Kadar Serum Asam Folat Maternal Penderita PEB dengan Kehamilan Normal. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara

Tentang Penerbit

1

Penerbit Buku Poltekkes Kemenkes Kendari merupakan salah satu layanan penerbitan yang terhimpun dalam kelompok Penerbitan Ilmiah, bertujuan sebagai media diseminasi hasil kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang didedikasikan kepada masyarakat. Layanan ini mulai dimanfaatkan pada tahun 2021 dan secara resmi dapat mendaftarkan International Standard Book Number di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.